Annangguru Sayyid Alwi Jamallulail, Sang Penyiar Islam di Tanah Mandar

Annangguru Sayyid Alwi Jamallulail, Sang Penyiar Islam di Tanah Mandar

Pecihitam.org – Jaringan ulama di Tanah Mandar, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari simpul nasab ulama Arab yang datang dan menetap di Mandar. Salah seorang ulama masyhur di kalangan masyarakat di Pambusuang dan seantero Sulbar dan Sulsel yakni Annanguru Sayyid Alwi Jamallulail atau dengan nama lengkap Sayyid Habib Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail (Puang Towa) yang memiliki garis keturunan dengan rasulullah Saw dari jalur Hadramaut, Yaman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nilai-nilai keteladanan yang diwariskan Al-Habib Sayyid Alwi Jamallulail di antaranya adalah ketawadhuan, kesabaran, dan istiqamah dalam berdakwah hingga berpindah-pindah dari Lasem (Jawa Tengah), Lombok (NTB), hingga Mandar (Sulbar).

Tercatat dalam sejarah penyebaran Islam di Tanah Mandar, tidak terlepas dari perjuangan beliau. Al-Habib Sayyid Alwi Jamallulail yang akrab disapa Puang Towa (yang dituakan) memiliki garis keturunan bersambung dengan Rasulullah SAW. Beliau lahir di Lasem Jawa Tengah tahun 1835, kemudian mengaji kitab kuning di Mekkah.

Setelah kembali ke tanah air, beliau aktif berdakwah dari beberapa daerah mulai dari Lasem ke Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga:  Gus Maksum Lirboyo, Pendekar Pagar Nusa Berambut Gondrong yang Sakti Mandraguna

Kemudian Habib Sayyid Alwi hijrah ke Tanah Mandar melalui perjalanan laut. Daerah yang pertama dituju yakni Monjopai kemudian menetap di Pambusuang.

Keberadaan Sayyid Alwi di Pambusuang dilatari dari perjumpaannya dengan pelaut asal Pambusuang yang ditumpanginya dari Sumbawa hingga ke tanah Mandar. Beliau menetap untuk sementara waktu di rumah pelaut tersebut hingga memutuskan untuk menetap.

Masyarakat Pambusuang menerima baik kehadiran Sayyid Alwi Jamallulail untuk mengembangkan syiar Islam melalui pengajian kitab kuning, diantaranya Kitab Tariqah Ba’alawi yang memuat ajaran tasawuf.

Sayyid Alwi memiliki semangat dakwah hingga menjangkau daerah pegunungan. Beliau kadang mengajak murid-muridnya berkhalwat untuk mendalami ilmu hakikat sehingga Sayyid Alwi Jamallulail dikenal sebagai seorang waliyullah.

Sayyid Alwi memiliki sejumlah murid setia yang turut mendampinginya berdakwah ke berbagai pelosok, diantaranya Imam Lapeo.

Imam Lapeo sendiri dalam perjalanan dakwahnya juga dikenal waliyullah karena kharisma dan karamah yang dimilikinya. Sayyid Alwi juga mengembangkan dakwah di Pambusuang dan Campalagian. Beliau lebih dikenal oleh masyarakat dengan Puang Toa.

Baca Juga:  Menghindari Sifat Sombong ala Syaikh Hamdun Al-Qashshar

Salah seorang keturunan Sayyid Alwi, Dr. Hj. Syarifah Nurul Syobah, MSi., Dosen IAIN Samarinda, menyingkap kegiatan keagamaan secara rutin di kalangan keluarga besar turunan Sayyid Alwi, termasuk pembacaan manaqib dalam acara keluarga di Samarinda.

Jejak dakwah Sayyid Alwi terekam dalam buku Mutiara Tarim sampai Ke Tanah Mandar: Dari Manaqib al-Allamahal Habib Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail. Buku tersebut merekam jejak leluhur Sayyid Alwi di Hadramaut, Yaman hingga ke tanah Mandar.

Sementara itu, Hasan Thohir bin Sahl dan Usman Sahil, keduanya mukim di Makassar dan merupakan generasi keempat dari Sayyid Alwi tersebut menuturkan perjalanan dakwah Sayyid Alwi di Tanah Mandar dan seantero Sulbar dan Sulsel.

Hasan Thohir yang menghabiskan sedikitnya empat tahun untuk melacak sang leluhur di Hadramaut, Yaman. Alumni MIN Samarinda tersebut mengemukakan bahwa Sayyid Alwi, bukan hanya berhasil mencetak para murid-murid yang cukup terkenal. Beliau juga memiliki perhatian besar untuk mendidik darah dagingnya.

Baca Juga:  Kiai Hasan Besari dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Sekitar Gunung Lawu

Sayyid Hasan bin Alwi, Sayyid Muhsin bin Alwi, dan Sayyid Husain bin Alwi, ketiganya merupakan putra Sayyid Alwi yang berhasil mewarisi kelimuan dan keulamaannya.

Ketiganya berkontribusi dalam pengembangan syiar Islam di tanah Mandar yang dilanjutkan para murid-muridnya hingga kini.

Keluarga besar keturunan Habib Sayyid Alwi senantiasa meluangkan waktu menghadiri haul Sayyid Alwi yang wafat 9 April 1934 dalam usia 99 tahun dan dimakamkan di Campalagian, Polewali, Mandar.

Beliau memiliki jasa besar dalam penyebaran Islam di Mandar dan keteladanan keulamaannya patut diwarisi generasi selanjutnya, terutama istiqamah dalam berdakwah hingga menjangkau pelosok di beberapa daerah hingga wafatnya.

Referensi:
Dr Firdaus Muhammad, Anregurutta (2017)

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *