Budaya Perayaan Idul Fitri di Indonesia, Adakah Relevansinya dengan Ajaran Islam?

Budaya Perayaan Idul Fitri di Indonesia, Adakah Relevansinya dengan Ajaran Islam?

PeciHitam.org – Islam adalah agama yang kebenarannya transedental, tidak bisa terbantah oleh manusia. Akan tetapi, pemeluk Islam adalah manusia yang terkadang memiliki khilaf, luput dan kesalahan. Oleh karennya, Allah SWT memiliki sifat ghafur sebagai bentuk kesempurnaan SifatNya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Islam muncul di kota Makkah sekitar tahun 610 M, dibawa oleh Manusia terbaik yakni Muhammad SAW dari keturuann orang yang terhormat dan baik. Nabi Muhammad SAW diutus di Makkah dengan seperangkat kebudayaan yang menyertai orang Quraisy, suku terbesar dikota tersebut.

Rasulullah SAW hidup dalam struktur budaya Makkah dan kemudian pindah ke Madinah, tetap memperhatikan aspek budaya, pengetahuan dalam setiap ajarannya. Oleh karenya, Islam tersebar keseluruh dunia dapat menggunakan aspek kebudayaan masyarakat untuk berkembang.

Di Nusantara, aspek budaya yang berbalur Islam sangat banyak, dan cenderung mayoritas budaya sudah bernafas Islam. Tidak terkecuali budaya perayaan Idul Fitri tidak lepas dari nafas Islami.

Memahami Budaya dalam Islam

Budaya diterjemahkan sebagai hasil akal budi dan pemikiran manusia. Secara dasar, orang yang berbudi selalu mengikuti apa kata hati atau Qalb. Tingkatan hati dalam Islam banyak sekali, sekurangnya ada 7 tingkatan dalam hati yang mana semuanya merujuk pada kebaikan.

Tidak ada kata hati yang menjerumuskan manusia kedalam lembah nista dosa. Kecuali hatinya sudah dibohongi dan tertutup oleh Nafsu manusia. Maka hasil akal budi manusia berupa budaya tidak terlepas dari  nilai-nilai kebaikan dari bisikan Ilahiyah.

Tidak semua budaya bersumber dari bisikan Ilahiyah yang berupa kebaikan, beberapa budaya memang bertentangan dengan nilai agama Islam. Jika memang budaya tidak bisa diakomodir oleh nilai-nilai Islam, maka harus dihilangkan dan tidak dilakukan.

Allah SWT menjamin keberlangsungan budaya yang baik untuk dilestarikan sebagai kepanjangan bisikan Ilahiyah dalam bentuk kebudayaan. Allah SWT berfirman dalam al-Quran,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya; “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan” (Qs. An-Nahl; 123)

Allah SWT menginformasikan kepada Muhammad SAW untuk mengikuti (مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ) ajaran Ibrahim. Ajaran Ibrahim AS sebagai Nabi utusan Allah, sudah berabad-abad lamanya hidup sebelum Nabi Muhammad SAW. Masa kenabian Muhammad SAW berlangsung sejak tahun 610 M sampai 632 M.

Baca Juga:  Inilah Tanda-tanda Orang Yang Bahagia Dunia Akhirat

Masa Hidup Nabi Ibrahim AS dalam beberapa literasi berlangsung sekitar tahu 2290an SM. Berarti ada rentang waktu sekitar 2900an tahun lamanya. Ajaran Ibrahim AS tentu akan sudah menjadi budaya yang diteruskan oleh para keturuan beliau.

Salah satu syariat Ibrahim adalah berpakaian dengan lengkap menurut aurat sebagaimana Muslim sekarang. Syariat lainnya adalah diperintahkannya sunnat bagi kaum laki-laki untuk menghindari najis yang terus menempel dibadan.

Perintah allah SWT dalam An-Nahl ayat 123 dengan jelas menyebutkan untuk mengikuti ajaran Ibrahim AS yang sudah menjadi budaya yang dilakukan oleh orang Makkah. Selama budaya bisa bergabung dengan Islam atau diisi dengan nilai Islam maka menjadi Budaya islam itu sendiri.

Sebagaimana Islam tidak memberangus ajaran Ibrahim AS yang sudah menjadi budaya orang-orang Makkah. Karena tidak ada manusia yang membentuk sebuah komunitas selain mereka memiliki kebudayaan dan peradaban.

Budaya Perayaan Idul Fitri di Nusantara

Islam masuk ke Nusantara menurut banyak sumber sudah berlangsung sejak abad pertama Islam. Akan tetapi baru masif sejak digaungkan adanya dewan Walisongo yang mengakomodir budaya sebagai media penyebaran Islam.

Media budaya dan kesenian mendekatkan obyek dakwah dengan ajaran yang diajarkan, Islam. Melalui media budaya ini, Islam dengan cepat tersebar ke seluruh Nusantara. Perayaan hari raya dalam Islam dirayakan dengan perayaan-perayaan khas setiap daerah.

Secara umum, untuk menyambut perayaan Idul Fitri banyak perantau/ urban yang bekerja diperkotaan melakukan migrasi massal. Migrasi Massal ini dikenal dengan Mudik atau Pulang Kampung guna bertemu dengan sanak saudara, handai taulan dan saling mengungkapkan kata maaf satu sama lain.

Takbir keliling untuk meramaikan malam Idul Fitri banyak dilakukan oleh masyarakat baik di desa maupun perkotaan. Dengan gegap gempita, masyarakat mengumandangkan takbir sebagai bentuk kemenangan setelah berpuasa selama 1 bulan penuh.

Ekspresi kegembiraan dan kegirangan menyambut Idul Fitri dilakukan dengan mengumandangkan takbir semalaman suntuk. Sebagai penyempurna Ibadah Puasa Ramadhan, orang-orang berkeliling kampung untuk bermushafahah bersalam-salaman saling memaafkan.

Tradisi yang baik walaupun tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dengan spesifik sebagaimana yang umat Islam lakukan di Nusantara. Budaya perayaan Idul Fitri di Nusantara banyak juga diekspesikan dengan membuat meriam Bambu untuk meramaikan malam Idul fitri sebagai bukti kegembiraan.

Baca Juga:  Nilai-Nilai Pendidikan Moral Dalam Sholat

Ekspresi kegembiraan memang bisa berwujud sangat banyak tergantung dengan bagaimana seorang berekspresi. Selama budaya perayaan Idul fitri tidak melanggar syariat jelas diperbolehkan.

Budaya perayaan Idul Fitri di Nusantara dengan bermushafahah, saling menghaturkan kesalahan dan saling bermaafan, mengirimkan hadiah berupa parcel bukanlah sebuah ajaran sesat Bidah Syaiah. Akan tetapi berupa budaya yang baik sebagai bentuk ekspresi perintah Allah SWT yang umum.

Dalil Budaya Idul Fitri

Meneliti lebih seksama terhadap budaya yang ada di Nusantara, akan merujuk kepada simpulan bahwa Budaya bisa Hidup dengan Nilai Islam. Sebaliknya, dalam dakwah Islam memerlukan Infrastruktur Budaya guna menunjang keberlangsungan nilai-nilai Islam.

Pertama; Budaya saling memaafkan dalam setiap Lebaran Idul Fitri. Budaya perayaan Idul Fitri berupa amalan saling memaafkan tidak terlepas dari Nilai Islam sebagaimana dalam ayat  berikut;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)

Artinya; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Qs. Ali Imran: 133-134)

Ayat ini jelas mengatakan bahwa saling memaafkan adalah bentuk Sunnah. Ayat ini tidak mengkhususkan waktu kapan pelaksanaan untuk saling memaafkan. Maka Nilai Islam saling memaafkan, memanfaatkan infrastruktur Budaya saling berkunjung selama Idul Fitri. Memaafkan pada hari Lebaran merupakan bentuk pelestarian budaya Islam.

Kedua; Budaya pulang kampung atau Mudik juga banyak dilakukan sebagai momentum silaturrahmi yang dilakukan selama musim liburan Idul Fitri. Memanfaatkan liburan panjang, banyak digunakan oleh Muslim untuk mengunjungi orang tua, dan memberikan hadiah.

Membuat senang merupakan salah astu cara berbuat baik kepada orang tua. Berbuat baik kepada orang tua jelas diperintahkan sebagaimana dalam ayat;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

Baca Juga:  Saat Hamil Ternyata Sunnah Makan Kurma Lho, Ini Khasiatnya

Artinya; “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” (Qs. Al-Israa 23)

Berbuat baik kepada orang tua erat kaitannya dengan kebudayaan. Memberi hadiah, mengirimkan parcel atau membiayai hidup orang tua dalam budaya Nusantara adalah bentuk berbuat baik kepada orang tua. Akan tetapi, jika hal ini dilakukan oleh orang di Jerman merupakan bentuk penghinaan kepada mereka.

Karena selama mereka bisa mampu bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tidak akan mau dan pantas dibantu oleh anak kecuali ingin menghina mereka. Maka adanya Infrastruktur budaya dalam Masyarakat bisa dijadikan kendaraan dalam menanamkan nilai-nilai Islam.

Kecerdasan budaya dan dakwah Walisongo menjadi bukti bahwa nilai Islam bisa dikembangkan dalam bangunan budaya. Buktinya adalah tumbuh suburnya budaya peryaan Idul Fitri di Nusantara sebagai kepanjangan dari nilai-nilai Islam.

Bahkan budaya perayaan Idul Fitri tidak hanya berlangsung di Nusantara. Beberapa negara lain juga mempunyai Budaya yang berbeda-beda sebagai bentuk Ekspresi merayakan Idul Fitri. Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman, dan lainnya menyambut Idul Fitri dengan berbelanja barang baru bagi perempuan.

Laki-lakinya mencukur rambut dan jenggot dan perempuannya menghiasi tangan dan kakinya dengan henna.  Beberapa negara Asia mengisi malam Idul Fitri dengan makan bersama dengan keluarga. Selama praktek budaya perayaan idul Fitri tidak bertentangan dengan syariat pokok Islam, maka diperbolehkan. Ash-Shawabu Minallah.

Keywords; 

Mohammad Mufid Muwaffaq