Cerita Santri Bandel Mancing Ikan Di Kolam Kyai

kisah santri mancing dikolam kyainya

Pecihitam.org – Pada suatu sore, setelah mengaji ba’da Ashar yang sudah menjadi rutinitas santri di pondok Miftahul Ulum. Kang Mistro dan kedua temannya Udin dan Supri merebahkan tubuhnya di kamar mereka. Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja Udin mengeluh perutnya sakit karena lapar, karena memang sedari siang itu perut mereka belum terisi sebutir nasi pun.

Di pondok mereka dalam hal mengisi perut adalah masak sendiri, dan cari sendiri, bukan mendapat jatah layaknya pondok modern saat ini, tidur enak, mandi enak, makan enak .. ko ya ada yang gak betah, “Nikmat mana lagi yg kamu dustakan”

“Kang…wetengku luwe (lapar)” Udin memulai obrolan
“Lah mau masak apa kang, beras wae habis dari kemarin, sayur, lombok juga habis semua, adanya Cuma garam, kalau garamnya ada nasinya ada masih mendingan kang, sekarang solusinya tinggal tidur saja” Jawab kang Supri sambil membetulkan bantalnya.

Kang Mistro sedari tadi pun diam membisu, seakan tak mendengarkan mereka atau justru sedang memikirkan solusinya.
“Pie kang ko diam saja sampean?” Tanya Supri
“Saya ada solusi” jawab kang Kang Mistro singkat tampak sumringah, membuat mereka terbangun karena penasaran, ingin mendengar solusinya bagaimana.

“Piye Kang ?” Tanya mereka serentak
“Sampean lapar ?” Tanya kang Mistro
“Hooh” Jawab mereka
“Pingin mangan ?” Mereka mengangguk
“Syaratnya Nurut” Tegas Kang Mistro
Kembali mereka mengangguk, “pokoknya kaya sapi yang di tusuk congornya, Oke”
“Sampean tunggu aku di belakang ndaleme mbah yai, sekarang aku tak siapkan peralatannya” Tegas kang Mistro
“Sekarang kang?” Tanya mereka
“Yo sekarang…lah laparmu kapan, sekarang ta?”
“Ndang budal” lanjut kang kang Mistro

Singkatnya mereka pun turun dari pondok dan pergi ke posisi masing-masing, sambil menunggu kang Mistro membawakan peralatannya.
“Peralatan opo to kang?” Tanya Udin
“Yo mboh kang….penting hari iki bisa makan wes” jelas Supri.
Tak berapa lama mereka mengobrol singkat, Kang Mistro pun datang membawa 2 peralatan yg sudah di sediakan bersama pakannya.

Baca Juga:  15 Juni, 1 Juta Santri di Jawa Timur Akan Kembali Mondok

“Lah ini dia” Kata Kang Mistro
“Loh ko pancing kang!” Kaget mereka serentak.
“Iyo…iki pancing, dan ini cacing” Kang Mistro lebih detail menjelaskan.
“Terus buat apa kang?” Tanya Udin
“Yo buat ini, minta ikannya mbahYai” Jelas Kang Mistro.
Karena mereka ngobrol sudah berada tepat di samping kolam mbah Yai belakang rumah beliau.

“Haduh Kang…aku gak berani” Jawab mereka takut.
“Tenang…..tenang…pingin makan nggak” tanya Kang Mistro.
“Lapar yo lapar kang, tapi kalau mbah Yai marah pie, sampean tanggung jawab?”
“Yo wes, aku yang tanggung jawab!” Jawab Kang Mistro tegas.
“Tapi ada syaratnya dan kudu nurut!” Jelas kang Mistro dan mereka pun mengangguk.
“Sampean dua orang mancing, aku tak jaga kalau mbah Yai kesini. Kapan aku kasih intruksi, sampean kudu lari dan ikannya kudu di tinggal, pokoknya jangan dibawa lari! Kang Mistro menjelaskan.

” Paham kang?” sambung Kang Mistro
“Fahimna” jawab mereka tampak lesu karena di hantui rasa takut, sosok kyainya tampak di depan mata mereka.

Lalu mereka pun menjalankan tugas mereka masing-masing, setengah jam mereka memancing ikan Mbah kyai, Udin dan Supri mendapatkan 10 ekor ikan yg lumayan cukup besar, karena kolam ikan Mbah Yai disamping banyak isinya juga sudah siap konsumsi.

Benar saja tiba-tiba dari kejauhan mbah Yai datang, sigap saja Kang Mistro berlarian memberikan intruksi lari pada Udin dan Supri.
Udin dan Supri pun lari meninggalkan kolam tersebut dan meninggalkan ikannya.
“Ada apa ko kamu beralrian seperti itu Mis?” Tanya mbah Yai
“Lah kolamku kamu pancingi ta Mis?” lanjut mbah Yai bertanya.
‘Lah itu tadi Yai, saya baru ngejar orang yang mancing di kolam mbah Yai. Tapi yaitu orangnya gesit jadi ndak ketangkap.” Jelas kang Mistro
“Yo harus gitu, Santri kudu ikut menjaga, ngerawat harta kyainya” Tegas mbah Yai.
“Nggeh Yai, Tapi ini gimana ikannya, mau saya masukkan kolam lagi ko sudah pada mati semua Yai?”
“Yasudah kamu masak saja didapur sana, nanti ba’da magrib kita makan bersama” Jawab Mbah Yai.

Baca Juga:  Kisah Juwairiyah binti al-Harits, Ummul Mukminin yang Penuh Berkah

Singkatnya mereka pun masak bersama di dapur ndalem kyai, bersama Udin dan Supri.
Setelah magrib mereka pun berkumpul bersama kyai di meja makan, karena kebetulan setiap malam jumat, ngaji di pondok libur, dan biasa di isi Al barzanji dll oleh para santri saja.
Harum masakan pun sudah mulai tercium oleh mbah Yai, hingga pujian pun datang menghampiri untuk kang Mistro bersama temannya.

“Kayaknya masaknnya enak ini”

Udin dan Supri pun mengangguk kecil, rasa takut dan gemetar di hadapan kyainya, sementara Kang Mistro masih tampak tenang saja, mungkin wajar saja karena Kang Mistro dengan mbah Yai sudah terlalu dekat seperti anak sendiri, di banding mereka berdua. Dan mbah Yai pun sebenarnya sudah tidak heran lagi dengan polah tingkah santri satu ini yaitu Mistro.

“Yo wes…ayuk duduk…di maem bareng”
Jelas mbah Yai sambil menunjuk mempersilahkan kami duduk.
Makan santap ikan pun berlangsung mulus saja, meskipun Udin dan Supri masih saja bergumam dalam hatinya.
“Semoga saja Mbah Yai gak tanya siapa yang mincing” Gumam Udin dan Supri sambil mengamini sendiri 27 kali.

Baca Juga:  Santri, Generasi Nasionalis-Religius Indonesia

Puji Hamdallah pun menghiasi ruang makan, setelah semua serentak selesai makan, dan perut pun terasa kenyang karena seharian belum terisi sebutir nasi.
“Enak ya ikannya….ngomong-ngomong tadi siapa yang mancing kolamnya Abah Mis?
Tiba-tiba saja Mbah Yai mengawali pembicaraannya, dan pertanyaan itu membuat Udin dan Supri tampak pucat dan keringat dingin. Sambil melirik Udin dan Supri, Kang Mistro tampak kasihan karena ketakutan.

“Ya sebenarnya saya ini Yai … Mohon maafnya Yai ini Udin dan Supri belum maem seharian dan saya nggak tega Yai”
“Halah…halah…Kamu to Mis…Mis, santri ndableg” Keluh Mbah Yai sambil melanjutkan bicaranya.
“Mau marah ko ya aku ikut makan bareng.

Mis…Udin…Supri!” Mbahyai memanggil ketiga nama mereka.
“Dalem Yai”
“Semoga sampean semua keluar dari sini dapat ilmu, ilmu yang manfaati khususnya untuk diri sendiri, dan untuk orang lain, dan semoga nanti kalian jadi kyai, kyai yang tahu kondisi perut santrinnya”.
Serentak mereka pun mengucapkan
” Aaamiin Allohumma Aaamiin “

Jangan ditiru mancing Ikannya Kyai #Kang Mistro

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *