Gus Baha: Hakikat Kehidupan yang Sesungguhnya

gus baha

Pecihitam.org – Kali ini ketika mengisi sebuah kajian, Gus Baha membahas tentang hakikat kehidupan terkait filosofi dari do’a Iftitah. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui hakikat kehidupan sebenarnya selain Allah Swt yang Maha Menciptakan,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Gus Baha menyampaikan, “Sekarang saya tanya semuanya tahu nggak apa alasan kalian itu hidup? Nggak tau kan !, kenapa kalian itu wujud (ada)? Juga kita nggak ada yang tahu. Yang tadinya tidak ada menjadi ada juga tidk tahu alasanya kenapa? Karena yang jelas itu semua adalah di luar ikhtiar kita”

Setelah manusia yang katanya mempunyai akal, dan mereka menyebutkan bahwa manusia dapat hidup karena tidak terkena penyakit serta punya jantung dan paru-paru yang normal. Tapi kalau di tanya kapan manusia akan mati? Maka mereka akan menjawab “ Ya, kalau jantung dan paru-parunya sudah rusak”.

Itu artinya mereka berpendapat bahwa yang menjadikan kita hidup adalah jantung dan paru-paru. “Apakah zaman sebelum kita hidup jantung dan paru-paru harus ada dulu ? ya nggak ada juga kan.” Jelas Gus Baha.

Baca Juga:  Muslim Harus Tahu! Inilah 5 Adab Bertamu dalam Islam

Karena kalau jantung dan paru-paru yang menjadikan adanya sebuah kehidupan maka keduanya harus ada lebih dulu jauh sebelum kita hidup. Padahal tidak seperti itu. Yang jelas statusnya jantung dan paru-paru hanya di jadikan sebagai alat Tuhan untuk menciptakan sebuah kehidupan yang selama ini kita kira ada. Padahal sebenarnya kehidupan ini juga tidak ada karena kita tidak mengetahui hakikat sebuah kehidupan.

“Makanya ulama-ulama kalau di tanya kenapa bisa hidup? Ya karena tidak mati, pasti jawabannya seperti itu.”

Jadi, penyebab adanya kehidupan ini tidak bisa kita sebutkan, maka dari itu apabila ada kehidupan setelah kita mati juga begitu, sama-sama tidak bisa di jelaskan. Karena wujud (adanya) kita yang tanpa di undang dan bukan bagian dari ikhtiar kita, maka kelak jika bangun dari kubur juga bukan ikhtiar kita.

“Pada intinya adalah lillahirobbil ‘alamin (Tuhan semesta alam).” Kata Gus Baha.

Lalu beliau menyampaikan “Jika bangun dari kubur itu adalah perkara mukhal, maka wujudnya Nabi Adam As dan wujud manusia yang sekarang akan lebih mukhal karena tanpa adanya sebab.”

Baca Juga:  Inilah Cara Menggapai Ridho Allah dan Rasul-Nya

Oleh sebab itu kehidupan yang sekarang ini lebih aneh karena tanpa adanya sebab, justru kehidupan nanti di Padang Masyar itu adalah wujud dari wujud yang sudah ada. Sedangkan wujud kita yang saat ini merupakan wujud dari yang tidak ada sebelumnya.

Maka dari itu, Allah Swt mengingatkan kepada manusia untuk selalu mengingat bahwa dia pernah tidak ada, sedangkan dari ketiadaan inilah yang akhirnya menjadi ada adalah ayat bahwa wujudnya manusia bukanlah sebuah ikhtiar manusia sendiri.

Selain itu, syaitan yang tercipta untuk hidup di neraka juga bukan bagian dari ikhtiar mereka. Jadi pada intinya, kita ini adalah bukan siapa-siapa, sehingga akhirnya wushul menjadi filosifi dari Do’a Iftitah.

الله اكبر كبرا والحمد لله كثير وسبحان الله بكرة واصيلا. اني وجحت وجهي للذي فطرالسماوات والأرض حنيفا مسلماوماانا من المشركين . ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين. لا شريك له وبذ للك امرت وان من المسلمين

“Allah Maha Besar dengan sebesar-sebesarnya, segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari, aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku buknlah termasuk orang-orang yang menyekutukanya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku di perintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri.”

*Naskah ini diterjemahkan dari kajian KH Bahaudin Nursalim, versi bahasa aslinya bisa dilihat disini.

Baca Juga:  Inilah 5 Kebiasaan Hidup Sehat Ala Nabi yang Patut Ditiru Umatnya
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik