Inilah Makna dan Perbedaan Istilah Fana dan Baqa’ yang Harus Kalian Ketahui

Inilah Makna dan Perbedaan Istilah Fana dan Baqa' yang Harus Kalian Ketahui

Pecihitam.org- Istilah fana oleh kaum sufi dipakai untuk menunjukkan ke­guguran sifat-sifat tercela, sedangkan baqa’ untuk menandakan ketampakan sifat-sifat terpuji.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika pada diri salik tidak ditemukan dari salah satu kelompok sifat ini, maka pasti ditemukan sifat­-sifat lain. Barang siapa kosong (fana) dari sifat-sifat tercela, maka sifat-sifat terpuji mengada. Barangsiapa dirinya dikalahkan oleh sifat-sifat tercela, maka sifat-sifat terpuji tertutupinya.

Ketahuilah, apa yang menjadi sifat seorang salik pasti mengandung tiga hal, yaitu af’al, akhlak, dan ah wal. Af’al (perbuat­an-perbuatan salik) adalah tingkah laku manusia yang diperaga­kan dengan kemampuan ikhtiarya. Akhlak merupakan perangai­nya.

Akan tetapi, keberadaannya selalu berubah seiring dengan tingkat penanganan-nya (pengendahaii menuju arah perbaikan) yang berlangsung mengikuti perjalanan pembiasaan.

Sedangkan ahwal merupakan awal langkah keberadaan kondisi salik. Ahwal mengembalikan posisi salik pada tahapan awal. Kejernihannya terjadi setelah kebersihan af’al (pertumbuhan dan perbaikannya).

Dengan demikian, keberadaan ahwal seperti akhlak. Sebab, jika salik turun ke gelanggang kehidupan untuk memerangi akh­laknya dengan hatinya, lalu meniadakan (mem-fana’-kan) sifat-­sifat jeleknya dengan kesungguhan jihadnya (semangat riyadhah), maka Allah menganugerahinya dengan perbaikan akhlak (maqam baqa’).

Demikian juga jika salik menekuni penyucian afal-nya dengan (pemanfaatan) curahan (rahmat) yang diperluaskan untuknya, maka Allah pasti akan menganugerahinya pembersih­an ahwal-nya, bahkan menyempurnakannya.

Baca Juga:  Mungkinkah Seseorang Tidak Mengetahui Bahwa Dirinya Seorang Wali?

Barangsiapa yang meninggalkan af’al (tingkah laku) tercela de­ngan lidah syariatnya, maka dia fana’ (kosong, sirna, tiada atau gugur) dari syahwatnya.

Barangsiapa fana’ dari syahwatnya, ma­ka dengan niat dan ikhlasnya dia, menjadi baqa’ (tetap, muncul, mengada atau eksis) dalam ibadahnya. Barangsiapa zuhud dalam dunianya dengan hatinya, maka dia fana’ dari kesenangannya.

Jika fana’ dari kesenangan dunia, maka dia baqa’ dengan kebe­naran tobatnya. Barangsiapa terobati akhlaknya sehingga hatinya fana’ dari sifat hasud, dendam, bakhil, rakus, marah, sombong, dan sifat-sifat lain yang merupakan jenis kebodohan nafsu, maka dia fana’ dari akhlak tercela.

Jika fana’ dari ketercelaan akhlak, maka dia baqa’ dengan fatwa dan kebenaran. Barang siapa telah mampu menyaksikan gerak aliran kekuasaan-(Nya) dalam mani­festasi pemberlakuan hukum-hukum (ketuhanan), maka dia dika­takan sebagai orang yang fana’ dari perhitungan dua kejadian (awal kejadian dan proses penggantian atau pengulangan) yang berlaku pada semua makhluk.

Barangsiapa fana’ dari bayangan pengaruh-pengaruh sesuatu yang berubah-ubah, maka dia baqa’ dengan sifat-sifat Al-Haqq. Barang siapa dikuasai oleh kekuasaan hakikat (penampakan Al-Haqq) sehingga tidak bisa menyaksikan hal-hal yang berubah-ubah, baik berupa zat, bekas-bekas, tapak­-tapak, catatan-catatan, maupun reruntuhannya, maka dia fana’ dari makhluk dan baqa’ dengan Al-Haqq.

Baca Juga:  Eksistensi Wali dalam al-Quran

Fana’-nya salik dari af’al yang tercela dan ahwal yang rendah, dan dengan ke fana’-an (ketiadaan) af’al dan ke fana’-an dirinya dari dirinya dan keseluruhan makhluk dengan ditandai ketiadaan rasa pada dirinya sendiri dan sesuatu yang di luar (makhluk), maka dia menjadikan dari af’al, akhlak, dan ahwal. Jika salik benar-­benar fana dari ketiga-tiganya, maka tidak boleh ada sesuatu dari ketiga fana’ tersebut muncul (mengada).

Jika dikatakan seseorang fana’ dari dirinya dan keseluruhan makhluk, maka sebenarnya dirinya masih ada dan keseluruhan makhluk juga masih ada.

Akan tetapi, orang yang mengalami demikian sudah tidak lagi memiliki pengetahuan, rasa, dan kabar yang berkaitan dengan dirinya dan semua makhluk.

Hakikat dirinya masih ada, keberadaan keseluruhan makhluk pun masih ada, namun dia sudah lupa terhadap dirinya dan mereka. Dia tidak mampu merasakan keberadaan dirinya dan semua makh­luk. Hal itu disebabkan kesempurnaan (klimak) kesibukannya dengan sesuatu (Dzat) yang lebih tinggi dari itu semua.

Barangkali kita pernah menyaksikan bagaimana gambaran seorang pria yang masuk ke ruangan seorang penguasa atau raja yang bengis (atau yang sangat berwibawa).

Tentu dia akan ke­bingungan dan kehilangan nalar. Dia tidak sadar terhadap keber­adaan dirinya dan orang-orang di majelis raja. Bagaimana bentuk ruangan yang yang dimasukinya, apa isinya, dan bagaimana rupa dirinya, dia tidak tahu dan tidak mungkin mengajarkan perihalnya.

Baca Juga:  Neo-Sufisme dalam Gerakan Pembaruan Pemikiran Tasawuf

Dalam Al-Quran, gambaran semacam ini pernah diperli­hatkan Allah dalam kisah Nabi Yusuf AS.“ Maka, ketika wanita-wanita itu melihatnya (Nabi Yusuf a.s.), mereka mengucapkan takbir (takjub) dan (lalu) memotong tangan mereka (sendiri).” (QS. Yusuf: 31).

Ini merupakan gambaran makhluk yang lupa terhadap ke­beradaan (kondisi) dirinya ketika bertemu makhluk yang lain. Maka, bagaimana menurutmu jika seseorang tersingkap (muka­syafah) dari tabir yang menutupi Al-Haqq (Allah).

Jika makhluk saja bisa lupa akan keberadaan rasa terhadap dirinya dan sesama makh­luknya, maka apa tidak akan lebih menakjubkan (lupa, tak sadar, dan lalai) jika yang ditemuinya adalah Al-Haqq (Allah SWT).

Mochamad Ari Irawan