Jawaban Kocak Nasiruddin Hodja Ketika Berdebat dengan Orang Atheis

nasiruddin hodja

Pecihitam.org – Saat datang ke kota Aqsyahur, Raja Timur Lenk didatangi seorang atheis. “Aku, tahu di kota ini sebenarnya banyak ulama dan orang-orang yang pandai. Aku ingin menguji kepintaran mereka.” kata si Atheis

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Timur Lenk lalu mengumpulkan para ulama yang ada di kota itu, “Sekarang telah datang seorang cendekiawan yang akan menguji kepandaian kalian dalam masalah ilmu pengetahuan alam dan masalah-masalah kesenian. Dia banyak menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan kesenian. Jika tidak ada di antara kalian yang mampu menjawab, kalian akan dipermalukan.”

“Romawi adalah sebuah negara yang terkenal dengan ulamanya. Banyak orang yang telah belajar ilmu pengetahuan dari negara ini. Jika kalian kalah terhadap mereka, kehebatan kalian tidak akan lagi dipandang oleh umat lainnya,” ujar Timur Lenk.

Para cerdik pandai dan ulama berkumpul di sebuah ruangan untuk membicarakan masalah yang akan mereka hadapi. Mereka menyesalkan di kota itu sangat sedikit ulama. Di antara mereka ada yang berkata,

“Penyesalan sekarang ini tidak ada gunanya, sebaiknya kita bicarakan saja bagaimana kita menghadapi masalah yang akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi ini.”

Ada sebagian mereka yang berpendapat, mereka harus mengundang para ulama dari daerah Qauniyah, Qaishuriyah dan daerah-daerah lainnya. Ada sebagian yang lain berpendapat, kalau mereka mengundang para ulama dari daerah lain, hal itu akan banyak mengundang masalah. Di antaranya adalah penghinaan yang akan dilontarkan oleh Timur Lenk.

Akhirnya mereka sepakat untuk berkonsultasi dengan Syekh Nasiruddin Hodja. Mereka mengutus seseorang untuk mengundang beliau. Beliau pun datang ke tempat pertemuan itu. Mereka menyampaikan masalah yang sedang dihadapkan. Sejenak Nasiruddin Hoja berpikir, lalu berkata, “Serahkan saja masalah ini kepadaku.”

Mereka bertanya, “Apa yang hendak engkau lakukan?”

“Aku akan berusaha menjawab segala permasalahan yang ditanyakan oleh orang atheis itu. Jika aku mampu menjawabnya dengan baik dan benar, lalu mereka puas dengan jawabanku itu, hal itu adalah sebuah kebaikan bagi kita.

Akan tetapi, jika jawabanku tidak benar dan tidak memuaskannya, katakanlah bahwa aku adalah seorang yang kurang waras. Aku masuk ke ruangan itu tanpa diundang.

Kalian katakan pula bahwa aku ini adalah seorang yang tidak dianggap sebagai seorang yang alim. Lalu datangkanlah seorang yang alim lainnya selain aku. Jika sepakat dengan pendapatku ini, kalian harus memberikanku sebuah hadiah.” 

“Benar juga pendapatmu, meskipun hal ini tidak pasti. Insya Allah, tujuan kami hanyalah mengalahkan orang ateis tersebut.”

Hari sudah ditentukan. Di sebuah lapangan dipasang sebuah tenda besar yang akan dijadikan tempat pertandingan antara seorang ateis dengan Syekh Nasiruddin Hodja. Timur Lenk dengan tenang duduk di sebuah kursi kehormatan.

Baca Juga:  Nasrudin Hoja dari Ulama Sakti hingga Tukang Hoak

Lalu datanglah ateis itu dengan menggunakan pakaian yang sangat aneh, sedangkan rambutnya acak-acakan. Dia duduk di dekat kursi kesultanan. Banyak orang yang hadir di tempat tersebut.

Tak lama, Nasruddin hoja datang dengan mengenakan sorban yang besar dan jubah yang sangat bagus. Di belakang beliau ada seorang murid bernama Hammad dan diikuti oleh murid-murid yang lainnya. Mereka masuk ke dalam tempat pertemuan itu.

Nasiruddin Hodja duduk di sebelah kanan Timur Lenk. Setelah mereka minum minuman yang menyegarkan dan beristirahat sejenak, orang atheis itu berdiri dan berjalan ke tengah-tengah lapangan. Dia menulis sebuah lingkaran di atas tanah, seraya menatap tajam Nasiruddin Hodja dan mengharap sebuah jawaban dari beliau.

Nasruddin berdiri, meletakkan tongkatnya tepat di tengah-tengah lingkaran yang dibuat oleh seorang ateis itu. Lalu beliau menggaris bagian tengah lingkaran itu dan membagi lingkaran itu menjadi empat bagian. Beliau menjadikan tiga garis tengah itu mengarah kepada dirinya dengan memberikan isyarat kepada dirinya sendiri dan satu garis lagi diarahkan kepada orang ateis tersebut.

Beliau meletakkan kedua tangan beliau di belakang punggungnya dan menyentuh tubuh orang atheis itu. Orang ateis itu menyambut baik penjelasan yang diberikan oleh Nasiruddin Hodja. Lalu dengan menggunakan isyarat, dia memberitahukan kepada nasruddin bahwa dia telah mengerti isyarat-isyarat yang dimaksud olehnya.

Orang ateis itu membuka kedua tangannya, lalu menjadikan kedua tangannya itu seperti kalung. Setelah itu dia menurunkan tangannya ke bawah dan menjadikan jari jemarinya terbuka, serta mengangkat jari-jemarinya itu dari tanah beberapa kali.

Nasiruddin Hodja melakukan sesuatu yang bertolak belakang dari apa yang dilakukan oleh orang ateis tersebut. Beliau membuka jari-jemarinya, mengarahkannya ke tanah. Melihat jawaban yang diberikan oleh Nasruddin itu, orang atheis tersebut menerimanya dengan baik. 

Orang ateis itu meletakkan jari-jemarinya di atas tanah dan berjalan dengan meniru jalannya binatang-binatang, lalu menunjuk ke perutnya seperti sedang mengeluarkan sesuatu dari perutnya itu.

Melihat isyarat yang dilakukan oleh orang atheis itu, Nasruddin Hoja mengeluarkan sebutir telur dari dalam sakunya, lalu beliau bergerak-gerak seperti akan terbang.

Orang ateis itu merasa takjub terhadap syarat jawaban atas pertanyaan yang disampaikannya itu. Lalu dia mendatangi Syekh Nasiruddin Hodja seraya mencium tangannya.

Melihat kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya itu, Timur Lenk dan para pembesar kota merasa senang. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir saat itu.

Mereka memberikan selamat kepada Nasruddin atas kemenangannya melawan orang atheis itu. Mereka memberikan berbagai hadiah menarik, baik berupa barang maupun yang berupa uang.

Baca Juga:  Kisah Dokter Nasrani Menolong Rombongan Sufi yang Lapar

Setelah orang-orang yang menonton pertandingan itu pulang, Timur Lenk bersama dengan pembesar kerajaan mendatangi orang atheis itu. Mereka bertanya kepada orang ateis itu, “Kami sebenarnya tidak paham terhadap isyarat isyarat yang engkau lakukan secara bergantian dengan Nasiruddin Hodja. Oleh karena itu, jelaskanlah kepada kami.”

Orang ateis tersebut berkata, “Aku mengetahui perbedaan pendapat antara filsuf Yunani dengan filsuf bani Israil tentang masalah penciptaan alam, tetapi aku tidak mengetahui apa pendapat filsuf Islam tentang penciptaan alam tersebut.

Oleh karena itu, aku sangat ingin mempelajarinya. Aku memberikan isyarat kepada Nasiruddin Hodja yang menunjukkan bahwa bumi ini sangatlah luas dan berbentuk bulat.

Dengan isyarat pula, beliau membenarkan perkataanku itu, dan mengatakan sesungguhnya bumi yang luas dan bulat itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Karena itu beliau membagi lingkaran yang aku buat menjadi dua bagian.

Beliau membagi lingkaran itu menjadi empat bagian: tiga bagian mengarah kepadanya dan satu mengarah kepadaku. Hal itu menunjukkan bahwa tiga perempat bumi ini adalah lautan, sedangkan sisanya adalah daratan.

Aku dengan isyarat itu memahami bahwa bumi ini mempunyai tujuh iklim. Setelah itu, aku dengan menggunakan isyarat lagi menanyakan tentang masalah kelahiran, segala rahasianya, serta masalah penciptaan yang terjadi setelah kelahiran itu.

Oleh karena itu, aku mengangkat jari-jemariku ke udara. Aku menggerak-gerakkannya, menunjukkan kepada tumbuh-tumbuhan, pepohonan, mata mata air, dan tambang-tambang. Aku dengan isyarat itu ingin menanyakan tentang bagaimana hal itu bisa terjadi.

Nasiruddin Hodja menunjukkan jari-jemarinya ke atas, lalu ke bawah, yang mengisyaratkan bahwa hujan itu berasal dari langit yang turun ke bumi. Sedangkan kekuatan matahari dan pengaruh udara di bumi ini adalah kekuatan yang dapat membantu adanya kelahiran itu.

“Kekuatan itu memang Allah ciptakan di dalam matahari dan udara tersebut secara tersembunyi. Pendapat itu sangat sesuai dengan pendapat para filsuf saat ini. Lalu, aku bertanya Nasruddin Hoja tentang adanya keturunan dan semakin banyaknya makhluk dengan cara melahirkan yang banyak menimbulkan tanda tanya.”

“Syekh Nasiruddin Hodja mengeluarkan sebutir telur dari dalam sakunya. Beliau menunjuk telur itu seperti beliau akan terbang. Maka, aku paham bahwa isyarat itu menunjukkan bahwa secara global makhluk yang berupa burung adalah seperti itu. Dengan demikian, aku mengetahui, ulama Islam mengetahui tanda tanda yang ada di langit dan bumi.

Dia juga memahami tentang ilmu-ilmu pengetahuan baik yang empirik maupun yang langsung datang dari Tuhan. Beliau itu adalah seorang yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Kalian harus bangga mempunyai seorang ulama yang seperti beliau.”

Baca Juga:  Doa Abu Nawas Meminta Jodoh Wanita Cantik Dan Shalihah

Lalu, dengan penuh penghormatan dan tawadhu, orang ateis itu meninggalkan mereka.

Setelah orang ateis itu pergi, Timur Link bersama dengan para pembesar kerajaan sangat penasaran. Mereka datang ke rumah Syekh Nasiruddin Hodja untuk meminta penjelasan tentang isyarat yang beliau berikan kepada orang ateis itu.

“Orang itu kelaparan seperti aku. Dia adalah sama seperti aku. Saat orang atheis menulis sebuah lingkaran di atas tanah, hal itu merupakan sebuah isyarat di bagian depan rumah ada seekor burung sedang terbang seperti lingkaran ini. Aku membagi lingkaran itu menjadi dua bagian. Hal itu merupakan isyarat dariku bahwa burung itu harus dibagi menjadi dua, yaitu antara engkau dan aku karena kita adalah bersaudara.

Setelah aku melihat bahwa dia belum paham terhadap apa yang aku isyaratkan, maka aku membagi lingkaran itu menjadi empat bagian: aku menjadikan tiga bagian itu adalah untukku sendiri dan yang satu bagian adalah untuknya. Dia setuju dengan pembagian yang aku tawarkan dengan menganggukkan kepalanya.

“Lalu, orang itu mengisyaratkan tentang panci nasi yang sedang direbus di atas api. Aku mengisyaratkan agar dia meletakkan garam, bumbu, merica, dan kismis di dalam panci nasi itu. Begitulah aku berusaha untuk memecahkan masalah yang diisyaratkan oleh orang atheis itu kepadaku.”

Dia mengisyaratkan kepadaku dengan menggunakan jari-jemarinya tentang kelaparan yang sedang menimpa dirinya dan dia menemukan sebuah makanan yang sangat lezat di hadapannya.

“Melihat isyarat yang seperti itu, aku mengisyaratkan pula bahwa aku lebih lapar dibandingkan dia sehingga aku seakan-akan terbang karena kelaparan. Aku katakana kepadanya bahwa aku bangun tidur di pagi hari. Aku ingin makan, namun aku tidak menemukan makanan kecuali sebutir telur.

Istriku memberikan sebutir telur itu kepadaku. Namun aku tidak mempunyai waktu untuk memakannya karena saat itu ada utusan kalian datang ke rumahku untuk menjemputku datang ke arena pertandingan itu sehingga aku meletakkan telur pemberian istriku itu di dalam sakuku. Siapa tahu di dalam pertemuan ini aku tidak diberi makan.”

Mendengar perbedaan penjelasan antara orang ateis dan Nasruddin Hoja tersebut, orang-orang yang hadir saat itu tertawa terpingkal-pingkal, “Demi Allah, wahai Syekh Nasiruddin, ini sungguh sangat menakjubkan.

Bagaimana orang itu menyampaikan berbagai masalah dan engkau bisa memecahkannya dengan baik, namun antara pemahamanmu dengan orang itu sangatlah berbeda. Akan tetapi, kedua belah pihak sama-sama suka terhadap pemecahan masalah tersebut.”

Akhirnya mereka pulang dengan penuh keheranan.

*Diolah dari berbagai sumber tentang Humor sufi Nasruddin Hoja

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.