5 Jurus Aman Menghadapi Debat dan Tuduhan dari Wahabi Salafi

Jurus Aman Menghadapi Wahabi Salafi

Pecihitam.org – Sudah menjadi kebiasaan, bagi sebagian kalangan yang berpaham Wahabi-Salafi sering usil dengan mempermasalahkan tradisi masyarakat Islam di mana saja, seperti tahlilan, ratiban, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjama’ah, zikir keras berjama’ah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ziarah kubur dll.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka melakukan hal tersebut memang dalam rangka menyebarkan pengaruh dan paham di masyarakat. Umumnya, mereka bersikap seperti seorang ustadz yang ingin mengembalikan masyarakat yang tersesat kepada jalan agama yang benar (menurut mereka).

Meski demikian, anehnya mereka lebih senang mendakwahi orang-orang awam yang memang tidak mengerti. Padahal, kalau mereka mengklaim kebenaran versi mereka sendiri, seharusnya yang diprioritaskan untuk didakwahi adalah kalangan orang alim karena sudah terjerumus sangat jauh dalam “keyakinan sesat”.

Ternyata, ustadz-ustadz wahabi salafi tidak berani melakukannya. Ya tentunya karena mempengaruhi orang awam pasti jauh lebih mudah daripada orang alim. Toh faktanya sering kali dari kalangan Wahabi Salafi ketika diajak debat ilmu secara terbuka mereka sendiri yang tidak berani datang.

Kalau yang di prioritaskan hanya orang awam saja, berarti dakwah mereka tidak bisa disebut “mengembalikan orang sesat kepada jalan yang benar” namun lebih tepat disebut sebagai “upaya merekrut pengikut dengan memanfaatkan keawaman dan ketidakmengertian orang terhadap ilmu agama”.

Ya!. Serigala memanng hanya menyerang kambing gembala yang terpisah dari rombongan! Ia tidak akan mendekati kambing-kambing yang sedang diawasi oleh penggembalanya, apalagi menyerang penggembala yang sedang memegang senapan.

Oleh karenanya, bila keusilan ini terjadi, maka lakukanlah 5 jurus berikut ini secara berurutan:

Baca Juga:  Pentingnya Seorang Hamba Selalu Husnudzon Kepada Allah

1. Hindari Pembahasan Agama dengan Penganut Wahabi Salafi

Langkah ini untuk menghindari perdebatan yang dapat memancing emosi yang bisa berakibat percekcokan dan rusaknya silaturrahmi. Apalagi jika mereka masih memiliki hubungan keluarga, nasab, atau kekerabatan dengan anda. Menjaga siilaturahmi jauh lebih utama dari pada mendengarkan penjelasan atau dakwah yang berpotensi merusak hubungan baik itu.

2. Pinjamkan Buku-Buku Ulama Aswaja yang Membahas Persoalan yang Mereka Perkarakan

Orang terlalu membenci suatu perkara biasanya akibat dari ketidaktahuannya. Jadi, bila mereka tidak berhenti mengajak anda untuk membahas masalah Maulid, ziarah kubur, tahlilan, atau yang lainnya, maka pinjamkanlah kepadanya buku-buku yang anda punya yang membahas tentang hal-hal tersebut secara detail (tentunya anda harus punya, dan pernah membacanya).

Suruhlah ia membacanya dengan pikiran terbuka, bukan dengan pandangan sinis. Dengan begitu anda telah memberinya jawaban tanpa harus berdebat dengannya. Dan ingat, jangan baca buku-buku Wahabi Salafi tanpa didampingi oleh orang alim.

3. Ajak Orang Wahabi Salafi Itu Kepada Guru, Ustadz, Kiai, atau Habib

Bila Wahabi itu tetap usil terus-menerus dan berupaya mempengaruhi atau membuka peluang perdebatan tentang urusan agama, maka ajaklah dia untuk membahasnya bersama guru atau ustadz anda, atau orang alim yang anda kenal. Dan jangan biarkan dia yang membawa anda kepada gurunya.

Misalnya, si Wahabi usil ini mengajak anda untuk kembali membahas urusan agama, maka katakan saja:

“Sebaiknya kita bahas masalah itu di rumah atau di majlis pengajian guru saya.”

Baca Juga:  Ini Salah Satu Keutamaan Bersuci Yang Perlu Kamu Tahu!

“Ustadz saya lebih mengerti tentang itu, kalau anda mau, saya antar anda untuk menemuinya.”

Dalil sikap ini sangat jelas yaitu firman Allah dalam surat An-Nahl : 43:

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

4. Tunjukkan Penolakan yang Tegas

Jika langkah 1-3 tidak berhasil dan si Wahabi masih usil, maka tunjukkan penolakan yang tegas kepadanya, misalnya dengan mengatakan:

“Kalau anda ingin hubungan kita tetap baik, tolong berhenti membahas agama dengan saya.”
“Saya tidak suka anda membahas keyakinan saya. Cukuplah sampai di sini, jangan anda lanjutkan.”
“Saya berhak melakukan apa yang saya yakini, tolong jangan permasalahkan lagi.”
“Bila anda tidak berhenti membahas, berarti anda sudah tidak menghargai saya. Dan saya tidak perlu mendengarkan anda lagi.”

5. Ancaman Perlawanan Secara Langsung Jika Perlu Jalur Hukum

Bila langkah ke-4 masih juga belum berhasil apalagi sudah sampai pada tingkat memaksakan kehendak, dan itu melanggar undang-undang agama sekaligus undang-undang negara. Maka nyatakan perlawanan anda dengan agak keras:

“Kesabaran saya sudah habis, lebih baik anda pergi sebelum emosi saya tidak terkendali!” Atau saya laporkan kepada yang berwajib!”
“Jangan paksa saya, atau saya akan perangi anda!”

Harapannya semoga langkah yang terakhir ini tidak perlu terjadi. Semoga cukup dilangkah pertama dan kedua saja keusilan mereka berhenti.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، رواه البخاري

Baca Juga:  Sebab-Sebab Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Bagian - 2

“Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, orang-orang muda usia, pendek akal, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan manusia (al-Qur’an. atau hadis, atau perkataan baik yang bertolak belakang pengertiannya) yang tidak melampaui kerongkongan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka). Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Maka, di mana saja kamu menjumpai mereka, perangilah, karena di dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi yang melakukannya.” (HR. Bukhari)

Ulama menafsirkan, “orang-orang muda usia yang pendek akal” itu adalah kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang sakit hati kepada Ali bin Abi Thalib Ra. dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra. beserta para pendukung keduanya. Ciri mereka kemudian dikenal dengan sikap bermudah-mudah menganggap sesat orang lain. Dan seorang ulama besar bernama Syekh Ibnu Abidin menyatakan, bahwa Khawarij di zaman kita ini adalah golongan Wahabi (lihat al-Maqaalaat as-Sunniyyah, hal. 51).

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik