Kabut Asap dan Pentingnya Teologi Keislaman untuk Menyelamatkan Lingkungan

Kabut Asap dan Pentingnya Teologi Keislaman untuk Menyelamatkan Lingkungan

Pecihitam.org – Asap berwarna kuning pekat belakangan ini menutupi langit-langit pulau Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, kabarnya kabut asap tersebut sudah sampai ke negeri tetangga, Singapura dan Malaysia. Dikabarkan pula bahwa kabut asap tersebut juga telah menelan korban jiwa, ada seorang balita meninggal dunia. Dengan demikian, peristiwa tersebut adalah peristiwa kemanusiaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam ajaran Islam pernah dikabarkan bahwa kerusakan lingkungan di dunia itu daripada disebabkan oleh bencana alam alamiah (seperti gempa bumi) lebih sering terjadi disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri.

Manusia terlampau rakus dan mengeksploitasi lingkungan alam di bumi secara berlebihan, menjadikan keseimbangannya terganggu. Dan dampaknya adalah bencana alam yang akhirnya menelan korban jiwa.

Kerusakan lingkungan ini jika ditelisik dari sisi kesejarahan adalah bermula sejak ditemukannya teknologi di Eropa pada abad ke-17/18 masehi. Saat itu mulai ditemukannya mesin uap, kemudian setelah ditemukannya teknologi tersebut, manusia mulai membuat pabrik modern dalam skala besar.

Rupa-rupanya penemuan tersebut tak hanya membawa dampak positif, dampak negatifnya malah terlamau lebih banyak diakibatkannya.

Baca Juga:  Menjawab Dugaan Miring Tradisi Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi

Penemuan teknologi modern tersebut memang penuh ambivalensi dan anomali. Di satu sisi ia membawa peradaban manusia lebih berkembang, dalam segala lini manusia melakukan modernisasi.

Akan tetapi, di sisi yang lain, penemuan tersebut membawa petaka bagi umat manusia. Semakin banyak hutan dan lahan yang dijadikan industri dan secara bersamaan kerusakan alam yang diakibatkannya juga semakin menjadi-jadi.

Sejak saat itulah kerusakan lingkungan di bumi ini terus berlangsung. Hutan semakin gundul, satwa semakin punah, es di kutub semakin mencair, oksigen semakin menipis, polusi udara terjadi di mana-mana, dan bumi semakin panas.

Dalam kondisi demikian itu, kita sebagai umat Islam perlu merespon kondisi-kondisi lingkungan kekinian yang sedang mengalami pengrusakan yang tak henti-hentinya itu.

Perlu adanya teologi keislaman yang mampu menjadikan penggerak kita semua untuk menyelamatkan lingkungan kita di bumi ini. Untuk mencapai terbentuknya teologi lingkungan tersebut, kita perlu menilik dulu gagasan tentang Islam Transformatif dari seorang cendikiawan muslim bernama Moeslim Abdurrahman.

Baca Juga:  Kabut Asap, Teguran Tuhan yang Diabaikan

Menurut Moeslim dalam bukunya berjudul Islam Sebagai Kritik Sosial (2003) menjelaskan bahwa ajaran Islam harus terus dikontekstualisasikan dengan fakta realitas sosial dimana orang-orang muslim itu hidup. Ajaran Islam menurutnya harus mampu menjawab problem yang sedang diderita oleh orang-orang muslim yang mengimaninya.

Dalam konteks ini, perlu kita pinjam pemikiran Moeslim untuk dikontekstualisasikan dengan situasi kekinian, yakni tentang terjadinya kerusakan lingkungan secara masif.

Dalam mengkonstruksikan teologi yang peduli dengan kerusakan lingkungan, pertama-tama perlu untuk melakuan aktualisasi penafsiran al-Qur’an untuk merespon keruskan lingkungan tersebut.

Menurut Moeslim bahwa jika zaman dulu ada seorang cendikiawan Pan Islamisme asal tanah Mesir bernama Muhammad Abduh (1905) pernah mengarang kitab tafsir yang sangat terkenal bernama tafsir al-Manar yang menjadi panduan bagi cendikiawan muslim untuk membangkitkan peradaban Islam dari kejumudan dan kebodoahan zaman itu.

Menurut Moeslim, zaman ini juga perlu ada kitab semacam al-Manar yang dapat dijadikan panduan yang disebutnya sebagai idologiekritik untuk menjawab permaslahan orang muslim yang tak terakomodasi oleh proses modernisasi.

Baca Juga:  Krisis Teologi ( Keimanan ) di Tengah Wabah Covid-19

Dalam konteks kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini, upaya penafsiran tersebut perlu diarahkan kepada sebuah penafsiran yang dikaitkan dengan sebab-sebab terjadinya kerusakan pada lingkungan. 

Upaya aktualisasi penafsiran yang lebih berpihak kepada pencegahan kerusakan lingkungan ini menemui urgensinya saat ini. Sebab, seringkali terjadi belakangan ini penafsiran ajaran Islam kuang menyentuh hal-hal yang “sebenarnya” menjadi problem besar umat Islam saat ini, seperti kasus kabut asap yang terjadi saat ini.

Padahal oleh Allah Swt, kita manusia di dunia ini, diamanahi sebagai khalifah fil ardh (wakil Allah di bumi). Amanah tersebut termasuk untuk menjaga kelestarian lingkungan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.