Ketika al-Kindi Menakwil al-Quran, Harmonisasi Filsafat dan Agama

Ketika al-Kindi Menakwil al-Quran

Pecihitam.orgPenolakan terhadap filsafat terjadi hingga hari ini. Tapi keharmonisan filsafat dan agama terbuktikan ketika al-Kindi menakwil al-Quran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu serangan para ulama, khususnya kaum teolog atau mutakallimun, terhadap filsafat adalah soal posisinya terhadap otoritas wahyu.

Mereka menganggap bahwa aktivitas filosofis yang menggunakan akal dalam memahami dunia acapkali bertentangan dengan doktrin-doktrin wahyu.

Serangan tersebut terus berlangsung bahkan hingga sekarang, sekalipun para filosof dan golongan yang pro-filsafat berupaya keras melakukan pembelaan-pembelaan terhadapnya.

Pembelaan para filosof terhadap filsafat umumnya dinyatakan dengan penekanan bahwa filsafat tidaklah betentangan dengan agama dan filsafat dapat berjalan secara terpadu dan harmonis dengan agama.

Kesalahpahaman para teolog nampaknya dipengaruhi oleh sikap ekslusif mereka karena filsafat Islam berasal dari sumber-sumber luar yang dalam hal ini adalah sumber Yunani dan Persia.

Tokoh filosof muslim yang dengan tegas membela filsafat adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Shabbah atau yang dikenal dengan al-Kindi (801-873 M).

Tokoh ini tercatat sebagai filosof bernama besar pertama yang memperkenalkan filsafat ke dunia Islam, sehingga wajarlah jika kemudian dirinyalah yang pertama kali mendapat tentangan dari para teolog. Hal itu tentu saja membuatnya merasa berkewajiban untuk membela filsafat.

Dalam upaya tersebut, sebagaimana diuraikan oleh George Atiyeh dalam al-Kindi, the Philosopher of the Arabs (terjemahan oleh Kasidjo Djojosuwarno, 1983), al-Kindi mengajukan argumen-argumen terkait betapa filsafat selaras dengan wahyu.

Pertama-tama, al-Kindi menegaskan bahwa filsafat dan agama memiliki tujuan yang sama sekalipun masing-masing berbeda dalam metode mencapai tujuan itu.

Baik filsafat dan agama bertujuan sama dalam dua hal, yakni mengetahui dan memahami keesaan Tuhan pada tingkat teoritis dan mengejar kebajikan dalam kehidupan moral yang tinggi pada tingkatan praktis.

Mengenai tujuan pertama dapat difahami bahwa filsafat di masa al-Kindi dan beberapa masa sesudahnya berorientasi pada persoalan metafisika – bahkan al-Kindi menulis buku yang khusus membahas persoalan tersebut dengan judul fi al-falsafah al-`ula. Persoalan metafisika menjadi penting karena pada masa itu metafisika terkait erat dengan perbincangan mengenai ketuhanan (teologi).

Baca Juga:  3 Golongan Hamba yang Akan Dimurkai oleh Allah pada Hari Kiamat

Adapun tujuan kedua mengandung persoalan lainnya: apakah akal yang menentukan prinsip-prinsip moral ataukah wahyu? Dengan kata lain, jika seseorang berbuat kebaikan apakah itu merupakan hasil kerja akal ataukah berasal dari petunjuk wahyu?

Perselisihan antara akal dan wahyu menjadi perdebatan panjang sepanjang perkembangan keilmuan di dunia Islam. Perselisihan soal yang mana dari kedua sumber pengetahuan itu dinilai lebih otoritatif dibanding yang lain itu terjadi dalam berbagai bidang.

Dalam teologi dan fiqih, misalnya, para ulama terbagi menjadi ahl al-ra’y (rasionalisme) dan ahl al-sunnah (tradisionalisme). Dalam ilmu tafsir dikenal pula metode tafsir bi al-ra’y dan tafsir bi al-ma’tsur.

Perselisihan inilah yang coba dijembatani oleh al-Kindi. Ia menekankan bahwa pertentangan akal dan wahyu terjadi karena kedangkalan perspektif kita dalam memahami al-Qur`an.

Dalam memahami kitab suci, terutama terhadap ayat-ayat yang maknanya ambigu atau mutasyabihat, diperlukan suatu metode khusus, yaitu metode alegori atau ta`wil.

Ketika al-Kindi menakwil al-Qur`an itulah ia mencoba mempersempit jarak antara akal dan wahyu dan sekaligus ingin mengilustrasikan keharmonisan filsafat dan agama.

Salah satu upaya al-Kindi menakwil al-Qur`an dapat ditemukan dalam risalahnya berjudul fi al-Ibanah ‘an Sujud al-Jirm al-Aqsha wa Tha’at Allah (Tentang Pengemukaan mengenai Ketundukan Badan Paling Luar dan Sujudnya kepada Tuhan). Di sana ia diminta muridnya untuk menjelaskan makna ayat: “dan bintang-bintang dan pohon-pohon tunduk (bersujud) kepada-Nya.” (QS. 55: 6).

Al-Kindi menyatakan bahwa kata “tunduk” atau “sujud” dalam ayat tersebut memiliki arti ganda. Kata tersebut bisa difahami secara harfiah, yaitu menundukkan tubuh dan kepala dalam ibadah salat, bisa pula difahami secara majazi, yaitu memberikan penghormatan.

Baca Juga:  Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Tentu saja ia mengambil makna yang kedua karena bintang-gemintang dan pohon-pohon tidak mungkin melakukan gerakan dan beribadah salat seperti yang dilakukan seorang muslim.

Penjelasan tersebut tidak berhenti sampai di situ. Ketika al-Kindi menakwil al-Quran ia memberi muatan filosofis terhadap pengertian ayat al-Qur`an. Bintang-bintang dan seluruh benda langit bergerak dan beredar dalam keteraturan serta menjalankan fungsi-fungsinya sebagai penyebab kehidupan dan kematian di bumi. Keteraturan benda-benda langit itu merupakan ketundukannya kepada Tuhan.

Akan tetapi keteraturan benda-benda langit itu bukanlah bersifat pasif, melainkan kepatuhan yang bersifat sukarela. Di sini ia sejalan dengan Aristoteles yang percaya benda-benda langit memiliki kehidupan dan nalar.

Hal ini dibuktikannya berdasarkan fakta bahwa kehidupan dan kematian di bumi disebabkan oleh keteraturan benda-benda langit (konsep dasar ilmu biologi modern menyatakan matahari, misalnya, mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan badan manusia).

Penyebab memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada akibat, sehingga menurut al-Kindi, jika manusia dan makhluk-makhluk hidup lain memiliki kehidupan dan nalar maka benda-benda langit yang menjadi penyebab kehidupan di bumi tentu memiliki kehidupan dan nalar pula.

Tentunya nalar benda-benda langit berbeda dengan nalar manusia dalam fungsi dan tujuannya, namun ini sudah cukup membuktikan bahwa benda-benda langit yang memiliki kehidupan dan nalar itu tunduk dan patuh secara sukarela kepada kehendak Tuhan.

Tidak sulit bagi kita untuk memahami konsekuensi moril dari takwil al-Kindi ini terhadap ayat di atas. Jika bintang-bintang dan benda-benda tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan bergerak menjalankan fungsi dan manfaatnya kepada kehidupan di bumi secara teratur, maka pohon-pohon dan manusia harus bergerak menjalankan fungsi dan memberi manfaat kepada kehidupan alam semesta secara teratur sebagai wujud ketundukannya kepada Allah.

Baca Juga:  Memegang Al-Quran Terjemah Tanpa Wudhu Bolehkah?

Ilustrasi lainnya yang mengandung pesan keharmonisan filsafat dan agama adalah ketika al-Kindi menakwil al-Quran ayat: “sesunggunya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanya berkata kepadanya: jadilah! Maka jadilah ia.” (QS. 36: 82). Sebagaimana uraian sebelumnya, al-Kindi juga menggunakan analisa linguistik dan metafisis dalam memahami ayat ini.

Bagi al-Kindi kata “jadilah!” tidak dapat difahami secara harfiah sebagai suatu perintah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa Al-Kindi adalah filosof yang percaya pada penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), tidak seperti filosof-filosof sesudahnya yang mengatakan bahwa alam itu abadi, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Maka sungguh aneh jika Tuhan memberi perintah kepada sesuatu yang tidak atau belum ada.

Karena itulah kata tersebut tidak difahami sebagai penyapaan, melainkan difahami secara metaforis, yakni sebagai simbol kehendak Tuhan. Dengan demikian, penciptaan makhluk bukanlah suatu proses yang melibatkan sifat atau gerakan partikular Tuhan, yakni kalam-Nya, tetapi melibatkan keseluruhan aspek kehendak dan kekuasaan Tuhan.

Kedua ilustrasi tadi rasanya cukup menggambarkan bagaimana al-Kindi menjadikan metode takwil al-Qur`an sebagai perantara untuk mendekatkan akal dan wahyu sekaligus membuktikan filsafat dan agama tidaklah bertentangan.

Meski sampai hari ini penolakan terhadap filsafat terus terjadi, setidaknya melalui uraian ini kita mengetahui al-Kindi pernah berupaya keras membela filsafat.

Yunizar Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published.