Kisah Nabi Musa Berguru pada Nabi Khidir

kisah nabi musa dan nabi khidir

Pecihitam.org – Kisah perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir, rupanya sudah tidak asing lagi di kalangan umat islam, baik dari jenjang anak-anak hingga kalangan orang dewasa. Kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhori, kitab Tafsir Al Quran bab surat al-kahfi ayat 60.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Alkisah, pada suatu hari, Nabi Musa berdiri untuk berpidato di hadapan kaum Bani israil. Setelah itu, ada seseorang yang bertanya kepadanya;

Wahai Musa, siapakah orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi ini?” Lalu Nabi Musa menjawab; “Akulah orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi ini.”

Setelah kejadian tersebut, Allah nenegur Nabi Musa, karena ia tidak menyadari bahwa ilmu yang diperolehnya adalah pemberian Allah. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa, yang berisi tentang sebuah kabar bahwa Allah SWT mempunyai hamba yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai daripada Nabi Musa, Allah juga mewahyukan bahwa ia sekarang berada di antara dua lautan.

Lalu Nabi Musa ‘Alaihis Salam bertanya; “Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan hambaMu itu?” Allah berfirman “Bawalah seekor ikan, dan masukkan dalam keranjang yang terbuat dari daun kurma. Manakala ikan tersebut lompat, maka di situlah hamba-Ku berada.”

Kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani seorang muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun, dengan membawa seekor ikan di dalam keranjang yang terbuat dari daun kurma. Keduanya berjalan kaki menuju tempat tersebut.

Ketika keduanya sampai di sebuah batu besar, mereka pun tertidur lelap. dan tiba-tiba ikan yang berada di dalam keranjang tersebut, berguncang keluar, lalu masuk ke dalam air laut. Lalu ikan itu melompat ke laut dan berenang di dalamnya. Kemudian Allah menahan air yang dilalui ikan tersebut, hingga menjadi terowongan.

Baca Juga:  Cara Tokoh NU Dalam Mendidik Anaknya - Kisah KH Wahid Hasyim

Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanannya hingga waktu berlalu siang dan malam. Ternyata, murid Nabi Musa lupa untuk menceritakan soal ikan yang hilang dari keranjang kurmanya tersebut. Pada pagi harinya, Nabi Musa berkata kepada muridnya; “Bawalah makanan kita kemari! Sesungguhnya saya merasa letih karena perjalanan kita ini.”

Tak jauh dari tempat peristirahatan, muridnya pun berkata “Wahai Musa, aku lupa menceritakan padamu mengenai ikan yang kamu bawa di keranjang kurma itu, tatkala kita mencari tempat berlindung di batu besar dan tertidur, ikan tersebut mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

Musa berkata, “Itulah tempat yang sedang kita cari.” Lalu keduanya kembali mengikuti jalan mereka semula. Kemudian keduanya menelusuri jejak dimana ikan tersebut melompat ke air laut. Setelah keduanya tiba di batu besar tadi, maka mereka melihat seorang laki-laki yang sedang tertidur berselimutkan kain.

Lalu Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khidir bertanya kepada Musa; “Siapakah kamu?” Musa berkata, “Saya adalah Musa.” Nabi Khidir bertanya, “Musa Bani Israil?” Nabi Musa menjawab, “Ya”.  Kemudian Nabi Musa menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu ingin berguru kepada Khidir.

Lalu Nabi Khidir mengatakan, “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang belum kamu ketahui?” Musa berkata, “Insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku pun tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apapun.” Khidir menjawab, “Jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.”Musa menjawab, “Baiklah”.

Kemudian Nabi Musa dan Nabi Khidir berjalan menyusuri pantai. Tak lama kemudian ada sebuah perahu yang lewat. Lalu keduanya meminta tumpangan pada perahu tersebut.

Ternyata orang-orang yang ada dalam perahu itu,  mengenal Nabi Khidir dengan baik, hingga akhirnya mereka tidak diminta untuk membayar upah atas tumpangan tersebut.

Baca Juga:  Ternyata, dari 25 Utusan yang Wajib Kita Ketahui, Ada Nabi yang Bersaudara

Setelah itu, Nabi Khidir mendekat ke salah satu papan di bagian perahu tersebut dan melobanginya. Melihat hal itu, Musa menegur dan memarahinya, seraya berkata,

“Mereka ini adalah orang-orang yang mengangkut kita tanpa meminta upah, tetapi mengapa kamu malah melubangi perahu mereka? Apakah kamu ingin meneggelamkan penumpangnya?”

Khidir menjawab, “Bukankah aku telah mengatakan padamu untuk tidak bertanya dan bersabar untuk mengikutiku?” Musa berkata sambil merayu,  “Janganlah kamu menghukumku karena kekhilafanku”. Tak lama kemudian, keduanya pun turun dari perahu tersebut.

Kemudian, Ketika keduanya sedang berjalan-jalan di tepi pantai, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya.  Lalu, Nabi Khidir segera memegang dan membekuk kepala anak kecil itu dengan tangannya hingga ia menemui ajalnya.

Dengan gusarnya Nabi Musa, kemudian ia berupaya untuk menghardik Nabi Khidir, “Mengapa kamu bunuh anak yang tak berdosa, sedangkan anak kecil itu belum pernah membunuh? Sungguh kamu telah melakukan perbuatan yang munkar.”

Khidir berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwasanya kamu tidak akan mampu untuk bersabar dalam mengikutiku. Dan ini melebihi dari yang sebelumnya.” Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tenteng sesuatu setelah ini, maka janganlah kamu perbolehkan aku untuk menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur (maaf) kepadaku.” 

Selanjutnya Nabi Musa dan Nabi Khidir melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka berdua tiba di suatu negeri, maka keduanya pun meminta jamuan dari penduduk negeri tersebut, tapi sayangnya penduduk tersebut enggan menjamu keduanya. Lalu keduanya mendapati sebuah dinding rumah yang hampir roboh, namun Nabi Khidir langsung menegakkannya (memperbaikinya).

Melihat kejadian itu, Musa berkata kepada Khidir, “Kamu telah mengetahui bahwa para penduduk negeri yang kita datangi ini enggan menyambut dan menjamu kita. Jika kamu ingin menolongnya, maka kamu bisa meminta upah untuk membenarkan rumahnya”.

Akhirnya Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan beritahukan kepadamu tentang rahasia yang mana kamu tidak sabar akan kejadian-kejadian tersebut.”

Rahasia dibalik kejadian tersebut adalah, perihal perahu yang telah aku lobangi itu dikarenakan, di depan mereka ada seorang penguasa dholim yang akan merampas setiap perahu yang masih bagus.

Baca Juga:  Kisah Sunan Giri Dalam Menyebarkan Islam Di Jawa

Sedangkan anak kecil yang dibunuh Nabi Khidir nantinya akan menjadi kafir sedangkan kedua orang tuanya mukmin. Adapun alasan Nabi Khidir menenggakan rumah yang hampir roboh tersebut adalah, sebab didalamnya terdapat harta anak yatim.

Dalam riwayat tersebut juga disebutkan, bahwa Rasul SAW berkata, “Jika saja Nabi Musa mampu bersabar, maka pastilah kita akan mendapatkan cerita yang lebih panjang lagi.” 

Hikmah dari kisah perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing, sebab terkadang kita mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain, begitupun sebaliknya.

Dan setinggi apapun ilmu yang dimiliki manusia tetap saja tidak ada bandingannya dengan ilmu yang dimiliki oleh Allah. Oleh sebab itu, tak pantas jika kita menyombongkan atas apa yang kita punya, karena semuanya adalah milik Allah SWT.

Smoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bissshowab.

Nur Faricha

Leave a Reply

Your email address will not be published.