Kisah Nabi Sulaiman Menolong Laki-laki Menghindari Malaikat Maut

kisah nabi sulaiman

Pecihitam.org – Alkisah pada zaman Nabi Sulaiman as. ada seorang laki-laki yang berusaha menghindar dari kematian. Suatu hari Nabi Sulaiman sedang menjamu tamu-tamu beliau. Di tengah perjamuan makan itu, sesosok lelaki menghampiri Nabi Sulaiman. Lelaki yang menghadap Nabi Sulaiman itu rupanya adalah Malaikat Izrail.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Usai menemui Nabi Sulaiman, Malaikat Izrail tampak menatap lekat ke arah seseorang di antara tamu-tamu yang hadir. Mata Malaikat Izrail mengikuti orang tersebut, lalu tidak lama kemudian ia pergi.

Sang tamu merasa gelisah, ia rupanya menyadari tatapan itu dan menunjukkan sikap resah, hingga Nabi Sulaiman menghampirinya.

“Wahai Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu tampak sangat resah? Apakah ada yang tidak memuaskanmu dari jamuan ini?”, tanya Nabi Sulaiman pada tamunya.

“Bukan. Bukan begitu. “Jamuan yang engkau berikan sungguh lebih dari yang aku harapkan. Engkau memang orang yang sangat mulia”. jawab sang tamu

Nabi Sulaiman mengangguk paham. “Lalu, apa yang membuatmu resah? Sampaikan padaku, mungkin aku bisa membantumu untuk mencari jalan keluarnya”.

Tamu Nabi Sulaiman itu lalu bertanya, “Wahai, Nabi Sulaiman. Siapakah dia?”. Sang tamu kemudian menceritakan seseorang yang sedari tadi menatapnya saat sedang berbincang, namun kemudian menghilang saat sang tamu melihat ke arahnya.

Baca Juga:  Kisah Nabi Sulaiman Gelar Selamatan dan Sedekah Laut

Nabi Sulaiman lalu menjawab, “Dia adalah sahabatku, Sang Malaikat Maut”.

Sang tamu itu menceritakan apa yang dirasakannya kepada Nabi Sulaiman. “Wahai Nabi Allah, tadi aku melihat orang itu selalu menatapku. Sampai-sampai aku merasa takut dibuatnya”. “Apakah ia hendak mencabut nyawaku? Tolong selamatkan aku darinya, Wahai Nabi”, kata lelaki itu dengan cemas.

Nabi Sulaiman kemudian bertanya kepada tamunya itu, “Bagaimana cara agar aku bisa menyelamatkanmu?”.

“Perintahkan saja angin untuk membawaku pergi hingga ke India. Dengan begitu, mungkin saja ia akan kehilangan jejakku sehingga tidak bisa mencabut nyawaku”, usul sang tamu.

Nabi Sulaiman kemudian memanggil angin untuk membantunya. Nabi Sulaiman memang bisa mengendalikan angin, sebagaimana yang Allah firmankan di surat Al Anbiya ayat 81:

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Kemudian angin diperintahkan Nabi Sulaiman untuk mengantar tamu itu secepat mungkin ke bagian paling ujung negeri India.

Angin pun mengangguk patuh, dan ia memenuhi perintah Nabi Sulaiman. Diantarkannya lelaki itu hingga ke negeri India. Nabi Sulaiman yang sudah berada di istananya kemudian dihampiri oleh Malaikat Maut.

Baca Juga:  Kisah Lengkap Nabi Sulaiman dan Kawanan Semut yang Diceritakan dalam Al-Qur'an

Saat Malaikat Maut kembali menghadap Nabi Sulaiman bertanya padanya, “Wahai Malaikat Maut, mengapa tadi engkau melihat ke arah tamuku dengan tatapan tajam, hingga membuatnya takut?”.

Malaikat Maut pun menjawab, “Sebenarnya aku merasa sangat heran. Allah memerintahkan padaku untuk mencabut nyawa orang itu di negeri India. Namun saat kutemui ia berada sangat jauh dari tempat yang telah ditentukan itu”. Malaikat melanjutkan ceritanya kembali, dan menuturkan bahwa akhirnya ia memilih untuk menunggu dan mengawasi tamu itu.

“Kemudian ada angin yang sangat cepat membawanya ke negeri India. Aku mengikutinya, lalu kucabut nyawa orang itu disana, sesuai yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan kepadaku”, lanjut Malaikat Maut.

“Jadi kau temui orang itu di India?”, tanya Nabi Sulaiman kepada Malaikat Maut.

“Iya, benar. Apa yang Allah perintahkan memang tidak salah. Tugas itu sudah kulaksanakan”, pungkas Malaikat Maut.

Hikmah

Dari kisah Nabi Sulaiman dan Malaikat Maut diatas, ada hal yang dapat kita petik. Bahwa kematian tidak dapat dihindari walau kemanapun kita pergi. Jika Malaikat Maut telah menjemput, maka saat itulah ajal kita tiba. Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan tidak akan bisa menghindar dari takdir kematian. Karena itu sudah ketetapan Allah SWT.

Baca Juga:  Hah, Nabi Sulaiman Ternyata Jadi Nabi Terakhir yang Masuk Surga! Kok Bisa?

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Al Jumuah : 8).

*Kisah ini terdapat dalam kitab al-Majallis as-Saniyyah karya Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi Al Fusyni

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik