Konsep Mahabbah dalam Pandangan Imam Al Ghazali

Konsep Mahabbah dalam Pandangan Imam Al Ghazali

Pecihitam.org – Seperti yang dibahas sebelumnya bahwasanya dalam dunia Tasawuf, kita tidak akan pernah lekang dengan yang namanya Konsep Mahabbah dan Ma’rifah, dan disinilah terletak perbedaan pendapat di kalangan sufi, seperti menurut Al Kalabazi yang lebih mendahulukann Mahabbah kemudian Ma’rifah sedangkan menurut Imam Abu Hamid Al Ghazali malah beranggapan bahwa Ma’rifah lah yang lebih dahulu kemudian menuju pada tingkat tertinggi yakni Mahabbah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tentu, Imam Al Ghazali dalam hal ini memiliki alasan alasan tersendiri hingga menguatkan dirinya untuk beranggapan seperti diatas, dan berikut penjelasan singkat beliau mengenai konsep Cinta atau Mahabbah itu.

Mari kita pahami bahwasanya tidak akan terlahir cinta sebelum ada pengenalan (ma’rifah) dan pengetahuan (Idrak) secara mendalam terhadap suatu objek. Kita tentu tidak akan jatuh cinta pada seseorang yang belum kita kenal dan ketahui.

Itulah sebabnya tidak terjadi cinta pada benda mati, karena cinta adalah milik kita yang hidup, yang bisa mengenal dan mengetahui objek selain dirinya.

Imam Al-Ghazali membagi hal-hal yang diketahui menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Yang sesuai dengan tabiat orang yang mengetahuinya, sehingga terjadi kecocokan dan memberikan rasa senang atau kenikmatan pada orang tersebut. Sesuatu yang mendatangkan kenikmatan itulah yang akan dicintai dan didekati oleh seseorang. Di sini, kita mengartikan cinta sebagai kecenderungan hati pada sesuatu yang mendatangkan kenikmatan. Jika kecenderungan hati itu semakin kuat maka hadirlah rasa rindu (‘Isyq);

2. Yang tidak sesuai dengan tabiat orang yang mengetahuinya, sehingga membuat orang tersebut menjauh karena itu menyakitinya. Sesuatu yang mendatangkan kepedihan akan dibenci dan dijauhi. Maka, benci bisa kita artikan sebagai kecenderungan hati untuk menolak dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menyakitkan. Jika benci ini menguat maka hadirlah kebencian yang akut (Maqt)

Baca Juga:  Kitab Al-Munqidz Min al-Dhalal, Otobiografi Imam Al-Ghazali

3. Yang tidak meninggalkan bekas apa pun baik kenikmatan maupun kepedihan pada orang yang mengetahuinya.

Selain itu, kita pun tahu bahwasanya cinta yang datang setelah mengenal dan mengetahui suatu objek memerlukan pembuktian. Pembuktian dilakukan melalui panca indera. Dan, setiap panca indera memiliki rasa nyaman dan kenikmatan masing-masih dari objek yang ditangkapnya. Kenikmatan itulah yang mendatangkan kecenderungan hati untuk mendekati dan mencintai.

Sebagai contoh, nikmatnya indera penglihatan adalah saat mata kita menyaksikan pemandangan pemandangan indah, baik itu pegunungan, pinggiran pantai maupun yang lainnya.

Begitupun dengan Nikmatnya pendengaran contohnya saat kita mendengar suara merdu yang membuat kita terlena, seperti saat alunan musik favorit kita terdengar di telinga.

Kemudian Nikmatnya penciuman terasa saat kita mencium aroma yang bisa kita nikmati, mulai dari harumnya parfum, wanginya bunga, sampai aroma masakan yang membuat liur kita menetes.

Adapula Nikmatnya Indera perasa yakni disaat kita mencicipi makanan yang lezat, begitupun dengan nikmatnya Indera peraba yang ketika kita menyentuh benda benda yang halus dan lembut.

Jadi, saat semua yang tertangkap panca indera menghadirkan kenikmatan, pasti akan disusul dengan rasa cinta. Siapa pun akan senang dan terpesona kepadanya, dan hadirlah cinta kepadanya.

Hanya saja, bila cinta kita hanya sebatas panca indera, kita tidak akan dapat mencintai dan dicintai oleh Allah SWT. Karena, Tuhan tidak mempunyai panca indera sebagaimana yang kita pikirkan, dan panca indera kita pun tak pernah dapat menangkap sosok-Nya.

Baca Juga:  Bagaimana Adab Bersedekah dalam Islam Menurut Imam Al Ghazali

Selanjutnya, mari kita berkenalan dengan indera keenam, yaitu mata hati, yang hanya terdapat pada manusia. Indera ini sering disebut dengan akal, nurani, atau hati. Inilah yang membedakan manusia dengan mahkluk yang lain dan menjadikannya makhluk paling mulia di antara mereka.

Penglihatan dengan mata hati lebih kuat daripada penglihatan mata biasa. Karenanya, indera keenam ini lebih bisa merasakan nikmat keagungan dan kemuliaan Allah daripada panca indera, la lebih sempurna dalam merasakan, mengenal, dan memahami hal-hal yang bersifat Ilahiyah.

Dari penjelasan di atas, Imam Al-Ghazali mengatakan, cinta Allah itu tidak mungkin diingkari kecuali oleh orang-orang yang berderajat rendah seperti binatang, yang hanya mengandalkan panca indera semata.

Yang aku senangi dari dunia kalian adalah tiga perkara; wewangian, istri, dan dijadikannya shalat sebagai penyejuk mata hatiku. ” (HR. An-Nasa’i)

Tentu pada hadits Nabi diatas telah menjelaskan bahwa salah satu yang disukai oleh Nabi adalah dijadikannya mata hati beliau sejuk dengan shalat. Menjadikan shalat sebagai penyejuk hati jelas menunjukkan kecintaan yang sangat dalam yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera.

Selain itu, Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa ada lima penyebab lahirnya cinta,

Pertama, Manusia mencintai hidupnya sendiri, seperti mencintai tubuhnya, mencintai harta maupun anak anaknya. Tentu cinta ini bukan berasal dari wujudnya tapi karena memang manusia beranggapan dengan mencintai semua itu maka hidupnya telah serasa sempurna.

Kedua, timbulnya cinta karena sikap suka kepada kebaikan, hingga cinta ini sebenarnya cenderung tidak mencintai orang tersebut. sebab kapan kebaikan itu tak lagi dilakukan oleh yang bersangkutan jelas cinta itu akan hilang. Maka tak heran jikalau Imam Junaid Al Baghdadi berkata “Setiap cinta yang ditopang dengan imbalan akan musnah bila imbalannya itu sirna”

Ketiga, lahirnya cinta dari sesuatu itu sendiri dan ini bukan karena keuntungan yang bisa didapat darinya, contohnya kecintaan pada sesuatu yang indah, dan tentu cinta yang seperti ini muncul karena keindahan itu sendiri. dan siapapun itu pastinya mencintai keindahan

Baca Juga:  Doa Belajar Filsafat dan Tasawuf, Bagus Untuk Dibaca, Amalkanlah!

Sesungguhnya Allah Swt itu maha Indah dan mencintai keindahan

Keempat, lahirnya cinta yang berkaitan dengan pengenalan terhadap keindahan. Dalam Bukunya, Imam Al Ghazali menyatakan bahwa “Hampir semua orang beranggapan bahwa kecantikan itu adalah bentuk keserasian antara warna kulit putih ditambah tubuhnya yang proporsional, tinggi semampai dan lainnya.” padahal pandangan ini tidak lah tepat.

Bagaimana mungkin? Bukankah keelokan atau kecintakan sesuatu tidak terbatas pada sesuatu yang bisa ditangkap dengan panca Indera kita?

Kelima, munculnya Cinta karena hadirnya keserasian antara yang mencintai dan yang dicintai. Mereka mencintai bukan karena fisik, akan tetapi lahir karena adanya kesamaan karakter, mereka saling melengkapi dan menggenapkan.


Sumber referensi: Yon Machmudi dan Soraya Dimyathi. 2014. Tarbiyah Cinta Imam Al Ghazali. Jakarta: QultumMedia (Cetakan I, hlm. 21-25, 29-34)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.