Membela Amaliah Khas Nusantara dari Tuduhan Bid’ah Salafi Wahabi

Membela Amaliah Khas Nusantara dari Tuduhan Bid’ah Salafi Wahabi

PeciHitam.org – Beragama diakhir zaman dengan taat merupakan anugerah sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada hanbaNya. Tidak lain semuanya adalah berkah fadhal karunia Allah SWT kepada orang-orang yang terpilih diantara Milyaran Manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebabnya sejuah lintasan zaman lebih dari 14 abad, Umat Islam masih menyembah Allah SWT dan tetap memegangi Sunnah Rasul dengan berbagai ekspresi.

Bahwa seluruh ekspresi keberagamaan Mukmin adalah untuk mengagungkan Allah SWT, menyebut segalanya atas namaNya. Sebagaimana ekspresi keagamaan Muslim di Nusantara yang banyak tertuduh sebagai ahlu bid’ah, sesat, syirik.

Para penuduh dengan bangganya mengklaim diri sebagai golongan sunnah akan tetapi pada satu sisi menjadi golongan paling getol mengeluarkan Muslim dari Islam.

Tanggapan terhadap Media Salafi Wahabi

Umat Islam di Nusantara sudah sangat akrab dengan golongan salafi wahabi yang masuk ke Indonesia pada kurun waktu akhir abad ke-19. Paham salafi wahabi dengan semangat Purifikasi ajaran Islam dibawa oleh para Jamaah Haji ke Nusantara.

Paham ini kurang mendapat simpati karena memang pola dakwahnya yang sangat ketat dan cenderung buta realitas.

Pun di era keterbukaan sekarang, golongan salafi wahabi tetap terdepan menjadi golongan yang hobi menyalahkan amaliah Muslim di Nusantara. Pembangunan Narasi tentang bid’ah dan syirik sangat gencar dilakukan melalui media digital atau melalui panggung ceramah.

Baca Juga:  Saat Radio Rodja Diserang Firanda Karena Dianggap Ahlul Bid'ah

Langkah yang kerap dilakukan oleh salafi wahabi ketika mengkampanyekan pahamnya yakni menuduh bid’ah, sesat, syirik kemudian diklaim sebagai penghuni neraka.

Menyakitkannya tuduhan salafi wahabi dilakukan tepat ditengah masyarakat Nusantara yang mana pola ekspresi keberagamaanya berbeda dengan mereka.

Muslim di Nusantara tidak lain adalah muslim sejati yang tidak berbeda dengan ajaran Rasulullah. Seharusnya salafi wahabi memperhatikan isi kitab as—Syifa’ bi ta’rif Huquq al-Musthafa karya Qadhi Iyadh;

‎ونقل القاضي عياض رحمه الله عن العلماء المحققين قولهم يجب الاحتراز من التكفير في أهل التأويل فإن استباحة دماء المصلين الموحدين خطر، والخطأ في ترك ألف كافر أهون من الخطأ في سفك محجمة من دم مسلم واحد

Artinya; “Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta’wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim.”

Akan tetapi kelacuran salafi wahabi dalam menuduh bid’ah bahkan kafir kepada kaum Muslim di Nusantara sudah melewati batas.

Baca Juga:  Peranan Mr Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 5)

Artikel ini bermotif utama sebagai sanggahan terhadap media Rumaysho.com yang menarasikan seluruh kebaruan adalah ahli neraka.

Amaliah di Nusantara memiliki Landasan Normatif

Persebaran Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari jasa dan peran Walisongo, meskipun Ustadz salafi wahabi seperti Badrussalam, Lc beranggapan mereka adalah fiktif.

Terlepas dari rancauan beliau, fakta sejarah menunjukan bahwa Walisongo berhasil menjadi penyokong Kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni Demak Bintoro.

Bertahun-tahun Walisongo memadukan dan mengisi ceruk agama orang Nusantara supaya mau menerima Islam dengan tangan terbukan dan tanpa pertumpahan darah.

Metode yang diambil adalah mentalfiqkan atau menyelaraskan nilai tradisi Nusantara kemudian di Islamisasikan.

Tradisi kebiasaan lama diisi dengan nilai-nilai Islam bahkan sampai tidak meninggalkan bekas tradisi lama. Namun oleh salafi wahabi dianggap sebagai biang keladi bid’ah di Nusanatara karena menyelisihi semua kaidah Islam. seharusnya salafi wahabi merenungi perkatakan Syaikh Ibnu Muflih Al-Maqdisi;

لاَ يَنْبَغِي الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلاَّ فِي الْحَرَامِ فَإِنَّ الرَّسُولَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَكَ الْكَعْبَةَ وَقَالَ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ الْجَاهِلِيَّةَ

Baca Juga:  Makkah Menjadi Standar Kebenaran? Sepertinya Wahabi Terinspirasi Kaum Jahiliyah

Artinya; “Tidak baik keluar dari tradisi masyarakat, kecuali tradisi yang haram, karena Rasulullah SAW telah membiarkan Ka’bah dan berkata, “Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa-masa Jahiliyah”

Selama tradisi dan kebudayaan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam maka tidak menjadi soal untuk dilakukan.

Permasalahan hanya muncul dari pemikiran salafi wahabi yang oleh banyak Ulama gerakan ini disebut banyak bermasalah dalam Aqidahnya, yakni serupa Mujassimah. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq