Mendalami Makna Lakum Dinukum Waliyadin: Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku

Lakum dinukum waliyadin

Pecihitam.org – Kita sebagai umat islam mungkin sering mendengar istilah Lakum dinukum waliyadin, yang artinya bagimu agamamu bagiku agamaku. Lantas apa sebernanya representasi atau makna sebenarnya dari kalimat tersebut?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Manusia di bumi ini diciptakan berbeda-beda baik suku, ras, bangsa Negara maupun agama. Perbedaan ini sering menjadi polemik oleh sebagian kalangan, apalagi mengenai perbedaan masalah agama. Bahkan sampai taraf saling menghujat dan mengkafirkan satu sama lain.

Padalah kita tahu bahwa pebedaan ini semuanya adalah sunnatullah, tidak dapat dihindari namun hanya bisa disikapi dengan cara saling menghargai antara satu dengan yang lainnnya. Yang perlu kita sadari bersama adalah, bahwa Allah menciptakan segala perbedaan ini agar semuanya menjadi indah.

Sebagaimana firman Allah Quran Surat Al-Hujurat Ayat 13;

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”.

Di satu kesempatan KH Ma’ruf Amin pernah mengatangkan, bahwa seharusnya umat Islam itu tidak saling bermusuhan antara satu dan yang lainnya hanya karena perbedaan pendapat. Ia juga meminta kepada umat Islam untuk terus menjaga dan meningkatkan persaudaraan keislaman atau yang sering disebut dengan ukhuwwah islamiyyah.

Baca Juga:  Cara Mendoakan Non Muslim, Adakah Tuntunannya dalam al-Quran? Ini Penjelasannya

Jangan terkoyak oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak seharusnya menjadi permusuhan. Antar sesama umat Islam itu harus saling menasihati dan mengajak ke jalan yang benar. Baginya, jika seandainya mereka yang dinasihati dan diajak untuk berbuat baik menolak, maka itu jangan dijadikan sebagai bahan untuk menyulut api permusuhan.

Selain menjaga ukhuwah islamiyah dengan sesama muslim kita juga wajib membangun ukhuwah insanniyah dengan orang non-Muslim. Maksudnya secara mumalah atau bermasyarakat kita wajib saling menghormati dan menghargai namun tetap Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Perbedaan-perbedaan tersebut jangan menjadi alat untuk saling bermusuhan dan tidak menanamkan sikap saling benci dan saling memusuhi antar sesama.

Baca Juga:  Islam Wasatiyah; Tantangan dan Syarat Utama Penerapannya

Masih menurut KH Ma’ruf Amin, “Kita harus membangun (sikap) saling mencintai dan saling menyayangi,” katanya. Menurut beliau, kalau seandainya sikap saling mencintai dan menyayangi sudah terbangun baik di tengah-tengah masyarakat, maka tidak akan ada lagi sikap bermusuhan.

Terkait dengan kelompok yang memaksakan pendapatnya, beliau menilai itu tidak jadi masalah selama hanya mengajak dan tidak sampai pada tahap bermusuhan. “Kalau sampai bermusuhan, itu yang tidak baik,” terangnya. “Masing-masing (harus) menahan diri. Kalau kemudian saling ngotot, jadi (bermusuhan). Tidak perlu ada saling bermusuhan,”

Selain itu ketua PBNU KH Said Aqil Siradj juga menyatakan bahwa multikulturalisme (toleransi) harus selalu dikedepankan oleh bangsa Indonesia. “Multikulturalisme atau toleransi plus harus kita pegang teguh dalam membangun kehidupan berbangsa.

“Dalam ‘kamus’ berbangsa tidak ada istilah ‘aku’ dan ‘engkau’. Yang ada yakni ‘kita’. Kita sebagai satu bangsa. Sebagai bangsa Indonesia, apapun agama, suku, dan rasnya kita senasib sependeritaan.” Beliau juga menjelaskan, dalam tataran kehidupan sosial (horisontal) tidak ada sekat sama sekali antar masing-masing individu. “Namun secara hubungan ketuhanan (vertikal) kita tetap memegang prinsip ‘lakum dinukum waliyadin’ (bagimu agamamu, bagiku agamaku).

Baca Juga:  Alasan Nabi Saw Memilih Gua Hira sebagai Tempat Berkhalwat

Maknanya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat harus menghormati dan menghargai hak masing-masing individu. Inilah implementasi dari ukhuwwah wathaniyyah. Kyai Said juga menegaskan bahwa semua agama memiliki tujuan yang baik. “Namun menurut saya Islamlah yang terbaik,”

Maka sejatinya bagi umat islam yang terpenting dan harus dipahami bersama adalah adanya masalah yang prinsip dan tidak tidak prinsip. Dalam aqidah, kita wajib lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Sedangkan dalam masalah muamalah (kehidupan bermasyarakat), kita sebagai orang muslim tetap bisa bekerjasama kepada umat beragamam maupun golongan yang lainnya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik