Pentingnya Belajar Ilmu Mantiq (Ilmu Logika)

belajar ilmu mantiq

Pecihitam.org -Terkadang orang bertanya-tanya apa ilmu Mantiq itu sebenarnya? Bahkan dengan serampangan kadang orang malah beranggapan bahwa ilmu Mantiq itu adalah yang sebetulnya tidak perlu dipelajari dan didalami.

Padahal dari ilmu mantiq sendiri kita diajarkan terkait kaidah kidah berpikir dengan benar, sistematik, terukur dan mendalam. Tidak hanya itu, Ilmu Mantiq pun menuntut kita untuk berpikir sebelum berucap, merenung sebelum bertindak dan menelaah sebelum menghakimi orang yang berbeda paham.

Sehingga dari Ilmu Mantiq sebetulnya akan mengantar pikiran kita tuk jauh lebih dewasa, menanggapi apapun yang terjadi dengan pola pikir yang sistematis.

Terlebih jika itu membahas tentang perbedaan dan ilmu pengetahuan yang kita tidak ketahui dan malah membuat kita fanatik dengan ilmu yang kita ketahui, kan sedikit memprihatinkan?

Pepatah arab mengatakan “Al Nas ‘adau ma jahilu” (Manusia itu cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya). Itulah mengapa pentingnya kita untuk memasuki terkait apa yang sebetulnya kita tidak ketahui dengan cara berpikir yang logis, dan itulah pentingnya Ilmu Mantiq sebenarnya.

Maka tak heran jikalau ulama sekelas Imam Al Ghazali dalam salah satu bukunya mengatakan:

“Orang yang tidak mempelajari Ilmu Mantiq (Ilmu logika) Kredebilitas keilmuannya layak dipertanyakan, karena tentu ia tidak memiliki metodologi berpikir yang benar” (lihat Abu Hamid Al Ghazali, al-Mustashfa, (Beirut: Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1993) hlm. 10)

Pertanyaannya kemudian ialah apa point dasarnya hingga Ilmu Mantiq itu penting dipelajari?

Baca Juga:  Al Qur'an Tak Pernah Sebut Khilafah, Hizbut Tahrir Jangan Bikin Kacau!

Pertama, dengan Ilmu Mantiq kita akan dituntut untuk merumuskan istilah istilah kunci topik sebelum kita jelaskan atau perdebatkan dalam sebuah forum.

Bagaimana bisa kita merasa kritis terhadap masalah jikalau istilah istilah yang kita keluarkan sebetulnya kita tidak tahu makna dan definisinya. Terkait hal ini, Ilmu Mantiq mengkhususkan pembahasannya pada Ta’rif, Al Qaul al Syarih atau definisi. Sehingga dalam bab ini kita akan dibimbing agar bagaimana caranya membangun definisi yang benar dan tepat.

Sebagai contoh, kita melabrak seseorang yang lebih khususnya berbeda agama dengan sebutan Kafir, padahal dari kata kafir sendiri kita tidak tahu definisi dan asal katanya hingga harus menyebut mereka yang berbeda agama dengan sebutan kafir.

Begitupun dengan istilah istilah lainnya seperti Sekuler atau liberal yang sebenarnya kita dapatkan dari orang lain karena pernah duduk bersama disebuah kajian Ilmu, maka dengan serampangan kita menyebut kata itu yang disasarkan pada orang yang tidak tepat.

Padahal ketika ditanya apa definisi dari sekuler dan liberal itu sendiri? malah dijawab dengan seenaknya tanpa harus berpikir secara logis.

Kita bisa saja beranggapan bahwa ini hanyalah hal sepele apalagi hanya terkait pada persoalan definisi, tapi sadarkah kita bahwa masalah masalah besar terkadang berasal dari kesalahan pahaman definisi yang merupakan akibat dari ketidakmampuan dan kemalasan otak seseorang dalam berpikir secara logis dan sistematis.

Baca Juga:  Kitab Sullamul Munawraq (Ilmu Mantiq), Karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhori

Kedua, dengan Ilmu Mantiq kita akan dituntut tentang bagaimana caranya membangun Qiyas (Silogisme) yang benar. Tentu dalam kaidah berpikir Qiyas atau Silogisme sangat dibutuhkan terlebih pada pembahasan Ilmu Tauhid dan Ilmu Filsafat pastinya.

Sehingga memahami sebuah persoalan tanpa adanya qiyas dengan benar akan mengantarkan kita pada kesulitan dalam menalar setumpuk argumen rasional yang terserak dalam kitab kitab klasik Islam dan kitab ataupun buku lainnya.

Namun yang menjadi catatan pentinya ialah merangkai qiyas atau silogisme pun ada kaidahnya, dan tidak sembarangan merangkai, ringkasnya ialah Qiyas sangat berguna dalam membangun argumen yang kokoh dalam membangun sebuah argumen yang kokoh dan mampu memuaskan nalar.

Sebagai contohnya ialah terkait pembuktian keberadaan Tuhan dengan akal. Bagaimana bisa kita sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada? Sudah tentu pada jawaban ini para pengamat dan pengkaji memerlukan rumusan Qiyas dan Silogisme demi memberi sebuah jawaban yang logis.

Dalam hal ini, Teolog dan Filsuf Muslim biasanya menawarkan dua dalil apa yang disebut dengan Dalil Al Huduts (Dalil keburuan Alam) dan dalil Al Imkan (dalil kemungkinan alam).

Kita bisa sedikit menoleh pada penjelasan singkat terkait dalil pertama (Dalil Al Huduts), dalil tersebut biasanya dirangkai dengan rumusan sebagai berikut:

  • Premis Minor, (Al Muqaddimah al Shugra): Al ‘Alamu haditsun (Alam itu baru, yakni ada dari tiada)
  • Pemis Mayor (Al Muqaddimah Al Kubra): wa kullu haditsin lahu muhdits (Setiap yang ada dari tiada maka pasti ada yang mengadakan)
  • Konklusi (Al Natijah): al ‘Alam lahu Muhdits (Alam ini yang mengadakan).
Baca Juga:  Wahabi Masih Sering Bid'ahkan Maulid? Jawablah Seperti Ini

Sedangkan pada dalil kedua terkait dalil Al Imkan, yakni adanya kemungkinan kemungkinan alam yang bisa saja menjadi penyebab terciptanya alam, baik karena adanya fenomena tertentu ataupun yang lainnya.

Sehingga dari keterangan diatas sebenarnya kita sudah bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa Ilmu Mantiq sangat penting untuk dipelajari dan didalami.

Terlebih jika memang kita sering tampil sebagai pemberi materi ataupun peserta dalam forum debat. Karena dengan penguasaan Ilmu Mantiqlah akan membuat pola pikir kita berjalan secara sistematis, tidak asal bunyi begitu saja terlebih jika terkait dengan agama.

Itulah sekilas terkait pentingnya belajar Ilmu Mantiq, semoga bermanfaat.

Sumber: Muhammad Nuruddin, Ilmu Mantiq, Kairo Mesir: Dar As Salih, cetakan pertama, 2019

Nonna

Writer at Pecihitam.org
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Ig: @nonna039
Nonna
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG