Peranan Mr. Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 9)

Mr. Hempher 1

Pecihitam.org – Setelah kembali untuk memaparkan apa saja yang menjadi kelemahan Islam dan target selanjutnya, Mr.Hempher mendapatkan peringkat ke-3 yang terbaik dari seluruh mata-mata yang dikirim Britania Raya ke Negara jajahan di Asia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tak lama setelah itu, hemper mendapatkan tugas yang lebih penting dan sangat khusus yaitu bagaimana memantik api perpecahan dalam Islam agar umat Islam saling berperang dan bercerai berai. Tentu hal ini menjadi perintah yang berat karena mencari seseorang yang bisa dimamfaatkan untuk misi seperti ini bukanlah perkara yang mudah.

Mengapa Britania Raya mentargetkan agar umat Islam pecah? Karena para mata-mata ini melihat potensi-potensi yang sangat besar seperti ada sekte Sunni dan Syiah yang pada keyakinan mereka saling bertolak belakang, di samping itu perbedaan soal aqidah dan agama adalah hal yang sangat sensitif untuk  di mamfaatkan musuh-musuh Islam.

Kini saatnya Mr.Hempher menajalankan tugasnya. Daerah pertama yang akan menjadi perjalanannya adalah kota Basharah (Iraq), pusat Islam yang sangat besar pada waktu itu.

Ketika aku sampai di Basharah, aku mencari tempat untuk tinggal. Aku pergi ke masjid. Di masjid itu ada seorang alim Sunni, Arab tulen, namanya Syaikh Umar Ath-Tha’i. Aku memperkenalkan diri dan aku beramah-tamah dengannya.

Tetapi sejak pandangan pertama, orang lelaki ini sudah curiga denganku. Ia bertanya kepadaku dari mana aku berasal?. Soal nasab dan keluargaku. Ia juga menyelidiki ihwalku. Mungkin karena warna kulitku dan logat bicara yang membuat dirinya ragu. (Confession of A British Spy & Saud Histories, Cetakan ke-8, Istanbul: HAKIKAT KITABEVI, 2001).Hal. 13-15

Tetapi aku berusaha meyakinkannya bahwa aku keturunan dari Aghdir di Turky, aku murid Syaikh Ahmad di Astana, aku pernah bekerja sebagai tukang kayu di juragan Khalid dan sebagainya apa saja yang aku ketahui dan alami selama aku di Turky.

Aku sempat berbicara beberapa kata dengan bahasa Turky dan berhati-hati ketika Syaikh memberi isyarat kepada salah satu hadirin bahwa aku bisa berbahasa Turky atau tidak?! Orang yang mengetesku mengisyaratkan kepadanya dengan jawaban positif (bahwa aku memang benar tidak berbohong) dan aku sangat senang bisa meyakinkan Syaikh.

Baca Juga:  Sepuluh Ciri-ciri Wahabi Yang Harus Kita Ketahui, Nahdliyyin Harus Lebih Waspada!

Tetap aku menduga, kepercayaannya kepadaku hanya sebatas siasat saja. Aku yakin hal ini ketika setelah beberapa hari, diam-diam Ia memandangku dengan pandangan curiga dan menduga aku adalah mata-mata Turky.

Aku mengetahui kecurigaannya setelah jelas bahwa Syaik adalah seorang yang menentang wali kota yang dipilih pemerintah. Antara keduanya saling tuding dan berburuk sangka. Alhasil, aku tidak mau (menetap) maka aku harus hengkang dari masjid milik Syaikh Umar pindah ke Khan yaitu tempat penginapan turis dan musafir.

Di sana aku menyewa kamar, pemilik penginapan adalah seorang yang pander (bebal) yang setiap pagi rajin mengganggu istirahatku. Awal waktu subuh dia datang ke kamar dan menggedor-gedor pintu dengan keras untuk membangunkanku shalat subuh.

Aku harus menurutinya dan aku bangun untuk shalat subuh, kemudian Ia menyuruhku untuk membaca Al-Qur’an sampai matahari terbit. Ketika aku katakana padanya bahwa membaca Al-Qur’an Sunnah dengan kataku, “Lalu mengapa memaksaku sedemikian rupa?”.

Ia menjawab,”Tidur di waktu pagi hanya akan menyebabkan kemiskinan dan malapetaka bagi penginapan dan penghuninya”. Maka aku mau tidak mau harus menuruti kata-katanya shalat di awal waktu dan kemudian membaca Al-Qur’an selama satu jam lebih setiap hari karena kalau tidak dia akan mengusirku.

Masalahku dengannya tidak berhenti sampai disitu, ketika suatu hari pemilik lain penginapan itu yang bernama Mursyid Afandam menemuiku, dan mengatakan kepadaku, “sejak anda menginap di sini, aku banyak menghadapi masalah dan pikiranku hanya tertuju pada anda bahwa andalah penyebabnya. Sebab kau seorang bujang sedangkan bujangan itu membawa sial. Maka pilihlah salah satu dari dua hal ini: anda menikah atau tinggalkan penginapan ini”.

Aku menjawab, “Aku tidak punya harta untuk menikah (aku takut mengatakan kalau aku adalah lelaki yang lemah syahwat, sebab bila mana nanti dia mencoba melihat ‘auratku apakah benar yang aku katakana?). Jika aku beralasan dengan uzur ini, maka pasti Ia ingin tahu kepastianya. Afandam berkata padaku, “wahai orang yang lemah iman bukankah anda membaca firman Allah, “Jika mereka miskin maka Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”.

Baca Juga:  Persamaan Duo Wahabi Muhammad Ibn Abdul Wahab dengan Ibn Taimiyah

Aku sangat bingung dan bimbang dengan perkara ini, apa yang harus aku perbuat?. Dengan alasan apa harus aku jawab? Akhirnya aku katakana padanya, “Baiklah, lalu bagaimana aku menikah tanpa harta? Apakah anda bersedia membantuku dengan harta yang cukup atau anda menemukan untukku wanita yang bersedia menikah tanpa mahar?”.

Dia berfikir sejenak kemudian mengangkat kepalanya sambil berkata, “Aku tidak mengerti maksud ucapanmu! Begini saja aku beri waktu sampai awal bulan Rajab, jika anda tidak menikah juga maka anda harus pergi dari penginapan ini”. Sementara memasuki awal bulan Rajab masih ada dua puluh lima hari lagi, dan waktu itu tanggal lima bulan Jumadil Tsani.

Berkenaan dengan nama-nama bulan Islam, secara berurutan pertama di mulai dengan bulan: Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah.

Menurut perhitungan hilal yang terkenal tidak lebih dari 30 hari dan tidak kurang dari 29 hari. Akhirnya aku memecahkan masalah Afandam, ketika aku telah menemukan tempat milik seorang tukang kayu. Aku melamar pekerjaan padanya, dan Ia menerimaku bekerja dengan gaji kecil, aku makan dan tinggal di tempatnya. Akhirnya sebelum akhir bulan Jumadil akhir aku keluar dari penginapan Afandam dan pindah ke toko kayu milik Abdurridha, juragan kayu yang berbahasa Parsi (Iran) dari desa Khurasan.

Ia adalah seorang Syi’i (Syi’ah), pintar, dan terhormat. Ia memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Aku tidak menyia-nyiakan keberadaan aku bersamanya untuk belajar bahasa Parsi. Setiap waktu Ashar di rumahnya, orang-orang Syiah berbangsa ‘Ajam berkumpul, berbincang-bincang dari soal politik sampai masalah ekonomi.

Mereka sangat menentang pemerintah sebagaimana mereka menentang Khalifah di Astana.Namun jika muncul perdebatan yang mereka tidak ketahui, mereka berhenti dan mengalihkan ke pembicaraan masalah pribadi mereka.

Baca Juga:  Bantahan Terhadap Nalar Berpikir Wahabi Tentang Haram Berwisata ke Candi

Aku sendiri tidak mengerti, mengapa mereka percaya padaku. Akhirnya aku tahu, bahwa mereka menyangka aku berasal dari Azerbaijan, mendengar bahwa aku bicara dengan bahasa Turky. Ditambah warna kulitku yang putih seperti kulit bangsa Azerbaijan.

Dalam keadaan yang demikian itu, aku berkenalan dengan anak muda yang sering datang ke toko, namanya adalah MUHAMMAD IBN ABDULWAHAB. Dia mengerti tiga bahasa: Turky, Parsi, Arab. Ia pernah belajar agama, dia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala Ia orang yang anti dengan khalifah Ustmaniyah, adapun pemerintah Parsi Ia tidak berkomentar. Lalu mengapa Ia bersahabat dengan pemilik toko? Karena keduanya anti pemerintah (khalifah).

Aku tidak tahu dari mana dia bisa bahasa Parsi, padahal dia adalah seorang Sunni sedangkan Abdurridha adalah seorang Syiah, di Basharah pergaulan anatara Sunni dan Syiah adalah hal yang biasa (tidak ada permusuhan sebelum ada yang memantik api permusuhan) mereka seperti saudara. Mayoritas penduduk setempat (Basharah) mengerti bahasa Parsi dan sudah pasti bahasa Arab dan tidak sedikit dari mereka yang mengerti bahasa Turky.

MUHAMMAD IBN ABDULWAHAB ADALAH SEORANG PEMUDA YANG BERFIKIRAN BEBAS, tidak fanatik terhadap Syiah tidak seperti kaum Sunni yang fanatik dan anti Syiah. Hingga sampai pada batas, tokoh-tokoh mereka mengkafirkan orang-orang Syiah dan mengatakan bahwa orang Syiah bukanlah muslim sebagaimana ia (Muhammad Ibn Abdul Wahab) tidak pernah melihat sebuah perbandingan untuk mengikuti 4 mazhab yang berlaku di antara Ahlussunnah. Dan Ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah, tidak menurunkan 4 mazhab melalui seorang penguasa”. Wallahu A’lam. Besambung…

Nantikan kisah berikutnya!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *