Perbedaan Wahabi dan Aswaja, Mulai dari Masalah Tauhid hingga Pemilihan Ulama

Perbedaan Wahabi dan Aswaja, Mulai dari Masalah Tauhid hingga Pemilihan Ulama

PeciHitam.org – Sejak wafatnya Rasulullah banyak terjadi perbedaan-perbedaan paham maupun ideologi yang terkait Islam, yakni ada yang berpahamkan mulai dari ahlussunna wal jamaah (aswaja), hingga wahabi. Masing-masing mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling sesuai dengan ajaran Rasulullah. Adapun Perbedaan Wahabi dan Aswaja, antara lain:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Aswaja

  1. Aqidah Sifat 20 susunan Imam Asy’ari (lahir 240 H)
  2. Menganut 1 dari 4 Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’ie, atau Hambali)
  3. Bid’ah diklasifikasikan menjadi dua bagian, ada Bid’ah Hasanah, ada juga bid’ah dhalalah.
  4. Zikir dan Doa bersama Usai Sholat Berjama’ah
  5. Mengikuti Ulama Salaf yg lahir pada 3 abad pertama Islam
  6. Toleransi dalam Furu’iyah / Khilafiyah
  7. Qunut Subuh untuk Mazhab Syafi’i
  8. Yasinan, Tahlilan, dan Maulidan
  9. Ziarah kubur
  10. MengIslamkan orang Kafir

Wahhabi

  1. Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma wa Shifat susunan Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 H) atau biasa disebut trilogi tauhid Wahabi.
  2. Tidak bermazhab

Hal ini sebenarnya agak aneh. Jika kita telusuri, Muhammad bin Abdul Wahhab yang mendirikan Wahabi merupakan murid Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Sedangkan Ibnu Qayyim merupakan murid dari Ibnu Taimiyah. Jika dirunut lagi, Ibnu Taimiyah merupakan murid Imam Hambali, pendiri Mazhab Hambali. Sehingga tidak heran jika paham yang dikembangkan dan disebarluaskan oleh Wahabi, sedikit banyak mirip dengan Mazhab Hambali. Tetapi mereka mengklaim kelompoknya tidak bermazhab.

  1. Semua Bid’ah Sesat
Baca Juga:  Nalar Wahabi Tentang Klaim Syirik dan Bid'ah Manaqib

Jika melihat makna bid’ah secara etimologis, bid’ah diartikan justru diartikan sebagai inovasi yaitu segala sesuatu yang baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya (الإختراع على غير مثال سابق) baik itu menyangkut teknologi, kebiasaan atau tradisi, interaksi sosial, bisnis atau masalah ibadah.

Kelompok Wahabi meyakini bahwa semua bid’ah, sesat. Hal ini bersumber dari sabda Nabi Saw: kullu bid’atin dhalalah, kullu dhalalatin fi al-nar yang artinya semua bid’ah sesat, setiap kesesatan tempatnya di neraka. Pandangan ini tentu berbanding terbalik dengan Ahlussunnah wal Jamaah yang mengklarifikasi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah, seperti yang telah disebutkan di atas.

  1. Tak ada Zikir dan Doa berjama’ah
  2. Yang diikuti adalah pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi.
  3. Tak ada toleransi dalam perbedaan
  4. Qunut Subuh bid’ah sesat
  5. Yasinan, Tahlilan, dan Maulidan itu sesat
  6. Menganggap berdoa di kuburan Musyrik dan Menghancurkan kuburan Ulama
  7. MengKafirkan orang Islam
Baca Juga:  Sejarah Perkembangan Aswaja Hingga Sampai ke Nusantara

Untuk menelusuri latar belakang pemikiran seputar kelompok Wahabi dan Aswaja, perlu kami cantumkan beberapa ulama yang diikuti (menjadi rujukan) baik oleh Aswaja maupun Wahabi, antara lain:

Ulama Aswaja

  1. Imam Hanafi
  2. Imam Syafi’i
  3. Imam Maliki
  4. Imam Hambali
  5. Imam Asy’ari

Ulama Wahabi

  1. Ibnu Taimiyah
  2. Muhammad bin Abdul Wahhab
  3. Abdullah bin Baaz
  4. Syekh Albani
  5. Syekh Utsaimin

Jika dilihat dari tahun kelahiran dari para ulama yang dirujuk oleh Wahabi dan Aswaja, kalangan Ahlussunnah wal Jamaah lebih unggul karena tahun kelahiran dari ulama yang menjadi rujukan tidak jauh dari masa hidup Nabi.

Sehingga besar kemungkinan, sanad keilmuannya muttasil atau bersambung hingga ke Nabi. Namun sebaliknya. kalangan Wahabi merujuk pada ulama yang hidup pada abad ke-6 H. Namun mengusung jargon “kembali ke al-Quran dan Hadits” yang secara nalar transmisi keilmuannya, kemungkinan terputus.

Baca Juga:  Teguran Keras Menteri Bidang Dakwah Arab Saudi Kepada Tokoh Wahabi Indonesia

Demikian perbedaan Wahabi dan Aswaja secara garis besar. Mungkin belum mencakup keseluruhan, namun mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai gambaran awal perbedaan Wahabi dan Aswaja.

Mohammad Mufid Muwaffaq