Qudrah, Sifat Wajib Yang Ke-Tujuh Bagi Allah SWT

Sifat Qudrah, Sifat Wajib Yang Ke-Tujuh Bagi Allah SWT

Pecihitam.org – Sifat Wajib Yang Ke-Tujuh Bagi Allah SWT adalah Qudrah yang berarti Kuasa. Sebelum membahasnya, perlu kita ketahui bahwa sampai di sini telah selesai membahas enam sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala pada artikel-artikel yang sebelumnya. Enam sifat tersebut di bagi kepada dua pembahagian, yaitu Nafsiyah dan Salbiyah.

Nafsiyah artinya suatu sifat yang tidak akan dapat di tetapkannya suatu zat bila tanpa sifat (nafsiyah) tersebut. Hanya satu sifat yang tergolong ke dalam kategori nafsiyah, yakni sifat Wujud.

Sedangkan lima sifat lainnya yakni Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lilhawadits, Qiyamuhu binafsih dan wahdaniyah termasuk dalam kategori sifat Salbiyah. Salbiyah sendiri berarti suatu sifat yang dengan adanya sifat tersebut dapat menafikan/meniadakan segala perkara yang tidak layak bagi Allah Ta’ala. (Tanwiirul-Qulub hal : 10)

Demikian kiranya yang mesti kita ketahui terlebih dulu sebelum memasuki pada pembahasan sifat ke-tujuh yang wajib bagi Allah Ta’ala.

Sifat ke-tujuh yang wajib bagi Allah SWT adalah qudrah (قُدْرَة) artinya kuasa, sementara lawannya adalah sifat ‘ajzun (عَجْزٌ) yang berarti lemah.

Baca Juga:  Sumber Sama, Mengapa Banyak Perbedaan Pendapat dalam Islam?

Allah Ta’ala wajib Ia bersifat dengan Kuasa, mustahil ada sifat lemah bagi-Nya. Qudrah adalah sifat yang wajib ada lagi qadim ia yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala yang mana melalui sifat qudrah ini Allah Ta’ala menjadikan atau mentiadakan sesuatu yang baharu daripada sekalian makhluk-Nya sesuai dengan yang Dia Iradahkan/kehendaki.

Janganlah kita katakan atau yakini yang bahwa semata-mata hanya qudrah-lah yang berperan dalam mewujudkan atau meniadakan sesuatu, karena dapat membawaki kepada kufur, Na’udzubillah !, akan tetapi yang menjadikan dan meniadakan tersebut hanyalah zat Allah Ta’ala, dengan sebab sifat qudrah-Nya.

Sifat qudrah ini memiliki ta’luq atau dengan kata lain memiliki keterkaitan. Sifat qudrah ta’luq ia dengan segala yang mumkin/baharu. Sesuatu yang memiliki sebab juga tergolong baharu, seperti perbuatan kita yang ikhtiari berupa segala gerak dan diam kita di ketika ada suatu sebab. Seperti halnya terbakar di ketika tersentuh api, kenyang ketika makan dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Kritik Terhadap Kitab Ensiklopedi Aqidah dan Bid'ah Salafi Wahabi

Dalil ‘aqlinya sebagai berikut :

Sebagaimana yang telah kita maklumi bahwa alam semesta ini beserta dengan seluruh isinya adalah baharu/hadits, dalam artian keberadaannya pernah di dahului dengan ketiadaan, dan setiap sesuatu yang baharu mestilah ada baginya Pencipta, kemudian pastilah pencipta alam ini mesti memiliki kuasa yang dengan sifat kuasa tersebut Ia menjadikan/mencipta dan mentiadakan alam ini.

Bila tiada Qudrah/kuasa pada Allah Ta’ala Sang Maha Pencipta, maka sungguh berarti Allah Ta’ala itu bersifat lemah. Lalu bila Allah Ta’ala lemah, sungguh tidak akan terwujud alam ini, karena ketidak sanggupan-Nya dalam mewujudkan.

Padahal kita telah sama-sama menyaksikan saat ini yang bahwa alam ini nyata adanya. Oleh karena itu akal tidak dapat menerima bila Allah bersifat lemah. Maka wajib bagi Allah Ta’ala bersifat dengan Qudrah/Kuasa.

Baca Juga:  Bisakah Manusia Mengubah Takdir? Ini Penjelasan Syekh Ibrahim al-Bajuri

Dalil naqli tentang Wajib Qudrah ada banyak, antara lain :

  • Surat Al-Baqarah ayat 20 :

إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sesungguhnya Allah Berkuasa atas segala sesuatu”

  • Surat Faathir ayat 44 :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”

Demikian sekilas tentang sifat Qudrah yang wajib bagi Allah Ta’ala beserta lawannya yang mustahil. InsyaAllah pada kesempatan berikutnya akan kita bahas tentang sifat wajib yang ke-delapan bagi Allah Ta’ala, yakni sifat Iradah.

Wallahu A’lam Bisshawaab !

Muhammad Haekal
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *