Ratib al Haddad, Amalan Dzikir dan Doa Warisan Ulama

ratib al haddad

Pecihitam.org – Dikalangan umat Islam banyak kita ketahui berbagai macam wirid baik itu yang diajarkan oleh Rasulullah secara langsung ataupun tak secara langsung (diajarkan ataupun diijazahkan oleh para ulama). Salah satunya adalah Wirid atau dzikir Ratib Al-Haddad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ratib al Haddad diambil dari nama penyusunnya, yakni al Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Haddad. Beliau merupakan salah satu ulama abad 12 H yang begitu terkenal. Habib Abdullah Al-Haddad lahir di sebuah desa di kota Tarim, Yaman, tahun 1055 Hijrah pada malam ke-5 bulan Safar dan wafat pada tahun 1132 H.

Tidak ada wali Allah yang meninggalkan dunia ini tanpa mewarisi suatu hal yang bermanfaat bagi umat Rasulullah Saw tak terkecuali Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dari beberapa doa-doa dan dzikir-dzikir yang beliau susun, Ratib al Haddad inilah warisan beliau yang paling terkenal dan masyhur di kalangan umat Islam.

Beliau telah meningalkan sebuah senjata dan perisai ampuh untuk melawan kerusakan-kerusakan yang disebabkan gangguan jin dan manusia. . Wirid Ratib ini disusun berdasarkan inspirasi beliau, pada malam lailatul Qodar 27 Ramadan 1071 H.

Ratib al Haddad disusun karena permintaan seorang murid beliau dari keluarga Bani Sa’ad bernama Amir. Ia tinggal di Syibam, salah satu desa di Hadramaut, Yaman. Amir meminta Habib Abdullah untuk menyusun Ratib dan diadakan suatu wirid dan dzikir di kampungnya. Tujuannya agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkann diri dari ajaran serta aliran sesat yang sedang melanda Hadramaut kala itu.

Baca Juga:  Menjawab Ketakutan Salafi Wahabi Terhadap Simbol Agama Lain

Pertama-tama, Ratib ini hanya dibaca di kampung Amir sendiri yaitu Kota Syibam. Setelah mendapat izin dan ijazah dari al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad sendiri. Kemudian, Ratib ini pun dibaca di Masjid al Hawi di kota Tarim. Biasanya Ratib ini dibaca secara berjamaah setelah shalat ‘isya’.

Pada bulan Ramadan, ratib ini dibaca sebelum shalat Isya untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih. Ini adalah waktu yang ditentukan dan dianjurkan oleh al Habib Abdullah untuk daerah-daerah yang mengamalkan Ratib ini. Dengan ijin Allah, daerah-daerah yang mengamalkan ratib ini selamat dan tidak terpengaruh dari kesesatan tersebut.

Setelah Habib Abdullah Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib ini mulai banyak dibaca di Mekkah dan Madinah. Al Habib Ahmad bin Zain al Habsyi berkata, “Barang siapa yang membaca Ratib al Haddad dengan penuh keyakinan dan iman, ia akan mendapat sesuatu yang di luar dugaannya”.

Setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini diambil dari bacaan Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW. Bilangan setiap bacaa doa dibuat sebanyak tiga kali, karena itu merupakan bilangan witir (ganjil). Hal itu semua berdasarkan arahan dan anjuran dari Habib Abdullah al Haddad sendiri.

Baca Juga:  Hukum Menggelengkan Kepala Saat Dzikir Dan Pelajaran Dari Secangkir Kopi

Diceritakan oleh Ustadz Arif Khuzaini, seorang Ustadz senior di Pesantren Tebuireng asal Tuban. Kini beliau tinggal dan mengajar di SMA Trensains Pesantren Tebuireng 2 di Jombok Ngoro Jombang.

Beliau mendapatkan ijazah bacaan Ratib al Haddad dari 6 mujiz (pemberi ijazah). Yaitu:

  1. Habib Ali bin Husain al Haddad Surabaya generasi ke 7 shahiburratib.
  2. Habib Ahmad bin Husain Aidid Hadramaut Yaman
  3. Habib Muhammad al Jufri Jombang
  4. Habib Muhammad as-Seggaf Solo
  5. Habib Alwi al Haddad Peterongan Jombang, asli Hadramaut yang wafat dalam usia lebih dari 90 tahun beberapa hari lalu, dan penulis diwasiati untuk menyebarkan ratib ini
  6. Kiai Ahmad Muntaha, Pengasuh Pondok Pesantren Gedongsari Nganjuk

Kegunaan dan Manfaat Wirid Ratib al Haddad

Ustadz Arif Khuzaini bercerita pernah sowan ke Dalem Habib Ali bin Husain al Haddad di Surabaya. Sebelum Habib Ali wafat, setiap tahun beliau rutin memberi ijazah di Pondok Pesantren Langitan pada momen Haul Masyayikh Langitan. Saat itu, beliau merupakan generasi paling nekat jalur nasabnya di seluruh dunia dengan shahiburratib Habib Abdullah Al-Haddad.

Beliau mengatakan bahwa ratib ini selain wirid rutin yang turun temurun dari shahiburratib sampai ke beliau sebagai generasi ke-7. Dan juga merupakan ijazah langsung yang diberikan melalui mimpi oleh sang kakek shahiburratib al Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad al Haddad.

Baca Juga:  Memahami Konsep Milkul Yamin Dalam Islam Bagian 2

Habib Ali juga menceritakan ketika zaman Jepang menduduki Indonesia. Waktu itu bulan Ramadhan, para kyai dan habaib akan ditangkap oleh penjajah Jepang. Namun, berkat rayuan Bung Karno, rencana tersebut ditunda setelah Ramadhan.

Dan dalam kesempatan itu, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memberi perintah kepada masjid dan Mushalla di seluruh wilayah Surabaya untuk mengamalkan wirid Ratib bakda Maghrib atau bakda Isya. Subhanallah, dengan berkahnya Ratib al Haddad dan atas izin Allah SWT, Jepang pun dijatuhi bom nuklir Amerika dan kalah perang.

Ratib al-Haddad ini juga bisa diamalkan untuk memohon kepada Allah agar dikabulkan segala hajat yang diminta. Tidak hanya itu wirid Ratib ini juga bisa digunakan untuk mengusir gangguan jin dan syetan. Sebetulnya banyak sekali kegunaan dan manfaat wirid Ratib ini. Namun, insyallah hal tersebut akan di ulas pada tulisan dan kesempatan yang lainnya. Demikian, Wallahua’lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.