Shalawat, Senjata yang Sangat Ampuh Bagi Umat Islam

Shalawat, Senjata yang Sangat Ampuh Bagi Umat Islam

Pecihitam.org – Kami cukup panik. Dua mahasiswi peserta Pelatihan Kepemimpinan Mahir Dasar (PKMD) mendadak tak sadarkan diri lalu marah-marah dan mengamuk, kesurupan. Saat itu adalah kali pertama kami mengadakan PKMD untuk mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin di luar ruangan, di alam terbuka. Sebagai panitia kami berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya dalam hati saya gelisah luar biasa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lalu teman-teman menghubungi orang yang tahu soal kegaiban karena ilmu pengetahuan sampai saat ini belum bisa menjelaskan fenomena kesurupan ini, apalagi mengobatinya.

Sambil menunggu pertolongan, saya menelepon ayah saya, memohon nasihat mungkin beliau tahu bagaimana mengobati kesurupan. Bapak saya mengaku juga tidak tahu, tapi beliau menganjurkan saya untuk membaca shalawat dengan cara-cara tertentu lalu ditiupkan ke kepala orang yang kesurupan. Tanpa bertanya kenapa dan apa gunanya saya langsung mengerjakannya.

Mahasiswi-mahasiswi kesurupan itu tak jua sembuh sampai orang ahli kesurupan yang diminta bantuan itu mengobati mereka dari jarak jauh! Mereka pun akhirnya sadarkan diri dan pulih seperti sedia kala.

Keesokan harinya di kampus saya bertemu mahasiswi yang kemarin hari dirasuki roh gaib itu. Saya benar-benar terkejut saat ia mengatakan: “Terima kasih ya bang, sudah membacakan shalawat buat saya. Rasanya sejuk sekali seperti ada AC.”

Darimana dia tahu kalau saya bacakan shalawat saat dia kesurupan waktu itu?

Dalam pemahaman kita orang yang kesurupan adalah orang yang kehilangan kesadaran diri tapi anehnya mahasiswi itu tahu saya sempat bacakan shalawat dan meniupkannya ke kepalanya.

Dia mengaku saat kesurupan sebenarnya dalam keadaan sadar tapi tubuhnya dikuasai “orang lain”, namun dia tahu bahwa saya meniupkan shalawat dan saya cukup yakin membacanya dengan berbisik tanpa diketahui siapapun yang ada di sana waktu itu.

Baca Juga:  Baitul Makmur, Ka'bah di Langit ke Tujuh Kiblat Para Malaikat

Itulah pengalaman yang saya alami saat kuliah dulu dan saya yakin bahwa ketika itu saya benar-benar dalam keadaan waras. Mungkin ada detil-detil yang terlewat saat mengingat kembali kejadian itu, sehingga terbangun narasi berlebihan yang mengubah fakta menjadi fiktif.

Meski begitu, rasanya cukup bagi saya untuk merasakan suatu pengalaman ketakjuban terhadap shalawat. Sejak saat itu saya percaya kedahsyatannya yang kemudian saya baca setiap kali saya menghadapi masalah atau sekedar mengisi waktu luang.

Saya dan sebagian besar muslim percaya bahwa shalawat, doa buat Nabi Muhammad, memiliki keajaiban. Setidaknya, percaya bahwa membaca shalawat akan membuat hati tenang. Tuan-tuan guru tempat saya meminta nasihat juga pernah mengatakan shalawat mengandung unsur penyejuk, jadi bacalah shalawat jika hati sedang kalut.

Kaum muslimin tradisional juga percaya bahwa dengan membaca shalawat peluang Rasulullah memberi syafa’at (pembersihan diri dari dosa-dosa) di hari kiamat kelak, dengan izin Allah tentunya, akan semakin terbuka lebar. Lebih-lebih Sang Rasul juga pernah mengatakan bahwa siapa yang mendoakannya satu kali akan dibalas beliau dengan doa untuknya berpuluh-puluh kali lipat. Siapa yang tak ingin didoakan oleh seorang yang suci?!

Dengan membaca shalawat, kaum muslimin percaya bahwa, meski Baginda Rasulullah telah lama wafat dan pernah hidup di negeri yang jauh di sana, beliau masih berkontak mesra dengan umatnya sampai saat ini dan selamanya.

Karena itulah kaum muslimin ramai-ramai membaca dan mengagungkan shalawat dan pengagungan itu diekspresikan dalam bentuk pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Maulid dapat difahami sebagai kumpulan kisah hidup Rasulullah Saw yang dibaca dan diperdengarkan kepada sekumpulan jama’ah. Pembacaan kisah hidup itu diseling-selingi dengan pembacaan sya’ir-sya’ir berisi shalawat, doa-doa dan puji-pujian bagi Sang Kekasih Allah. Di tengah-tengah maulid jama’ah berdiri menyambut “kedatangan” Rasulullah Saw yang memuaskan kerinduan umat yang beliau sayangi.

Baca Juga:  Masjid Nabawi; Sejarah Lengkap Sejak Dibangun Nabi Hingga Kontroversi Era Saudi

Konon, menurut Ibn Katsir dalam kitab Tarikh-nya, pembacaan maulid dilakukan pertama kali oleh raja Irbil (wilayah Irak sekarang), Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada abad ke-7 Hijriyah. Sultan al-Muzhaffar saat itu mengundang seluruh ulama dan para pembesar untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw secara besar-besaran dan didalamnya dibacakan maulid Nabi.

Namun para ulama lain, seperti Ahmad ibn ‘Abd al-Halim al-Harani dan di Indonesia Nurcholish Madjid, mengatakan bahwa tradisi pembacaan maulid Nabi diwariskan oleh Shalah al-Din al-Ayyubi, pemimpin pasukan tentara muslim dalam perang salib.

Ketika Sang Singa Padang Pasir melihat berkurangnya semangat berperang pasukannya, ia membuat semacam “eksperimen” untuk mengembalikan semangat juang mereka, yakni membacakan kitab al-Maghaziy berisi kisah-kisah perjuangan dan perilaku Rasulullah Saw dalam perang. Eksperimen tersebut ternyata bermanfaat dan pasukan muslimin pun kembali mendapat gairah menuntaskan tugas mereka.

Dari sini kita dapat mengatakan maulid yang berisi kisah-kisah hidup Nabi Saw adalah senjata sebenarnya tentara muslimin dalam perang salib. Maka dari itu, maulid yang juga berisi shalawat-shalawat adalah senjata kita kaum muslimin saat sekarang ini. Lalu untuk apa senjata shalawat itu? Apa perang yang kita hadapi saat ini?

Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa perang terbesar umatnya adalah perang melawan hawa nafsu. Inilah perang sesungguhnya. Banyak sekali masalah, keresahan dan ketakutan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa saling dengki, permusuhan, perbuatan kejahatan, dan lain-lain jika direnungkan berawal dari ketidakmampuan kita mengalahkan hawa nafsu. Banyak pula persoalan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kebencian, pengkafiran, menganggap kelompok lain salah, merasa benar sendiri, juga diawali oleh ketundukan kepada hawa nafsu. Korupsi, kolusi, nepotisme, terorisme, yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara juga menunjukkan kekalahan para pelakunya terhadap hawa nafsu.

Baca Juga:  Hukum Melantunkan Puji pujian Setelah Adzan Benarkah Bid'ah?

Bahkan, ketika melakukan upaya-upaya sporadis untuk memberantas semua keburukan itu kita juga dikuasai oleh hawa nafsu. Kita sering bersikap tergesa-gesa dalam menilai orang lain, sehingga dengan mengatasnamakan nahy al-munkar kita pun tergesa-gesa, melakukan kekerasaan dan mengambil wewenang Tuhan untuk menghakimi mereka yang dianggap salah secara teologis, entah dengan fisik, kata-kata, maupun rasa benci dalam hati. “Al-‘ajalah min al-syaithan”, tergesa-gesa adalah salah satu perbuatan syaithan, demikian sabda Rasulullah. Semua itu adalah wujud kejatuhan kita oleh dominasi hawa nafsu yang kata Allah selalu membawa kepada kerusakan.

Orang yang bershalawat sejatinya adalah orang yang dingin hatinya, tenang jiwanya, tidak tergesa-gesa menilai orang lain salah, pun tidak tergesa-gesa menyimpulkan segala fenomena yang nampak di depan mata.

Orang yang bershalawat adalah orang yang sejuk pikirannya, luhur budi pekertinya, bersikap lemah-lembut kepada siapapun, bahkan kepada orang lain yang berbeda faham dengannya, tak ada sedikit pun rasa benci di dalam hati apalagi dalam sikapnya.

Orang yang bershalawat adalah orang yang memiliki senjata ampuh untuk menaklukkan hawa nafsunya, yakni shalawat itu sendiri, sehingga hatinya bersih dan pantas menerima syafa’at dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mari kita perbanyak membaca shalawat untuk kita “tiupkan” ke dalam hati agar kita tak lagi kesurupan hawa nafsu.

Yunizar Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *