Sorogan dan Balaghan, Rahasia Pondok Pesantren Lahirkan Santri Berkualitas

Sorogan dan Balaghan di Pondok Pesantren

Pecihitam.org – Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tradisional yang mempunyai visi untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan menggunakan kajian pendidikan berbasis keagamaan Islam.

Pendidikan keagamaan adalah sebuah proses pembelajaran yang memiliki ciri khas Islam, yang mana di dalamnya memiliki keterkaitan antara lembaga, tenaga didik, dan anak didik.

Sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai komitmen tafaqquh fiddiin dalam hal menuntut ilmu selalu memberikan peran yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Apalagi, kita sebagai orang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mempunyai kewajiban untuk membagikan ilmu yang kita miliki sebagai bentuk amanah kita terhadap ilmu yang kita miliki.

Selain itu, ilmu merupakan sebuah perhiasan bagi orang yang memilikinya, sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Talimul Muta’alim:

تعلم فان العلم زين لأهله  #  وفضل وعنوان لكل المحامد

Artinya:

Belajarlah! Maka sesungguhnya ilmu itu adalah perhiasan bagi yang memilikinya Dan menjadi keutamaan dan tanda untuk semua hal yang dipuji (Zarnuji, 1999).

Dalam hal menuntut ilmu, sudah diakui dari dulu bahwa Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.  

Sebagai lembaga pendidikan tradisional, setiap pondok pesantren memiliki metode pembelajaran yang beragam. Metode pembelajaran tersebut sudah termasuk dalam budaya yang ada di dalam pesantren tersebut.

Setiap lembaga pendidikan selalu memiliki sistem pembelajaran yang berbeda-beda agar menghasilkan lulusan-lulusan yang terbaik. Di dalam Pondok Pesantren salafi, ada istilah mengaji sorogan dan balaghan, yang mana merupakan salah satu metode pembelajaran yang dianggap efektif dalam menjalankan pembelajaran di Pesantren.

Baca Juga:  Hubungan Antara Pesantren, Santri dan Kyai, Apa Sajakah Itu?

Metode sorogan dan balaghan dianggap sebagai metode yang praktis dalam meningkatkan pemahaman santri supaya lebih mudah dalam memahami isi dari kitab kuning dan juga untuk melatih skill cara baca kitab kitab kuning yang baik dn benar.

Tentu saja, cara membaca kitab kuning itu tidak segampang yang dikira. Dalam membacanya, kita harus selalu memperhatikan susunan nahwu dan shorofnya dulu.

Namun, jika terus menerus belajar melalui metode sorogan dan balaghan semuanya akan dipahami dengan baik dan benar. Seperti pepatah mengatakan bahwa “practice makes you perfect” latihan akan membuat dirimu sempurna.

Metode sorogan dan balaghan itu sendiri merupakan teknik belajar yang berbeda. Metode  balaghan yaitu metode pembelajaran yang di dalam pelaksanaannya para ustadz mentransfer ilmu kepada santri-santrinya dengan cara ketika ustadz sedang membacakan dan menjelaskan kitab kuning yang sedang dipelajari, para santri mencatat artinya (melogat) di dalam kitab kuning kata demi kata.

Sedangkan, metode sorogan yaitu metode pembelajaran yang di dalam pelaksanaannya para ustadz mentransfer ilmu kepada santri-santrinya dengan cara ketika ustadz selesai membaca logatan (arti) kitab kuning, kemudian para santri mengulang bacaan yang telah dibacakan oleh ustadz.

Seperti yang kita ketahui bahwa sistem pembelajaran terhadap kitab kuning di Pondok Pesantren selalu menggunakan metode sorogan dan balaghan yang dapat mempermudah santri dalam meningkatkan kemampuannya dalam belajar ilmu fiqh, ilmu nahwu, ilmu shorof, dan juga dalam memahami kitab kuning itu sendiri.

Metode balaghan merupakan metode yang baik dalam peningkatan skill melogat dan juga penambahan kosa kata dalam bahasa arab. Tidak hanya itu, metode balaghan ini juga dapat memberikan ilmu pengetahuan yang mendalam dari kitab-kitab karangan ulama-ulama terdahulu.

Baca Juga:  Ini 5 Alasan dan Solusi Ketika Anak Sudah Tidak Betah di Pesantren

Metode sorogan dalam pengajian kitab kuning sejauh ini masih menjadi alternative pembelajaran yang sangat baik dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning, kemampuan menjelaskan, menghafal kosa kata bahasa arab, dan mempelajari nahwu dan shorofnya.

Selama pembelajarannya, setiap santri mempunyai giliran untuk membaca kitab kuning dengan cara baca yang benar menurut ilmu nahwu dan shorofnya.

Di era digitalisasi yang serba memudahkan manusia dalam mencari informasi ini, pembelajaran terhadap kitab kuning di pesantren semakin berkurang.

Hal itu dikarenakan sudah canggihnya teknologi yang ada di zaman modern ini, yang mempengaruhi semangat santri dalam mengaji sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas santri dalam menguasai kitab kuning.

Maka dari itu, sistem pengajian yang ada di Pondok Pesantren harus lebih mengaktifkan lagi kegiatan mengaji sorogan dan balaghan terhadap kitab kuning agar budaya yang mencerdaskan anak bangsa ini tetap terjaga.

Seseorang yang kaya akan ilmu dan mengamalkannya akan selalu menjadi perhiasan dunia. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai ilmu namun tidak mengamalkan ilmunya maka ia merupakan sebuah kerusakan. Sebagaimana yang tertulis dalam syair kitab Ta’limul Muta’alim:

فساد كبير عالم متهتك  #  واكبر منه جاهل متنسك

Artinya:

Merupakan kerusakan yang besar yaitu orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, dan yang lebih besar lagi adalah orang bodoh yang beribadah tanpa ilmu.

Di zaman yang serba kontroversial ini, semua orang muslim harus faham dalam ilmu agama, tentunya dalam ilmu hadist, fiqh, nahwu, shorof, tasawuf, balaghah, dsb agar tidak salah dalam menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Baca Juga:  Seorang Da'i Bisa Jadi Ahli Fitnah yang Menyesatkan Jika Tak Pahami Hal Ini

Dengan semua ilmu yang harus kita pelajari tersebut, tentunya tidak akan cukup waktu yang singkat dalam mempelajarinya, maka dari itu mempelajarinya harus dimulai dari sejak kecil, dan Pondok Pesantren adalah wadah yang tepat untuk mengayominya.

Orang seperti itulah yang dibutuhkan pada zaman sekarang ini, yang bisa bertanggung jawab terhadap ilmunya dan dapat membuktikan bahwa dia juga mumpuni dalam hal agamanya sendiri. Tidak hanya omongan belaka, namun ia juga bisa membuktikan bahwa ia adalah seseorang dengan kemampuan mengaji yang baik dan benar.

Karena, di zaman ini tidak sedikit orang-orang yang disebut ustadz, tetapi mereka seringkali salah menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits karena kurangnya pemahaman mereka dalam mempelajari ilmu nahwu dan ilmu shorof.

Maka dari itu, dalam menanamkan pembelajaran cepat terhadap ilmu nahwu dan shorof kepada para santri, Pondok Pesantren selalu menerapkan budaya mengaji sorogan dan balaghan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam mengaji.

Semoga artikel sederhana yang penulis tulis ini, dapat memotivasi para pembaca untuk tetap menerapkan metode tersebut di pesantrennya masing-masing.

Jazakumullah khairan katsiiran

Hany Hanifa Munjiya
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *