Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59 ini, menjelaskan perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menerangkan kenikmatan lain yang dianugerahkan-Nya di dalam surga nanti, yaitu mereka tidak akan merasakan mati seperti yang mereka rasakan di dunia. Mereka akan hidup kekal di surga nanti.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59

Surah Ad-Dukhan Ayat 51
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat) atau kedudukan أَمِينٍ (yang aman) dari semua hal-hal yang menakutkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah menceritakan keadaan orang-orang yang hidup sengsara, Allah menceritakan keadaan orang-orang yang hidup bahagia. Oleh karena itu al-Qur’an disebut matsani. Dimana Dia berfirman: إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ (“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa.”) yaitu kepada Allah sewaktu di dunia. فِى مَقَامٍ أَمِينٍ (“Berada dalam tempat yang aman”) di akhirat yaitu di surga.

Di dalamnya mereka selamat dari kematian dan keluar darinya, juga dari segala keresahan, kesedihan, kebingunan, kepayahan, kelelahan, dari syaithan dan tipu dayanya, serta dari berbagai macam penyakit dan musibah.

Tafsir Kemenag: Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

  1. Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.
  2. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  3. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  4. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  5. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.

Tafsir Quraish Shihab: Tetapi, orang-orang yang menjaga dirinya dari maksiat dan selalu taat kepada Allah berada di tempat yang tinggi dan aman.

Surah Ad-Dukhan Ayat 52
فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ

Terjemahan: (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air;

Tafsir Jalalain: فِى جَنَّٰتٍ (Yaitu di dalam taman-taman) kebun-kebun وَعُيُونٍ (dan mata air-mata air.).

Tafsir Ibnu Katsir: فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ (“Yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air”) keadaan itu adalah kebalikan dari keadaan orang-orang kafir yang memakan pohon zaqqum dan meminum air yang mendidih.

Tafsir Kemenag: Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

  1. Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.
  2. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  3. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  4. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  5. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam surga-surga yang penuh dengan kenikmatan dengan mata air yang mengalir di bawahnya, sebagai suatu penghargaan kepada mereka dengan pemberian nikmat yang amat besar.

Surah Ad-Dukhan Ayat 53
يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَقَٰبِلِينَ

Terjemahan: mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,

Tafsir Jalalain: يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسۡتَبۡرَقٍ (Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal) مُّتَقَٰبِلِينَ (seraya berhadap-hadapan) lafal Mutaqaabiliina adalah Hal atau kata keterangan keadaan, yakni, sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain, karena dipan-dipan tempat mereka duduk berbentuk bundar.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ (“Mereka memakai sutera yang halus”) yaitu sutera yang berkualitas tinggi, seperti baju dan lain sebagainya. وَإِسۡتَبۡرَقٍ (“Dan sutera yang tebal”) yakni yang berkilau dan mengkilap, seperti pakaian mewah yang biasa dipakai pada bagian atas baju. مُّتَقَٰبِلِينَ (“Mereka saling berhadap-hadapan”) yakni di atas permadani, tidak seorang pun dari mereka yang duduk sedang punggung mereka membelakangi yang lainnya.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 107-108; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

  1. Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.
  2. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  3. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  4. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  5. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal untuk menambah perhiasan mereka. Mereka duduk berhadap-hadapan supaya semakin akrab.

Surah Ad-Dukhan Ayat 54
كَذَٰلِكَ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٍ

Terjemahan: demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.

Tafsir Jalalain: كَذَٰلِكَ (Demikianlah) sebelum lafal ini diperkirakan adanya lafal Al-Amru, yakni perkaranya demikianlah. وَزَوَّجۡنَٰهُم (Dan Kami kawinkan mereka) dijodohkan atau mereka dibuat senang بِحُورٍ عِينٍ (dengan bidadari-bidadari) dengan wanita yang putih kulitnya dan jeli matanya serta sangat cantik rupanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: كَذَٰلِكَ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٍ (“Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari.”) maksudnya, demikian itulah pemberian selain dari istri-istri yang cantik-cantik yang telah Kami berikan kepada mereka, yaitu bidadari yang;

لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ (“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [para penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula oleh jin.”)(ar-Rahman: 74)

Tafsir Kemenag: Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

  1. Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.
  2. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  3. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  4. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  5. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.

Tafsir Quraish Shihab: Selain balasan ini, di dalam surga mereka Kami kawinkan dengan bidadari yang putih dan lembut karena kemolekan dan kecantikanya serta matanya yang lebar.

Surah Ad-Dukhan Ayat 55
يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ

Terjemahan: Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),

Tafsir Jalalain: يَدۡعُونَ (Mereka meminta) meminta kepada para pelayan surga فِيهَا (di dalamnya) di dalam surga, supaya para pelayan itu mendatangkan buat mereka بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ (segala macam buah-buahan) surga ءَامِنِينَ (dengan aman) dari kehabisan dan dari kemudaratannya, serta aman dari segala kekhawatiran. Lafal Aaminiina berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan.

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu firman-Nya: يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ (“Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman”) maksudnya apapun macam buah-buahan yang mereka minta, pasti akan dihadirkan. Dan mereka aman dari keterputus asaan dan halangan memperoleh buah-buahan tersebut, bahkan sebaliknya, akan disuguhkan kepada mereka kapanpun mereka menghendakinya.

Tafsir Kemenag: Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

  1. Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.
  2. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  3. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  4. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  5. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.
Baca Juga:  Surah Ad-Dukhan Ayat 38-42; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalamnya mereka dapat meminta segala jenis buah-buahan yang mereka inginkan. Mereka terhindar dari rasa sedih, dan kehilangan rezeki

Surah Ad-Dukhan Ayat 56
لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰ وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ

Terjemahan: mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,

Tafsir Jalalain: لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰ (Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati yang pertama) yaitu kematian sewaktu di dunia. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa lafal Illaa di sini bermakna Ba’da, yakni sesudah. وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ (Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰ (“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.”) yang demikian itu merupakan istisna’ [pengecualian] yang menekankan penafian. Hal itu merupakan pengecualian yang benar-benar kuat, yang artinya bahwa mereka tidak akan merasakan kematian di dalamnya selamanya.

Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-shahihain, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Kematian itu akan didatangkan dalam bentuk kibasy [domba].” Hadits ini telah dikemukakan dalam pembahasan surah Maryam.

‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra. keduanya bercerita: Rasulullah bersabda: “Akan dikatakan kepada penghuni surga: Sesungguhnya kalian akan terus sehat dan tidak akan pernah sakit selamanya. Kalian pun akan terus hidup dan tidak akan pernah mati selamanya. Kalian pun akan terus menerus memperoleh kenikmatan dan tidak akan pernah merasakan kesengsaraan untuk selamanya. Selain itu, kalian juga akan terus muda dan tidak akan pernah tua untuk selamanya.” (HR Muslim)

Abul Qasim ath-Thabrani juga meriwayatkan dari Jabir, ia bercerita: Bahwa Nabiyullah saw. pernah ditanya: “Apakah para penghuni surga itu tidur?” Maka beliau menjawab: “Tidur itu saudara kematian, dan para penghuni surga itu tidak akan pernah tidur.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih dalam Tafsirnya. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ (“Dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka.”) maksudnya dengan kenikmatan yang agung tapi tetap itu, Allah swt. juga melihara dan menyelamatkan mereka dari adzab yang sangat pedih di dasar neraka. dengan demikian maka tercapailah apa yang diharapkan. Dan Dia selamatkan mereka dari semua yang menakutkan.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan kenikmatan lain yang dianugerahkan-Nya di dalam surga nanti, yaitu mereka tidak akan merasakan mati seperti yang mereka rasakan di dunia. Mereka akan hidup kekal di surga nanti.

Hal ini berarti bahwa penghuni surga itu tetap dalam keadaan sehat wal afiat jasmani dan rohani dan mereka telah naik ke suatu martabat yang tidak dianugerahkan Allah kepada makhluk yang lain, kecuali malaikat yaitu hidup kekal penuh kebahagiaan.

Dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Muslim digambarkan keadaan penghuni-penghuni surga itu, yaitu:

“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah saw bersabda, seorang penyeru menyerukan, “Sesungguhnya kamu akan selalu sehat, karena itu kamu tidak akan menderita sakit selama-lamanya.

Sesungguhnya kamu akan tetap hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, dan sesungguhnya kamu akan tetap muda dan tidak akan pernah mengalami ketuaan selama-lamanya dan sesungguhnya kamu akan merasa nikmat dan tidak akan menderita selama-lamanya.” (Riwayat Muslim)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa para penghuni surga itu terpelihara dari siksa neraka. Terpelihara dari siksa itu termasuk salah satu dari kenikmatan yang sangat berharga, karena apabila seseorang terlepas dari suatu bahaya atau melihat orang lain menderita sedangkan ia sendiri terlepas dari bahaya dan penderitaan itu, maka ia akan merasakan suatu nikmat dan merasa bahwa ia tidak pernah berbuat suatu kejahatan sehingga ia tidak mengalami penderitaan.

Tafsir Quraish Shihab: Di sana mereka tidak lagi merasakan mati setelah kematian di dunia ketika ajal mereka datang. Mereka dipelihara Tuhan dari siksa neraka.

Surah Ad-Dukhan Ayat 57
فَضۡلًا مِّن رَّبِّكَ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Terjemahan: sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.

Tafsir Jalalain: فَضۡلًا (Sebagai karunia) lafal Fadhlan adalah Mashdar yang bermakna Tafadhdhulan, yakni pemberian karunia; dinashabkan oleh lafal Tafadhdhala yang diperkirakan keberadaannya sebelumnya مِّن رَّبِّكَ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (dari Rabbmu Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: فَضۡلًا مِّن رَّبِّكَ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (“Sebagai karunia dari Rabb-mu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.”) hal itu terwujud berkat karunia dan kebaikan Allah Ta’ala kepada mereka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda:

“Beramallah, lakukanlah dengan benar atau mendekatinya, dan ketahuilah bahwa seseorang yang tidak akan dimasukkan ke surga oleh amalnya.” Para shahabat bertanya: “Tidak juga engkau, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Termasuk juga aku, hanya saja Allah meliputiku dengan rahmat dan karunia-Nya.”

Tafsir Kemenag: Segala nikmat yang diterima penghuni surga itu adalah karunia Allah yang diberikan sebagai tanda bahwa Dia meridai perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia, dan sebagai bukti bahwa mereka mengikuti petunjuk wahyu yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, taat kepada perintah-perintah yang harus mereka lakukan dan menjauhkan semua larangan yang harus mereka hentikan.

Yang demikian itu mereka terima sebagai hasil jerih payah yang telah mereka lakukan dan imbalan dari keimanan mereka. Hasil yang mereka peroleh itu adalah hasil yang tiada bandingnya jika dibandingkan dengan hasil yang pernah dicapai seseorang selama hidup di dunia, menikmati hasil cucuran keringat sendiri yang merupakan suatu kenikmatan tersendiri pula.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 27-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Mereka terhindar dari siksaan itu berkat karunia dari kebaikan Sang Penciptamu. Keselamatan dari siksa neraka dan masuknya mereka ke dalam surga merupakan kemenangan yang amat besar.

Surah Ad-Dukhan Ayat 58
فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.

Tafsir Jalalain: فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ (Sesungguhnya Kami mudahkan ia) Kami mudahkan Alquran itu بِلِسَانِكَ (dengan bahasamu) dengan bahasa Arab supaya orang-orang Arab dapat memahaminya darimu لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ (supaya mereka mendapat pelajaran) supaya mereka dapat mengambilnya sebagai nasihat, karena itu lalu mereka beriman kepadamu; tetapi ternyata mereka tidak juga mau beriman.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ (“Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.”) maksudnya Kami mudahkan al-Qur’an yang Kami turunkan dengan penuh kemudahan dan kejelasan serta nyata melalui lisanmu [bahasamu, wahai Muhammad] yang ia merupakan bahasa paling fasih, jelas, halus dan tinggi. لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ (“Supaya mereka mendapat pelajaran.”) maksudnya agar mereka memahami dan mengamalkannya.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan petunjuk dan peringatan yang telah disampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah yang disampaikan oleh Rasul-Nya, Muhammad saw, berupa wahyu-Nya yang diturunkan dengan bahasa yang sudah mereka pahami yaitu bahasa mereka sendiri, bahasa Arab.

Hal itu dimaksudkan agar kaum musyrik Mekah dapat dengan mudah mengambil petunjuk dan pelajaran dari pokok-pokok agama Islam, tamsil ibarat dan kisah-kisah umat yang dahulu yang terdapat di dalam Al-Qur’an wahyu yang telah diturunkan itu.

Dengan membaca Al-Qur’an mereka akan merenungkan ayat-ayat yang menyuruh agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah yang terdapat dalam kejadian langit dan bumi beserta apa yang ada antara keduanya, demikian pula bukti-bukti adanya hari kebangkitan.

Dengan bimbingan dan peringatan itu, diharapkan mereka mau bertobat, kembali ke jalan yang benar, mau mengakui dan mencari kebenaran yang hakiki dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nenek moyang mereka yang telah nyata kesesatannya.

Akan tetapi lantaran kebekuan hati mereka karena kesombongan dan keangkuhan mereka, maka petunjuk dan kebenaran yang dikemukakan Al-Qur’an kepada mereka tidak dapat mereka terima, sehingga mereka tetap dalam kegelapan dan kesesatan.

Tafsir Quraish Shihab: Kami memberi kemudahan kepadamu, Muhammad, untuk membaca dan menyampaikan isi al-Qur’ân kepada mereka dengan menggunakan bahasa mereka, hanya bertujuan agar mereka dapat mengambil pelajaran lalu mempercayainya dan mengamalkan ajaran yang dikandugnnya.

Surah Ad-Dukhan Ayat 59
فَٱرۡتَقِبۡ إِنَّهُم مُّرۡتَقِبُونَ

Terjemahan: Maka tunggulah; sesungguhnya mereka itu menunggu (pula).

Tafsir Jalalain: فَٱرۡتَقِبۡ (Maka tunggulah) nantikanlah kebinasaan mereka إِنَّهُم مُّرۡتَقِبُونَ (sesungguhnya mereka itu menunggu pula) kebinasaanmu. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berjihad melawan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian dengan kejelasan dan kenyataan itu, masih banyak orang yang kafir, menyelisihi dan ingkar terhadapnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad, seraya menghibur serta menjanjikan pertolongan kepadanya dan memberikan ancaman berupa kehancuran dan kebinasaan bagi orang-orang yang mendustakannya.

فَٱرۡتَقِبۡ (“Maka tunggulah”) tunggulah, إِنَّهُم مُّرۡتَقِبُونَ (“Sesungguhnya mereka itu menunggu [pula].”) artinya, kelak mereka akan mengetahui, bagi siapakah pertolongan dan keberuntungan serta ketinggian kalimat di dunia dan akhirat itu akan diberikan.

Sesungguhnya semua itu bagimu, hai Muhammad, dan juga saudara-saudaramu dari kalangan para Nabi dan juga para Rasul serta orang-orang mukmin yang mengikutimu. Sebagaimana firman-Nya:

كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغۡلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِىٓ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ (“Allah telah menetapkan: Aku dan Rasul-Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”)(al-Mujaadilah: 21)

Tafsir Kemenag: Itulah sebabnya Allah membiarkan orang-orang musyrik Mekah sesat dalam kesyirikannya, membiarkan mereka menunggu ketentuan Allah pada saat yang telah ditentukan, dan mereka pasti akan menyaksikan sendiri siapakah yang benar nanti, mereka yang selalu menyekutukan Tuhan dan berbuat dosa ataukah orang-orang yang beriman yang mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad.

Seandainya mereka mau mengakui kebenaran Al-Qur’an, tentulah mereka akan yakin bahwa kemenangan itu pasti diperoleh oleh orang-orang yang mengikuti agama tauhid yang berjuang dan beramal untuk mencari keridaan Allah. Allah berfirman:

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat), (yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk. (Gafir/40: 51-52)

Selama menunggu ketentuan dari Allah itu, terdapat perbedaan sikap dan keyakinan antara para pengikut rasul dengan orang-orang musyrik Mekah. Para pengikut rasul menunggu janji kemenangan dari Allah dengan bersabar dan tawakal. Mereka yakin bahwa Allah pasti menepati janji-Nya yaitu memenangkan Islam dan kaum Muslimin di dunia dan melimpahkan kenikmatan serta kebahagiaan abadi di akhirat nanti.

Karena itu, mereka tidak pernah gentar dan takut, mati dan hidup bagi mereka sama saja karena semua yang ada pada mereka, jiwa maupun raga, harta dan nyawa mereka telah mereka serahkan kepada Allah. Sebaliknya, orang-orang musyrik menunggu dengan perasaan khawatir dan takut. Mereka sangat khawatir akan dihancurkan oleh kaum Muslimin.

Setiap mereka melihat perkembangan, kemajuan, dan kemenangan kaum Muslimin atas mereka, semakin bertambah pula kekhawatiran pada diri mereka. Mereka sangat takut akan pembalasan dendam kaum Muslimin kepada mereka. Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala yang ada pada mereka untuk mengatasi kemajuan dan kemenangan kaum Muslimin.

Hal ini terlihat pada usaha-usaha mereka itu sebagaimana yang telah mereka usahakan di Perang Ahzab, perjanjian Hudaibiyah dan sebagainya. Sebenarnya dalam hati mereka terbayang kebenaran sesungguhnya, namun karena kesombongan dan keangkuhan, mereka tetap menjauhkan diri dari kebenaran Al-Qur’an.

Tafsir Quraish Shihab: Maka tunggulah apa yang akan terjadi pada diri mereka. Sesungguhnya mereka pun menunggu apa yang akan terjadi pada dirimu dan dakwahmu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S