Surah Al-Ahqaf Ayat 21-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahqaf Ayat 21-25

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahqaf Ayat 21-25 ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah kisah Nabi Hud yang berasal dari kaum ‘Ad, ketika ia memperingatkan kepada kaumnya yang berdomisili di Ahqaf itu akan azab Tuhan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menjelaskan bahwa mengutus para rasul dan nabi kepada kaumnya masing-masing adalah suatu hal yang biasa, dan sudah menjadi sunatullah. Sebelum Nabi Hud, Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi yang memberi peringatan kepada kaum mereka masing-masing, begitu pula sesudahnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaf Ayat 21-25

Surah Al-Ahqaf Ayat 21
وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ بِٱلۡأَحۡقَافِ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Tafsir Jalalain: وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ (Dan ingatlah saudara kaum Ad) yakni Nabi Hud a.s. إِذۡ (yaitu ketika) mulai lafal Idz dan seterusnya menjadi Badal Isytimal أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ (dia memberi peringatan kepada kaumnya) maksudnya, mempertakuti mereka بِٱلۡأَحۡقَافِ (di Al-Ahqaf) nama sebuah lembah tempat tinggal mereka yang terletak di negeri Yaman.

وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ (dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan) beberapa orang rasul مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ (sebelumnya dan sesudahnya) sebelum Nabi Hud datang dan sesudahnya, kepada kaumnya masing-masing seraya mengatakan,

أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ (“Janganlah kalian menyembah selain Allah) jumlah Waqad Khalat merupakan jumlah Mu’taridhah, atau kalimat sisipan إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ (sesungguhnya aku khawatir kalian) jika kalian menyembah kepada selain Allah عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٍ (akan ditimpa azab hari yang besar.”).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah dalam firman-Nya ini menghibur Nabi-Nya, Muhammad saw. atas kedustaan yang dilakukan kaumnya. وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ (“Dan ingatlah saudara kamu ‘Aad.”) yakni Huud as. Yang telah diutus oleh Allah kepada kaum ‘Aad pertama yang tinggal di al-Ahqaaf, yaitu bukit pasir. Demikian dikemukakan Ibnu Zaid. Sedangkan ‘Ikrimah mengungkapkan: “Al-Ahqaaf berarti gunung-gunung yang bergua.”

Dalam bab “Idzaa Da’aa faybda’ binafsiHi” Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat kita semua dan saudara kaum ‘Aad [Huud].” Hadits ini dla’if menurut Syaikh al-Albani dalam kitab Dla’iful Jami’ no. 6427.

Firman Allah: وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ (“Dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelum dan sesudahnya.”) yakni Allah telah mengutus para Rasul dan pemberi peringatan ke negeri-negeri lain di sekitar negeri mereka. Maksudnya Huud mengucapkan hal itu kepada mereka.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah kisah Nabi Hud yang berasal dari kaum ‘Ad, ketika ia memperingatkan kepada kaumnya yang berdomisili di Ahqaf itu akan azab Tuhan.

Allah menjelaskan bahwa mengutus para rasul dan nabi kepada kaumnya masing-masing adalah suatu hal yang biasa, dan sudah menjadi sunatullah. Sebelum Nabi Hud, Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi yang memberi peringatan kepada kaum mereka masing-masing, begitu pula sesudahnya.

Nabi Hud menyeru kaum agar tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menciptakan mereka, yang memberi rezeki sehingga mereka dapat hidup dengan rezeki itu dan menjaga kelangsungan hidup. Hendaklah mereka takut akan malapetaka yang akan menimpa nanti akibat kedurhakaan itu.

Di akhirat nanti mereka akan mendapat azab yang pedih. Keadaan pada hari Kiamat itu diterangkan pada firman Allah: Sungguh, pada hari keputusan (hari Kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, (yaitu) pada hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan. (ad-Dukhan/44: 40-41) Al-Ahqaf berarti “bukit-bukit pasir”.

Kemudian nama itu dijadikan nama sebuah daerah yang terletak antara negeri Oman dan Mahrah. Daerah itu dinamai demikian oleh kaum ‘Ad. Sekarang daerah itu terkenal dengan nama “Sahara al-Ahqaf”, dan termasuk salah satu daerah yang menjadi wilayah Kerajaan Saudi Arabia bagian selatan.

Daerah itu terletak di sebelah utara Hadramaut, sebelah timur dibatasi oleh laut Yaman, dan sebelah selatan berbatasan dengan Nejed. Semula kaum ‘Ad menganut agama yang berdasarkan tauhid. Setelah berlalu beberapa generasi, kepercayaan tauhid itu dimasuki unsur-unsur syirik, dimulai dengan penghormatan kepada pembesar-pembesar dan pahlawan mereka yang telah meninggal dunia, dengan membuatkan patung-patungnya. Lama-kelamaan, pemberian penghormatan ini berubah menjadi pemberian penghormatan kepada patung, yang akhirnya berubah menjadi penyembahan kepada dewa, dengan arti bahwa pembesar dan pahlawan yang telah meninggal mereka anggap sebagai dewa.

Untuk mengembalikan mereka kepada agama yang benar yaitu agama tauhid, Allah mengutus seorang rasul yang diangkat dari keluarga mereka sendiri, yaitu Nabi Hud. Hud menyeru mereka agar kembali kepada kepercayaan yang benar, yaitu kepercayaan tauhid, dengan hanya menyembah Allah semata, tidak lagi mempersekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan yang lain.

Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah Hûd, saudara kaum ‘Ad, ketika memberi peringatan kepada kaumnya yang bertempat tinggal di bukit-bukit pasir. Dan, baik sebelum maupun sesudah Hûd, telah banyak rasul yang memberi peringatan serupa. Hûd berkata kepada mereka,

Baca Juga:  Surah Al-Ahqaf Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Janganlah kalian menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang sangat menakutkan. “(1). (1) Kabilah ini bertempat tinggal di bukit-bukit pasir yang disebut Ahqâf. . Namun letak bukit pasir itu sendiri masih diperselisihkan.

Di antara ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa bukit itu terletak di antara Yaman dan Amman sampai Hadramaut dan Syahr yang terletak di sebelah tenggara semenanjung Arab. Namun sebagian arkeolog berpendapat bahwa bukit itu berada di sebelah timur Aqabah.

Pendapat ini didasarkan pada tulisan nabthiyyah yang mereka temukan dalam reruntuhan candi yang ada di gunung Iram. Di sana ditemukan peninggalan-peninggalan Jahiliah kuno yang menguatkan anggapan bahwa lokasi itu adalah apa yang oleh al-Qur’ân disebut dengan kota Iram. Namun semua itu telah musnah sebelum Islam. Dan ketika Islam datang, yang tersisa di sana hanya sember mata air sebagai tempat persinggahan kafilah yang pergi ke Syam (Suriah).

Surah Al-Ahqaf Ayat 22
قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Terjemahan: “Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Tafsir Jalalain: قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا (Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari menyembah tuhan-tuhan kami?) maksudnya kamu datang untuk memalingkan kami daripada menyembahnya.

فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ (Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami) bahwa jika kami menyembahnya pasti kami tertimpa azab إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ (jika kamu termasuk orang-orang yang benar”) bahwasanya azab itu benar-benar menimpa kami.

Tafsir Ibnu Katsir: Akan tetapi kaumnya memberikan jawaban dengan ucapan: أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا (“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari [menyembah] ilah-ilah kami?”) maksudnya apakah kamu datang untuk menghalangi kami menyembah tuhan-tuhan kami?

فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ (“Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”) maksudnya mereka meminta supaya didatangkan adzab dan hukuman Allah dengan segera, karena menganggap hal itu mustahil terjadi.

Tafsir Kemenag: Ketika Nabi Hud menyeru kaumnya untuk beriman, kaum ‘Ad menjawab seruan itu dengan mengatakan, “Apakah kamu diutus kepada kami untuk memalingkan kami dari agama nenek moyang kami sehingga kami tidak lagi menyembah tuhan-tuhan kami dan hanya menyembah Tuhanmu?” Mereka meminta kepada Hud membuktikan kerasulannya dengan segera mendatangkan azab yang pernah dijanjikan kepada mereka, seandainya mereka tidak beriman. Bahkan pada ayat yang lain, mereka menuduh Hud sebagai orang gila.

Allah berfirman: Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud/11: 54).

Tafsir Quraish Shihab: Dengan ingkar, kaum Nabi Hûd berkata, “Apakah kamu datang hanya karena ingin memalingkan kami dari menyembah tuhan-tuhan kami? Datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar dalam ancaman ini.”

Surah Al-Ahqaf Ayat 23
قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَلَٰكِنِّىٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمًا تَجۡهَلُونَ

Terjemahan: “Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Ia berkata) Nabi Hud berkata, إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ (“Sesungguhnya pengetahuan tentang itu hanya pada sisi Allah) artinya hanya Dialah yang mengetahui kapan azab itu menimpa kalian وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ (dan aku hanya menyampaikan kepada kalian apa yang aku diutus dengan membawanya) untuk disampaikan kepada kalian وَلَٰكِنِّىٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمًا تَجۡهَلُونَ (tetapi aku lihat kalian adalah kaum yang bodoh”) karena kalian meminta supaya azab didatangkan dengan segera.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ (“Ia berkata: ‘Sesungguhnya pengetahuan [tentang itu] hanya pada sisi Allah.’”) yakni, Allah yang lebih mengetahui tentang kalian, jika kalian memang berhak untuk segera diadzab, maka Dia akan melakukan hal itu pada kalian. Sedangkan aku hanya sekedar menyampaikan apa yang karenanya aku diutus.”وَلَٰكِنِّىٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمًا تَجۡهَلُونَ (“Tetapi aku melihat kalian adalah kaum yang bodoh.”) maksudnya kaum yang tidak berakal dan tidak pula memahami.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan jawaban Nabi Hud atas tantangan orang kafir supaya segera didatangkan azab yang pernah dijanjikan kepada mereka jika mereka tidak beriman. Nabi Hud menjawab bahwa yang mengetahui kapan azab yang diancamkan itu datang hanyalah Allah. Nabi Hud sendiri juga tidak tahu kapan azab itu akan datang.

Tugas nabi hanya menyampaikan risalah dari Allah. Seharusnya kaum ‘Ad bersyukur dengan diutusnya salah seorang dari kaum mereka menjadi nabi yang memberi peringatan, informasi tentang hukum, pokok-pokok akidah, dan cara-cara beribadah yang benar.

Semua itu disampaikan karena perintah Allah, Tuhan Maha Pencipta segala sesuatu. Tanpa adanya petunjuk dari Allah tak ada yang mengetahui hakikat agama yang benar. Manusia tidak tahu manakah Tuhan yang benar-benar berhak disembah dan siapa yang berhak menentukan bagaimana cara beribadah yang benar.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 29-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu, wajar jika ada manusia yang tidak memahami semua hal, karena pikiran manusia memang terbatas. Di sinilah perlunya Allah mengutus para nabi dan rasul, dan manusia harus berusaha untuk memahami dan meyakininya.

Tafsir Quraish Shihab: Hûd berkata, “Sesungguhnya pengetahuan tentang waktu penyiksaan terhadap diri kalian hanyalah ada pada sisi Allah. Aku hanya menyampaikan misi yang dipesankan kepadaku untuk disampaikan. Tetapi aku melihat kalian adalah orang-orang yang bodoh dan tidak mengerti apa yang dibawa oleh para rasul.”

Surah Al-Ahqaf Ayat 24
فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضًا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمۡطِرُنَا بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا رَأَوۡهُ (Maka tatkala mereka melihat azab itu) عَارِضًا (berupa awan) atau mendung yang muncul di cakrawala langit مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمۡطِرُنَا (menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami) maksudnya, awan yang membawa hujan buat kami, Allah swt. berfirman,

بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۦ (‘Bahkan itulah azab yang kalian minta supaya datang dengan segera) maksudnya, azab itu yang kalian minta agar disegerakan datangnya رِيحٌ (yaitu berupa angin) lafal Riihun menjadi Badal dari lafal Maa فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (yang mengandung azab yang pedih) yang menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضًا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ (“Maka, ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.”) artinya, ketika mereka melihat adzab itu menuju ke tempat mereka, mereka berkeyakinan bahwa itu adalah awan yang datang membawa hujan kepada mereka, sehingga mereka merasa senang dan bergembira karenanya, dimana mereka ketika itu ditimpa kekeringan dan mereka sangat mengharapkan turunnya hujan.

Firman Allah: بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (“Bahkan ia merupakan adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, yaitu angin yang mengandung adzab yang pedih.”)

Tafsir Kemenag: Segala macam usaha telah dilakukan Nabi Hud untuk mengajak kaumnya menganut agama yang benar. Bahkan dalam ayat-ayat yang lain diterangkan bahwa Nabi Hud menantang kaumnya agar mereka semua dan dewa-dewa mereka itu bersama-sama melawan dan membunuh dirinya. Namun tantangan itu tidak mereka hiraukan, sehingga Allah memutuskan untuk menimpakan azab kepada mereka. Azab itu dimulai dengan datangnya musim kemarau panjang yang menimpa negeri mereka.

Dalam keadaan demikian, mereka melihat awan hitam berarakan di atas langit dan bergerak menuju negeri mereka. Mereka semua bergembira menyambut kedatangan awan itu. Menurut mereka, awan itu adalah tanda akan hujan dalam waktu dekat, yang selama ini sangat mereka harapkan. Mereka mengatakan,

“Ini adalah awan yang membawa hujan.” Lalu Nabi Hud menatap awan itu dan memperhatikannya dengan seksama, kemudian beliau berkata, “Awan yang datang bergumpal-gumpal itu bukanlah sebagai tanda akan datangnya hujan sebagaimana yang kamu sangka, tetapi awan itu sebagai tanda datangnya azab yang kamu inginkan dan kamu tunggu-tunggu.

Azab yang akan datang untuk menghancurkan kamu berupa angin kencang yang akan membinasakan kamu dan semua yang dilandanya. Dia akan membinasakan kamu dan semua hartamu dan akan menghancurkan seluruh kekuatan dewa-dewa yang selalu kamu bangga-banggakan, sesuai dengan tugas yang diperintahkan Tuhan kepadanya.”

Dalam ayat yang lain diterangkan bentuk azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad itu. Allah berfirman: Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka. (al-haqqah/69: 6-8). Dan firman Allah:

Dan (juga) pada (kisah kaum) ‘Ad, ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. (Angin itu) tidak membiarkan suatu apa pun yang dilandanya, bahkan dijadikannya seperti serbuk. (adh-dzariyat/51: 41-42) Bagaimana kedahsyatan azab yang telah ditimpakan kepada kaum ‘Ad itu tergambar pada sikap Rasulullah saw sewaktu angin kencang bertiup.

Di dalam suatu hadis diterangkan sebagai berikut: ‘Aisyah berkata, “Rasulullah saw apabila ada angin kencang bertiup, beliau berdoa, ‘Wahai Tuhan, aku mohon kepada Engkau angin yang paling baik; baik isinya dan paling baik pula yang dibawanya, dan aku berlindung kepada Engkau dari angin yang buruk; buruk isinya dan buruk pula yang dibawanya.

Apabila langit memperlihatkan gejala-gejala akan turunnya hujan berubahlah muka Rasulullah saw. Beliau mondar-mandir keluar masuk rumah, ke muka dan ke belakang. Maka apabila hujan telah turun legalah hati beliau, lalu aku bertanya kepada beliau, beliau menjawab, ‘Aku tidak mengetahui, mudah-mudahan saja seperti yang dikatakan kaum ‘Ad, ‘Awan yang datang ini menurunkan hujan kepada kita.” (Riwayat Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa’i)

Rasulullah juga bersabda sebagai berikut: ‘Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw tertawa lebar hingga kelihatan anak lidahnya. Beliau hanya tersenyum, sedang apabila beliau melihat awan dan angin, berubah raut mukanya. Aku bertanya kepada beliau, ‘Ya Rasulullah aku lihat orang apabila melihat awan mereka bergembira karena mengharapkan semoga awan itu membuat hujan, sedangkan engkau aku lihat bila melihat awan kelihatan perasaan kurang senang di mukamu.

Baca Juga:  Surah Al-Ahqaf Ayat 17-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Rasulullah saw menjawab, ‘Ya ‘Aisyah, siapa yang dapat menjamin bahwa awan itu tidak membawa azab? Pernah suatu kaum diazab dengan angin itu. Sesungguhnya kaum itu melihat azab, tetapi mereka menyangkanya awan yang membawa hujan, maka berkatalah mereka, ‘Awan itu datang membawa hujan kepada kita.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pada hadis lain yang diriwayatkan Muslim diterangkan: Ibnu ‘Abbas menerangkan bahwa Nabi saw pernah bersabda, “Saya ditolong oleh angin timur, dan kaum ‘Ad dihancurkan dengan angin barat.” (Riwayat Muslim).

Tafsir Quraish Shihab: Maka datanglah azab kepada mereka dalam bentuk awan. Ketika mereka melihat awan terbentang di ufuk menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan membawa hujan dan kebaikan bagi kita.” Lalu dikatakan kepada mereka,

“Bukan! Itu adalah siksaan yang kalian minta untuk disegerakan: angin yang membawa azab yang pedih dan menghancurkan segala sesuatu atas perintah Sang Pencipta.” Angin itu pun menghancurkan mereka semua hingga tak ada yang tersisa kecuali tempat tinggal mereka saja. Demikianlah balasan yang Kami berikan kepada orang-orang yang melakukan dosa seperti mereka.

Surah Al-Ahqaf Ayat 25
تُدَمِّرُ كُلَّ شَىۡءٍۭ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡ كَذَٰلِكَ نَجۡزِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ

Terjemahan: “yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.

Tafsir Jalalain: تُدَمِّرُ (Yang menghancurkan) yang membinasakan لَّ شَىۡءٍۭ (segala sesuatu) yang dilewatinya بِأَمۡرِ رَبِّهَا (dengan perintah Rabbnya) dengan seizin-Nya; maksudnya angin itu dapat membinasakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya untuk dibinasakan.

Akhirnya binasalah kaum laki-laki dan wanita serta anak-anak mereka berikut dengan harta bendanya; semuanya terbawa terbang oleh angin yang besar itu antara langit dan bumi dalam keadaan tercabik-cabik. Kini yang tertinggal dalam keadaan selamat adalah Nabi Hud beserta orang-orang yang beriman kepadanya.

فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡ كَذَٰلِكَ (maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali bekas-bekas tempat tinggal mereka.’ Demikianlah) sebagaimana Kami memberikan balasan kepada kaum Hud نَجۡزِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ (Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”) selain mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: maksudnya itulah adzab yang dulu kalian pernah minta: “Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”) تُدَمِّرُ (“Yang menghancurkan.”) atau merusak, كُلَّ شَىۡءٍۭ (“segala sesuatu”) yakni semua yang memang dapat hancur dari negeri mereka. بِأَمۡرِ رَبِّهَا (“dengan perintah Rabb-nya”) yakni dengan izin Allah kepadanya. Hal ini seperti firman Allah:

(“Angin itu tidak membiarkan sedikitpun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.”) (adz-Dzaariyaat: 42). Yakni seperti sesuatu yang hancur lebur. Oleh karena itu Allah berfirman:

فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡ (“Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali [bekas-bekas] tempat tinggal mereka.”) maksudnya, semuanya telah hancur dan tidak ada sedikitpun yang tersisa.

كَذَٰلِكَ نَجۡزِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ (“Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”) artinya demikianlah ketetapan Kami [Allah] bagi orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul Kami serta melanggar perintah Kami.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memperingatkan orang-orang musyrik Mekah bahwa Dia telah menimpakan azab yang amat dahsyat kepada kaum ‘Ad. Demikian dahsyatnya azab itu sehingga apa saja yang dilanda oleh azab berupa angin amat dingin yang bertiup dengan keras itu, pasti hancur. Mereka mati bergelimpangan. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan runtuh, barang-barang beterbangan, pohon-pohon kayu tumbang. Tidak ada yang kelihatan lagi, kecuali puing-puing dan tempat tinggal mereka yang telah berserakan.

Azab yang seperti itu juga telah menimpa kaum-kaum yang lain, seperti kaum Samud, kaum Lut, dan kaum Syuaib. Semua mereka itu adalah orang-orang yang ingkar dan durhaka kepada Allah. Seandainya kaum Quraisy tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab seperti itu pula.

Tafsir Quraish Shihab: Maka datanglah azab kepada mereka dalam bentuk awan. Ketika mereka melihat awan terbentang di ufuk menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan membawa hujan dan kebaikan bagi kita.” Lalu dikatakan kepada mereka,

“Bukan! Itu adalah siksaan yang kalian minta untuk disegerakan: angin yang membawa azab yang pedih dan menghancurkan segala sesuatu atas perintah Sang Pencipta.” Angin itu pun menghancurkan mereka semua hingga tak ada yang tersisa kecuali tempat tinggal mereka saja. Demikianlah balasan yang Kami berikan kepada orang-orang yang melakukan dosa seperti mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Ahqaf Ayat 21-25 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S