Surah Al-Ahzab Ayat 57-58; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahzab Ayat 57-58Surah Al-Ahzab Ayat 57-58

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 57-58 ini, dijelaskan bahwa Allah mengutuk orang-orang yang menyakiti-Nya dengan melakukan perbuatan yang tidak diridai-Nya, seperti mengingkari perintah-Nya, yaitu ucapan orang-orang Nasrani bahwa Isa adalah putra Allah, atau seperti kaum musyrikin yang mengatakan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah, atau menyekutukan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah juga mengutuk orang-orang yang menyakiti Rasul-Nya, seperti menuduh beliau seorang penyair, tukang sihir, atau seorang gila dan sebagainya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 57-58

Surah Al-Ahzab Ayat 57
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا مُّهِينًا

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ (Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya) mereka adalah orang-orang kafir, mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang Dia Maha Suci daripadanya, yaitu mempunyai anak dan mempunyai sekutu, kemudian mereka mendustakan rasul-Nya.

لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡءَاخِرَةِ (Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat) yakni menjauhkannya dari rahmat-Nya وَأَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا مُّهِينًا (dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan) siksaan yang menghinakan yaitu neraka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman memberikan tekanan dan ancaman kepada orang yang menyakiti-Nya dengan cara melanggar perintah-perintah-Nya, melakukan larangan-larangan-Nya dan berusaha bergelimang di dalamnya serta menyakiti Rasul-Nya dengan cara menghina dan merendahkan –semoga Allah melindungi kita dari sikap sepert ini-.

‘Ikrimah berkata tentang firman Allah: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ (“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”) adalah turun berkenaan dengan para pelukis. Di dalam ash-Shahihain diriwAyatkan dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah, dari az-Zuhri, dari Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman: ‘Anak Adam menyakiti-Ku, Dia mencela masa, Aku-lah Masa dimana Aku puta malam dan siangnya.’”

Makna hadits ini, bahwa di masa jahiliyyah dahulu mereka berkata: “Hai celakalah masa, dia melakukan ini dan itu pada kita.” Mereka menyandarkan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala kepada masa dan mencelanya. Padahal pelakunya adalah Allah, hingga mereka dilarang melakukan hal tersebut. Demikian yang ditetapkan oleh asy-Syafi’i, Abu ‘Ubaidah dan ulama lainnya.

Baca Juga:  Tafsir Alif Lam Mim Menurut Kyai Shalih Darat, Bagaimanakah Maknanya?

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ (“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”) adalah turun pada orang-orang yang menuduh Nabi saw. di waktu menikahi Shafiyyah binti Huyay bin al-Akhthab. Yang dhahir pada Ayat ini umum pada setiap orang yang menyakitinya dengan cara apa pun. Barangsiapa yang menyakitinya, maka berarti menyakiti Allah. Begitu pula orang yang mentaatinya, maka berarti ia mentaati Allah.

Imam Ahmad meriwAyatkan bahwa ‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah, Allah [semoga dijauhkan] tentang shahabatku. Janganlah kalian jadikan mereka sebagai pusat sasaran sesudahku. Barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku Allah mencintai mereka. Dan barangsiapa yang membenci mereka, maka dengan kebencianku Allah membenci mereka.

Barangsiapa yang menyakiti mereka maka berarti dia menyakiti aku, dan barangsiapa yang menyakiti aku maka berarti menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah, Dia pasti akan menyiksanya.” (HR at-Tirmidzi dari hadits ‘Ubaidah bin Abi Ra-ithah. Kemudian dia berkata: “Ini hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari jalan ini.” Dan didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dla’iifull Jaami’ [1160])

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan bahwa Allah mengutuk orang-orang yang menyakiti-Nya dengan melakukan perbuatan yang tidak diridai-Nya, seperti mengingkari perintah-Nya, yaitu ucapan orang-orang Nasrani bahwa Isa adalah putra Allah, atau seperti kaum musyrikin yang mengatakan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah, atau menyekutukan-Nya.

Allah juga mengutuk orang-orang yang menyakiti Rasul-Nya, seperti menuduh beliau seorang penyair, tukang sihir, atau seorang gila dan sebagainya.

Kutukan Allah itu meliputi kutukan di dunia dan akhirat. Di dunia mereka dijauhkan dari rahmat Allah dan karunia-Nya, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan dan kemaksiatan. Di akhirat mereka dijerumuskan ke dalam api neraka yang merupakan seburuk-buruknya tempat kembali, dan Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat pedih dan menghinakan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya dengan cara menentang dan melakukan provokasi untuk mengingkari Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan mengharamkan mereka dari rahmat-Nya. Allah akan menyediakan bagi mereka siksa yang sangat merendahkan keangkuhan mereka itu.

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 14-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Ahzab Ayat 58
وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنًا وَإِثۡمًا مُّبِينًا

Terjemahan: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ (Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat) yaitu menuduh mereka mengerjakan hal-hal yang tidak mereka lakukan فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنًا (maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan) melancarkan tuduhan bohong وَإِثۡمًا مُّبِينًا (dan dosa yang nyata) yakni perbuatan yang nyata dosanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ (“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat.”) yaitu mereka menuduh sesuatu yang sebenarnya bersih dari kaum Mukmin dan Mukminat, dimana mereka tidak mengamalkan dan tidak memperbuatnya.

فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنًا وَإِثۡمًا مُّبِينًا (“Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”) ini adalah kebohongan besar, yaitu suatu cara menceritakan dan mengumbar berita tentang sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang-orang Mukmin dan Mukminat dengan cara mencela dan merendahkan mereka.

Di antara orang yang banyak masuk dalam kategori ini adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah (Syi’ah) yang mencela dan merendahkan Shahabat dengan sesuatu yang sebenarnya Allah telah membebaskan mereka dari hal itu serta mensifatkan pula mereka dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan kabar yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah meridlai dan memuji kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Sedangkan orang-orang bodoh dan jahil itu mencela dan merendahkan mereka serta menyebut mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada diri mereka dan tidak mereka lakukan sama sekali. Mereka pada hakekatnya adalah penderita sakit hati yang mencela orang-orang terpuji dan memuji orang-orang tercela.

Abu Dawud meriwAyatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. ditanya: “Ya Rasulallah, apa ghibah itu?” Beliau menjawab: “Menceritakan saudaramu sesuatu yang dibencinya.” Ditanya lagi: “Apakah pendapatmu, jika yang dikatakan itu memang benar ada pada dirinya?” Beliau menjawab:

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 23-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Jika benar ada pada dirinya, maka engkau telah membuat ghibah kepadanya. Dan jika tidak ada pada dirinya, maka berarti engkau telah berdusta.” (demikian yang diriwAyatkan oleh at-Tirmidzi. Kemudian dia berkata: “Hasan Shahih.”)

Tafsir Kemenag: Orang yang menyakiti para mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, dan hanya berdasarkan kepada fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat, maka sungguh mereka itu telah melakukan dosa yang nyata.

Menurut Ibnu ‘Abbas, Ayat ini diturunkan sehubungan dengan tuduhan ‘Abdullah bin Ubay terhadap ‘aisyah yang dikatakannya telah berbuat mesum dalam perjalanan pulang beserta Nabi Muhammad setelah memerangi Bani Mushthaliq, yang terkenal dengan hadits al-ifk.

Dalam hadis Nabi saw dijelaskan: Abu Hurairah meriwAyatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang apa artinya bergunjing. Beliau menjawab, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.”

Nabi ditanya lagi, “Bagaimana jika yang disebut itu memang benar atau suatu kenyataan?” Nabi menjawab, “Bila yang diucapkan itu benar, engkau telah mengumpat kepadanya, dan bila itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan terhadapnya.” (RiwAyat Abu Dawud).

Tafsir Quraish Shihab: Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki atau wanita beriman yang tidak bersalah, melalui ungkapan kata atau perbuatan, mereka akan menanggung dosa lantaran kebohongan itu dan mereka sesungguhnya telah melakukan perbuatan dosa yang teramat buruk.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 57-58 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S