Surah An-Naml Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 1-6

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 1-6 ini, sebelum membahas mengenai kandungan ayat, terlebih dahulu kita memahami makna surah ini, surah an-naml adalah surah ke-27 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Awal surah ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, nabi dan rasul yang terakhir. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril. Selanjutnya Allah menjelaskan ciri-ciri orang-orang yang beriman, dan menagancam orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhirat.

Ayat-ayat ini memberikan penjelasan dan keterangan bagi orang yang berpikir bahwa Al-Qur’an benar-benar kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Ia bukan kata-kata tipuan atau hasil rekayasa Nabi Muhammad, dan bukan pula ciptaan salah seorang makhluk Allah. Manusia dan jin tidak mungkin dapat membuat Al-Qur’an atau menyamainya, meskipun keduanya bekerja sama untuk itu.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 1-6

Surah An-Naml Ayat 1
طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُّبِينٍ

Terjemahan: Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan,

Tafsir Jalalain: طس (Tha Sin) hanya Allah saja yang mengetahui maksudnya تِلْكَ (ini) yakni ayat-ayat ini آيَاتُ الْقُرْآنِ (adalah ayat-ayat Alquran) sebagian daripada Alquran وَكِتَابٍ مُّبِينٍ (dan ayat-ayat Kitab yang menjelaskan) yang memenangkan perkara yang hak di atas perkara yang batil. Lafal Kitabin di’athafkan kepada lafal yang sebelumnya dengan ditambahi sifat.

Tafsir Ibnu Katsir: Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.

golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Firman Allah: تِلْكَ آيَاتُ; yaitu inilah ayat-ayat: الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُّبِينٍ (“Al-Qur’an dan Kitab yang menjelaskan.”) yaitu jelas dan tegas.

Tafsir Kemenag: Awal surah ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, nabi dan rasul yang terakhir. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril.

Ayat-ayat ini memberikan penjelasan dan keterangan bagi orang yang berpikir bahwa Al-Qur’an benar-benar kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Ia bukan kata-kata tipuan atau hasil rekayasa Nabi Muhammad, dan bukan pula ciptaan salah seorang makhluk Allah. Manusia dan jin tidak mungkin dapat membuat Al-Qur’an atau menyamainya, meskipun keduanya bekerja sama untuk itu.

Maksud dari kalimat “Kitab yang menjelaskan” adalah Al-Qur’an. Dalam ayat ini berkumpul dua nama dari Al-Qur’an itu, yaitu “Al-Qur’an” (yang dibaca) dan “al-Kitab” (yang dituliskan). Dua buah nama yang mempunyai arti dan maksud yang sama. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

Alif Lam Ra. (Surah) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Kitab (yang sempurna) yaitu (ayat-ayat) Al-Qur’an yang memberi penjelasan. (al-hijr/15: 1)

Ayat-ayat Al-Qur’an memberi penjelasan tentang arti ayat-ayatnya, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat yang saling menjelaskan. Maksudnya ialah ada ayat yang membahas satu persoalan secara rinci dan menjelaskan maksud ayat lain yang mengandung persoalan yang sama, tetapi turun secara global.

Ayat-ayat Al-Qur’an juga memberi penjelasan tentang tujuan-tujuan penurunannya, seperti hukum-hukum yang terkait dengan halal dan haram, janji dan ancaman, serta perintah dan larangan. Kesemuanya itu dijadikan pedoman hidup di dunia sebagai jalan mencapai kebahagiaan hidup di akhirat kelak.

Tafsir Quraish Shihab: Dua buah huruf fonemis yang membuka surat ini bertujuan untuk menggugah perhatian para pendengar kepada rahasia mukjizat Alquran sambil memberi isyarat bahwa bahasa Alquran itu sama dengan bahasa yang mereka pergunakan dalam berkomunikasi.

Di samping kegunaan tersebut, huruf-huruf seperti itu memiliki fungsi psikologis, memusatkan konsentrasi para pendengar. Itulah ayat-ayat yang diturunkan Allah yang telah dibacakan kepada kalian dan kalian dapat membacanya sendiri. Itulah kitab yang menjelaskan apa yang dikandungnya.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 60-62; Seri Tadabbur Al Qur'an

Surah An-Naml Ayat 2
هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman,

Tafsir Jalalain: Ia adalah هُدًى (petunjuk) yang memberi petunjuk agar tidak sesat وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman) yang percaya kepadanya, yaitu akan diberi surga.

Tafsir Ibnu Katsir: هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (“Untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman.”) yaitu petunjuk dan berita gembira hanya tercapai dari al-Qur’an, yakni bagi orang yang mengimani, mengikuti dan membenarkannya

Tafsir Kemenag: Al-Qur’an itu sebagai petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Petunjuk yang merupakan hidayah Allah, sehingga manusia menjadi yakin dan mau beriman. Akan tetapi, tidak semua manusia dapat memperoleh dan menikmati hidayah dari Allah, meskipun Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan batil bagi manusia seluruhnya, sebagaimana dalam firman Allah:

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)… (al-Baqarah/2: 185).

Hanya orang-orang yang beriman dan yang mempunyai kesediaan dalam dirinya untuk beriman saja yang dapat menikmati petunjuk Al-Qur’an. Bagi orang-orang yang beriman, Al-Qur’an menambah petunjuk dan hidayah yang sudah ada, sehingga bertambah pula iman dan amal perbuatannya dalam melaksanakan ajaran Islam yang juga bersumber pada Al-Qur’an.

Dengan demikian, iman seseorang dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan amalnya. Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:.. Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (at-Taubah/9: 124).

Mereka merasa gembira karena mendapat berita tentang limpahan rahmat dan keridaan Allah. Surga juga tersedia bagi mereka sebagai tempat tinggal, yang penuh dengan berbagai macam kenikmatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sebuah kitab yang berisikan petunjuk bagi orang-orang beriman menuju jalan kebajikan dan kemenangan di dunia dan akhirat, pembawa berita gembira akan adanya tempat kembali yang baik bagi mereka.

Surah An-Naml Ayat 3
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Terjemahan: (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Tafsir Jalalain: الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ (Yaitu orang-orang yang mendirikan salat) yakni menunaikannya sesuai dengan ketentuan-ketentuannya وَيُؤْتُونَ (dan menunaikan) memberikan الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat) artinya mereka mengetahui melalui dalil-dalil Alquran. Hum diulang karena antara Hum yang pertama dengan Khabarnya ada pemisah.

Tafsir Ibnu Katsir: berita gembira hanya tercapai dari al-Qur’an, yakni bagi orang yang mengimani, mengikuti dan membenarkannya serta mengamalkan isi kandungannya, mendirikan shalat wajib, membayar zakat yang fardlu dan meyakini hari akhirat, hari kebangkitan setelah kematian, balasan berbagai amal perbuatan yang baik dan yang buruk serta surga dan neraka,

sebagaimana firman Allah yang artinya: “Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah penyejuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan.” Dan seterusnya (Fushshilat: 44).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang mukmin, yaitu: 1, Mendirikan salat, yaitu menunaikan salat wajib dengan menyempurnakan rukun dan syaratnya, sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Salat dikerjakan dengan segala ketulusan hati, kekhusyukan, dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Salat dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar karena salat dapat menghilangkan sifat-sifat jiwa yang negatif. Salat merupakan unsur yang membentuk ketakwaan di samping iman kepada yang gaib. Kekhusyukan dalam melaksanakan salat menjadi salah satu syarat untuk menjadi orang mukmin yang sejati.

Kedudukan salat dalam Islam antara lain adalah: a. Sebagai tiang agama, tanpa salat agama akan runtuh. b. Sebagai kewajiban pertama dari Allah sebelum kewajiban-kewajiban ibadah lainnya. Perintah wajib ini diterima langsung oleh Nabi Muhammad tanpa perantaraan malaikat Jibril sebagaimana yang disebutkan dalam kisah Isra’ Mi’raj.

c. Salat merupakan amal yang pertama-tama diperhitungkan (hisab) pada hari Kiamat nanti. Kalau baik salatnya, maka semua amal lainnya akan baik pula. Sebaliknya, kalau salatnya rusak, maka semua amal lainnya ikut rusak.

2, Menunaikan zakat yang merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Membayar zakat itu wajib sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar sebagai khalifah pertama setelah Nabi Muhammad wafat, telah memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Padahal zakat itu merupakan suatu kewajiban yang berhu-bungan dengan harta. Dengan zakat, orang-orang mukmin membersihkan jiwa mereka dari sifat kikir dan tamak. Kedua sifat ini dapat menimbulkan fitnah (keonaran) bagi pemilik harta.

Baca Juga:  Surah Ad-Dukhan Ayat 51-59; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Harta adalah rezeki dari Allah yang wajib disyukuri dengan menunaikan zakat, sebagai cara untuk menyucikannya. Pada harta tersebut ada bagian yang menjadi hak orang-orang miskin. Bagi orang-orang miskin zakat dapat membersihkan jiwa mereka dari sifat-sifat dengki dan iri hati kepada orang-orang kaya. Dengan demikian, hubungan baik antara si kaya dan si miskin dalam masyarakat akan tetap terjaga dan kesenjangan antara keduanya bisa dikurangi.

3, Yakin akan adanya hari akhirat, maksudnya ialah yakin akan adanya hidup setelah mati. Semua orang akan kembali menghadap Allah untuk diperhitungkan amal baik dan buruknya. Keduanya akan dibalas dengan balasan yang setimpal.

Dengan demikian, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia. Ini berarti bahwa manusia diciptakan Allah di dunia bukanlah tanpa tujuan atau sia-sia belaka. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (al-Mu’minun/23: 115).

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu orang-orang yang melaksanakan salat, lengkap dengan rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyuk dan menunaikan kewajiban zakat tepat pada waktunya serta meyakini sepenuhnya akan adanya kehidupan akhirat, saat Allah memberikan pahala dan siksa.

Surah An-Naml Ayat 4
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).

Tafsir Jalalain: إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ (Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka) yang buruk, yaitu dengan membarakan nafsu syahwat mereka, lalu hal itu mereka pandang baik فَهُمْ يَعْمَهُونَ (maka mereka bergelimang) merasa kebingungan di dalamnya, sebab hal itu dianggap buruk oleh kita.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu disini Allah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ (“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman dengan negeri akhirat.”) yakni mereka mendustakannya dan menganggap mustahil terjadinya, زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ (“Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan mereka, maka mereka bergelimang.”) yakni mereka memandang baik apa yang mereka lakukan serta Kami biarkan mereka berada dalam penyimpangan dan bergelimang dalam kesesatan.

Itu semua merupakan balasan atas kedustaan mereka terhadap akhirat, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan [begitu pula] Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya [al-Qur’an] pada permulaannya.” Dan seterusnya (al-An’am: 110).

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat yang lalu, Allah menerangkan beberapa sikap orang-orang mukmin yang memperoleh petunjuk dan hidayah dari Allah. Ayat ini menerangkan tingkah laku dan perbuatan orang-orang kafir, yang tidak mau beriman kepada adanya hari akhirat, dan akibat yang akan mereka rasakan.

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat adalah mereka yang tidak yakin akan adanya hari Kiamat, tidak yakin bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah melalui kematian, tidak yakin akan dibangkitkan kembali pada hari penghisaban, serta tidak percaya akan adanya pahala sebagai balasan amal baik dan siksa sebagai balasan amal buruk.

Mereka hidup di dunia tanpa mengekang hawa nafsu, dan amat cinta kepada kenikmatan duniawi, seakan-akan hidup di dunia ini satu-satunya kehidupan bagi mereka. Mereka tidak mengenal halal dan haram, serta tidak memikirkan tanggung jawab di akhirat.

Segala tingkah laku tersebut mereka anggap baik. Padahal mengikuti hawa nafsu berarti mengikuti ajaran setan yang sesat lagi menyesatkan. Dengan demikian, mereka pun hidup dan bergelimang dalam kesesatan. Hal ini adalah balasan bagi mereka karena keingkarannya itu.

Tafsir Quraish Shihab: Kami menjadikan orang-orang yang tidak percaya pada hari akhir memandang indah perbuatan- perbuatan mereka, sehingga mereka terjerumus dalam jurang kesesatan.

Surah An-Naml Ayat 5
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

Terjemahan: Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.

Tafsir Jalalain: أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ (Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang buruk) yang keras di dunia, yaitu dengan dibunuh dan ditawan وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ (dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi) karena tempat mereka adalah neraka, mereka kekal di dalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir: أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ (“Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang buruk.”) di dunia dan di akhirat. وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ (“Dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.”) yaitu tidak ada yang lebih rugi dari diri mereka sendiri dan harta-harta mereka di antara manusia yang ada di padang mahsyar kelak.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa mereka akan menerima siksa yang buruk di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang tidak beriman dengan hari akhirat itu. Ayat ini juga merupakan peringatan bagi seluruh manusia.

Siksa di dunia dapat terjadi dengan adanya bermacam-macam bencana alam seperti banjir, gempa bumi, peperangan yang membawa korban manusia dan harta benda, dan lain-lain. Siksaan dunia ini juga dapat berupa siksaan batin atau jiwa yang dialami secara perorangan, meskipun di antara mereka ada yang sudah memenuhi berbagai kebutuhan hidup dunianya, bahkan ada yang sudah lebih dari cukup. Namun demikian, hidupnya tidak bahagia dan selalu resah, jiwa mereka kosong, serta tidak punya tujuan hidup karena tidak percaya pada hari akhirat.

Dalam kehidupan hari akhirat nanti, mereka sangat merugi dan menjadi penghuni neraka selamanya. Masing-masing menerima balasan siksa yang setimpal sesuai dengan amal buruk mereka. Karena pedihnya siksaan tersebut, mereka lalu memohon keringanan dari malaikat penjaga neraka agar tidak disiksa meskipun hanya sehari. Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja.” (al-Mu’min/40: 49).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka itulah yang kelak akan menerima siksa yang buruk. Mereka adalah orang-orang yang paling merugi di akhirat.

Surah An-Naml Ayat 6
وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

Terjemahan: Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّكَ (Dan sesungguhnya kamu) khithab atau perintah ini ditujukan kepada Nabi saw. لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ (benar-benar diberi Alquran) yakni diturunkan dengan sungguh-sungguh kepadamu مِن لَّدُنْ (dari sisi) hadirat حَكِيمٍ عَلِيمٍ (Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui) mengenai hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ (“Dan sesungguhnya engkau benar-benar diberi al-Qur’an dari sisi [Allah] Yang Mahabijaksana dan Mahamengetahui.”) yakni, wa innaka (“dan sesungguhnya engkau.”) hai Muhammad, latulaqqa (“benar-benar diberi.”) yaitu mendapat:

الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ (“al-Qur’an dari sisi [Allah] Yang Mahabijaksana dan Mahamengetahui.”) yaitu dari sisi Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui, yakni Mahabijaksana dalam perintah dan larangan-Nya serta Mahamengetahui seluruh perkara, baik yang besar maupun yang kecil. Berita-berita-Nya adalah kejujuran murni dan hukum-Nya adalah keadilan yang sempurna.

Sebagaimana Allah berfirman: وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا (“Telah sempurna kalimat Rabbmu [al-Qur’an] sebagai kalimat yang benar dan adil.”)(al-An’am: 115)

Tafsir Kemenag: Kalimat-kalimat Al-Qur’an yang berisi kebenaran dan keadilan telah sempurna. Kalimat-kalimat itu antara lain berisi janji Allah yang akan menolong Muhammad dan pengikut-pengikutnya, sehingga memperoleh kemenangan dan kejayaan; Al-Qur’an juga mengancam orang-orang yang mencemoohkan Al-Qur’an, bahwa mereka akan dihinakan dan dibinasakan. Firman Allah:

Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang (ash-shaffat/37: 171-173)

Kalimat-kalimat itu sempurna, karena sesuai dengan fakta dan kenyataan yang bisa disaksikan dalam sejarah kemenangan nabi-nabi, dan kehancuran musuh-musuhnya tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Janji Allah tak dapat diubah dan pasti Allah akan memberikan pertolongan kepada rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui segala ucapan mereka yang berkhianat dan mengetahui pula isi hati mereka dan segala dosa yang mereka perbuat.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Muhammad, sesungguhnya dirimu telah menerima wahyu yang turun dari sisi Tuhan. Hikmah-Nya tidak ada yang menandingi dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Naml Ayat 1-6 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S