Surah An-Nur Ayat 11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nur Ayat 11

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nur Ayat 11 ini, menerangkan bahwa orang-orang yang membuat-buat berita bohong atau fitnah mengenai rumah tangga Rasulullah itu adalah dari kalangan kaum Muslimin sendiri. Sumbernya dari Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka kaum munafik di Medinah, shafw±n bin Muaththal, keponakan Nabi, dan Hassan bin sabit.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nur Ayat 11

Surah An-Nur Ayat 11
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ (Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong) kedustaan yang paling buruk yang dilancarkan terhadap Siti Aisyah r.a. Umulmukminin, ia dituduh melakukan zina عُصْبَةٌ مِّنكُمْ (adalah dari golongan kalian juga) yakni segolongan dari kaum Mukmin. Siti Aisyah mengatakan, bahwa mereka adalah Hissan bin Tsabit, Abdullah bin Ubay, Misthah dan Hamnah binti Jahsy.

لَا تَحْسَبُوهُ (Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu) hai orang-orang Mukmin selain dari mereka yang melancarkan tuduhan itu شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (buruk bagi kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian) dan Allah akan memberikan pahalanya kepada kalian.

Kemudian Allah swt. menampakkan kebersihan Siti Aisyah r.a. Dan orang yang telah menolongnya yaitu Shofwan. Sehubungan dengan peristiwa ini Siti Aisyah r.a. telah menceritakan, sebagai berikut, “Aku ikut bersama Nabi saw. dalam suatu peperangan, yaitu sesudah diturunkannya ayat mengenai hijab bagi kaum wanita. Setelah Nabi saw. menunaikan tugasnya, lalu ia kembali dan kota Madinah sudah dekat.

Pada suatu malam setelah istirahat Nabi saw. menyerukan supaya rombongan melanjutkan perjalanan kembali. Aku pergi dari rombongan untuk membuang hajat besarku. Setelah selesai, aku kembali ke rombongan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat, akan tetapi ternyata kalungku putus/jatuh, lalu aku kembali lagi ke tempat buang hajat tadi untuk mencarinya.

Mereka mengangkat sekedupku ke atas unta kendaraanku, karena mereka menduga bahwa aku telah berada di dalamnya. Karena kaum wanita pada saat itu beratnya ringan sekali, disebabkan mereka hanya makan sedikit. Aku menemukan kembali kalungku yang hilang itu, lalu aku datang ke tempat rombongan, ternyata mereka telah berlalu. Lalu aku duduk di tempat semula, dengan harapan bahwa rombongan akan merasa kehilangan aku, lalu mereka kembali ke tempatku. Mataku mengantuk sekali, sehingga aku tertidur; sedangkan Shofwan pada waktu itu berada jauh dari rombongan pasukan karena beristirahat sendirian.

Kemudian dari tempat istirahatnya itu ia melanjutkan kembali perjalanannya menyusul pasukan. Ketika ia sampai ke tempat pasukan, ia melihat ada seseorang sedang tidur, lalu ia langsung mengenaliku, karena ia pernah melihatku sebelum ayat hijab diturunkan. Aku terbangun ketika dia mengucapkan Istirja’, ‘yaitu kalimat Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi RaaJi’uuna’. Aku segera menutup wajahku dengan kain jilbab.

Demi Allah, sepatah kata pun ia tidak berbicara denganku, terkecuali hanya kalimat Istirja’nya sewaktu ia merundukkan hewan hendaraannya kemudian ia turun dengan berpijak kepada kaki depan untanya. Selanjutnya aku menaiki unta kendaraannya dan ia langsung menuntun kendaraannya yang kunaiki, hingga kami dapat menyusul rombongan pasukan, yaitu sesudah mereka beristirahat pada siang hari yang panasnya terik.

Akhirnya tersiarlah berita bohong yang keji itu, semoga binasalah mereka yang membuat-buatnya. Sumber pertama yang menyiarkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.” Hanya sampai di sinilah kisah siti Aisyah menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Selanjutnya Allah berfirman, لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم (“Tiap-tiap seseorang dari mereka) akan dibalas kepadanya مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ (dari dosa yang dikerjakannya) mengenai berita bohong ini. وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ (Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu) maksudnya orang yang menjadi biang keladi dan berperanan penting dalam penyiaran berita bohong ini, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubay لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (baginya azab yang besar”) yakni neraka kelak di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir: Kesepuluh ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aisyah, Ummul Mukminin ra. ketika beliau dituduh oleh ahlul ifki dari kalangan kaum munafik dengan perkataan mereka yang dusta dan bohong yang membangkitkan kecemburuan Allah terhadap ‘Aisyah dan Nabi-Nya saw. sehingga Allah menurunkan ayat berisi pembebasannya demi menjaga kehormatan Rasul saw.

Firman Allah: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ (“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga.”) yaitu beberapa orang dari kamu, bukan satu dua orang saja, namun jama’ah [banyak orang]. Orang yang paling berhak mendapat laknat Allah adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh kaum munafik.

Dialah yang mengumpulkan data dan mengorek-ngorek informasi tentang persoalan ini hingga merasuk ke benak sebagian kaum Muslimin. Akhirnya mereka membicarakannya, sebagian orang bertindak lebih jauh lagi. Demikianlah kondisinya selama lebih kurang satu bulan hingga turun ayat. Penjelasan tentang masalah ini dimuat dalam hadits-hadits shahih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari az-Zuhri, bahwa ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah bin az-Zubair, ‘Alqamah bin Waqqash dan ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari hadits ‘Aisyah, istri Nabi saw.

ketika penebar berita bohong melontarkan tuduhan terhadapnya lalu Allah menurunkan wahyu yang membebaskan dirinya dari tuduhan tersebut. Setiap perawi telah meriwayatkan kepadaku bagian-bagian tertentu darinya, sebagian perawi lebih hafal daripada perawi lainnya dan lebih lengkap kisahnya.

Aku telah menghafal hadits ini dari setiap perawi dari ‘Aisyah, riwayat-riwayat tersebut saling membenarkan satu sama lain. Mereka semua menyebutkan bahwa ‘Aisyah, istri Nabi saw. berkata: “Apabila Rasulullah saw. hendak pergi bersafar, maka beliau akan mengundi di antara istri-istri beliau. Siapa yang keluar undiannya maka dialah yang dibawa serta oleh beliau.”

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 131-132; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

‘Aisyah melanjutkan kisahnya: “Dalam suatu peperangan yang hendak beliau ikuti, beliau mengundi di antara kami, ternyata yang keluar adalah namaku. Maka aku pun keluar menyertai Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi setelah turunnya perintah berhijab. Aku dibwa di atas sekedup [tandu di punggung unta], aku bermalam dalam sekedup itu. Kami pun menempuh perjalanan hingga akhirnya Rasulullah saw.

selesai dari peperangan itu dan bergegas hendak kembali. ketika kami hampir mendekati kota Madinah, beliau memerintahkan rombongan agar bergerak pada malam hari. Ketika itu aku keluar dari sekedupku dan berjalan hingga menjauhi rombongan [untuk buang hajat]. Setelah selesai hajat aku pun kembali. aku meraba dadaku, ternyata kalungku yang terbuat dari akar zhafar putus dan hilang. Aku pun mencarinya hingga tertahandi tempat karena lama mencarinya. Pada saat bersamaan, rombongan kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Mereka membawa sekedupku dan meletakkannya di atas unta yang aku tunggangi. Mereka mengira aku berada di dalamnya.

Pada saat itu kaum wanita sangat ringan bobotnya, tidak berat dan tidak gemuk, mereka hanya makan sedikit saja. mereka tidak mencurigai berat sekedup yang bertambah ringan ketika mereka membawa dan mengangkatnya. Ketika itu aku adalah gadis muda belia. Mereka pun menggiring unta dan berjalan. Lalu aku berhasi menemukan kalungku setelah rombongan bergerak jauh. Aku mendatangi tempat perhentian tadi, tidak ada seorang pun di situ. Aku mencari-cari tempatku semula di situ. Menurutku, rombongan pasti kembali mencariku.

Ketika aku duduk menunggu di tempatku, rasa kantuk datang menyerang sehingga aku pun tertidur. Pada saat itu Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami adz-Dzakwani berjalan di belakang rombongan. Ia berjalan hingga sampai di tempatku. Ia melihat bayangan hitam manusia sedang tidur. Ia datang mendekatiku. Ia langsung mengenaliku begitu melihatku. Ia telah melihatku sebelum turun perintah berhijab. Aku terbangun begit mendengar ucapan istirja’nya [yaitu ucapan: innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun]

Akupun menutup wajahku dengan hijab. Demi Allah, ia sama sekali tidak bicara kepadaku walaupun sepotong kalimat. Aku tidak mendengar sepatah katapun darinya kecuali ucapan istirja’nya ketika ia menambatkan kendaraannya.

Ia memegang kaki kendaraannya dan mempersilakan aku naik ke atasnya. Aku pun naik, kemudian ia membawaku hingga dapat menyusul rombongan setelah mereka berhenti di tengah hari yang sangat terik. Binasalah orang-orang binasa yang mengomentari peristiwaku tersebut. Orang yang memiliki andil paling besar dalam penyebaran berita bohong itu adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.

Kami pun tiba di Madinah. Setelah satu bulan tiba di Madinah aku jatuh sakit. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan ahlul ifki, sedang aku sama sekali tidak mengetahuinya. Sebenarnya aku telah merasakan kecurigaan saat aku sakit, aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah saw. yang biasa kuterima saat aku sakit. Rasulullah hanya datang menemuiku, mengucapkan salam kemudian berkata:

‘Bagaimana kabarmu?’ itulah yang membuatku curiga dan aku belum merasa keburukannya hingga pada suatu ketika aku sudah merasa sehat aku keluar bersama Ummu Misthah ke al-Manashi’, yaitu tempat kami buang hajat. Biasanya kami ke tempat itu hanya pada malam hari.

Saat itu kami belum membuat tempat buang hajat di dekat rumah. Kami masih melakukan kebiasaan yang dilakukan orang-orang Arab terdahulu, yaitu buang hajat di padang pasir. Kami merasa terganggu dengan tempat buang hajat yang berada di dekat rumah.

Akupun berangkat bersama Ummu Misthah, dia adalah putri Abu Rahm bin Muththalib bin ‘Abdi Manaf, ibunya adalah putri Shakr bin ‘Amir, bibi dari Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Puteranya bernama Misthah bin Utsatsah bin ‘Abbad bin ‘Abdul Muththalib. Aku pun kembali ke rumah bersama Ummu Misthah –putri Abu Rahm- setelah selesai buang hajat.

Ummu Misthah tiba-tiba mencela dari balik kerudungnya, ia berkata: ‘Merugilah Misthah!’ ‘Sungguh buruk perkataanmu, apakah engkau mencela seorang laki-laki yang telah mengikuti peperangan Badar?’ kataku. ‘Duhai engkau ini, belumkah engkau mendengar apa yang dikatakannya?’ kata Ummu Misthah. ‘Memangnya apa yang dikatakannya?’ selidikku. Lalu iapun menceritakan tuduhan ahlul ifki terhadap diriku. Mendengar ceritanya itu, sakitku bertambah parah dari yang sebelumnya.

Ketika aku sampai di rumah, Rasulullah saw. datang dan mengucapkan salam kemudian berkata: ‘Bagaimana kabarmu?’ aku berkata kepada beliau: ‘Bolehkah aku pergi untuk menemui kedua orang tuaku?’ “Aku ingin mengecek kebenaran berita itu dari kedua orang tuaku.

Rasulullah saw. memberikan izin, akupun segera menemui kedua orang tuaku. Aku berkata kepada ibuku: ‘Wahai ibunda, mengapa orang-orang membicarakannya?’ Ibuku berkata: ‘Wahai putriku, sabarlah. Demi Allah, jarang sekali seorang wanita cantik yang dicintai suaminya dan dimadu melainkan madu-madunya itu pasti banyak menggunjingkan dirinya.’ ‘Subhaanallaah, berarti orang-orang telah membicarakannya!’ seruku.

Malam itu aku terus menangis hingga pagi, air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku tidak bisa tidur dan terus menangis sampai pagi.
Kemudian Rasulullah saw. memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu terputus.

Beliau meminta pendapat mereka berdua tentang masalah perceraian denganku. Adapun Usamah bin Zaid mengusulkan kepada beliau agar menangguhkannya karena ia mengetahui bersihnya istri beliau dari tuduhan itu dan juga karena ia tahu bagaimana kecintaan mereka kepada beliau. Usamah berkata: ‘Wahai Rasulallah, kami tidak mengetahui tentang keluargamu, melainkan kebaikan.’

Adapun ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata: ‘Wahai Rasulallah, janganlah engkau dibuat sedih karenanya, masih banyak wanita-wanita lain selain dia. tanyakan saja pada budak wanitanya, niscaya dia akan membenarkanmu.’ Maka Rasulullah pun memanggil Barirah dan bertanya:

‘Hai Barirah, apakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan pada diri ‘Aisyah?’ Barirah berkata: ‘Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak pernah melihat sesuatu yang tercela darinya, hanya saja ia adalah seorang gadis beliau yang pernah ketiduran saat menjaga adonan roti milik keluarganya, lalu datanglah kambing memakannya.’

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 1-2; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Rasulullah saw. bangkit dan meminta pembelaan dari tuduhan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau berkata di atas mimbar: ‘Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan seorang laki-laki yang telah menyakiti keluargaku?’ Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan.

Dan mereka juga menuduh seorang lelaki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.’

Maka bangkitlah Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari dan berkata: ‘Aku akan membelamu wahai Rasulallah, jika orang itu berasal dari suku Aus, maka akan kami penggal kepalanya, jika orang itu berasal dari saudara kami suku Khazraj, silahkan perintahkan kami untuk melakukan tindakan terhadapnya.’

Bangkitlah Sa’ad bin ‘Ubadah, ia adalah pemimpin suku Khazraj, ia adalah seorang laki-laki yang shalih, akan tetapi saat itu sentimennya bangkit, ia berkata pada Sa’ad bin Mu’adz: ‘Engkau dusta, demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan sanggup membunuhnya, kalaulah orang itu dari sukumu tentu engkau tidak akan mau ia dibunuh.’

Bangkitlah Usaid bin Hudhair, ia adalah keponakan Sa’ad bin Mu’adz dan berkata kepada Sa’ad bin ‘Ubadah: ‘Engkaulah yang dusta, demi Allah, kami akan membunuhnya, engkau munafik dan membela seorang munafik.’

Maka ributlah kedua suku Aus dan Khazraj hingga nyaris baku hantam, sementara Rasulullah saw. berada di atas mimbar. Beliau berusaha menenangkan mereka hingga akhirnya mereka diam dan Rasulullah pun diam.

Hari itu aku terus menangis, air mataku terus berlinang tanpa henti dan aku tak bisa tidur. Kedua orang tuaku mengkhawatirkan tangisanku itu dapat membelah jantungku. Ketika keduanya duduk di sisiku sementara aku terus menangis, tiba-tiba datanglah seorang wanita Anshar. Aku izinkan ia masuk. Ia duduk menangis bersamaku.

Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba Rasulullah saw. datang, beliau mengucapkan salam kemudian duduk. Beliau belum pernah duduk bersamaku semenjak tuduhan terhadap diriku mencuat ke permuakaan. Sudah sebulan lamanya wahyu tidak turun kepada beliau tentang kasus yang menimpaku.

Beliau mengucapkan tasyahud, kemudian berkata: ‘Amma ba’du, hai ‘Aisyah, telah sampai kepadaku berita begini dan begitu tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah, maka Allah pasti menurunkan wahyu yang membebaskan dirimu. Namun jika engkau melakukan perbuatan dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya apabila seorang hamba mengakui dosanya lalu bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.”

Setelah beliau saw. mengutarakan hal itu, air mataku berhenti hingga tak mengalir setetespun. Aku berkata kepada ayahku: ‘Jawablah perkataan Rasulullah.’ Ia berkata: ‘Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah.’ Aku berkata kepada ibuku: ‘Jawablah perkataan Rasulullah saw.’ ibuku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah.’

Aku hanya seorang gadis yang masih muda belia, aku tidak banyak membaca ayat-ayat al-Qur’an. Demi Allah, sungguh aku tahu bahwa kalian telah mendengar ceritanya hingga telah merasuk ke dalam jiwa kalian dan kalian membenarkannya.

Kalaulah aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah, Allah Mahatahu bahwa aku memang tidak bersalah, tentu kalian tidak akan mempercayaiku. Sekiranya aku mengakui tuduhan itu, Allah Mahatahu bahwa aku tidak bersalah, tentu kalian akan mempercayainya.

Demi Allah, aku tidak menemui perumpamaan diriku kecuali seperti apa yang dikatakan oleh ayah Yusuf: فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (“Maka kesabaran yang baik itulah [kesabaranku]. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”)(Yusuf: 18)

Kemudian aku pun pergi berbaring di atas pembaringanku. Demi Allah, aku yakin diriku tidak bersalah dan bahwasannya Allah akan menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Akan tetapi, aku tidak menyangka akan turun wahyu yang akan terus dibaca berkaitan dengan diriku.

Sungguh masalah diriku ini terlalu kecil untuk Allah sebutkan dalam wahyu-Nya yang akan terus dibaca. Aku hanya berharap Rasulullah saw. melihat dalam mimpi bahwa Allah membebaskan diriku dari tuduhan. Demi Allah, Rasulullah saw. tidak berkeinginan membuka majelis dan tidak seorang pun dari Ahlul Bait yang keluar hingga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya.

Beliaupun merasa kesusahan seperti biasanya saat beliau menerima wahyu, bahkan keringat beliau bercucuran laksana mutiara padahal saat itu musim dingin, karena beratnya perkataan yang diturunkan kepada beliau. Lalu hilanglah kesusahan itu dari beliau, lalu beliau tersenyum. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah: ‘Sambutlah kabar gembira hai ‘Aisyah, Allah telah menurunkan pembebasan dirimu.’

Ibuku berkata: ‘Bangkit dan sambutlah Rasulullah saw.’ Aku berkata: ‘Demi Allah aku tidak akan bangkit menyambutnya dan aku tidak akan memuji kecuali Allah swt. semata. Dia lah yang telah menurunkan wahyu yang membebaskan diriku.’ Lalu Allah menurunkan ayat-Nya: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ (“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga.”) sebanyak sepuluh ayat.

Setelah Allah menurunkan ayat berisi pembebasan diriku, Abu Bakar, yang dahulu memberi nafkah untuk Mitsthah bin Utsatsah karena masih kerabat dan fakir, berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepadanya selama-lamanya setelah ia menuduh ‘Aisyah.’ Lalu Allah menurunkan ayat-Nya :

janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni dirimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22)

Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, aku ingin Allah mengampuni diriku.’ Beliau kembali memberikan nafkah kepada Mitsthah seperti yang dulu pernah diberikannya. Kemudian Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan mencabut nafkah tersebut selama-lamanya.’

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

‘Aisyah berkata: “Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy, salah seorang istri nabi, tentang diriku, Rasul berkata: ‘Hai Zainab, apa yang kau ketahui dan dengar tentangnya?’ ia menjawab: ‘Wahai Rasulallah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah aku tidak mengetahui tentangnya kecuali kebaikan.’

‘Aisyah berkata: “Hanya dialah satu-satunya dari istri Rasulullah saw. yang membela diriku, lalu Allah memelihara dirinya dengan sifat wara’. Namun saudaranya, yakni Hamnah binti Jahsy terus membantah dirinya hingga ia termasuk dalam golongan orang yang celaka.”

Ibnu Syihab berkata: “Ini akhir kisah tentang peristiwa ahlul ifki.” Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka, dari hadits az-Zuhri.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari ‘Aisyah bahwa ia berkata: “Setelah ayat yang berisi tentang pembebasan diriku turun, Rasulullah saw. bangkit dan menyampaikannya serta membacakannya. Ketika turun perintah pelaksanaan hukuman terhadap dua orang laki-laki dan seorang wanita, mereka pun melaksanakan hukuman tersebut.” Riwayat ini dikeluarkan oleh penulis kitab Sunan yang empat. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan nama-nama mereka yang dihukum, yaitu Hasan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah dan Hamnah binti Jahsy, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ (“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong.”) yaitu berita dusta dan fitnah. Firman Allah: ‘عُصْبَةٌ (“segolongan dari kamu juga”) yaitu dari jama’ah kaum Muslimin.

Firman Allah: لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم (“janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagimu”) hai keluarga Abu Bakar. Firman Allah: بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (“Bahkan itu adalah baik bagimu”) yakni di dunia dan di akhirat. Lisan kebenaran di dunia dan derajat tinggi di akhirat serta menampakkan kemuliaan bagi mereka dengan perhatian Allah menurunkan ayat pembebasan dirinya dalam al-Qur’anul ‘Adhiim.

Oleh karena itu, ketika Abdullah bin ‘Abbas ra datang menemuinya, saat itu ‘Aisyah tengah menghadapi kematian, Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya: “Sambutlah kabar gembira, sesungguhnya engkau adalah istri Rasulullah saw. Beliau sangat mencintaimu, beliau tidak menikahi gadis selain dirimu dan telah turun pembebasan dirimu langsung dari langit.”

Firman Allah: لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْ (“Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya”) yakni setiap orang yang berbicara tentang masalah ini dan menuduh Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. dengan tuduhan keji, berhak mendapat balasan yang berupa adzab yang besar.

Firman Allah: وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ (“Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu.”) ada yang mengatakan: “Maksudnya adalah, yang memulainya.” Ada yang mengatakan: “Maksudnya adalah, yang mengumpulkan dan menyebarkannya.”

Firman Allah: laHuu ‘ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (“Baginya adzab yang besar”) atas perbuatan itu. Menurut pendapat mayoritas ulama bahwa orang yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga Allah memburukkan dirinya dan melaknatnya. Dialah yang memulai tuduhan itu. Demikian dikatakan oleh Mujahid dan ulama lainnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Hasan bin Tsabit, namun pendapat ini sangat asing. Kalaulah bukan karena adanya indikasi dalam Shahih al-Bukhari atas perkara yang menunjukkan kepada hal ini, namun yang jelas indikasi tersebut tidak banyak membawa faidah, karena Hasan bin Tsabit adalah seorang shahabat Nabi yang memiliki keutamaan dan fadhilah.

Dan sebaik-baik keutamaannya adalah pernah membela Rasulullah saw. melalui syair-syairnya. Dialah yang disebut Rasulullah saw.: “Lawanlah mereka, sesungguhnya Malaikat Jibril bersamamu.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang membuat-buat berita bohong atau fitnah mengenai rumah tangga Rasulullah itu adalah dari kalangan kaum Muslimin sendiri. Sumbernya dari Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka kaum munafik di Medinah, shafw±n bin Muaththal, keponakan Nabi, dan Hassan bin sabit.

Allah menghibur hati mereka, agar mereka jangan menyangka bahwa peristiwa itu buruk dan merupakan bencana bagi mereka, tetapi pada hakikatnya kejadian itu adalah suatu hal yang baik bagi mereka karena dengan kejadian itu, mereka akan memperoleh pahala besar dan kehormatan dari Allah dengan diturunkannya ayat-ayat yang menyatakan kebersihan mereka dari berita bohong itu, suatu bukti autentik yang dapat dibaca sepanjang masa.

Setiap orang yang menyebarkan berita bohong itu akan mendapat balasan, sesuai dengan usaha dan kegiatannya tentang tersiar luasnya berita bohong itu. Sedang orang yang menjadi sumber pertama dan menyebarluaskan berita bohong ini, ialah Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagai seorang tokoh munafik yang tidak jujur, di akhirat kelak akan diazab dengan azab yang pedih.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang membuat-buat kebohongan–yang jauh dari petunjuk Allah–terhadap ‘A’isyah r.a., istri Rasulullah ﷺ., ketika menyebarkan isu negatif tentang dirinya, adalah sekelompok orang yang hidup bersama kalian.

Jangan berprasangka bahwa peristiwa itu berarti jelek buat kalian. Sebaliknya, peristiwa itu justru mengandung arti sangat baik bagi kalian, karena dapat membedakan siapa di antara kalian yang bersifat munafik dan siapa yang benar-benar beriman.

Di samping itu, peristiwa itu juga menunjukkan kesucian orang-orang yang tak bersalah yang disakiti. Masing-masing anggota kelompok itu akan mendapatkan balasannya sendiri-sendiri sesuai kadar keikutsertaannya dalam tuduhan itu. Dan pemimpin kelompok itu akan mendapat siksa amat kejam karena dosanya yang besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nur Ayat 11 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S