Surah An-Nur Ayat 55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nur Ayat 55

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nur Ayat 55 ini, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Akan menjadikan agama mereka agama yang kokoh dan kuat, dan akan memberikan kepada mereka nikmat keamanan dan kesejahteraan. Itulah janji Allah dan janji itu adalah janji yang pasti terlaksana karena mustahil Allah memungkiri janji-Nya selama mereka berpegang teguh kepada perintah dan ajaran-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an surah An-Nur Ayat 55

Surah An-Nur Ayat 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Terjemahan: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Tafsir Jalalain: وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْض (Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi) sebagai ganti dari orang-orang kafir كَمَا اسْتَخْلَفَ (sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa) dapat dibaca Kamastakhlafa dan Kamastukhlifa الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (orang-orang yang sebelum mereka) sebagaimana yang dialami oleh kaum Bani Israel sebagai pengganti dari orang-orang yang lalim dan angkara murka,

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka) yaitu agama Islam; seumpamanya Dia akan memenangkannya di atas agama-agama yang lain, kemudian Dia meluaskan bagi mereka daerah-daerah mereka dan mereka menjadi para pemiliknya (dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka) dapat dibaca Takhfif yaitu menjadi walayubdilannahum, dapat pula dibaca Tasydid yaitu menjadi Walayubaddilannahum مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ (sesudah mereka berada dalam ketakutan) dari perlakuan orang-orang kafir أَمْنًا (menjadi aman sentosa) dan Allah telah menunaikan janji-Nya kepada mereka, yaitu memberikan kepada mereka apa yang telah disebutkan tadi, kemudian Dia memuji mereka melalui firman-Nya,

يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku) ayat ini merupakan jumlah Isti’naf atau kalimat baru, akan tetapi statusnya disamakan sebagai Illat.

وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ (Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu) sesudah pemberian nikmat kepada mereka, yaitu keamanan tadi فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (maka mereka itulah orang-orang yang fasik) dan orang-orang yang mula-mula kafir sesudah itu adalah para pembunuh Khalifah Usman r.a. kemudian mereka menjadi orang-orang yang saling membunuh padahal sebelumnya mereka berteman.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini adalah janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umat ini sebagai khalifah di muka bumi, yaitu menjadi pemimpin umat manusia dan penguasa mereka. di tangan mereka lah negeri-negeri akan menjadi baik. Umat manusia tunduk kepada mereka.

dan Dia benar-benar akan merubah [keadaan] mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, menjadi hakim di tengah manusia. Allah swt. telah melaksanakan janji ini, segala puji dan karunia hanyalah milik-Nya. Dalam kitab ash-Shahih diriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 103; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Sesungguhnya Allah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan belahan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Urusan manusia akan senantiasa berjalan [dengan baik] selama diperintah oleh dua belas pemimpin.” Lalu beliau mengucapkan perkataan yang samar kudengar, lalu kutanyakan kepada ayahku tentang apa yang diucapkan Rasulullah saw. tadi. Ayahku berkata: kulluHum min Quraisyin (“Seluruhnya dari suku Quraisy”) hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Hadits ini merupakan dalil bahwa pasti akan muncul dua belas khalifah yang adil. Mereka bukanlah dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, karena banyak dari mereka tidak berada di atas petunjuk. Adapun dua belas khalifah ini seluruhnya berasal dari suku Quraisy, mereka memerintah dan berlaku adil.

Kabar gembira tentang mereka telah disebutkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Kemudian tidak menjadi syarat bahwa kemunculan mereka secara berurutan, namun bisa jadi berurutan dan bisa pula tidak berurutan. Empat dari mereka telah muncul secara berurutan. Mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar, lalu ‘Utsman, kemudian ‘Ali ra.

Kemudian terputus selama masa tertentu kemudian akan muncul lagi pada masa yang dikehendaki Allah, kemudian muncul pula sisanya pada waktu yang hanya Allah yang tahu. Di antaranya adalah al-Mahdi yang nama kun-yahnya sama persis dengan kunyah Rasulullah saw. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan yang sebelumnya telah dipenuhi oleh kedhaliman dan kesewenang-wenangan.

Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmdizi dan an-Nasa’i telah meriwayatkan dari hadits Sa’id bin Juhman, dari Safinah maula Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Khilafah setelahku akan bertahan selama tigapuluh tahun. Kemudian akan muncul kerajaan turun-temurun.”

Firman Allah: وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُ (“dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka.”) dan ayat seterusnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw. kepada ‘Adi bin Hatim ra. ketika ia datang menemui Rasulullah saw.: “Pernahkah engkau singgah di kota Heerat?” ‘Adi menjawab: “Aku belum pernah melihatnya, tetapi aku pernah mendengar tentangnya.”

Rasulullah berkata: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang wanita bersafar dari Heraat sampai ke Baitullah al-Haram dan thawaf di situ tanpa ada seorang pun yang mengawalnya. Dan umat ini akan menguasai kerajaan Kisra bin Hurmuz.” Aku [‘Adi bin Hatim] berkata: “Kisra bin Hurmuz?” Nabi menjawab: “Ya Kisra bin Hurmuz dan akan dibagi-bagikan harta hingga tak ada seorang pun yang mau menerimanya lagi.”

‘Adi bin Hatim berkata: “Wanita ini bersafar dari Heraat sampai ke Baitullah al-Haram lalu thawaf di situ tanpa seorangpun yang mengawalnya. Sungguh aku termasuk salah seorang yang menaklukkan kerajaan Kisra bin Hurmuz. Dan demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, akan terjadi penaklukan ketiga kalinya karena Rasulullah saw. telah mengatakannya demikian.” (HR Ahmad dan al-Baghawi, bagian akhir diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur lain)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berilah kabar gembira bagi umat ini berupa kedudukan yang mulia, derajat yang tinggi, agama yang teguh, pertolongan dan kekuasaan di atas muka bumi. Barangsiapa dari mereka yang beramal amalan akhirat untuk kepentingan dunia, maka ia tidak akan memperoleh bagian sedikitpun di akhirat.”

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman Allah: يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا (“Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa Mu’adz bin Jabal ra. bercerita kepadanya:

Ketika aku berbonceng di belakang Rasulullah saw. di atas seekor keledai, tidak ada penghalang antara aku dengan beliau kecuali ujung pelana. Beliau berkata: “Hai Mu’adz.” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. Kemudian beliau berjalan sesaat dan berkata: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. Kemudian beliau berjalan sesaat dan berkata lagi: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku.

Beliau berkata: “Tahukah engkau apakah hak Allah atas para hamba-Nya?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau berkata: “Hak Allah atas para hamba adalah mereka harus beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Kemudian beliau berjalan sesaat lalu berkata: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku.

“Tahukah engkau apa hak hamba yang pasti dipenuhi Allah apabila mereka menunaikan hak-Nya itu?” tanya beliau. Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengadzab mereka [apabila mereka memenuhi hak-Nya tadi].”Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalur Qatadah.

Firman Allah: وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (“Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”) yakni barangsiapa tidak mentaatiku setelah peringatan ini, berarti ia telah keluar dari perintah Rabbnya dan cukuplah itu menjadi dosa besar baginya.

Para shahabat adalah manusia yang paling teguh memegang perintah-perintah Allah setelah Rasulullah saw. yang paling taat kepada-Nya, oleh karena itulah Allah menolong mereka sehingga mereka mengibarkan kalimat Allah di timur dan di barat.

Dan memberi dukungan yang besar sehingga mereka memerintah umat manusia dan negeri-negeri mereka. ketika manusia setelah zaman shahabat mulai longgar memegang sebagian perintah agama, kekuasaan mereka pun berkurang.

Tafsir Kemenag: Rabi’ bin Anas pernah berkata mengenai ayat ini, “Nabi Muhammad saw berada di Mekah selama sepuluh tahun menyeru orang-orang kafir Mekah kepada agama tauhid, menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya sedang orang-orang yang beriman selalu berada dalam ketakutan dan kekhawatiran. Mereka belum diperintah untuk berperang. Kemudian mereka diperintah hijrah ke Medinah.

Setelah perintah itu dilaksanakan turunlah perintah untuk berperang. Mereka selalu dalam ketakutan dan kekuatiran, tetap menyandang senjata pagi dan petang, dan mereka tetap tabah dan sabar. Kemudian datanglah seorang sahabat menemui Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah apakah untuk selama-lamanya kita harus berada dalam kekhawatiran dan kewaspadaan ini? Kapanlah akan datang waktunya kita dapat merasa aman dan bebas dari memanggul senjata?” Maka Rasulullah saw menjawab,

“Kamu tidak akan lama menunggu keadaan itu. Tidak lama lagi akan tiba waktunya di mana seseorang dapat duduk di suatu pertemuan besar yang tidak ada sepucuk senjata pun terdapat dalam pertemuan itu. Lalu turunlah ayat ini.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Akan menjadikan agama mereka agama yang kokoh dan kuat, dan akan memberikan kepada mereka nikmat keamanan dan kesejahteraan. Itulah janji Allah dan janji itu adalah janji yang pasti terlaksana karena mustahil Allah memungkiri janji-Nya selama mereka berpegang teguh kepada perintah dan ajaran-Nya.

Memang janji itu telah terlaksana dengan kemenangan beruntun yang dicapai kaum Muslimin di masa Nabi saw dan di masa Khulafa`urrasyidin dan sesudahnya. Di masa Nabi Muhammad, kaum Muslimin telah dapat menaklukkan kota Mekah, Khaibar, Bahrain dan seluruh Jazirah Arab.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 80-81; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sesudah Nabi saw wafat dan pemerintahan dikendalikan oleh para sahabat (Khulafaurrasyidin) mereka selalu mengikuti jejak Rasulullah saw dalam segala urusan. Dengan demikian kekuasaan mereka meluas baik ke timur, ke barat, ke utara, maupun ke selatan, maka tersebarlah agama Islam dengan pesatnya sehingga dianut oleh penduduk negeri-negeri yang berhasil dikuasai tanpa paksaan dan ancaman. Mereka benar-benar menikmati keamanan dan kesejahteraan. Pemerintahan Islam benar-benar telah menjadi kuat, disegani oleh kawan dan lawan.

Allah telah mengingatkan kaum Muslimin yang telah sukses mencapai kemenangan, keamanan dan kesejahteraan itu dengan firman-Nya:

Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur. (al-Anfal/8: 26)

Demikianlah kaum Muslimin menjadi kuat dan disegani, menikmati keamanan dan kesejahteraan pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, sampai timbul pertentangan yang hebat antara kaum Muslimin pada masa pemerintahan Ali bin Abi thalib sehingga terjadi perang saudara antara sesama mereka padahal perang sesama Muslim itu sangat bertentangan dengan firman Allah:

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ali ‘Imran/3: 103)

Dan firman-Nya: Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. (Ali ‘Imran/3: 105)

Semenjak itu terjadilah pasang surut dalam pemerintahan Islam. Pada satu waktu mereka jaya dan mulia dan pada waktu yang lain mereka lemah tak berdaya bahkan menjadi mangsa bagi kaum yang lain sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam, menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, menegakkan keadilan dan kebenaran serta menjaga kesatuan umat agar jangan terpecah belah.

Tafsir Quraish Shihab: Secara tegas Allah telah menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang mempercayai kebenaran, tunduk kepadanya dan mengerjakan amal saleh. Yaitu, Dia akan menjadikan mereka sebagai pengganti orang-orang terdahulu yang mewarisi kekuasaan di muka bumi, seperti halnya orang-orang yang telah mendahului mereka.

Allah juga akan meneguhkan bagi mereka agama Islam sebagai agama kepasrahan yang diridai-Nya. Dengan demikian, kalian menjadi memiliki wibawa dan kekuasaan. Begitu pula Allah akan mengganti keadaan mereka dari rasa takut menjadi rasa aman, sehingga kalian dapat beribadah dengan tenang dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun dalam beribadah.

Barangsiapa memilih untuk kafir setelah datangnya janji yang benar ini, atau keluar dari agama Islam, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang fasik, ingkar dan membangkang.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nur Ayat 53-55 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S