Surah Ar-Rum Ayat 26-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rum Ayat 26-27

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rum Ayat 26-27 ini, menerangkan Apa saja yang berada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya dan tunduk kepada-Nya. Namun demikian, kebanyakan manusia tidak tunduk dan tidak menyembah-Nya. Maka ketetapan atau tiap-tiap sesuatu yang ada di langit dan bumi kepada iradat dan kehendak Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 26-27

Surah Ar-Rum Ayat 26
وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

Terjemahan: Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.

Tafsir Jalalain: وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi) sebagai miliknya, makhluk dan hamba-hamba-Nya. كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ (Semuanya hanya kepada-Nya tunduk) yakni taat.

Tafsir Ibnu katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (“Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.”) yaitu, milik dan abdi-Nya. كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ (“Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) yaitu tunduk dan khusyu’ dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Di dalam hadits Diraj, dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id secara marfu’: “Setiap huruf dari al-Qur’an yang menyebutkan qunut di dalamnya, maka artinya adalah taat.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini merupakan kesimpulan dari Ayat-Ayat tersebut di atas. Dalam arti bahwa demikianlah kekuasaan dan kebesaran Tuhan. Apa saja yang berada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya dan tunduk kepada-Nya. Namun demikian, kebanyakan manusia tidak tunduk dan tidak menyembah-Nya.

Maka ketetapan yang ada di dalam Ayat ini berarti tunduknya tiap-tiap sesuatu yang ada di langit dan bumi kepada iradat dan kehendak Allah. Kehendak-Nya yang mengendalikan semuanya itu sesuai dengan sunah yang telah ditentukan-Nya. Dalam hal ini, semuanya tunduk kepada sunah itu, walaupun manusia dalam perbuatan dan kerjanya ada yang durhaka dan ingkar.

Sesungguhnya yang durhaka itu adalah akal dan hati mereka. Adapun yang berkenaan dengan jasad, mereka tunduk dan diatur menurut hukum-hukum alam yang disebut sunatullah. Allah berfirman:

Padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? (ali ‘Imran/3: 83)

Selanjutnya Ayat-Ayat mengenai bukti kebesaran Tuhan tersebut di atas diakhiri dengan peringatan tentang hari kebangkitan, karena hal itu dilupakan manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Hanya milik Allah semata penciptaan, kepemilikan dan kepatuhan seluruh penghuni bumi dan langit. Mereka semuanya tunduk kepada Allah.

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 20-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Ar-Rum Ayat 27
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemahan: Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ (Dan Dialah yang menciptakan dari permulaan) menciptakan manusia ثُمَّ يُعِيدُهُ (kemudian mengembalikannya) menjadi hidup kembali setelah mereka mati وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ (dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya) daripada memulai penciptaan; hal ini dikaitkan dengan realita yang berlaku di kalangan makhluk-Nya, yaitu bahwasanya mengulangi sesuatu itu lebih mudah daripada memulainya. Padahal kedua kondisi itu bagi Allah swt. sama saja mudahnya.

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Dan bagi-Nyalah teladan yang maha tinggi di langit dan di bumi) yakni sifat yang maha tinggi, yaitu bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah وَهُوَ الْعَزِيزُ (dan Dialah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya الْحَكِيمُ (lagi Maha Bijaksana) di dalam ciptaan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ (“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”)

Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu, lebih ringan bagi-Nya.” sedangkan Mujahid berkata: “Mengulanginya lebih mudah bagi Allah daripada memulainya.” “Sedangkan memulainya sendiri begitu mudah bagi-Nya.” demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mendustakan Aku padahal Aku tidak demikian. Dia mencerca-Ku, padahal Aku tidak demikian.

Adapun kedustannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya: ‘Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia memulainya.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengulanginya. Sedangkan cercaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setera dengan-Nya.’”

Al-Bukhari meriwAyatkan hadits ini sendiri dan diriwAyatkannya sendiri pula oleh Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan keduanya [dalam menciptakan pertama kali dan dalam mengulanginya] dilihat dari sudut kekuasaan Allah swt. adalah sama saja. sedangkan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, semuanya amat mudah bagi-Nya, demikian yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Khaitsam dan Ibnu Jarir cenderung kepada pendapat itu, serta menyebutkan beberapa pendukung yang banyak sekali.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 56-57; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia berkata: “Boleh jadi dhamir dalam firman-Nya: وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ (“Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) kembali kepada penciptaan. Hal ini berarti menghidupkannya kembali lebih mudah daripada menciptakannya.

Firman Allah: وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (“Dan bagi-Nya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, seperti firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (“Tidak ada yang serupa dengan-Nya”) Qatadah berkata bahwa tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi secara benar] kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan seperti itu. Sebagian ahli tafsir ketika menyebut Ayat ini menyenandungkan sya’ir kepada sebagian ahli ma’rifah: “Jika kolam yang jernih tenang airnya, Dan tidak ada angin yang menggoyangnya, Niscaya langit di dalamnya dapat terlihat tanpa ragu.

Demikian pula matahari dan bintang-bintang jelas nyata. Demikianlah hati orang-orang yang sampai pada tajalli, Dalam kebersihan dapat terlihat Allah Yang Mahaagung.

Tafsir Kemenag: Ayat ini juga merupakan kesimpulan dari Ayat terdahulu. Ayat ini menetapkan bahwa siapa yang memiliki semua langit dan bumi, Dialah yang memulai kejadiannya, dan Dia pula yang akan mengembalikannya sesudah mati seperti semula.

Pada Ayat 11 di atas telah disebutkan mengenai permulaan kejadian manusia dan pengembaliannya pada kehidupan setelah mati. Hal itu diulang lagi di sini untuk menguatkan pernyataan itu setelah diterangkan bukti kebesaran Allah tersebut di atas. Di sini ditambahkan dengan pernyataan bahwa menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.

Dalam Ayat ini ada kata-kata “lebih mudah” yakni menghidupkan adalah lebih mudah bagi Allah daripada penciptaannya semula. Akan tetapi, lebih mudahnya menghidupkan kembali daripada menciptakan semua itu adalah dengan membandingkannya kepada kebiasaan yang berlaku pada manusia, bukan dihubungkan kepada Allah, sebab bagi Allah semuanya adalah mudah.

Allah tidak akan merasa berat mengadakan sesuatu apa pun. Allah berfirman: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36: 82)

Bagi manusia, menciptakan sesuatu lebih sukar daripada mengulangi segala daya upaya, kesungguhan, dan lain sebagainya. Dalam usahanya itu, mereka melakukan kesalahan berulang kali, baru sampai kepada yang dimaksud.

Baca Juga:  Penafsiran KH. Bisri Mustafa Tentang Ayat Kemajemukan

Setelah sampai kepada yang dicita-citakan, tentu mengulang membuatnya kembali lebih mudah baginya, tidak membutuhkan tenaga seperti saat memulainya, sebab segala sesuatu telah terbayang dalam benaknya bagaimana cara membuatnya. Adapun bagi Allah tidak ada yang lebih mudah atau lebih sukar. Semuanya mudah bagi-Nya.

Allah swt berfirman, “Anak Adam telah berbohong kepadaku dan mencelaku, padahal kebohongan dan celaan itu tidak pernah ada. Adapun kebohongan mereka terhadapku adalah perkataan mereka, ‘Allah tidak bisa mengembalikanku sebagaimana Dia menciptakanku.

Dan tidak ada permulaan ciptaan itu lebih mudah bagiku daripada mengembalikannya. Adapun celaan mereka terhadapku adalah ucapan mereka, ‘Allah mengambil (mempunyai) anak. Dan Aku adalah satu, tempat bergantung segala sesuatu, Aku tidak melahirkan dan Aku tidak dilahirkan, dan juga tidak ada satu pun yang setara dengan-Ku.” (RiwAyat al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Kata-kata “lebih mudah” ini diberi komentar pula dengan kalimat “Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.” Allah itu tunggal di segala langit dan bumi dengan segala sifat-sifat-Nya, tidak ada suatu apa pun yang berserikat dengan-Nya. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya.

Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kata-kata “perkasa” di sini berarti “yang menang, atau yang dapat membuat apa yang dikehendaki.” “Bijaksana” berarti mengendalikan segala makhluk dengan teliti dan dengan batas-batasnya.

Tafsir Quraish Shihab: Allahlah yang memulai penciptaan tanpa contoh sebelumnya, kemudian menghidupkannya kembali setelah mati. Mengembalikan penciptaan adalah lebih mudah bagi-Nya daripada memulainya–kalau dilihat dari sudut pandang dan keyakinan kalian yang mengatakan bahwa mengembalikan sesuatu adalah lebih mudah daripada memulainya.

Dia memiliki sifat yang sangat mengagumkan yang tercermin dalam kekuasaan dan hikmah-Nya yang sangat sempurna di langit dan bumi. Dia Mahaunggul dalam kerajaan- Nya dan Mahabijaksana dalam perbuatan dan takdir-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rum Ayat 24-27 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S