Surah As-Sajdah Ayat 7-9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Sajdah Ayat 7-9

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Sajdah Ayat 7-9 ini, menerangkan bahwa Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan mengurus langit dan bumi serta segala yang ada padanya itu adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Allah menciptakan keturunan manusia dari sperma, yaitu air yang sedikit dan memancar, yang bertemu dengan sel telur.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hasil pertemuan ini disebut dengan nuthfah. Kemudian di dalam rahim perempuan, Allah menyempurnakan kejadian nuthfah itu, sehingga berbentuk manusia. Kemudian ditiupkan roh ke dalamnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Sajdah Ayat 7-9

Surah As-Sajdah Ayat 7
ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ

Terjemahan: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ (Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya) kalau dibaca khalaqahu berarti fi’il madhi yang berkedudukan sebagai sifat. Apabila dibaca khalqahu berarti sebagai badal isytimal وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ (dan yang memulai penciptaan manusia) yakni Nabi Adam مِن طِينٍ (dari tanah).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia-lah Yang memperbaiki, memperkokoh dan memperindah terciptanya segala sesuatu.

Malik meriwAyatkan dari Zaid bin Aslam tentang: ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ (“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya.”) dia berkata: “Dengan sebaik-baiknya dalam menciptakan segala sesuatu. Seakan-akan Dia menjadikannya dari yang terdepan dan yang terbelakang. Kemudian ketika Allah swt. telah menyebutkan penciptaan langit dan bumi, Dia mulai menyebutkan tentang penciptaan manusia.”

Firman Allah: وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ (“Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”) yaitu Dia telah menciptakan bapak manusia, yaitu Adam dari tanah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan mengurus langit dan bumi serta segala yang ada padanya itu adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tersembunyi dalam hati, yang akan terjadi, dan yang telah terjadi.

Dia juga Maha Mengetahui segala yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dialah Tuhan Yang Mahakuasa, Mahakekal Rahmat-Nya dan Dia pulalah Yang menciptakan seluruh makhluk dengan bentuk yang baik, serasi serta dengan faedah dan kegunaan yang hanya Dia saja yang mengetahuinya.

Jika diperhatikan seluruh makhluk yang ada di alam ini sejak dari yang besar sampai kepada yang sekecil-kecilnya akan timbul dugaan bahwa di antara makhluk itu ada yang besar faedahnya dan ada pula yang dirasa tidak berfaedah atau tidak berguna sama sekali, bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi manusia, seperti ular berbisa, hama-hama penyakit menular, tanaman yang mengandung racun, dan sebagainya. Dugaan ini akan timbul jika masing-masing makhluk itu dilihat secara terpisah, tidak dalam satu kesatuan alam semesta ini.

Baca Juga:  Surah As-Sajdah Ayat 4-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Jika makhluk-makhluk itu dilihat dalam satu kesatuan alam semesta, dimana antara yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan erat, akan terlihat bahwa semua makhluk itu ada faedah dan kegunaannya dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam ini.

Bahkan terlihat dengan nyata bahwa usaha-usaha sebagian manusia, baik secara sengaja atau tidak, merusak dan membunuh sebagian makhluk hidup, menimbulkan pencemar-an di alam ini, sehingga kelestariannya terganggu.

Salah satu contoh ialah dengan adanya obat pembasmi hama, banyak cacing dan bakteri yang musnah. Akibatnya, proses pembusukan sampah menjadi terganggu. Padahal bakteri dan cacing itu dianggap binatang yang tidak ada gunanya sama sekali.

Penebangan hutan mengakibatkan tanah menjadi gundul, sehingga banyak terjadi banjir dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau.

Semua itu akibat keserakahan manusia. Hal itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan merusak di bumi. Akibat yang ditimbulkannya bisa luas dan memberi efek domino (beruntun).

Berdasarkan paparan di atas nyatalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ada faedahnya, tetapi banyak manusia yang tidak mau memperhatikannya.

Kemudian Ayat ini menerangkan bahwa Dia menciptakan manusia dari tanah. Maksudnya ialah Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menciptakan anak cucu Adam dari sari pati tanah yang diperoleh oleh ayah dan ibu dari makanan berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan yang semuanya berasal dari tanah.

Dalam Ayat 7 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, tetapi pada Ayat ini ditegaskan bahwa hanya pada permulaannya saja manusia diciptakan dari tanah. Dengan Ayat ini dapat pula ditafsirkan bahwa ada fase lain setelah awal penciptaan sebelum ciptaan tersebut menjadi manusia.

Jika hal tersebut memang terjadi demikian, banyak pertanyaan lain yang masih tersisa, antara lain (1) apakah awal penciptaan manusia sama dan bersamaan dengan awal penciptaan makhluk hidup bumi lainnya (lihat tafsir Surah al- An’am Ayat 2), (2) apakah fase setelah penciptaan awal tersebut manusia berkembang melalui bentuk antara seperti halnya proses evolusi makhluk hidup lainnya yang kini banyak dipercayai (lihat Surah ar-Rum/30 Ayat 20), atau (3) manusia tercipta melalui proses khusus yang berbeda dari makhluk hidup lainnya (al-Ahzab/33 Ayat 33).

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 105-106; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan hikmah-Nya, memulai penciptaan manusia pertama dari tanah.

Surah As-Sajdah Ayat 8
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن مَّآءٍ مَّهِينٍ

Terjemahan: Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُۥ (Kemudian Dia menjadikan keturunannya) anak cucunya مِن سُلَٰلَةٍ (dari sulalah) dari darah kental مِّن مَّآءٍ مَّهِينٍ (yang berasal dari air yang lemah) yaitu air mani.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن مَّآءٍ مَّهِينٍ (“kemudin Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina [air mani].”) yaitu mereka saling berketurunan pula dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada wanita.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan keturunan manusia dari sperma, yaitu air yang sedikit dan memancar, yang bertemu dengan sel telur. Hasil pertemuan ini disebut dengan nuthfah.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian setelah itu menjadikan anak cucunya tercipta dari air yang sedikit dan lemah serta–biasanya–sangat diremehkan(1).

(1) Kata “al-mahîn” sebagai adjektiva atau kata sifat, jika disandangkan kepada orang, berarti ‘lemah’. “Al-rajul al-mahîn” berarti “al-rajul al-dla’îf” (‘orang yang lemah’). Kata itu juga dapat berarti ‘sedikit’. Dengan demikian, frase “min mâ’in mahîn” pada Ayat ini berarti ‘air yang sedikit dan lemah’. Selain itu, verba “mahana”–seakar dengan kata sifat “mahîn”: m-h. n–dalam bahasa Arab dapat pula berarti ‘memerah susu’.

Kalimat “mahana al-rajulu al-ibila” berarti ‘orang itu memerah susu unta’. Dengan demikian, kiranya tidak terlalu keliru kalau kita menafsirkan kata “mahîn” dalam Ayat ini sebagai ‘air yang memancar’ atau ‘air yang sedikit’, karena susu yang keluar dari perahan biasanya memancar dan sedikit.

Surah As-Sajdah Ayat 9
ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Terjemahan: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ سَوَّىٰهُ (Kemudian Dia menyempurnakannya) menyempurnakan penciptaan Adam وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ (dan meniupkan ke dalam tubuhnya sebagian dari roh-Nya) yakni Dia menjadikannya hidup dapat merasa atau mempunyai perasaan, yang sebelumnya ia adalah benda mati وَجَعَلَ لَكُمُ (dan Dia menjadikan bagi kalian) yaitu anak cucunya ٱلسَّمْعَ (pendengaran) lafal as-sam’a bermakna jamak sekalipun bentuknya mufrad وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ (dan penglihatan serta hati) قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ (tetapi kalian sedikit sekali bersyukur) huruf maa adalah huruf zaidah yang berfungsi mengukuhkan makna lafal qaliilan, yakni sedikit sekali.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 81-82; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ سَوَّىٰهُ (“Kemudian Dia menyempurnakan.”) yaitu Adam, tatkala Dia menciptakannya dari debu secara sempurna dan lurus. وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ (“Dan meniupkan ke dalam [tubuh]nya ruh [ciptaan]-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati.”) yaitu akal.

قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ (“[tetapi] sedikit sekali kamu bersyukur.”) yaitu dengan kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada kalian. Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat memfungsikan hal tersebut di dalam ketaatan kepada Rabb-nya.

Tafsir Kemenag: Kemudian di dalam rahim perempuan, Allah menyempurnakan kejadian nuthfah itu, sehingga berbentuk manusia. Kemudian ditiupkan roh ke dalamnya. Dengan demikian bergeraklah janin yang kecil itu. Setelah nyata kepadanya tanda-tanda kehidupan, Allah menganugerahkan kepadanya pen-dengaran, penglihatan, akal, perasaan, dan sebagainya.

Manusia pada permulaan hidupnya di dalam rahim ibu, sekalipun telah dianugerahi mata, telinga, dan otak, tetapi ia belum dapat melihat, mendengar, dan berpikir. Hal itu baru diperolehnya setelah ia lahir, dan semakin lama panca inderanya itu dapat berfungsi dengan sempurna.

Pada akhir Ayat ini, Allah mengatakan bahwa hanya sedikit manusia yang mau mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian Dia menyempurnakannya dan meletakkan di dalamnya salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya, serta menjadikan pendengaran, penglihatan dan akal bagi kalian agar kalian dapat mendengar, melihat dan berpikir. Tetapi walaupun demikian, sedikit sekali rasa syukur kalian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Sajdah Ayat 7-9 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S