Surah Fussilat Ayat 13-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fussilat Ayat 13-18

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fussilat Ayat 13-18 ini, menerangkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar menyeru kepada orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Jika mereka tidak menerima ajakan itu dan berpaling, Rasulullah diperintahkan untuk mengingatkan mereka tentang azab yang akan ditimpakan Allah kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fussilat Ayat 13-18

Surah Fussilat Ayat 13
فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَقُلۡ أَنذَرۡتُكُمۡ صَٰعِقَةً مِّثۡلَ صَٰعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

Terjemahan: “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”.

Tafsir Jalalain: فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ (Jika mereka berpaling) yaitu orang-orang kafir Mekah dari iman sesudah adanya penjelasan ini فَقُلۡ أَنذَرۡتُكُمۡ (maka katakanlah, “Aku memperingatkan kalian) aku mempertakuti kalian صَٰعِقَةً مِّثۡلَ صَٰعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud) yakni dengan azab yang akan membinasakan kalian sama dengan azab yang membinasakan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad kepada kaum musyrikin yang mendustakan kebenaran yang engkau sampaikan itu: ‘Jika kalian berpaling dari kebenaran yang aku sampaikan kepada kalian dari Allah Ta’ala, maka sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan turunnya kemurkaan Allah kepada kalian sebagaimana yang telah menimpa ummat-ummat yang mendustakan para Rasul sebelumnya?’”) صَٰعِقَةً مِّثۡلَ صَٰعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (“Dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar menyeru kepada orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Jika mereka tidak menerima ajakan itu dan berpaling, Rasulullah diperintahkan untuk mengingatkan mereka tentang azab yang akan ditimpakan Allah kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya.

Di antara azab yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar ialah suara keras yang mengguntur dari langit dan memusnahkan semua yang dikenainya, seperti yang pernah ditimpakan kepada kaum ‘Ad, kaum Samud, penduduk Aikah, dan sebagainya. Malapetaka itu menimpa mereka karena mengingkari seruan rasul yang diutus kepada mereka dan mengabaikan peringatan para rasul itu.

Rasulullah menambahkan bahwa jika mereka tidak ingin ditimpa malapetaka seperti itu, maka ikutilah seruan yang disampaikannya dan agar hanya menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Seruan Rasulullah itu ditanggapi orang-orang musyrik dengan sikap angkuh dan sombong.

Mereka mengingkarinya dengan mengatakan bahwa sekiranya Allah hendak mengutus para rasul kepada manusia, tentu Dia tidak akan mengutus manusia seperti Nabi Muhammad. Akan tetapi, Allah akan mengutus orang-orang yang mempunyai kelebihan dari manusia biasa, mempunyai kekuatan gaib, sanggup mengabulkan langsung segala yang diminta orang-orang yang diserunya, seperti malaikat, jin dan sebagainya.

Menurut mereka, rasul yang diangkat dari manusia biasa tidak akan bisa memerkenankan permintaan orang-orang yang diserunya karena tidak mempunyai kelebihan apa pun. Sementara, menurut mereka, Allah belum berkehendak mengutus rasul itu. Itulah sebabnya mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab ” Ad-Dalail” dan Ibnu Asakir dari Jabir bin ‘Abdullah. Ia mengatakan bahwa Abu Jahal dan para pemimpin kaum Quraisy berkata, “Sesungguhnya kurang jelas bagi kita apa yang disampaikan oleh Muhammad itu, jika kamu menemukan seorang ahli sihir, tenung, dan syair, maka hendaklah ia berbicara dengannya, dan datang kepada kita untuk menerangkan maksud yang disampaikan Muhammad saw itu.” ‘Utbah bin Rabi’ah berkata,

“Demi Allah, aku benar-benar telah mendengar sihir, tenung, dan syair. Aku benar-benar memahami rumpun engkau hai Muhammad adalah orang yang paling baik dalam rumpun keluarga Abdul Muththalib?” Muhammad tidak menjawab. ‘Utbah berkata lagi, “Mengapa engkau mencela tuhan-tuhan kami dan menganggap kami sesat? Jika engkau menghendaki wanita, pilihlah olehmu sepuluh wanita yang paling cantik yang kamu kehendaki dari suku Quraisy ini. Jika engkau menghendaki harta, kami kumpulkan harta itu sesuai dengan yang kamu perlukan.”

Setelah Rasulullah mendengar ucapan ‘Utbah, beliau membaca Surah Fushshilat ini sejak permulaan ayat sampai kepada ayat ini, yang menerangkan malapetaka yang pernah ditimpakan kepada kaum ‘Ad, dan Samud.

Mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah saw, Utbah diam seribu bahasa, lalu pulang ke rumahnya, tidak langsung kepada kaumnya. Tatkala kaumnya melihat ‘Utbah dalam keadaan demikian, mereka mengatakan bahwa ‘Utbah telah kena sihir Muhammad. Lalu mereka mencari ‘Utbah dan berkata kepadanya,

“Ya ‘Utbah, engkau tidak datang kepada kami itu adalah karena engkau telah kena sihir.” Maka ‘Utbah marah dan bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Muhammad, kemudian ia berkata, “Demi Allah, aku benar-benar telah berbicara dengannya, lalu ia menjawab dengan satu jawaban yang menurut pendapatku jawaban itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula tenung. Tatkala ia sampai kepada ucapan: petir yang seperti menimpa kaum ‘Ad dan Samud, aku pun diam seribu bahasa. Aku benar-benar mengetahui bahwa Muhammad itu, apabila ia mengatakan sesuatu, ia tidak berdusta, dan ia takut kepada azab yang akan menimpa itu.”

Sebagaimana diketahui bahwa ‘Utbah termasuk pemuka Quraisy dan orang yang berpengetahuan luas di antara mereka. Di samping seorang sastrawan ia juga mengetahui seluk-beluk sihir dan tenung yang dipercayai orang pada waktu itu. Kebungkaman ‘Utbah itu menunjukkan bahwa hatinya telah beriman kepada Rasulullah, tetapi karena pengaruh nafsu dan kedudukan, maka ia mengingkari suara hatinya.

Demikian pula halnya dengan kebanyakan orang-orang musyrik. Hatinya telah beriman dan ia telah takut kepada azab yang akan ditimpakan kepadanya seandainya ia tidak beriman, tetapi mereka tetap tidak beriman karena khawatir akan dikucilkan oleh kaumnya.

Oleh karena itu, mereka mencari-cari alasan untuk menutupi hati mereka dengan mengatakan bahwa mustahil Allah mengangkat seorang rasul dari golongan manusia biasa. Jika Allah mengangkat rasul, tentu rasul itu dari golongan malaikat.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila orang-orang musyrik berpaling dari keimanan setelah bukti-bukti tampak jelas, katakan kepada mereka, wahai Nabi, “Aku telah memperingatkan kalian akan datangnya azab sangat kejam seperti petir yang menimpa bangsa ‘Ad dan Tsamûd.

Surah Fussilat Ayat 14
إِذۡ جَآءَتۡهُمُ ٱلرُّسُلُ مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ قَالُواْ لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةً فَإِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ

Baca Juga:  Surah As-Saff Ayat 5-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: “Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah”. Mereka menjawab: “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya”.

Tafsir Jalalain: إِذۡ جَآءَتۡهُمُ ٱلرُّسُلُ مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ (Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka) rasul-rasul itu datang kepada mereka dari arah depan dan dari arah belakang, akan tetapi mereka tetap ingkar dan kafir, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Dan pengertian pembinasaan ini hanya berlaku pada zamannya saja.

أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ قَالُواْ لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَأَنزَلَ (“Janganlah kalian menyembah selain Allah. Mereka menjawab, ‘Kalau Rabb kami menghendaki tentu Dia menurunkan) kepada kami مَلَٰٓئِكَةً فَإِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ (malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kepada wahyu yang kalian diutus membawanya) sesuai dengan sangkaan kalian itu كَٰفِرُونَ (adalah orang-orang yang kafir.'”).

Tafsir Ibnu Katsir: yakni, dan orang-orang seperti mereka yang melakukan apa yang dilakukan oleh kedua kaum itu. إِذۡ جَآءَتۡهُمُ ٱلرُّسُلُ مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ (“Ketika Rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka.”)

Allah telah mengutus Rasul-rasul kepada mereka untuk memerintahkan beribadah kepada Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu baginya sebagai pembawa kabar gembira dan ancaman. Mereka pun telah menyaksikan hukuman yang ditimpakan oleh Allah kepada musuh-musuh-Nya serta kenikmatan yang diberikan kepada para wali-Nya.

Walaupun demikian, mereka tidak beriman dan tidak membenarkan, bahkan mereka mendustakan dan menentang. Mereka لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةً (“Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya.”) yakni seandainya Allah mengutus para Rasul, niscaya mereka adalah para Malaikat dari sisi-Nya.

فَإِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِ (“Maka sesungguhnya kami kepada apa yang kamu diutus membawanya.”) hai manusia, كَٰفِرُونَ (“kafir”). Artinya, kami tidak akan mengikuti kalian, karena kalian adalah manusia seperti kami.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar menyeru kepada orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Jika mereka tidak menerima ajakan itu dan berpaling, Rasulullah diperintahkan untuk mengingatkan mereka tentang azab yang akan ditimpakan Allah kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya.

Di antara azab yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar ialah suara keras yang mengguntur dari langit dan memusnahkan semua yang dikenainya, seperti yang pernah ditimpakan kepada kaum ‘Ad, kaum Samud, penduduk Aikah, dan sebagainya. Malapetaka itu menimpa mereka karena mengingkari seruan rasul yang diutus kepada mereka dan mengabaikan peringatan para rasul itu.

Rasulullah menambahkan bahwa jika mereka tidak ingin ditimpa malapetaka seperti itu, maka ikutilah seruan yang disampaikannya dan agar hanya menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Seruan Rasulullah itu ditanggapi orang-orang musyrik dengan sikap angkuh dan sombong. Mereka mengingkarinya dengan mengatakan bahwa sekiranya Allah hendak mengutus para rasul kepada manusia, tentu Dia tidak akan mengutus manusia seperti Nabi Muhammad. Akan tetapi, Allah akan mengutus orang-orang yang mempunyai kelebihan dari manusia biasa, mempunyai kekuatan gaib, sanggup mengabulkan langsung segala yang diminta orang-orang yang diserunya, seperti malaikat, jin dan sebagainya.

Menurut mereka, rasul yang diangkat dari manusia biasa tidak akan bisa memerkenankan permintaan orang-orang yang diserunya karena tidak mempunyai kelebihan apa pun. Sementara, menurut mereka, Allah belum berkehendak mengutus rasul itu. Itulah sebabnya mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab ” Ad-Dalail” dan Ibnu Asakir dari Jabir bin ‘Abdullah. Ia mengatakan bahwa Abu Jahal dan para pemimpin kaum Quraisy berkata, “Sesungguhnya kurang jelas bagi kita apa yang disampaikan oleh Muhammad itu, jika kamu menemukan seorang ahli sihir, tenung, dan syair, maka hendaklah ia berbicara dengannya, dan datang kepada kita untuk menerangkan maksud yang disampaikan Muhammad saw itu.” ‘Utbah bin Rabi’ah berkata,

“Demi Allah, aku benar-benar telah mendengar sihir, tenung, dan syair. Aku benar-benar memahami rumpun engkau hai Muhammad adalah orang yang paling baik dalam rumpun keluarga Abdul Muththalib?” Muhammad tidak menjawab. ‘Utbah berkata lagi, “Mengapa engkau mencela tuhan-tuhan kami dan menganggap kami sesat? Jika engkau menghendaki wanita, pilihlah olehmu sepuluh wanita yang paling cantik yang kamu kehendaki dari suku Quraisy ini. Jika engkau menghendaki harta, kami kumpulkan harta itu sesuai dengan yang kamu perlukan.”

Setelah Rasulullah mendengar ucapan ‘Utbah, beliau membaca Surah Fushshilat ini sejak permulaan ayat sampai kepada ayat ini, yang menerangkan malapetaka yang pernah ditimpakan kepada kaum ‘Ad, dan Samud.

Mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah saw, Utbah diam seribu bahasa, lalu pulang ke rumahnya, tidak langsung kepada kaumnya. Tatkala kaumnya melihat ‘Utbah dalam keadaan demikian, mereka mengatakan bahwa ‘Utbah telah kena sihir Muhammad. Lalu mereka mencari ‘Utbah dan berkata kepadanya,

“Ya ‘Utbah, engkau tidak datang kepada kami itu adalah karena engkau telah kena sihir.” Maka ‘Utbah marah dan bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Muhammad, kemudian ia berkata, “Demi Allah, aku benar-benar telah berbicara dengannya, lalu ia menjawab dengan satu jawaban yang menurut pendapatku jawaban itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula tenung. Tatkala ia sampai kepada ucapan: petir yang seperti menimpa kaum ‘Ad dan Samud, aku pun diam seribu bahasa. Aku benar-benar mengetahui bahwa Muhammad itu, apabila ia mengatakan sesuatu, ia tidak berdusta, dan ia takut kepada azab yang akan menimpa itu.”

Sebagaimana diketahui bahwa ‘Utbah termasuk pemuka Quraisy dan orang yang berpengetahuan luas di antara mereka. Di samping seorang sastrawan ia juga mengetahui seluk-beluk sihir dan tenung yang dipercayai orang pada waktu itu. Kebungkaman ‘Utbah itu menunjukkan bahwa hatinya telah beriman kepada Rasulullah, tetapi karena pengaruh nafsu dan kedudukan, maka ia mengingkari suara hatinya.

Demikian pula halnya dengan kebanyakan orang-orang musyrik. Hatinya telah beriman dan ia telah takut kepada azab yang akan ditimpakan kepadanya seandainya ia tidak beriman, tetapi mereka tetap tidak beriman karena khawatir akan dikucilkan oleh kaumnya.

Oleh karena itu, mereka mencari-cari alasan untuk menutupi hati mereka dengan mengatakan bahwa mustahil Allah mengangkat seorang rasul dari golongan manusia biasa. Jika Allah mengangkat rasul, tentu rasul itu dari golongan malaikat.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 6-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Petir itu datang setelah para rasul menempuh segala macam cara untuk membimbing mereka dan mengatakan, “Janganlah kalian menyembah selain Allah!” Mereka malah menjawab, “Jika Allah berkehendak mengutus seorang rasul, niscaya Dia akan menurunkan malaikat pada kami. Kami benar-benar ingkar terhadap misi pengesaan Allah yang kalian bawa itu.”

Surah Fussilat Ayat 15
فَأَمَّا عَادٌ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَقَالُواْ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةً وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ

Terjemahan: “Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

Tafsir Jalalain: فَأَمَّا عَادٌ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَقَالُواْ (Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata) ketika mereka diperingatkan dengan azab, مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً (“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?”) maksudnya, tiada seorang pun yang lebih kuat dari kami. Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa seseorang dari mereka mampu mengangkat batu yang sangat besar dari sebuah gunung, kemudian ia mengolahnya sesuai dengan apa yang dia kehendaki.

أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ (Dan apakah mereka tidak memperhatikan) apakah mereka tidak mengetahui أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةً وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا (bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan bahwasanya mereka terhadap tanda-tanda Kami) yakni mukjizat-mukjizat Kami (adalah orang-orang yang ingkar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَأَمَّا عَادٌ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi.”) yaitu angkuh melampaui batas, sombong dan membangkang. وَقَالُواْ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً (“Dan berkata: ‘Siapakah yang lebih bersar kekuatannya dari kami?’”) mereka diberi cobaan berupa keperkasaan dan kekuatan, serta mereka berkeyakinan bahwa dengan semua itu mereka akan mampu menolak siksa Allah.

أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةً (“Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka?”) maksudnya apakah mereka tidak memikirkan tentang siapakah yang mereka menyatakan permusuhan terhadap-Nya itu?

Sesungguhnya Dia Mahaagung, Rabb yang menciptakan segala sesuatu, dan di dalamnya merakitkan kekuatan yang dapat menopangnya, dan sesungguhnya hukuman-Nya amat dahsyat. Mereka menyatakan permusuhan kepada Allah Yang Mahaperkasa, mengingkari ayat-ayat-Nya dan menentang Rasul-rasul-Nya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan keadaan kaum ‘Ad yang telah ditimpa azab Allah dan sikapnya terhadap seruan rasul yang diutus kepadanya. Diterangkan bahwa kaum ‘Ad itu menyombongkan diri, merasa diri mereka tidak ada yang menandingi, dan semua tunduk kepadanya.

Oleh karena itu, mereka durhaka kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan karunia kepada mereka, dan tidak menerima seruan rasul Allah yang diutus kepada mereka. Mereka menantang siapa yang sanggup menandingi mereka.

Allah mengancam dan memperingatkan mereka dengan mengatakan apakah mereka telah memikirkan betul-betul yang mereka ucapkan, dan apakah mereka tidak mengetahui siapa yang mereka tentang itu? Yang mereka tentang itu adalah Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan segala sesuatu termasuk diri mereka sendiri, Yang Mahaperkasa, yang lebih kuat dari mereka. Jika Allah menghendaki, maka Dia dapat menimpakan bencana apa pun terhadap mereka dan sedikit pun mereka tidak akan dapat menghindarkan diri dari bencana itu.

Mereka sebenarnya telah mengetahui dan meyakini bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Kami, yang disampaikan oleh para rasul yang diutus kepada mereka. Akan tetapi, mereka mengingkarinya dan mendurhakai para rasul itu.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika Mûsâ datang kepada mereka dengan membawa kebenaran dari Kami, Fir’aun dan orang-orang dekatnya berkata kepada para pengikutnya, “Bunuhlah anak lelaki orang-orang yang ikut beriman bersama Mûsâ dan biarkankan anak perempuan mereka hidup.” Padahal tipu daya orang-orang kafir itu hanya akan sia-sia, hilang dan lenyap.

Surah Fussilat Ayat 16
فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحًا صَرۡصَرًا فِىٓ أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡىِ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَلَعَذَابُ ٱلۡءَاخِرَةِ أَخۡزَىٰ وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ

Terjemahan: “Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

Tafsir Jalalain: فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحًا صَرۡصَرًا (Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka) yakni angin dingin yang sangat keras suaranya, tetapi tanpa hujan فِىٓ أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ (dalam beberapa hari yang sial) dapat dibaca Nahisaatin atau Nahsaatin, artinya hari-hari yang penuh dengan kesialan bagi mereka لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡىِ (karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan) azab yang menghinakan فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَلَعَذَابُ ٱلۡءَاخِرَةِ أَخۡزَىٰ (dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan) lebih keras penghinaannya وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ (sedangkan mereka tidak diberi pertolongan) yang dapat mencegah azab dari diri mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Dia berfirman: فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحًا صَرۡصَرًا (“Maka kami meniupkan angin sharshar kepada mereka.”) sebagian mereka berkata: “[yaitu] angin yang bertiup sangat kencang.” Pendapat lain mengatakan: “Yaitu angin yang amat dingin.” Dan yang lain mengatakan:

“Angin yang memiliki suara gemuruh.” Yang benar, angin tersebut memiliki sifat semua itu, karena dia berbentuk angin yang amat dahsyat dan kuat, agar hukuman yang menimpa mereka sebanding dengan apa yang mereka banggakan berupa kekuatan yang mereka miliki, sedangkan angin itu sendiri amat dingin. Seperti firman Allah: (“Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.”)(al-Haaqqah: 6) yaitu sangat dingin dan bersuara amat gemuruh.

Firman Allah: فِىٓ أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ (“Dalam beberapa hari yang naas.”) yakni berturut-turut. Seperti firman Allah:(“Pada hari naas yang terus-menerus”)(al-Qamar: 19). Artinya, mereka mulai ditimpa adzab ini pada hari naas atas mereka dan kenaasan tersebut terus berlangsung.(“Selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.”)(al-Haaqqah: 7) hingga hancur secara keseluruhan serta dikenakan kepada mereka kehinaan dunia dan siksa akhirat.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 2; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Untuk itu Allah berfirman: لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡىِ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَلَعَذَابُ ٱلۡءَاخِرَةِ أَخۡزَىٰ (“Karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan.”) yaitu amat menghinakan bagi mereka. وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ (“Sedang mereka tidak diberi pertolongan.”) yaitu di akhirat, sebagaimana mereka tidak diberi pertolongan di dunia, serta Dia tidak berikan kepada mereka seorang pelindungpun yang mampu memelihara mereka dari adzab dan yang mampu menolak mereka dari siksaan.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bentuk azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad. Dia menghembuskan angin kencang yang sangat dingin diiringi dengan suara gemuruh yang memusnahkan mereka. Angin kencang yang sangat dingin itu terus-menerus melanda mereka dalam tujuh malam dan delapan hari, yang merupakan hari yang sial bagi mereka, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (al-haqqah/69: 6-7)

Diterangkan pada ayat ini bahwa tujuan Allah menimpakan azab yang dahsyat itu kepada kaum ‘Ad agar mereka merasakan akibat dari menyombongkan diri dan takabur terhadap Allah dan para rasul yang diutus kepada mereka, yaitu kehinaan, kerendahan, dan malapetaka yang menimpa mereka dalam kehidupan duniawi. Sedang azab akhirat lebih dahsyat dan sangat menghinakan mereka. Mereka tidak akan memperoleh seorang penolong pun yang dapat membebaskan dari azab itu.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, Kami kemudian mengirim angin yang sangat keras kepada mereka pada hari-hari yang sial, agar mereka merasakan azab yang hina dalam kehidupan dunia ini. Dan siksa akhirat sungguh lebih hina. Di hari itu mereka tidak akan mendapatkan seorang penolong pun.

Surah Fussilat Ayat 17
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ فَٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ فَأَخَذَتۡهُمۡ صَٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Terjemahan: “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ (Adapun Kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk) yaitu Kami telah menjelaskan kepada mereka jalan petunjuk فَٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡعَمَىٰ (tetapi mereka lebih menyukai buta) artinya, lebih memilih kafir عَلَى ٱلۡهُدَىٰ فَأَخَذَتۡهُمۡ صَٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ (daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan) mereka dihinakan oleh azab berupa petir بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ (“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk.”) Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Kami telah jelaskan kepada mereka.” Sedangkan ats-Tsauri berkata:

“Kami telah serukan kepada mereka.” Fastahabbul ‘amaa ‘alal Hudaa فَٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ (“Tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.”) yakni Kami telah perlihatkan, jelaskan dan tegaskan kebenaran kepada mereka melalui lisan Nabi mereka, yaitu Shalih as. Akan tetapi mereka tetap menyelisihinya, mendustakannya dan menyembelih unta Allah yang dijadikan-Nya sebagai bukti dan tanda kebenaran Nabi mereka itu.

فَأَخَذَتۡهُمۡ صَٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ (“Maka mereka disambar petir, adzab yang menghinakan.”) yaitu Allah mengirimkan suara, getaran, hinaan, adzab dan siksaan kepada mereka. بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (“Disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu, berupa sikap mendustakan dan penentangan.

Tafsir Kemenag: Kepada kaum Samud, Allah telah menyampaikan agama-Nya dengan perantaraan Nabi Saleh. Allah telah menunjukkan kepada mereka jalan keselamatan dan jalan yang lurus, dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang ada di cakrawala luas ini.

Allah juga mengajarkan kepada mereka hukum-hukum yang dapat membahagiakan mereka di dunia dan akhirat. Akan tetapi, mereka mengutamakan kekafiran dari keimanan yang berarti pula mereka lebih mengutamakan kehinaan dan kesengsaraan daripada kemuliaan dan kebahagiaan. Karena sikap dan perbuatan mereka itu, maka Allah menurunkan kepada mereka azab berupa suara keras yang mengguntur dari langit.

Pada ayat yang lain, Allah menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum Samud. Allah berfirman: Kemudian suara yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum Samud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum Samud. (Hud/11: 67-68).

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan bangsa Tsamûd, mereka telah Kami perlihatkan jalan kebaikan dan keburukan. Tetapi mereka lebih mengutamakan kesesatan daripada petunjuk. Mereka lalu ditimpa halilintar yang membakar dalam keadaan hina dan nista, akibat dosa-dosa yang pernah mereka lakukan.

Surah Fussilat Ayat 18
وَنَجَّيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

Terjemahan: “Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.

Tafsir Jalalain: وَنَجَّيْنَا (Dan Kami selamatkan) dari azab itu الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.).

Tafsir Ibnu Katsir: وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا (“Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”) yaitu dari lingkungan mereka dengan tidak tersentuh siksaan dan tidak tertimpa bencana, bahkan Allah Ta’ala menyelamatkan mereka bersama Nabi mereka, Shalih as, disebabkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah swt.

Tafsir Kemenag: Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu. Mereka tidak ditimpa malapetaka dan bencana yang dahsyat itu karena keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman, selalu bertakwa kepada Allah dan takut kepada azab- Nya, dari azab ini.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fussilat Ayat 13-18 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S