Surah Fussilat Ayat 40-43; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fussilat Ayat 40-43

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fussilat Ayat 40-43 ini, menerangkan bahwa Allah Maha Mengetahui semua yang dilakukan dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang yang menentang Al-Qur’an menurut keinginan hawa nafsu mereka sendiri, mengingkari, dan mencelanya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak diketahui Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tanda-tanda orang-orang yang ingkar itu ialah mengingkari Ayat-Ayat Allah, dan mengingkari Al-Qur’an ketika disampaikan kepada mereka. Mereka akan memperoleh ganjaran yang setimpal dengan kekafiran mereka itu.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fussilat Ayat 40-43

Surah Fussilat Ayat 40
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخۡفَوۡنَ عَلَيۡنَآ أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِىٓ ءَامِنًا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Ayat-Ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ (Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari) diambil dari kata Alhada dan Lahada artinya ingkar فِىٓ ءَايَٰتِنَا (kepada Ayat-Ayat Kami) yakni Alquran dengan cara mendustakannya لَا يَخۡفَوۡنَ عَلَيۡنَآ (mereka tidak tersembunyi dari Kami) maka pasti Kami akan membalas mereka.

أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِىٓ ءَامِنًا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ (Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kalian kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) Ayat ini merupakan ancaman bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا (“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Ayat-Ayat Kami.”) Ibnu Abbas berkata: ilhad adalah meletakkan suatu pembicaraan bukan pada tempatnya.” Sedangkan Qatadah dan lain-lain berkata: “Yaitu kekufuran dan pembangkangan.”
Firman Allah:

لَا يَخۡفَوۡنَ عَلَيۡنَآ (“Mereka tidak tersembunyi dari Kami.”) di dalamnya terdapat gertakan yang keras dan ancaman yang kuat. Artinya, bahwa Allah Mahamengetahui siapakah yang mengingkari Ayat-Ayat, Nama-nama dan sifat-Nya, karena itu Dia akan membalasnya dengan siksaan dan hinaan. Untuk itu Allah berfirman:

أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِىٓ ءَامِنًا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ (“Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat?”) yaitu apakah sama antara yang pertama dengan yang kedua ini? Tentu keduanya tidaklah sama. Kemudian Allah berfirman mengancam orang-orang kafir: ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ (“Berbuatlah apa yang kamu kehendaki.”)

Mujahid, adh-Dhahhak dan ‘Atha’ al-Khurasani berkata: ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ (“Berbuatlah apa yang kamu kehendaki.”) merupakan ancaman, yakni berupa kebaikan ataupun kejahatan, karena Allah Mahamengetahui kalian dan Mahamelihat amal-amal kalian.” Untuk itu Allah berfirman: إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ (“Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah Maha Mengetahui semua yang dilakukan dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang yang menentang Al-Qur’an menurut keinginan hawa nafsu mereka sendiri, mengingkari, dan mencelanya.

Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak diketahui Allah. Oleh karena itu, Dia akan membalas segala perbuatan mereka itu dengan ganjaran yang setimpal.

Kemudian Allah menerangkan perbedaan dan bentuk pembalasan yang akan diterima oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di akhirat nanti dengan mengatakan bahwa orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka karena mengingkari Allah, rasul, dan Ayat-Ayat-Nya tidak sama dengan orang-orang beriman yang memercayai Ayat-Ayat Al-Qur’an, mengikuti rasul-Nya, dan mendapat surga. Allah akan menetapkan keputusan dengan adil antara mereka dan balasan yang akan mereka peroleh tentu pula tidak sama.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 44-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia yang kafir dan mukmin. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa Ayat ini berarti umum dan khusus. Umum meliputi seluruh manusia yang kafir dan beriman, khusus berhubungan dengan Abu Jahal yang mengingkari Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman kepadanya.

Diriwayatkan oleh ‘Abd ar-Razzaq, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Asakir dari Busyair bin Tamim, ia berkata, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal dan ‘Ammar bin Yasir.”

Pada akhir Ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad telah mengetahui akibat yang diperoleh orang-orang yang berbuat dosa di akhirat nanti, dan akibat yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kelak.

Oleh karena itu, manusia dipersilakan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki, ia telah mengetahui akibatnya. Allah melihat segala perbuatan manusia dan memberi balasan sesuai dengan yang telah diperbuatnya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dan mendustakan tanda-tanda kebesaran Kami, urusan dan maksud mereka tidak akan tersembunyi dari Kami. Mereka akan Kami balas dengan yang semestinya mereka terima. Dan manakah yang lebih baik:

orang yang dilempar ke dalam neraka, atau orang yang mendatangi hari kiamat dengan perasaan yakin akan selamat dari segala macam keburukannya? Katakan kepada mereka dengan nada mengancam, “Berbuatlah sekehendak kalian! Penglihatan Allah meliputi segala sesuatu. Dia akan membalas semuanya sesuai dengan amalan yang diperbuat.”

Surah Fussilat Ayat 41
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ لَمَّا جَآءَهُمۡ وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ (Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari peringatan) Alquran لَمَّا جَآءَهُمۡ (ketika ia datang kepada mereka) niscaya Kami akan membalas mereka وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٌ (dan sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia) artinya, perkasa.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ لَمَّا جَآءَهُمۡ (“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikru ketika ia datang kepada mereka.”) adh-Dhahhak, as-Suddi dan Qatadah berkata: “Yaitu al-Qur’an.”

وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٌ (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.”) yakni suci terlindungi, tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan kitab semisal dengannya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini diterangkan tanda-tanda orang-orang yang ingkar itu ialah mengingkari Ayat-Ayat Allah, dan mengingkari Al-Qur’an ketika disampaikan kepada mereka. Mereka akan memperoleh ganjaran yang setimpal dengan kekafiran mereka itu.

Kemudian Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang mulia, yang tidak dapat dibatalkan isinya, dan tidak dapat diubah-ubah sedikit pun.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari al-Qur’ân saat diturunkan, dengan tidak mau mempelajarinya, akan mendapatkan azab yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Mereka melakukan hal itu, padahal al-Qur’ân adalah kitab suci yang tidak ada bandingannya, mengalahkan setiap orang yang menentangnya, dan tidak akan pernah bisa dimasuki oleh kesalahan dari sisi mana pun.

Al-Qur’ân itu turun secara berangsur- angsur dari Tuhan yang Mahasuci dari hal-hal yang tak berguna, dan banyak dipuji karena nikmat yang dilimpahkanNya.

Surah Fussilat Ayat 42
لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦ تَنزِيلٌ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Terjemahan: Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 37-39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦ (Yang tidak datang kepadanya Alquran kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya) yakni tidak ada suatu kitab pun sebelumnya yang mendustakannya, dan tidak pula sesudahnya تَنزِيلٌ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji) Allah Yang Maha Terpuji di dalam semua urusan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦ (“Yang tidak datang kepadanya [al-Qur’an] kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.”) artinya, tidak ada satu jalanpun bagi kebathilan untuk mendatanginya, karena al-Qur’an diturunkan dari Rabb semesta alam. Untuk itu Dia berfirman:

تَنزِيلٌ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (“yang diturunkan dari [Rabb] Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.”) yakni Mahabijaksana dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan-Nya. hamiid berarti Rabb yang Mahaterpuji dalam seluruh apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. seluruhnya memiliki akibat dan tujuan yang terpuji.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang membatalkan Ayat-Ayat Al-Qur’an, walaupun itu kitab-kitab Allah yang terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil, dan tidak satu pun kitab Allah yang datang setelah Al-Qur’an. Arti ini sesuai dengan pendapat Sa’id bin Jubair dan al-Kalbi.

Pada akhir Ayat ini diterangkan bahwa seluruh Al-Qur’an itu benar, tidak ada yang salah sedikit pun, karena Al-Qur’an berasal dari Allah, Tuhan semesta alam. Semua yang berasal dari Allah adalah benar belaka, tidak ada satu pun yang kurang, yang salah, atau tidak sempurna. Dia Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari al-Qur’ân saat diturunkan, dengan tidak mau mempelajarinya, akan mendapatkan azab yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Mereka melakukan hal itu, padahal al-Qur’ân adalah kitab suci yang tidak ada bandingannya, mengalahkan setiap orang yang menentangnya, dan tidak akan pernah bisa dimasuki oleh kesalahan dari sisi mana pun.

Al-Qur’ân itu turun secara berangsur- angsur dari Tuhan yang Mahasuci dari hal-hal yang tak berguna, dan banyak dipuji karena nikmat yang dilimpahkanNya.

Surah Fussilat Ayat 43
مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

Terjemahan: Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.

Tafsir Jalalain: مَّا يُقَالُ لَكَ (Tidaklah ada yang dikatakan kepadamu itu) yakni kedustaan إِلَّا (kecuali) sebagaimana مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٍ (apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan) buat orang-orang yang beriman وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ (dan hukuman yang pedih) bagi orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَ (“Tidaklah ada yang dikatakan [oleh orang-orang kafir] kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada Rasul-Rasul sebelummu.”) Qatadah, as-Suddi dan lain-lain berkata:

“Tidak ada satu pendustaan pun yang dilontarkan kepadamu, kecuali hal tersebut sudah dikatakan pula kepada para Rasul sebelummu. Sebagaimana engkau didustakan, merekapun telah didustakan. Dan sebagaimana mereka telah sabar dalam menanggung derita atas hal-hal yang menyakitkan dari kaum mereka, maka bersabarlah engkau terhadap hal-hal yang menyakitkan dari kaummu.” Inilah yang menjadi pendapat pilihan Ibnu Jarir. Beliau sendiri dan Ibnu Abi Hatim tidak menuturkan pendapat lainnya.

Firman Allah: إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٍ (“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan.”) yaitu bagi orang yang bertaubat kepada-Nya. وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ (“Dan hukuman yang pedih”). Yaitu bagi orang yang terus bergelimang dalam kekufuran, pembangkangan, penentangan, perlawanan dan perselisihan kepada-Nya.

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 38-41; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini merupakan hiburan Allah bagi Nabi saw yang sedih karena sikap dan perbuatan orang-orang musyrik terhadap Al-Qur’an yang disampaikannya. Allah mengatakan bahwa sikap, tindakan, dan ucapan-ucapan yang dilakukan orang-orang musyrik yang mendustakan Ayat-Ayat Allah itu, sama dengan tindakan dan ucapan-ucapan yang disampaikan oleh umat-umat terdahulu kepada rasul-rasul mereka.

Walaupun demikian, mereka tetap bersabar dan tabah dalam menyampaikan risalahnya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk sabar dan tabah, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya. Beliau juga diminta untuk tetap pada seruannya.

Ayat yang lain yang sama isinya dengan Ayat ini ialah firman-Nya: Demikianlah setiap kali seorang Rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka (kaumnya) pasti mengatakan, “Dia itu pesihir atau orang gila.” (adz-dzariyat/51: 52)

Sebagian ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud Ayat ini adalah sesungguhnya yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, seperti ajaran keesaan Allah, dan memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya, sama dengan yang pernah disampaikan kepada para rasul yang diutus sebelumnya. Hal ini adalah wajar karena agama Allah itu mempunyai azas dan prinsip yang sama.

Semuanya sama-sama menentukan dan memerintahkan untuk menghambakan diri hanya kepada Allah, sama-sama percaya kepada adanya hari kebangkitan, dan sebagainya. Seandainya ada perbedaan, maka perbedaan itu bukanlah berhubungan dengan azas atau prinsip, tetapi hanyalah yang berhubungan dengan furu’ atau yang bukan prinsip. Hal ini perlu karena perbedaan keadaan, masa, dan tempat.

Penafsiran ini sesuai dengan firman Allah: Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya? (an-Nisa’/4: 163)

Jika Ayat ini dihubungkan dengan Ayat-Ayat yang sesudahnya, maka pendapat yang pertamalah yang lebih sesuai, karena pembicaraan Ayat-Ayat yang sesudahnya berhubungan dengan sikap orang-orang musyrik terhadap Al-Qur’an.

Tetapi jika dihubungkan dengan Ayat-Ayat sebelumnya, maka pendapat yang kedualah yang sesuai, karena pembicaraan berhubungan dengan Al-Qur’an, sebagai wahyu yang di dalamnya tidak terdapat kesalahan dan kekurangan. Dalam penafsiran, Ayat ini dimasukkan ke dalam kelompok Ayat-Ayat sesudahnya.

Pada akhir Ayat ini diterangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Tuhannya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Yang berhak disembah itu adalah juga Tuhan Yang Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertobat, dan juga memberi siksaan yang sangat pedih kepada orang-orang kafir lagi sombong dan tidak mau bertobat.

Tafsir Quraish Shihab: Perkataan musuh-musuhmu yang ditujukan kepadamu itu, wahai Muhammad, adalah pendustaan dan ejekan yang pernah juga ditujukan kepada rasul-rasul sebelummu oleh musuh-musuh mereka.

Tetapi Sang Pencipta dan Pemeliharamu benar-benar mempunyai ampunan yang besar dan siksa yang sangat menyakitkan. Dari itu, Dia tetap akan mengampuni musuh-musuhmu yang bertobat dan, sebaliknya, juga akan membalas mereka yang tetap keras kepala.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fussilat Ayat 40-43 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S