Surah Qaf Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Qaf Ayat 1-5

Pecihitam.org – Kandungan Surah Qaf Ayat 1-5 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita memahami isi surah. Surah ini menjelaskan pengukuhan risalah Muhammad saw., pengingkaran orang-orang kafir atas kedatangan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan setelah mereka mati dan menjadi tanah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian dipaparkan bukti-bukti yang ada di alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia kembali dari kematian. Dialah yang telah menciptakan mereka dan mengetahui apa yang terdetik di dalam hati mereka. Semua perkataan dan perbuatan mereka tercatat di dalam buku yang terjaga.

Surah ini kemudian menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, usaha orang-orang kafir untuk melepaskan diri dari kekafiran yang mereka ikuti di dunia, dengan melemparkan kesalahan kepada setan, akan sia-sia belaka, dan perdebatan orang-orang kafir itu akan berakhir dengan masuknya mereka semua ke dalam neraka. Sementara, pada waktu yang sama, Allah memberi nikmat kesenangan yang kekal kepada orang-orang Mukmin di dalam surga.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Qaf Ayat 1-5

Surah Qaf Ayat 1
قٓ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ

Terjemahan: “Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia.

Tafsir Jalalain: قٓ (Qaaf) hanya Allah saja yang mengetahui arti dan maksudnya. وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ (Demi Alquran yang sangat agung) artinya, yang sangat mulia, tiadalah orang-orang kafir Mekah beriman kepada Nabi Muhammad saw.

Tafsir Ibnu Katsir: “Qaaf” termasuk salah satu huruf Hijaiyyah yang disebutkan pada permulaan beberapa surat, seperti firman Allah Ta’ala: Thaa siin, haa miim, alif laam miim, nuun, shaad, dan lain sebagainya. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan ulama lainnya.

Firman-Nya: وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ (“Demi Al-Qur’an yang sangat mulia”) yakni yang sangat terhormat lagi agung. Yang menjadi jawaban adalah kandungan firman yang tercantum setelah sumpah, yaitu penetapan tentang kenabian, hari kiamat, pengukuhan dan penegasannya. Meskipun sumpah di dalam ayat ini tidak memiliki jawaban yang tegas, namun hal ini banyak terdapat di dalam sumpah-sumpah yang terdapat di dalam al-Qur’an.

Tafsir Kemenag: Telah diungkapkan sebelum ini bahwa huruf-huruf abjad yang ada pada permulaan surah biasanya memperingatkan betapa pentingnya perkara yang disebut kemudian, dan sering sekali yang disebut itu ialah sifat Al-Qur’an seperti yang disebutkan di sini.

Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan kitab-Nya, yang mengandung banyak berkah dan kebajikan (Al-Qur’an) yang sangat mulia bahwa Nabi Muhamammad benar-benar seorang utusan-Nya yang memberi peringatan kepada kaumnya tentang adanya hari kebangkitan.

Senada dengan pernyataan ini, dalam permulaan Surah Yasin juga telah diterangkan bahwa Nabi Muhammad sungguh-sungguh adalah salah seorang rasul yang diutus agar memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan. Oleh karena itu, mereka lalai dan disebut zaman Jahiliah.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini menjelaskan pengukuhan risalah Muhammad saw., pengingkaran orang-orang kafir atas kedatangan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan setelah mereka mati dan menjadi tanah.

Kemudian dipaparkan bukti-bukti yang ada di alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia kembali dari kematian. Dialah yang telah menciptakan mereka dan mengetahui apa yang terdetik di dalam hati mereka. Semua perkataan dan perbuatan mereka tercatat di dalam buku yang terjaga.

Surah ini kemudian menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, usaha orang-orang kafir untuk melepaskan diri dari kekafiran yang mereka ikuti di dunia, dengan melemparkan kesalahan kepada setan, akan sia-sia belaka, dan perdebatan orang-orang kafir itu akan berakhir dengan masuknya mereka semua ke dalam neraka.

Sementara, pada waktu yang sama, Allah memberi nikmat kesenangan yang kekal kepada orang-orang Mukmin di dalam surga. Selanjutnya, di akhir surat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk tabah dalam menghadapi sikap aniaya orang-orang kafir yang tidak mau mengambil pelajaran dari siksa yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 68; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Di samping itu, terdapat juga petunjuk kepada Rasulullah untuk selalu menyembah Allah, penegasan akan hari kebangkitan, hiburan bagi Rasul bahwa ia diutus sebagai pemberi peringatan kepada orang-orang Mukmin, dan bukan untuk menjadi penguasa atas orang-orang kafir.]] Qâf adalah salah satu huruf eja Arab.

Surah ini diawali dengan menyebut huruf tersebut, sebagaimana beberapa surat al-Qur’ân juga diawali dengan huruf-huruf eja, untuk tujuan menantang dan menarik perhatian. Aku bersumpah demi al-Qur’ân yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan bahwa sesungguhnya Kami telah mengutusmu, wahai Muhammad, untuk memberi peringatan kepada manusia dengan al-Qur’ân.

Tetapi penduduk Mekah tidak mau mempercayainya, bahkan mereka merasa heran bahwa akan datang seorang rasul dari kalangan mereka sendiri untuk memberi peringatan akan datangnya hari kebangkitan. Lalu orang-orang kafir berkata, “Ini adalah suatu keajaiban!

Surah Qaf Ayat 2
بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنۡهُمۡ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا شَىۡءٌ عَجِيبٌ

Terjemahan: “(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: “Ini adalah suatu yang amat ajaib”.

Tafsir Jalalain: بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنۡهُمۡ (Bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri) yakni seorang rasul yang memperingatkan mereka tentang adanya azab neraka sesudah hari berbangkit, bila mereka tidak beriman فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا (maka berkatalah orang-orang kafir, “Ini) tentang peringatan itu شَىۡءٌ عَجِيبٌ (adalah suatu hal yang amat ajaib.).

Tafsir Ibnu Katsir: Demikian pula Allah berfirman disini yang artinya: “Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang Amat ajaib”.

Maksudnya mereka benar-benar merasa heran atas diutusnya seorang Rasul kepada mereka dari kalangan manusia. Padahal yang demikian itu sesungguhnya bukan suatu hal yang mengherankan. Karena Allah telah memilih utusan dari kalangan malaikat dan juga dari kalangan manusia.

Tafsir Kemenag: Mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad, bahkan mereka itu bukan saja ragu-ragu dan mengingkari kerasulannya, malahan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang manusia yang memberi peringatan dari kalangan mereka sendiri.

Mereka memandang sungguh aneh bahwa Allah mengutus seorang manusia seperti mereka sendiri, yang biasa makan-minum dan berkeluarga, yang biasa tidur dan kadang-kadang kena penyakit.

Mereka membayangkan bahwa seorang utusan Allah itu mesti malaikat seperti diterangkan dalam firman Allah: Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? (al-Qamar/54: 24) Dan firman-Nya Mereka berkata, “Kamu hanyalah manusia seperti kami juga.” (Ibrahim/14: 10)

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini menjelaskan pengukuhan risalah Muhammad saw., pengingkaran orang-orang kafir atas kedatangan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan setelah mereka mati dan menjadi tanah.

Kemudian dipaparkan bukti-bukti yang ada di alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia kembali dari kematian. Dialah yang telah menciptakan mereka dan mengetahui apa yang terdetik di dalam hati mereka. Semua perkataan dan perbuatan mereka tercatat di dalam buku yang terjaga.

Surah ini kemudian menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, usaha orang-orang kafir untuk melepaskan diri dari kekafiran yang mereka ikuti di dunia, dengan melemparkan kesalahan kepada setan, akan sia-sia belaka, dan perdebatan orang-orang kafir itu akan berakhir dengan masuknya mereka semua ke dalam neraka.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 29-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sementara, pada waktu yang sama, Allah memberi nikmat kesenangan yang kekal kepada orang-orang Mukmin di dalam surga. Selanjutnya, di akhir surat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk tabah dalam menghadapi sikap aniaya orang-orang kafir yang tidak mau mengambil pelajaran dari siksa yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi.

Di samping itu, terdapat juga petunjuk kepada Rasulullah untuk selalu menyembah Allah, penegasan akan hari kebangkitan, hiburan bagi Rasul bahwa ia diutus sebagai pemberi peringatan kepada orang-orang Mukmin, dan bukan untuk menjadi penguasa atas orang-orang kafir.]] Qâf adalah salah satu huruf eja Arab.

Surah ini diawali dengan menyebut huruf tersebut, sebagaimana beberapa surat al-Qur’ân juga diawali dengan huruf-huruf eja, untuk tujuan menantang dan menarik perhatian. Aku bersumpah demi al-Qur’ân yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan bahwa sesungguhnya Kami telah mengutusmu, wahai Muhammad, untuk memberi peringatan kepada manusia dengan al-Qur’ân.

Tetapi penduduk Mekah tidak mau mempercayainya, bahkan mereka merasa heran bahwa akan datang seorang rasul dari kalangan mereka sendiri untuk memberi peringatan akan datangnya hari kebangkitan. Lalu orang-orang kafir berkata, “Ini adalah suatu keajaiban!

Surah Qaf Ayat 3
أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَٰلِكَ رَجۡعٌۢ بَعِيدٌ

Terjemahan: “Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.

Tafsir Jalalain: َءِذَا (Apakah bila) dapat dibaca Tahqiq, dapat pula dibaca Tas-hil مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا (kami telah mati dan setelah menjadi tanah) kami akan kembali menjadi hidup? ذَٰلِكَ رَجۡعٌۢ بَعِيدٌ (itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin”) yakni sangat jauh dari kemungkinan.

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya Allah berfirman seraya memberitahukan pula tentang keheranan mereka terhadap hari pengembalian dan keingkaran mereka terhadap kejadiannya: أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَٰلِكَ رَجۡعٌۢ بَعِيدٌ (“Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah [akan kembali lagi]? Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) artinya, mereka berkata:

“Apakah jika kami sudah mati, hancur luluh, terputus-putus, dan menjadi tanah, [bagaimana mungkin] kami ini akan dikembalikan lagi setelah itu seperti keadaan yang ada sesuai dengan susunannya?” ذَٰلِكَ رَجۡعٌۢ بَعِيدٌ (“Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) maksudnya, sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Tafsir Kemenag: Setelah mereka memperlihatkan rasa terkejutnya tentang kerasulan Muhammad saw itu, mereka dengan penuh rasa keingkaran dan cemoohan berkata, “Apakah kami setelah mati dan setelah tulang-belulang kami menjadi tanah dan berserakan di dalam bumi, akan kembali hidup lagi?” Mereka memandang bahwa bangkit dari kubur itu suatu hal yang mustahil, yang tidak mungkin terjadi dan sama sekali tidak masuk akal, karena mereka mengukur kekuasaan Allah sama dengan kekuasaan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah, setelah kami mati dan menjadi tanah, kami akan dibangkitkan kembali? Sesungguhnya kebangkitan kembali setelah kematian adalah hal yang tidak mungkin terjadi.”

Surah Qaf Ayat 4
قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظٌۢ

Terjemahan: “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Tafsir Jalalain: قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ (Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi) apa yang telah dimakan olehnya مِنۡهُمۡ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظٌۢ (dari tubuh-tubuh mereka, dan pada sisi Kami ada kitab yang memelihara) yaitu Lohmahfuz, di dalamnya telah tertera segala sesuatu yang telah dipastikan ketentuannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan sebagai bantahan terhadap mereka, Allah Ta’ala berfirman: قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡ (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) maksudnya, tubuh-tubuh mereka yang telah dihancurkan oleh bumi, Kami [Allah] mengetahuinya.

Baca Juga:  Surah Qaf Ayat 6-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari Kami, dimana bagian tubuh-tubuh mereka itu berceceran, kemana dan dimana semuanya itu berada. وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظٌۢ (“Dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara [mencatat].”) yakni, yang menjaga hal tersebut. Jadi, ilmu dan kitab-Nya itu sangat sempurna mencakup segala sesuatu secara terperinci.

Tafsir Kemenag: Allah mengemukakan dalil atas kebangkitan dari kubur karena Allah sungguh mengetahui apa yang telah dimakan dan dihancurkan oleh bumi dari tubuh-tubuh mereka, ke mana dari bagian-bagian tubuh manusia itu berpindah atau bergeser dan kemudian jadi apa, sebab semua kejadian itu perinciannya ada di sisi Allah.

Seluruhnya tercatat dan terpelihara dalam kitab yang semuanya itu menggambarkan bahwa tidak sulit bagi Allah untuk menghidupkan mereka kembali pada hari Kiamat, hari yang pasti akan datang.

Tafsir Quraish Shihab: Kami benar-benar telah mengetahui apa yang diambil bumi dari tubuh mereka setelah mereka mati, dan di sisi Kami ada kitab yang sangat teliti mencatat dan memelihara.

Surah Qaf Ayat 5
بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ فَهُمۡ فِىٓ أَمۡرٍ مَّرِيجٍ

Terjemahan: “Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.

Tafsir Jalalain: بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلۡحَقِّ (Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran) yakni Alquran لَمَّا جَآءَهُمۡ فَهُمۡ (tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka) menanggapi tentang perihal Nabi saw. dan Alquran فِىٓ أَمۡرٍ مَّرِيجٍ (berada dalam keadaan kacau-balau) yakni tidak menentu, terkadang mereka mengatakan, bahwa Nabi adalah penyihir dan Alquran adalah sihir, terkadang juga mengatakan bahwa dia adalah penyair dan Alquran adalah syairnya, terkadang mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang peramal dan Alquran adalah ramalannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah Ta’ala: (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) yakni daging, kulit, tulang dan rambut mereka yang telah dihancurkan oleh bumi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan lain-lain.

Selanjutnya Allah menjelaskan sebab kekufuran, keingkaran, dan penolakan mereka terhadap apa yang sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil, dimana Dia berfirman: بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (“Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran, tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.”) demikianlah keadaan setiap orang yang keluar dari kebenaran. Apa pun yang ia katakan setelah itu, maka semuanya adalah kebathilan.

Tafsir Kemenag: Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang gaib di langit dan di bumi. Dia-lah yang melihat apa yang tersembunyi di dalam hati, dan apa yang diucapkan oleh lidah karena Allah Maha Melihat apa yang dikerjakan oleh seluruh hamba-hamba-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Allah sungguh mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi, dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Qaf Ayat 1-5 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S