Surah Thaha Ayat 60-64; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 60-64

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 60-64 ini, Allah menerangkan bahwa tercapai persetujuan antara Musa dan Firaun tentang tempat, hari dan waktu diadakannya pertandingan nanti, pergilah Firaun meninggalkan tempat perdebatan itu, untuk mengatur tipu dayanya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 60-64

Surah Thaha Ayat 60
فَتَوَلَّى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَى

Terjemahan: Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang.

Tafsir Jalalain: فَتَوَلَّى فِرْعَوْنُ (Maka Firaun meninggalkan) pergi meninggalkan tempat itu فَجَمَعَ كَيْدَهُ (lalu ia mengatur tipu muslihatnya) ia mulai mengumpulkan para ahli sihirnya ثُمَّ أَتَى (kemudian ia datang) bersama mereka pada waktu yang telah ditentukan itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Maka Fir’aun beranjak, yakni segera mengumpulkan tukang sihir dari berbagai kota di negeri kekuasaannya. Semua yang mengaku tukang sihir pada waktu itu dia kumpulkan.

Di kalangan mereka, sihir sangat banyak sekali. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): `Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!’” (QS. Yunus: 79).

Kemudian semua orang berkumpul pada hari yang telah ditentukan, yaitu hari raya. Fir’aun duduk di atas kursi singgasananya, yang didampingi oleh para pembesar kerajaannya. Rakyat pun berdiri di samping kanan dan kirinya. Lalu Musa as. datang menghadap dengan bersandar pada tongkatnya yang ditemani oleh saudaranya, Harun.

Kemudian para tukang sihir pun berdiri di hadapan Fir’aun dalam keadaan berbaris. Fir’aun memerintahkan, menekankan, seraya menganjurkan agar mereka benar-benar melaksanakan tugas mereka pada hari itu dengan baik. Mereka pun sangat mengharapkan hadiah darinya, sedang Fir’aun sendiri juga menjanjikan kepada mereka serta memberikan angan-angan. Mereka berkata:

“(Apakah) kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?” Fir’aun menjawab: “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (QS. Al-A’raaf: 114).

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa tercapai persetujuan antara Musa dan Firaun tentang tempat, hari dan waktu diadakannya pertandingan nanti, pergilah Firaun meninggalkan tempat perdebatan itu, untuk mengatur tipu dayanya.

Ahli-ahli sihir dikumpulkan, alat-alat perlengkapan mereka disempurnakan, penyokong dan pembantu-pembantunya serta yang lain-lain dipersiapkan. Pada hari yang telah ditetapkan bersama yaitu pada hari raya Syam an-Nasim, berangkatlah Firaun bersama rombongannya ke tempat yang telah disepakatinya dengan Musa.

Duduklah ia di atas kursi kebesarannya, didampingi oleh penjabat-penjabat terasnya, diapit oleh rakyatnya di sebelah kiri dan kanannya. Tidak lama kemudian datang pula Musa dengan tongkatnya ditemani oleh saudaranya Harun.

Firaun menggembleng tukang-tukang sihirnya yang telah berdiri dan berbaris rapi di depannya, mengharapkan supaya mereka melaksanakan tugasnya, mendemonstrasikan keahliannya dengan sebaik-baiknya, menjanjikan akan memenuhi segala permintaan mereka, apabila mereka menang, sebagaimana diterangkan di dalam firman Allah:

Dan para pesihir datang kepada Firaun. Mereka berkata, “(Apakah) kami akan mendapat imbalan, jika kami menang?” Dia (Firaun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (al-A`raf/7: 113 dan 114).

Tafsir Quraish Shihab: Fir’aun pun meninggalkan tempat itu untuk kemudian menangani sendiri urusan itu. Dilengkapinya pula segala sarana demi menyukseskan urusan itu, dengan mengumpulkan penyihir-penyihir kampiun, kemudian dengan itu semua ia datang pada waktu yang telah disepakati bersama.

Surah Thaha Ayat 61
قَالَ لَهُم مُّوسَى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُم بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى

Terjemahan: Berkata Musa kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.

Tafsir Jalalain: قَالَ لَهُم مُّوسَى (Berkata Musa kepada mereka,) jumlah para ahli sihir Firaun ada tujuh puluh dua orang; setiap orang dari mereka memegang tali dan tongkat وَيْلَكُمْ (“Celakalah kalian) maksudnya semoga Allah menimpakan kecelakaan kepada kalian

لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (janganlah kalian mengada-adakan kedustaan terhadap Allah) dengan menyekutukan seseorang bersama-Nya فَيُسْحِتَكُم (maka Dia membinasakan kalian) ia dapat dibaca Fayushitakum dan Fayashitakum, artinya Dia akan membinasakan kalian, karena perbuatan musyrik itu

Baca Juga:  Surah Al-Muzzammil Ayat 1-9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

بِعَذَابٍ (dengan siksa”) dari sisi-Nya. وَقَدْ خَابَ (Dan sesungguhnya telah kecewa) merugi مَنِ افْتَرَى (orang yang mengada-adakan kedustaan) terhadap Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ لَهُم مُّوسَى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (“Musa berkata kepada mereka: ‘Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah.’”) Maksudnya, janganlah kalian membuat ilusi kepada orang-orang dengan tindakan kalian mengadakan beberapa hal yang sebenarnya tidak mempunyai hakikat, seakan-akan ia makhluk, padahal sesungguhnya ia bukan makhluk hidup.

Sehingga dengan demikian, kalian telah melakukan kedustaan terhadap Allah Ta’ ala; فَيُسْحِتَكُم بِعَذَابٍ (“Sehingga Dia membinasakanmu dengan siksa.”) Yakni, menghancurkan kalian melalui hukuman yang dapat membinasakan tanpa sisa.

Tafsir Kemenag: Ketika Musa berhadap-hadapan dengan ahli-ahli sihir Firaun, Musa memperingatkan kepada mereka, supaya jangan mengikuti ajakan Firaun, mengada-adakan dusta kepada Allah, mengatakan yang bukan-bukan kepada-Nya seperti menganggap mukjizat yang dibawanya itu adalah sihir, padahal merupakan salah satu kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Kalau kamu berpendirian demikian seperti halnya Firaun Allah akan menyiksa kamu, menghabiskan keturunan kamu sehingga tidak ada yang tinggal, sebagai balasan atas perbuatan kalian yang sesat itu. Firman Allah: Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan. (al-An’am/6: 138)

Orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah adalah orang yang merugi. Ia tidak akan beruntung dalam usahanya, tidak akan mencapai cita-citanya, karena ia adalah yang paling aniaya, sebagaimana firman Allah:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. (al-An`am/6: 21)

Oleh karena itu, sadarlah kamu dan insaflah. Tinggalkan perbuatan mengada-adakan dusta kepada Allah. Jalan yang sesat yang kalian tempuh itu, supaya kamu selamat dari azab yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah. orang-orang yang telah sesat jalannya di dunia ini, tetapi ia tetap menyangka bahwa perbuatannya itulah yang baik dan benar.

Tafsir Quraish Shihab: Mûsâ mengingatkan mereka akan ancaman dan siksaan Allah, melarang mereka agar tidak mengada- adakan kebohongan dengan menganggap Fir’aun sebagai tuhan, mendustakan rasul-rasul Allah dan mengingkari mukjizat.

Mûsâ juga memberikan ancaman bahwa Allah akan menbinasakan mereka dengan siksa-Nya manakala mereka terus menerus melakukan hal itu, dengan menegaskan kerugian orang yang membuat-buat kebohongan tentang Allah.

Surah Thaha Ayat 62
فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى

Terjemahan: Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka).

Tafsir Jalalain: فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ (Maka mereka berbantah-bantahan di antara mereka tentang urusannya) yakni mengenai Nabi Musa dan saudaranya itu وَأَسَرُّوا النَّجْوَى (dan mereka merahasiakan percakapan) mereka yang menyangkut Nabi Musa dan Nabi Harun.

Tafsir Ibnu Katsir: فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ (“Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan [mereka].”) Ada yang berpendapat, artinya bahwa di antara mereka berbantah-bantahan. Ada yang mengatakan:

“Yang demikian itu bukan ucapan seorang tukang sihir, tetapi hal itu merupakan ucapan seorang Nabi.” Ada juga yang mengatakan: “Tidak, tetapi dia itu seorang tukang sihir.” Dan ada juga yang mengatakan selain itu. Wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala: وَأَسَرُّوا النَّجْوَى (“Dan mereka merahasiakan percakapan [mereka]”) Yakni, saling berselisih di antara mereka.

Tafsir Kemenag: Setelah ahli-ahli sihir Firaun itu mendengar peringatan dan ancaman Musa, mereka menjadi bingung, masing-masing mempunyai tanggapan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Lalu mereka mengadakan rapat khusus, bertukar pikiran, apa yang kira-kira seharusnya mereka perbuat.

Percakapan mereka sangat dirahasiakan supaya jangan bocor. Memang begitulah pada galibnya, sesuatu rapat diadakan untuk mencari taktik mengalahkan lawan, percakapan dan keputusan rapat itu, harus dirahasiakan, jangan sampai lawan mengetahuinya.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 133-135; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikian pula halnya ahli-ahli sihir Firaun, karena khawatir kalau-kalau percakapan mereka didengar dan diketahui oleh Musa dan Harun, lalu keduanya mengadakan persiapan, dan perlengkapan yang cukup tangguh untuk menghadapi sihirnya yang sukar untuk dikalahkan.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka terperanjat ketakutan dengan peringatan Mûsâ itu, lalu berembuk secara rahasia di antara mereka dengan saling bertukar pendapat. Masing-masing mengemukakan pendapat tentang apa yang akan ditimpakan kepada Mûsâ.

Surah Thaha Ayat 63
قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى

Terjemahan: Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka berkata) kepada diri mereka sendiri, إِنْ هَذَانِ (“Sesungguhnya dua orang ini) ungkapan Haadzaani dijadikan hujah atau alasan bagi sebagian ahli Nahwu yang menetapkan huruf Alif pada isim Tatsniyah dalam tiga keadaan. Akan tetapi menurut qiraat Abu ‘Amr, lafal Haadzaani ini dibaca Haadzaini

لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى (adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian, dari negeri kalian dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama”) lafal Mutslaa adalah bentuk Muannats dari lafal Amtsal; maksudnya yang mulia. Artinya, keduanya akan melenyapkan kemuliaan kalian, bila mereka berdua dibiarkan menang, kemudian kalian cenderung kepada keduanya.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ (“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dua orang ini benar-benar ahli sihir.’”) Ini menurut salah satu dialek dalam bahasa Arab. Bacaan ini sesuai dengan i’rabnya. Di antara mereka ada yang membaca:

إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ .” Inilah dialek yang sudah cukup populer. Ahli nahwu memberikan penjelasan secara panjang lebar mengenai alasan bacaan yang pertama, dan di sini bukan tempatnya untuk membahas hal tersebut.

Maksudnya adalah, para tukang sihir itu berkata di antara mereka sendiri: “Kalian tahu tidak, bahwa orang ini dan saudaranya [yang mereka maksudkan adalah Musa dan Harun] adalah tukang sihir yang sangat pandai lagi piawai dalam pembuatan sihir.

Dan pada hari ini, keduanya hendak mengalahkan kalian dan kaum kalian serta menguasai umat manusia, lalu semua orang mengikuti keduanya, dan keduanya akan membunuh Fir’aun dan bala tentaranya sehingga keduanya akan memperoleh kemenangan atas mereka, lalu mengeluarkan kalian dari tanah kalian ini.”

Firman-Nya: وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى (“Dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama.”) Dengan jalan itu, yakni sihir, mereka berdua akan bertindak sewenang-wenang. Mereka itu (para tukang sihir) menjadi terhormat karenanya, di mana mereka mempunyai banyak harta dan rizki melimpah karenanya. Mereka berkata:

“Jika dua orang ini menang, maka keduanya akan membinasakan kalian dan mengeluarkan kalian dari negeri ini, dan akhirnya hanya mereka berdua yang memiliki ilmu sihir dan memegang kekuasaan dalam hal itu tanpa keikutsertaan kalian.”

Mengenai firman Allah Ta’ala: وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى (“Dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama.”) Ibnu Abi Hatim mengatakan, dari Ali: “Keduanya berhasil menarik pandangan orang-orang ke arah keduanya.” SedangkanAbdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Kedudukan kalian yang utama yang kalian duduki.”

Tafsir Kemenag: Di antara percakapan mereka yang dirahasiakan yang dapat dicatat ialah kalau yang ditampilkan Musa nanti betul-betul sihir, jelas mereka akan mengalahkannya. Tetapi kalau yang ditampilkannya itu mukjizat dari Allah belum tentu mereka dapat mengalahkannya. Kalau dia mengalahkan kita di dalam pertandingan nanti itu, apa boleh buat, kita menyerah saja, dan mengikuti dia.”

Akhirnya mereka sepakat mengatakan bahwa Musa dan Harun itu adalah ahli sihir yang sangat pandai, akan mengusir kita dari negeri kita dengan sihirnya itu, dan akan mencopot kedudukan kita yang mulia itu.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' ayat 85; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sengaja mereka menyusun satu rumusan begitu rupa yang mengandung tiga faktor tersebut yang dapat mengakibatkan dibencinya Musa dan Harun dan hilanglah pengaruh keduanya, namun akal sehat dan pikiran waras, tidak akan menerima alasan-alasan ahli-ahli sihir, orang-orang yang mau memperkosa hak asasi seseorang dengan mengusirnya dari tempat tinggalnya, begitu juga orang-orang yang akan menghilangkan kedudukannya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berkesimpulan bahwa Mûsâ dan Hârûn hanyalah penyihir biasa yang saling bekerja sama untuk mengusir mereka dari negeri mereka dan merebut kekuasaan dari tangan mereka dengan jalan sihir. Dengan begitu, Banû Isrâ’îl akan terjebak dengan sihirnya yang menunjukkan kepalsuan kepercayaan yang mereka mereka anut dan mereka anggap baik.

Surah Thaha Ayat 64
فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى

Terjemahan: Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah oran yang menang pada hari ini.

Tafsir Jalalain: فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ (“Maka himpunkanlah segala daya upaya kalian) semua kekuatan dan keahlian sihir kalian. Kalau dibaca Fajma’uu berasal dari lafal Jama’a dan kalau dibaca Fa-ajmi’uu berasal dari lafal Ajma’a, artinya kerahkanlah

ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا (kemudian datanglah dengan berbaris). Lafal Shaffan adalah Hal atau kata keterangan keadaan, maksudnya dalam keadaan berbaris وَقَدْ أَفْلَحَ (dan sesungguhnya beruntunglah) yakni akan memperoleh keuntungan الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى (orang yang menang pada hari ini”) yakni yang dapat mengalahkan musuhnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا (“Maka himpunlah segala daya [sihir] kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris.”) Maksudnya, berkumpullah kalian semua dalam satu barisan lalu lemparkanlah apa yang ada di tangan kalian secara bersamaan, agar semua mata terbelalak melihatnya dan kalian bisa mengalahkan orang ini dan juga saudaranya.

وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى (“Dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini”) Yakni, antara kita dan dia. Adapun kita, maka telah dijanjikan hadiah yang besar dari raja, sedangkan dia akan mendapatkan kepemimpinan yang terhormat.

Tafsir Kemenag: Menurut para ahli sihir Firaun, Musa dan Harun adalah ahli sihir yang ingin mengusir mereka dari tanah tumpah darah mereka serta mau merebut kekuasaan, maka untuk menghadapi bahaya yang mengancam itu, mereka bersama-sama, bahu-membahu mengumpulkan segala tenaga yang ada, mengeluarkan segala siasat dan tipu daya serta menunjukkan segala kepintaran yang dimiliki pada hari berlangsungnya pertandingan nanti.

Dengan demikian, mudahlah bagi mereka untuk mengalahkan sihir Musa dan Harun saudaranya. Alangkah berbahagianya mereka pada hari itu seandainya kemenangan nanti itu berada di pihak kita. Firman Allah:

Maka ketika para pesihir datang, mereka berkata kepada Firaun, “Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan yang besar jika kami yang menang?” Dia (Firaun) menjawab, “Ya, dan bahkan kamu pasti akan mendapat kedudukan yang dekat (kepadaku).” (asy-Syu’ara/26: 41 dan 42).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berkesimpulan bahwa Mûsâ dan Hârûn hanyalah penyihir biasa yang saling bekerja sama untuk mengusir mereka dari negeri mereka dan merebut kekuasaan dari tangan mereka dengan jalan sihir. Dengan begitu, Banû Isrâ’îl akan terjebak dengan sihirnya yang menunjukkan kepalsuan kepercayaan yang mereka mereka anut dan mereka anggap baik.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 60-64 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG