Kisah Tentang Wabah Pandemi dalam Sejarah Islam

Kisah Tentang Wabah Pandemi dalam Sejarah Islam, Pernahkah Terjadi?

PeciHitam.org – Pandemi atau wabah bercakupan dunia pernah beberapa kali melanda penduduk dunia. Black Death atau kematian kelam pernah melanda Eropa sekitar pertengahan abad 14 (1347-1351).

Cerita yang sampai kepada orang modern bahwa wabah pandemi tersebut sezaman dengan wabah yang merebak di Benua Asia, sekurangnya di Jazirah Anak Asia (India), Tingkok dan Jazirah Arabia (Timur Tengah).

Sekurangnya 75 juta penduduk dunia meninggal akibat pandemi ini. Bahkan dalam catatan lain dijelaskan bahwa akibat black death ini, sepertiga penduduk Eropa meninggal dunia.

Wabah pandemi ini adalah wabah penyakit terbesar yang tercatat oleh sejarah, bahkan para penulis kontemporer menjuluki wabah ini dengan Istilah great mortality (Kematian Massal).

Dalam istilah bahasa Arab disebut Tha’un (الطاعون). Merujuk pada istilah ini, Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang kejadian mati massal/ atau wabah penyakit yang menyerang penduduk.

Sebagaimana Hadits Riwayat Imam Bukhari menceritakan tentang kejadian wabah Kusta atau Lepra. Penyakit yang mengakibatkan penderitanya akan menderita cacat permanen. Dalam keterangan Hadits menyebutkan;

لا تديموا النظر الى المجذومين – رواه البخاري

Jangalah Kalian memandang terlalu lama pada orang yang terkena Lepra/ Kusta (HR. Bukhari)

Wabah penyakit Lepra/ Kusta memang bukan hanya menyerang golongan orang-orang awam atau rakyat biasa. Beberapa bukti sejarah juga mencatat bahwa Raja Baldwin (Baudouin) IV dari kerajaan Yerussalem meninggal akibat penyait Lepra. Beliau memerintah sekitar tahun1174 M, ratusan tahun sebelum wabah balck death merebak di dunia.

Baca Juga:  Nabi Musa dan Murid yang Meragukan Ketidakadilan Tuhan

Mengatasi wabah atau tha’un (الطاعون), ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang Isolasi. Rasul mengajarkan metode untuk mencegah penyebaran penyakit dengan mengisolasi penderita penyakit atau lockdown sebagaimana dasarnya;

اِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Beberapa masa setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa pemerintahan Sahabat Umar bin Khattab (634-644 M), wabah juga pernah melanda daerah kekuasaan Islam yang baru yaitu Syam (saat ini Suriah). Riwayat yang sampai kepada kita;

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَن بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Baca Juga:  Kisah Ulama yang Murtad dan Keluhuran Akhlak Muridnya

“Umar melakukan sebuah perjalanan Suriah/ Syam (nama kuno), saat sampai di daerah bernama  Sargh, Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Suriah. Abdurrahman bin Auf kemudian meriwayatkan kepada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar tha’un (pandemi) di suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi tha’un (pandemi penyakit) di tempat kamu berada, maka janganlah kamu pergi meninggalkannya (agar terhindar dari penyebaran)” (HR. Bukhari)

Kontroversialisme tindakan dalam menghadapi tha’un serta kritik terhadap pimpinan juga pernah dialami oleh Umar bin Khatab RA. Beberapa kisah menjelaskan bahwa Sahabat Nabi menunjukan ketidak-sukaan atas perbuatan Umar yang membatalkan kunjungan ke Syam.

Riwayat tentang Abdullah bin Abbas  menunjukan sikap tidak setuju pada Umar RA diceritakan oleh Imam Malik bin Anas.Keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Abu Ubaidah bin Jarrah adalah pemimpin pasukan yang dibawa Khalifah Umar saat kunjungan ke Syam.

Versi Abu Ubaidah, Umar tidak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab, “Saya tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain”. Penguat jawaban juga diajukan oleh sahabt senior yaitu Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.

Baca Juga:  Kisah Ulama Yang Membayar Apel Secara Mencicil

Kejadian wabah penyakit bukan hanya terjadi pada era modern ini, akan tetapi sudah pernah terjadi zaman Nabi, sahabat atau masa-masa abad pertengahan. Sikap yang baik adalah menjaga bagaimana tha’un tidak menyebar dan bisa diminimalisir dampaknya. Ash-shawabi Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG