Akhlak Islami, Apa Sih Artinya yang Sebenarnya?

Akhlak Islami, Apa Sih Artinya yang Sebenarnya

Pecihitam.org – Sering kita mendengar di Mimbar-mimbar Masjid atau dari ceramah-ceramah Da’i di Youtube tentang pentingnya memiliki Akhlak yang Islami. Sebetulnya apa maksudnya?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beberapa pendapat mengemukakan bahwa, sederhananya arti dari akhlak Islami adalah akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau perbuatan/sikap yang bersifat Islami. Penempatan Kata Islam di belakang kata akhlak dimaknai sebagai sifat.

Maka, pengertian akhlak yang Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran-ajaran agama Islam.

Sementara jika ditinjau dari sisi sifatnya yang universal, maka boleh dikatakan bahwa akhlak Islami juga bersifat universal. Namun, dalam proses penjabarannya yang universal ini sangat dibutuhkan bantuan pemikiran manusia dan kesempatan sosial yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.

Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang di samping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai yang bersifat lokal dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu.

Baca Juga:  Ajaran Akhlak Islami Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha

Contoh akhlak yang bersifat mutlak dan Universal adalah Menghormati kedua orang tua. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi di mana orang yang menjabarkan nilai universal itu berada.

Misalnya, Orang Jawa menghormati kedua orang tuanya salah satunya dengan cara sungkem sambil menggelesor di lantai. atau jika misalnya orang Sunda, ia biasanya menghormati orang tuanya dengan mencium tangan.

Dan bagi orang Sumatera, menghormati kedua orang tua dengan cara memeliharanya hidup bersama dengan anaknya. Selanjutnya bagi orang Barat berbuat baik kepada kedua orang tua mungkin dilakukan dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sebagainya.

Baca Juga:  Ibn Athaillah dan Karakter Tasawuf Yang Dimilikinya

Namun demikian, perlu ditegaskan di sini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika atau moral, walaupun etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama.

Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.

Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika atau moral.

Menurut Prof. Quraish Shihab ternyata makna Akhlak Islami lebih luas daripada yang telah dikemukakan sebelumnya serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.

Selain itu akhlak ini juga dapat dimaknai sebagai akhlak yang menggunakan tolok ukur ketentuan Allah. Quraish Shihab dalam hubungan ini mengatakan, bahwa tolok ukur kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Rumusan akhlak yang demikian itu menurut Quraish Shihab adalah rumusan yang diberikan oleh kebanyakan ulama.

Baca Juga:  Belajar dari Seekor Lebah, Menjadi Umat yang Tak Mudah Marah

Sedikit tambahan, bahwa sesuatu yang dinilai baik oleh Allah, pastilah baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.

Wallahu a’lam

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published.