Anggur Kecut Pemberian Petani Tua Kepada Rasulullah

rasulullah makan anggur

Pecihitam.org – Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari Rasulullah Muhammad SAW didatangi seorang petani miskin yang menyuguhkan sepiring anggur di hadapan beliau sambil berkata,

“Ya Rasul, anggur ini saya tanam dari hasil kerja keras saya sendiri. Saya ingin menyedekahkan ini, agar dapat dinikmati oleh Rasulullah.”

Rasul tersenyum menerima tawaran tersebut dengan mengucapkan terima kasih kepada petani miskin tersebut. Karena hal itu keinginan sang petani, Rasul pun kemudian makan anggur hasil jerih payahnya.

Petani tua miskin itu menyaksikan Nabi Muhammad Saw makan dan menikmati anggur-anggur di atas piring tersebut. Para sahabat di sekelilingnya heran dan bertanya-tanya mengapa Rasulullah hanya menikmati hidangan anggur itu sendirian, tanpa mempersilakan sahabat lain untuk ikut menikmatinya.

Sikap Rasulullah tersebut sempat mengundang tanda-tanya dalam beberapa saat. Karena tidak seperti biasanya Rasulullah makan dan menikmati hidangan makanan tanpa menawarkan sahabat lain untuk ikut-serta menikmatinya.

Setelah hidangan anggur itu dihabiskan oleh Rasulullah, petani miskin tersebut lantas pamit meninggalkan sang Rasul dengan rasa puas. Karena tahu gelagat para sahabat yang keheranan, tak berapa lama, Rasul pun menjelaskan mengapa beliau menghabiskan hidangan anggur itu sendirian.

“Ketahuilah bahwa rasa anggur-anggur itu sangat asam dan pahit. Sengaja saya habiskan hidangan itu sendirian karena khawatir kalian ikut makan akan mencibir dan menertawakan anggur yang dihidangkan petani tua itu.” kata Rasulullah.

Dialog sederhana antara Rasulullah Saw dan para sahabat itu mencerminkan bagaimana sikap dan akhlak sang Nabi dalam menyikapi makanan. Meski rasanya asam, namun beliau tetap memakannya dengan senang hati. Selain itu demi menjaga kehormatan petani tua itu Rasulullah sengaja tidak mengajak para sahabat makan karena khawatir mereka tidak siap dengan anggur tersebut.

Sebagai umatnya, sikap Rasulullah tersebut sudah selayaknya kita tiru. Kita tidak boleh cemberut dan bermuka-masam dalam menyikapi apapun makanan yang terhidang di hadapan kita.

Jika kita suka nikmatilah, tetapi jika tidak tetap harus menghargai usaha dan jerih-payah seseorang yang berniat baik untuk memberikan hidangannya kepada kita, baik dari tetangga, saudara, terlebih hidangan makanan yang disodorkan istri atau orang tua kita sendiri.

Pernah juga, suatu ketika saat penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah) Rasulullah menerima pemberian dari seorang saudagar kaya-raya beberapa baju sutera berkancing emas. Namun rupanya dalam soal pakaian Rasul tidak ingin terlihat mencolok dari para sahabat lainnya.

Beliau tak mau menampilkan diri laiknya raja yang bertahta bermahkota, kemudian duduk di atas singgasana, sementara rakyatnya tertunduk-tunduk sambil duduk menggelosor di hadapannya. Akhirnya beliau membagi-bagikan baju sutera tersebut untuk para sahabat, disisakan satu potong baju sutera yang kemudian diberikan pula kepada Miswar bin Makhramah (H.R Bukhari No. 2895).

Dilain waktu, para sahabat pernah minta penjelasan Aisyah mengenai karakter Rasulullah yang berbudi pekerti luhur, berprilaku seperti akhlaq Al-Quran. Aisyah pun menjelaskan, bahwa di samping penyantun, pemaaf, dan dermawan, dalam kepribadian Rasul tebersit jiwa kejujuran dan kesederhanaan hidup.

Itulah salah satu cermin dari sikap rahmatan lil alamin. Sudah sewajibnya kita sebagai umat Muslim meneladani sifat-sifat Rasulullah Saw. Bukan malah jauh dari contoh perilaku beliau dengan menampilkan Islam yang kaku, mudah menghasut dan suka marah-marah. Rasulullah sama sekali tak pernah mencontohkan yang demikian. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG