Surah As-Saffat Ayat 50-61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Saffat Ayat 50-61

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Saffat Ayat 50-61 ini, menerangkan bahwa orang-orang mukmin dalam surga duduk saling berhadap-hadapan dan berbincang-bincang satu sama lain sambil menikmati minuman yang disuguhkan kepada mereka. Betapa nikmatnya mengenang masa lampau mereka sewaktu dalam kesenangan dan ketenteraman hidup dalam surga. Mereka berbincang-bincang tentang pelbagai keutamaan dan pengalaman di dunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan di surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab. Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian yang meninggalkan kehidupan dunia.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Saffat Ayat 50-61

Surah As-Saffat Ayat 50
فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ يَتَسَآءَلُونَ

Terjemahan: Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.

Tafsir Jalalain: فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ (Lalu sebagian mereka menghadap) yakni sebagian penduduk surga عَلَىٰ بَعۡضٍ يَتَسَآءَلُونَ (kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap) mengenai apa yang telah mereka lakukan di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan tentang penghuni surga bahwa sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap mengenai kondisi mereka. Bagaimana mereka dahulu di dunia dan apa yang dahulu mereka alami. Itulah yang menjadi obrolan saat mereka minum dan berkumpul di tempat-tempat mewah dan senda gurau mereka di majelis-majelis mereka.

Mereka duduk-duduk di atas dipan-dipan, sedang para pelayan berada di hadapan mereka, pergi dan datang membawa berbagai kebaikan yang besar berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan tidak juga pernah terlintas di dalam benak manusia.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin dalam surga duduk saling berhadap-hadapan dan berbincang-bincang satu sama lain sambil menikmati minuman yang disuguhkan kepada mereka. Betapa nikmatnya mengenang masa lampau mereka sewaktu dalam kesenangan dan ketenteraman hidup dalam surga. Mereka berbincang-bincang tentang pelbagai keutamaan dan pengalaman di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang dibersihkan dari dosa itu kemudian saling berhadapan dan saling berbincang tentang ihwal mereka dan tentang keadaan mereka ketika masih di dunia.

Surah As-Saffat Ayat 51
قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡهُمۡ إِنِّى كَانَ لِى قَرِينٌ

Terjemahan: Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,

Tafsir Jalalain: قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡهُمۡ إِنِّى كَانَ لِى قَرِينٌ (Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu di dunia mempunyai seorang teman) yakni teman yang ingkar kepada adanya hari berbangkit.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡهُمۡ إِنِّى كَانَ لِى قَرِينٌ (“Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu [di dunia] mempunyai seorang teman.’”) Mujahid berkata: “Yaitu syaitan.” Al-Aufi meriwAyatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Yaitu, laki-laki musyrik yang memiliki seorang teman yang beriman di dunia.”

Antara pendapat Mujahid dan pendapat Ibnu ‘Abbas tidak saling bertentangan, karena syaitan ada yang berasal dari jenis jin yang membisikkan dalam hati [jiwa] serta ada pula syaitan dari jenis manusia yang mengatakan sesuatu yang terdengar oleh kedua telinga. Kedua pendapat ini saling menguatkan.

Firman Allah: يُوحِى بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورًا (“Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu [manusia].”)(al-An’am: 112). Masing-masing dari keduanya memberikan waswas, sebagaimana firman Allah:

ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (“Dari [kejahatan] syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.”)(an-Naas: 4-6)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan isi percakapan antara ahli surga. Seorang di antara mereka menceritakan kepada teman-temannya bahwa sewaktu hidup di dunia dia mempunyai seorang teman yang menanyakan kepadanya dengan nada mencemooh tentang keyakinannya akan hari kebangkitan dan hari Kiamat.

Temannya itu sangat mengingkari akan terjadinya hari kebangkitan dari kubur. Dengan penuh keheranan dan keingkaran, temannya di dunia itu mengatakan bahwa tidaklah mungkin dan sangat tidak masuk akal bilamana manusia yang sudah menjadi tanah dan tulang-belulang akan dihidupkan kembali dari dalam kubur. Lalu setelah itu diadakan perhitungan terhadap amal perbuatannya semasa hidup di dunia.

Menurut keyakinan orang kafir itu tidak ada lagi perhitungan antara kejahatan dan kebaikan, dan antara kufur dan iman. Semua perbuatan manusia sudah selesai diperhitungkan di dunia. Namun demikian, Allah menegaskan adanya perhitungan terakhir dengan firman-Nya:

Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran. Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (al-Mu’min/40: 58-59).

Tafsir Quraish Shihab: Saat itu salah seorang dari mereka berkata, “Dulu aku punya seorang teman yang musyrik. Ia selalu mendebatku dalam masalah agama dan ajaran-ajaran yang dibawa oleh al-Qur’ân.”

Surah As-Saffat Ayat 52
يَقُولُ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ

Terjemahan: yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?

Tafsir Jalalain: يَقُولُ (Yang berkata,) kepadaku dengan nada yang mengejek, أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ (‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan) adanya hari berbangkit?.

Tafsir Ibnu Katsir: يَقُولُ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ (“Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu [di dunia] mempunyai seorang teman yang berkata: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan [hari berbangkit?.’”) maksudnya, apakah engkau membenarkan hari berbangkit, hari dikumpulkan, hari perhitungan dan hari pembalasan? Yakni, dia mengatakan demikian karena merasa heran, mendustakan, menganggap mustahil, mengingkari dan membangkang.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan isi percakapan antara ahli surga. Seorang di antara mereka menceritakan kepada teman-temannya bahwa sewaktu hidup di dunia dia mempunyai seorang teman yang menanyakan kepadanya dengan nada mencemooh tentang keyakinannya akan hari kebangkitan dan hari Kiamat.

Temannya itu sangat mengingkari akan terjadinya hari kebangkitan dari kubur. Dengan penuh keheranan dan keingkaran, temannya di dunia itu mengatakan bahwa tidaklah mungkin dan sangat tidak masuk akal bilamana manusia yang sudah menjadi tanah dan tulang-belulang akan dihidupkan kembali dari dalam kubur. Lalu setelah itu diadakan perhitungan terhadap amal perbuatannya semasa hidup di dunia.

Menurut keyakinan orang kafir itu tidak ada lagi perhitungan antara kejahatan dan kebaikan, dan antara kufur dan iman. Semua perbuatan manusia sudah selesai diperhitungkan di dunia. Namun demikian, Allah menegaskan adanya perhitungan terakhir dengan firman-Nya:

Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran. Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (al-Mu’min/40: 58-59).

Baca Juga:  Surah Al-Mu'min Ayat 47-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: “Temanku itu,” katanya melanjutkan, berkata, “Apakah kamu mempercayai adanya kebangkitan setelah mati, perhitungan dan pembalasan?

Surah As-Saffat Ayat 53
أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ

Terjemahan: Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

Tafsir Jalalain: أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا (Apakah apabila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita) kedua huruf Hamzah pada ketiga tempat yang disebutkan di atas, yaitu A-innaka, A-idzaa dan A-innaa boleh dibaca Tahqiq dan boleh pula dibaca Tas-hil أَءِنَّا لَمَدِينُونَ (benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?’) maksudnya akan dibalas dan dihisab? Ia ternyata ingkar kepada hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ (“Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar [akan dibangkitkan] untuk diberi pembalasan?”) Mujahid dan as-Suddi mengatakan bahwa maksud Ayat ini adalah: “Sungguh mereka akan dihisab.” Ibnu ‘Abbas dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata: “Yaitu, apakah sungguh kita akan dibalas sesuai amal perbuatan kita?” kedua pendapat tersebut shahih.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan isi percakapan antara ahli surga. Seorang di antara mereka menceritakan kepada teman-temannya bahwa sewaktu hidup di dunia dia mempunyai seorang teman yang menanyakan kepadanya dengan nada mencemooh tentang keyakinannya akan hari kebangkitan dan hari Kiamat. Temannya itu sangat mengingkari akan terjadinya hari kebangkitan dari kubur.

Dengan penuh keheranan dan keingkaran, temannya di dunia itu mengatakan bahwa tidaklah mungkin dan sangat tidak masuk akal bilamana manusia yang sudah menjadi tanah dan tulang-belulang akan dihidupkan kembali dari dalam kubur. Lalu setelah itu diadakan perhitungan terhadap amal perbuatannya semasa hidup di dunia.

Menurut keyakinan orang kafir itu tidak ada lagi perhitungan antara kejahatan dan kebaikan, dan antara kufur dan iman. Semua perbuatan manusia sudah selesai diperhitungkan di dunia. Namun demikian, Allah menegaskan adanya perhitungan terakhir dengan firman-Nya:

Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran. Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (al-Mu’min/40: 58-59).

Tafsir Quraish Shihab: Apakah, setelah kita binasa dan menjadi debu dan tulang belulang, kita akan hidup lagi untuk diperhitungkan dan dibalas segala amal perbuatan kita?”

Surah As-Saffat Ayat 54
قَالَ هَلۡ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ

Terjemahan: Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berkata pulalah ia) yaitu penghuni surga yang mengatakan demikian kepada temannya هَلۡ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ (‘Maukah kamu melihat keadaan temanku itu?'”) maksudnya bersama-sama untuk melihat apa yang dialami temannya di dalam neraka? Temannya menjawab, “Tidak mau.”.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: قَالَ هَلۡ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ (“Berkata pulalah ia: ‘Maukah kamu meninjau [temanku itu]?’”) yaitu melihatnya. Orang mukmin tersebut berkata kepada para sahabat dan teman sejawatnya sesama penghuni surga.

Tafsir Kemenag: Penghuni surga itu berkata kepada teman-temannya supaya mereka mau meninjau keadaan ahli surga. Dengan peninjauan itu tentulah mereka akan bertambah syukur kepada Allah yang telah memberikan taufik kepada mereka untuk mengikuti petunjuk para nabi sehingga terlepas dari penderitaan api neraka.

Lalu ahli surga itu meninjau keadaan penghuni neraka, dan diperlihatkan kepada mereka kawan-kawannya yang kafir, sedang berada di tengah-tengah api neraka yang menyala-nyala. Pada waktu itu penghuni surga itu menuding kawannya yang berada di neraka itu, karena sewaktu di dunia hampir saja dia dijerumuskan ke dalam kekafiran oleh kawannya itu. Tetapi berkat taufik dan hidayah Allah yang dianugerahkan kepadanya, terhindarlah dia dari pengaruh paham kawannya yang kafir itu, dan selamatlah ia dari azab nereka.

Percakapan antara penghuni surga dan neraka itu diterangkan Allah pula dalam firman-Nya: Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang zalim. (al-A.’raf/7: 44)

Firman Allah: Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (al-A.’raf/7: 50).

Tafsir Quraish Shihab: Orang itu melanjutkan berkata kepada teman-temannya, “Wahai penghuni surga, apakah kalian menyaksikan penghuni neraka sehingga melihat temanku itu?”

Surah As-Saffat Ayat 55
فَٱطَّلَعَ فَرَءَاهُ فِى سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ

Terjemahan: Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.

Tafsir Jalalain: فَٱطَّلَعَ (Maka ia meninjaunya) yakni orang yang mengatakan demikian itu dari sebagian jendela surga فَرَءَاهُ (lalu ia melihat temannya itu) yaitu temannya yang ingkar kepada adanya hari berbangkit itu فِى سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ (di tengah-tengah neraka menyala-nyala) berada di tengah-tengah neraka Jahim.

Tafsir Ibnu Katsir: فَٱطَّلَعَ فَرَءَاهُ فِى سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ (“Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu [berada] di tengah-tengah neraka [yang] menyala-nyala.”) Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Khalid al-‘Ashri, Qatadah, as-Suddi dan ‘Atha’ ak-Kharasani berkata: “Maksudnya di tengah-tengah neraka jahim.”

Tafsir Kemenag: Penghuni surga itu berkata kepada teman-temannya supaya mereka mau meninjau keadaan ahli surga. Dengan peninjauan itu tentulah mereka akan bertambah syukur kepada Allah yang telah memberikan taufik kepada mereka untuk mengikuti petunjuk para nabi sehingga terlepas dari penderitaan api neraka.

Lalu ahli surga itu meninjau keadaan penghuni neraka, dan diperlihatkan kepada mereka kawan-kawannya yang kafir, sedang berada di tengah-tengah api neraka yang menyala-nyala.

Pada waktu itu penghuni surga itu menuding kawannya yang berada di neraka itu, karena sewaktu di dunia hampir saja dia dijerumuskan ke dalam kekafiran oleh kawannya itu. Tetapi berkat taufik dan hidayah Allah yang dianugerahkan kepadanya, terhindarlah dia dari pengaruh paham kawannya yang kafir itu, dan selamatlah ia dari azab nereka.

Percakapan antara penghuni surga dan neraka itu diterangkan Allah pula dalam firman-Nya: Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang zalim. (al-A.’raf/7: 44)

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 171-179; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman Allah: Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (al-A.’raf/7: 50).

Tafsir Quraish Shihab: Pandangannya pun tertuju ke neraka. Lalu ia melihat teman lamanya itu berada di tengah-tengahnya: tersiksa oleh api neraka.

Surah As-Saffat Ayat 56
قَالَ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ

Terjemahan: Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,

Tafsir Jalalain: قَالَ (Ia berkata pula) dengan nada mengejek, تَٱللَّهِ (“Demi Allah, sesungguhnya) lafal In di sini adalah bentuk Takhfif dari Inna إِن كِدتَّ (kamu benar-benar hampir) kamu hampir saja لَتُرۡدِينِ (mencelakakanku) membinasakan aku melalui penyesatanmu itu.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ (“Ia berkata [pula]: ‘Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku.’”) Orang mukmin berkata kepada orang kafir: “Demi Allah, hampir-hampir engkau mencelakaiku seandainya aku mentaatimu.”

Tafsir Kemenag: Penghuni surga itu berkata kepada teman-temannya supaya mereka mau meninjau keadaan ahli surga. Dengan peninjauan itu tentulah mereka akan bertambah syukur kepada Allah yang telah memberikan taufik kepada mereka untuk mengikuti petunjuk para nabi sehingga terlepas dari penderitaan api neraka.

Lalu ahli surga itu meninjau keadaan penghuni neraka, dan diperlihatkan kepada mereka kawan-kawannya yang kafir, sedang berada di tengah-tengah api neraka yang menyala-nyala. Pada waktu itu penghuni surga itu menuding kawannya yang berada di neraka itu, karena sewaktu di dunia hampir saja dia dijerumuskan ke dalam kekafiran oleh kawannya itu. Tetapi berkat taufik dan hidayah Allah yang dianugerahkan kepadanya, terhindarlah dia dari pengaruh paham kawannya yang kafir itu, dan selamatlah ia dari azab nereka.

Percakapan antara penghuni surga dan neraka itu diterangkan Allah pula dalam firman-Nya: Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang zalim. (al-A.’raf/7: 44)

Firman Allah: Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (al-A.’raf/7: 50).

Tafsir Quraish Shihab: Ketika melihatnya, ia berkata, “Demi Allah, kamu hampir saja membinasakanku di dunia dulu, kalau aku mematuhimu bersikap kufur dan berbuat maksiat.

Surah As-Saffat Ayat 57
وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّى لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ

Terjemahan: jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

Tafsir Jalalain: وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّى (Jika tidak karena nikmat Rabbku) atas diriku yaitu berupa iman لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ (pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret) bersamamu ke dalam neraka. Dan penduduk surga berkata,.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّى لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ (“Jikalau tidak karena nikmat Rabb-ku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret [ke neraka].”) yaitu seandainya bukan karena karunia Allah kepadaku, niscaya aku akan menjadi seperti kamu berada di dalam neraka jahim yang termasuk orang yang diseret bersamamu ke dalam siksaan. Akan tetapi, Dia mengkaruniai dan merahmati aku, lalu Dia memberiku hidayah kepada keimanan dan mengarahkanku untuk mentauhidkan-Nya.

وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِىَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ (“dan kami sekali-sekali tidak akan mendapat hidayah petunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk.”)(al-A’raaf: 43)

Tafsir Kemenag: Penghuni surga itu berkata kepada teman-temannya supaya mereka mau meninjau keadaan ahli surga. Dengan peninjauan itu tentulah mereka akan bertambah syukur kepada Allah yang telah memberikan taufik kepada mereka untuk mengikuti petunjuk para nabi sehingga terlepas dari penderitaan api neraka.

Lalu ahli surga itu meninjau keadaan penghuni neraka, dan diperlihatkan kepada mereka kawan-kawannya yang kafir, sedang berada di tengah-tengah api neraka yang menyala-nyala. Pada waktu itu penghuni surga itu menuding kawannya yang berada di neraka itu, karena sewaktu di dunia hampir saja dia dijerumuskan ke dalam kekafiran oleh kawannya itu. Tetapi berkat taufik dan hidayah Allah yang dianugerahkan kepadanya, terhindarlah dia dari pengaruh paham kawannya yang kafir itu, dan selamatlah ia dari azab nereka.

Percakapan antara penghuni surga dan neraka itu diterangkan Allah pula dalam firman-Nya: Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang zalim. (al-A.’raf/7: 44)

Firman Allah: Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (al-A.’raf/7: 50).

Tafsir Quraish Shihab: Kalau tidak karena nikmat Tuhanku yang berupa hidayah dan restu-Nya kepadaku untuk beriman kepada Allah dan kebangkitan, tentu aku akan seperti kamu: dijebloskan ke dalam siksa.

Surah As-Saffat Ayat 58
أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ

Terjemahan: Maka apakah kita tidak akan mati?,

Tafsir Jalalain: أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ (Maka apakah kita tidak akan mati.).

Tafsir Ibnu Katsir: أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ (Maka apakah kita tidak akan mati?,)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan di surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab.

Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian yang meninggalkan kehidupan dunia. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian di dunia, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam.

Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di surga itu adalah kemenangan yang besar. Untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah di dunia.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 20-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Apakah kita akan kekal dalam kenikmatan surga dan selamanya tidak akan mati selain mati yang pertama di dunia? Dan apakah kita tidak akan merasakan siksa setelah masuk surga?

Surah As-Saffat Ayat 59
إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ

Terjemahan: melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?

Tafsir Jalalain: إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ (Melainkan hanya kematian kita yang pertama) yakni kematian kita di dunia وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (dan kita tidak akan disiksa di akhirat ini?”) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna menetapkan kenikmatan yang mereka rasakan dan sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada diri mereka, yaitu mereka dijadikan hidup abadi dengan penuh kenikmatan dan tidak disiksa untuk selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Melainkan hanya kematian kita yang pertama saja [di dunia], dan kita tidak akan disiksa [di akhirat ini]?”) ini adalah di antara ucapan orang mukmin sebagai ungkapan kegembiraan dirinya terhadap sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah berupa kekekalan di dalam surga dan tinggal di tempat kemuliaan, tanpa kematian dan siksaan di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan di surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab.

Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian yang meninggalkan kehidupan dunia. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian di dunia, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam.

Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di surga itu adalah kemenangan yang besar. Untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah kita akan kekal dalam kenikmatan surga dan selamanya tidak akan mati selain mati yang pertama di dunia? Dan apakah kita tidak akan merasakan siksa setelah masuk surga?

Surah As-Saffat Ayat 60
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Terjemahan: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّ هَٰذَا (Sesungguhnya ini) yakni apa yang Aku jelaskan mengenai keadaan penduduk surga لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (benar-benar kemenangan yang besar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (“Sesungguhnya ini benar-benara kemenangan yang besar.”)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan di surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab. Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian yang meninggalkan kehidupan dunia.

Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian di dunia, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam.

Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di surga itu adalah kemenangan yang besar. Untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kemuliaan di surga yang diberikan Allah kepada kita adalah suatu kemenangan yang amat besar. Kemuliaan itu juga merupakan keselamatan terbesar dari siksa Allah yang selalu kita takuti di dunia.”

Surah As-Saffat Ayat 61
لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ

Terjemahan: Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

Tafsir Jalalain: لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ (Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang beramal) menurut suatu pendapat, bahwa perkataan ini ditujukan kepada mereka. Dan menurut pendapat yang lain disebutkan, bahwa merekalah yang mengatakan demikian.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ (“Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.”) Qatadah berkata: “Ini adalah ungkapan penghuni surga.” Ibnu Jarir berkata: “Ini adalah kalam Allah. Maknanya adalah, untuk [mendapatkan] kenikmatan dan kemenagan seperti ini, hendaklah orang-orang yang bekerja berusaha di dunia ini agar mereka sampai kepadanya di akhirat kelak.”

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan di surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab. Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian yang meninggalkan kehidupan dunia.

Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian di dunia, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam.

Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di surga itu adalah kemenangan yang besar. Untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Untuk mendapatkan kemuliaan seperti yang diterima oleh orang-orang Mukmin di akhirat itu, hendaknya orang-orang yang berbuat di dunia itu berusaha untuk mendapatkan seperti yang mereka dapatkan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Saffat Ayat 50-61 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S