Wahabi Mengharamkan Al-Barzanji, Katanya Terlalu Berlebihan Memuji Nabi SAW, Benarkah? (Bag I)

Wahabi Mengharamkan Al-Barzanji, Katanya Terlalu Berlebihan Memuji Nabi SAW, Benarkah? (Bag I)

PeciHitam.org Manusia termulia yang pernah hidup di Dunia yakni Nabi Muhammad SAW yang mana beliau sudah  tergaransi menjadi panutan seluruh manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Profil dan Kedudukan beliau yang sangat mulia banyak tergambar dalam kitab-kitab pujian yang berupa burdah atau shalawat. Untuk menyebutkan pujian kepada Baginda Rasulullah SAW sudah banyak tertulis melalui pena Ulama seperti Maulid Al-Barzanji.

Kitab yang bernama asli ‘Iqdul Jauhar fi Maulidi Nabiyyil Azhar, Untaian Permata dalam Memuji Penghulunya Nabi. Akan tetapi kitab masyhur ini banyak mendapat penolakan sebagaimana banyak dilontarkan dari para da’i dari golongan salafi wahabi. Disebutkan bahwa pujian kepada Nabi SAW berlebihan. Benarkah? Berikut Ulasannya!

Redaksi yang Dianggap Ghuluw

Dalil utama golongan salafi wahabi untuk menunjukan ketidak-sukaan mereka terhadap kitab Maulid ‘Iqdul Jauhar adalah dengan menyebut kitab tersebut berlebihan ketika menyanjung Nabi SAW. Kitab yang ditulis oleh Syaikh Ja’far Al-Barzanji tersebut kemudian digiring dan dikategorikan sebagai kitab bid’ah penyebab kekufuran.

Sudah barang tentu bagi Muslim yang akrab dengan kitab tersebut tidak dapat mendiamkan apa yang dilontarkan oleh orang salafi wahabi. Bagaimana mungkin kesalahan dalam tuduhan terus didiamkan dan dengan leluasa terus menuduh orang Muslim Pengamal Al-Barzanji sebagai orang ahlu Bid’ah.

Kesukaan golongan salafi wahabi ketika menuduh ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan ghuluw (berlebihan) ketika memuji Rasulullah SAW bukan tidak memiliki dasar.

Baca Juga:  Hati-hati! Begini Perkembangan Gerakan Wahabi Salafi di Indonesia

Walaupun dasar yang digunakan untuk menuduh berlebihannya pujian kepada Rasul menunjukan kenaifan/ keluguan dan kedangkalan dalam interpretasi teks.

Salafi wahabi dalam laman Nahimunkar.com menyebutkan poin-poin ghuluw dalam kitab Maulid al-Barzanji sebagai berikut;

فِيْكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ ياَ بَشِيْرُ ياَ نَذِيـْـُر        فَأَغِثْنِيْ وَأَجِـــن ياَ مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ         يَاغَيَاثِيْ يَا مِــلاَذِيْ فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُــوْرِ

Artinya; Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan. Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir. Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting).

Narasi yang dibangun oleh situs tersebut bahwa pujian tersebut sangat berlebihan, ghuluw, yang menempatkan Nabi SAW tidak pada kedudukannya. Afiliasi pemikiran kepada salafi wahabi tersebut juga menunjukan syair yang diklaim ghuluw sebagai berikut;

Baca Juga:  Manhaj Salaf ala Wahabi Hanyalah Sebatas Pengakuan Sepihak Mereka Saja

وَماَ زَالَ نُوْرُ الْمُصْطَفَى مُتْنَقِلاً مِنَ الطَّيِّبِ اْلأَتْقَي لِطاَهِرِ أَرْدَانٍ

Artinya; “Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni

Pelurusan Klaim Salah

Meluruskan pandangan salafi terhadap tuduhan mereka yang beranggapan bahwa Maulid Al-Barzanji adalah biang bid’ah sama seperti mengajari orang  keras kepala, Menunjukan dalil normatif, rasional, baik Aqli ataupun Naqli hanya seperti angin lalu. Maka kerancuan mereka terletak kepada kebebalan dalam menerima argumentasi ilmiah.

Sebagaimana tuduhan terhadap teks syair Al-Barzanji yang menyifati Nabi Muhammad SAW sebagai seorang ‘ياَ بَشِيْرُ’ bermakna Sang Pemberi Kabar Gembira dan ‘ياَ نَذِيـْـُر’ Sang Pemberi Peringatan terlalu berlebihan. Salafi Wahabi beranggapan berlebihannya syair tersebut karena beririsan dengan Sifat Allah SWT.

Sedangkan Allah SWT sendiri menyifati Nabi Muhammad SAW dengan redaksi ‘ياَ بَشِيْرُ ياَ نَذِيـْـُر’ dalam Al-Qur’an sebagaimana dalam surat Saba’ 28,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨

Baca Juga:  Wahabi Mengharamkan Al-Barzanji, Katanya Terlalu Berlebihan Memuji Nabi SAW, Benarkah? (Bag II)

Artinya; “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (Qs. Saba’: 28)

Narasi yang dibuat oleh Nahimunkar.com menuliskan bahwa syair tersebut ‘Mengangkat Melebihi Derajat Kenabian dan Menjadikannya Sekutu Bagi Allah SWT’. Narasi yang dibuat dengan sangat tendensius dan dangkal pengetahuan. (bersambung Bagian II).

Ash-Shawabu Minalla

Mohammad Mufid Muwaffaq