Cara Bisnis Sahabat Abdurrahman bin Auf yang Patut Diteladani

bisnis abdurrahman bin auf

“Segala sesuatu yang aku pegang jadi emas” Abdurrahman bin Auf.

Pecihitam.org Satu pernyataan, “Aku melihat diriku kalau seandainya aku mengangkat sebuah batu aku akan mendapatkan emas atau perak.” diungkapkan Abdurrahman bin Auf, karib dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Abdurrahman bin Auf bukan pribadi yang berpikir sempit. Ia tidak hidup dalam kemewahan dan abai terhadap sekitar. Orang kedelapan yang menyatakan diri sebagai Muslim di hadapan Rasulullah Saw. ini mengungkapkan kalimat di atas karena ia bersyukur sebab telah dianugerahi Allah Swt. sebagai saudagar yang genius.

Kisah bisnis sahabat Abdurrahman bin Auf bermula ketika ia ikut hijrah ke Madinah. Seluruh kekayaan yang selama ini ia kumpulkan tiba-tiba ‘ludes’ setelah dirampas penguasa Quraisy. Ia pun datang ke Madinah tanpa membawa harta sama sekali.

Di Madinah, Rasulullah Saw. mempersaudarakan orang-orang Muhajirin yang kebanyakan pedagang dengan orang-orang asli Madinah yang mayoritas petani, tak terkecuali Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan seorang hartawan.

Dalam sebuah riwayat diungkapkan Anas bin Malik. Ia menyatakan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Saat itu Sa’ad Al-Anshari mempunyai dua orang istri dan terkenal sangat kaya.

Baca Juga:  Bukti Sejarah Istighotsah Dan Tawassul Amalan Ulama Salaf Dan Khalaf

Lantas, ia pun menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Istri Sa’ad akan diceraikan lalu diserahkan kepada Abdurrahman setelah masa ‘iddahnya. Mendapat tawaran luar biasa ini, sikap Abdurrahman bin Auf sungguh di luar dugaan.

“Semoga Allah Swt. memberkahimu dalam keluarga dan hartamu,” jawab Abdurrahman setelah menerima tawaran tersebut.

“Cukup tunjukkan kepadaku di mana lokasi pasar berada,” lanjut Abdurrahman bin Auf.

Selama di Madinah, sahabat Abdurrahman bin Auf merintis bisnis kembali dari nol. Ia terkenal dengan usaha keju dan minyak samin. Setelah itu, tidak membutuhkan waktu lama, laba perdagangan Abdurrahman meningkat. Ia menjadi saudagar lintas negara; dari Yaman, Syam. Bahkan tak sedikit barang-barang yang didatangkan ke Madinah konon berasal dari wilayah China.

Abdurrahman bin Auf terkenal sebagai pedagang yang genius sekaligus cerdik. Saat pergi ke pasar, ia tak hanya berdagang, tapi  juga mengamati secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, lapak-lapak yang ditempati pedagang tersebut ternyata milik saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana menyewa tanah tersebut, tak jauh berbeda dengan pedagang sekarang yang menyewa kios.

Abdurrahman mempunyai ide kreatif yakni upaya untuk memutus hegemoni saudagar Yahudi. Ia pun meminta tolong kepada saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang ada di samping pasar. Tanah tersebut lalu dipetak-petakan dan ada fasilitas sumur. Siapa pun boleh mengambil air dan berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa.

Baca Juga:  Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah Sebagai Suri Tauladan Yang Baik

Jika mereka mendapat keuntungan saat berdagang di sana, ia mengimbau pada para pedagang untuk bagi hasil seikhlasnya. Tentu saja para pedagang gembira sebab biaya operasional yang biasa dikeluarkan berkurang banyak. Singkat cerita, para pedagang pun berbondong-bondong pindah ke pasar yang dikembangkan oleh Abdurrahman bin Auf.

Sikap mandiri, pekerja keras, dan ulet dalam berdagang merupakan karakter kuat Abdurrahman bin Auf.  Sikap ini tentu menginspirasi penduduk sekitar sehingga seluruh Muslimin yang ada di Madinah bangkit dan bekerja menjadi petani, pedagang, dan buruh.

Pada saat itu, tidak ada di antara mereka yang menganggur. Apa yang dilakukan Abdurrahman kemudian dijadikan contoh bagaimana seorang Muslim bangkit dari kehidupannya.

Pada masa Nabi, Abdurrahman bin Auf juga menyedekahkan setengah hartanya. Ia lalu bersedekah lagi sebanyak empat puluh ribu dinar. Ia menyerahkan lima ratus kuda dan lima ratus unta. Dalam sebuah literatur disebutkan, dalam sehari ia bisa memerdekakan tiga puluh budak.

Baca Juga:  Makna Jazakallah Khairan, Cara Menjawab dan Keutamaannya

Ketika hendak wafat, Abdurrahman bin Auf menangis tersedu. Sahabat-sahabat yang berada di sekitarnya lantas bertanya, “Beban apa yang membuatmu begitu sedih?”

Abdurrahman menjawab, “sesungguhnya Mush’ab bin Umair lebih baik daripadaku. Ia meninggal di masa Rasulullah Saw. dan ia tidak mempunyai apa pun untuk dikafani. Hamzah bin Abdul Muththallib juga lebih baik dariku. Kami tidak mendapatkan kafan untuknya. Sesungguhnya aku takut bila aku menjadi seorang yang dipercepat kebaikannya di kehidupan dunia. Aku takut ditahan dari sahabat-sahabatku karena banyaknya hartaku.”

Terakhir, teladan yang bisa diambil dari kisah sahabat Abdurrahman bin Auf adalah lafadz doa yang sering diucapkan ketika tawaf di depan ka’bah. “Ya Allah, lindungilah aku dari kebakhilan diriku sendiri!”

Ayu Alfiah