Gus Baha: Kisah Santri Nakal Naksir Sama Putri Kyai

Gus Baha, Kisah Santri Nakal Naksir Dengan Putri Kyai

Pecihitam.org – Kali ini dalam sebuah kajian Gus Baha menceritakan tentang kisah lucu di dunia wali. Dulu di Makkah ada wali yang bernama Zambil seorang alim ulama yang memiliki anak perempuan yang cantik, dan banyak santri yang menyukai putri dari alim ulama tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Karena mereka berpikir kalau jadi menantu seorang kyai itu ya luar biasa, bisa langsung jadi seorang kyai melejit nasabnya kan bagus dari pada membuat nasab sendiri kan repot. Cangkokan terus anaknya di panggil gus atau ning kan damai dari pada berkarir sendiri, bergulat kan panjang urusannya” kata Gus Baha.

Kalau di Makkah tidak ada alasan bagi santri untuk masuk dapur sehingga satu-satunya cara adalah dengan menjadi seorang tukang air. Jadi, santri tersebut memilih untuk menjadi tukang air agar dapat melihat putri Kyainya.

“Kalau urusan air itu kan ekstrim sekali karena kelasnya di taruh ke dalam jading (kolah), padahal jading itu paling rawan seseorang membuka aurat.” Akhirnya dia pun melihat putri dari alim ulama tersebut membuka aurat.

Selain itu santri tadi juga menjual air tersebut dengan harga yang murah dan dia tidak menjual di tepat lain karena tidak ada kepentingan dengan yang lainnya. Lama-lama hal ini pun di ketahui oleh sang Syekh, entah karena kewaliannya atau karena menyadari adanya indikator yang lain karena tidak mungkin seorang tukang air hanya menjual air di tempat itu saja dan tidak ketempat atau rumah yang lainnya.

Baca Juga:  Cerita Gus Baha’ Tentang Ekstremis yang Bertemu dengan Kiai Alim

Akhirnya, Syekh pun bertanya “ Cung, kalau kamu mau jadi menantuku itu gampang. Tidak perlu kamu susah-susah jadi tukang air”. Lalu di jawab oleh santrinya “ Lha kenapa mbah?”

Di jawab oleh Syekh “Kamu sholat di Masjidil Haram 40 hari di shaff yang awal tidak boleh lengah. Nanti di hari ke 40 bilang ke saya maka langsung akan aku nikahkan kamu dengan putri ku “

Mendengar ucapan dari Syekh tersebut maka si santri pun dengan antusias segera melakukannya, di mulai pada hari ahad ia melakukan sholat di masjidil Haram di shaff yang paling awal dan tidak pernah lengah.

“Sholat pertama masih demi seorang wanita, hari kedua demi menjadi seorang menantu kyai, sampai di hari ke 10 sudah beda dan dia baru menikmati ibadahnnya, makanya masyhur. Itulah sebabnya penting untuk saya memberi fatwa kepada kalian, jadi masyhur ibadah pertama tidak harus ikhlas nanti lama-lama juga ikhlas sendiri” kata Gus Baha.

Baca Juga:  Gus Dur dan Kisah Kepala Ikan untuk Makan Anjing di Baghdad

Sama halnya dengan Imam Al-Ghazali dulu masuk pesantren itu bukan untuk mencari ilmu melainkan ia ingin mencari makan, karena dulu ia adalah seorang yang miskin dan yatim. Harta bapaknya yang telah habis, lalu kerabatnya memiliki inisiatif cara mendapatkan makan adalah dengan masuk pesantren oleh sebab itu Imam AlGhazali di masukkan pesantren.

Lanjut ke cerita santri tadi, pas hari ke 40, dia lupa sama niat awalnya karena saking nikmatnya dan tetap melaksanakan sholat. Lalu di jemput oleh si Syekh dan di gandeng untuk di ajak pulang. “Ayok pulang cung”, dan di jawab oleh santrinya “ la mau apa Syekh?”.

“Ya pulang terus nikah, ini kan sudah hari ke 40 jadi sudah waktunya saya nikahkan kamu dengan anak saya” kata ulama tadi.

Namun malah dijawab lagi oleh santrinya, “Wah ngawur ya Syeikh, masa sholat saya mau di tukar sama anakmu, jamaah 40 hari itu upahnya adalah bebas dari api neraka” Syekh pun terkejut karena santrinya tersebut berkata tidak mau di nikahkan dengan putrinya.

Baca Juga:  Sampaikan Pesan Buat Fans K-Pop, Gus Baha: Jangan Berlebihan, Tidak Baik

Lalu setelah pulang justru syekh Zambil yang berbalik meminta sama sang santri itu, “Serius cung, aku minta kamu mau jadi menantuku karena saya ingin memiliki menantu yang ikhlas”

Jadi akhirnya Syekh Zambil mendapatkan menantu yang ikhlas dan si santri juga mendapatkan barokahnya ikhlas yaitu di nikahkan dengan seorang putri dari Syekh Zambil.

*Kisah ini diterjemahkan dari kajian KH Bahaudin Nursalim, versi bahasa aslinya bisa dilihat disini.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik