Hoax Pada Masa Nabi Muhammad

Hoax Pada Masa Nabi Muhammad

PeciHitam.org – Sejarah awal terjadinya hoax atau pemberitaan bohong pertama kali adalah yang sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-A‘raf ayat 20, yakni saat Nabi Adam dibujuk oleh setan untuk memakan buah khuldi. Nah, disini kita akan membahas, adakah hoax pada masa Nabi Muhammad? Sebelum itu, kita akan menceritakan terlebih dulu

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setan mengatakan bahwa Allah hanya melarang mendekati pohon (tetapi memakannya tidak dilarang). Dan saat itu pula Nabi Adam dan Siti Hawa memakan buah tersebut, hingga pada akhirnya aurat Nabi Adam dan Siti Hawa terbuka dan baru menyadari bahwa setan memberikan informasi yang tidak benar hingga Allah murka kepada mereka.

Singkat cerita, Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi, dan dipisahkan selama bertahun-tahun. Pada saat saling mencari agar dapat bersatu kembali, mereka bertaubat kepada Allah dan menyesali dari kesalahan yang telah dilakukannya.

Dan pada saat zaman nabi, fenomena hoax yang paling membuat gaduh adalah hoax tentang Siti Aisyah yang dituduh berzina dengan ‘Abd Allah bin ‘Ubay sebagaiamana yang telah disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (hadis yang pertama disebutkan dalam tulisan ini).

Baca Juga:  Ini Daftar 22 Hoax di Bulan April, Kominfo: Banyak Terkait Pilpres 2019

Saat itu, kondisi sosial Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang menganut sistem patriarki, di mana pada zaman itu para wanita hanya diizinkan menmpati wilayah domestik (dapur, kasur, sumur), sehingga para wanita cenderung tidak memiliki kebebasan untuk bersosial.

Jadi ketika ada seorang wanita yang keluyuran meninggalkan rumah tidak bersama dengan muhrim, hal itu dianggap tabu oleh masyarakat di zaman nabi. Dan akhirnya kejadian ini diceritakan oleh siti Aisyah langsung yang dimuat dalam kitab Asbab al-Nuzul karya al-Suyuti. Beliau bercerita:

“Kebiasaan Nabi ketika berangkat perang, mengundi istri-istrinya (untuk menetapkan siapa yang ikut). Dalam suatu peperangan, aku mendapat bagian ikut atas dasar undian yang keluar.Untuk itu akupun berangkat mengikutinya. Saat diturunkan perintah hijab (tutup bagi istri Nabi). Akupun diangkut pada sebuah kendaraan dan berangkatlah mengikuti perang. Dalam perjalanan pulang, aku singgah di suatu tempat dekat Madinah. Saya diberi izin mengendarai sendiri, akupun berjalan sendiri, sementara itu beberapa rombongan tentara telah melewati saya. Ketika suatu rombongan akan berangkat, aku meraba dadaku, ternyata sambungan kalung yang terbuat dari bahan tulang telah patah.”

Baca Juga:  Kisah Heroik Nabi Daud Melawan Jalut Hanya dengan Senjata Ketapel

“Aku keluar dari kendaraan untuk mencari kalung tersebut. Waktu tersita karena mencari kalung. Saat itu rombonganku berangkat. Sukduf tempat aku tinggal, berjalan tanpa isi. Mereka mengira aku di dalamnya. Aisyah berkata lagi bahwasanya badan dia saat itu memang masih ringan, tidak berlemak, tidak makan kecuali sedikit. Tidak mengherankan jika orang mengira kalau Aisyah belum naik kendaraannya. Kemudian mereka memberangkatkan ontanya tanpa dirinya. Siti Aisyah kemudian menemukan kalungnya di suatu tempat, di mana tentara berangkat. Kemudian dia kembali pada rombongannya. Aisyah memanggil-manggil namun tidak ada jawaban.”

“Dia berniat untuk tetap berada di tempat itu dan berharap mereka kembali menjemputnya setelah mereka merasa kehilangan. Saat Siti Aisyah tinggal di tempat tersebut, beliau mengantuk, dan tertidur. Saat itu ada seorang tentara yang bernama Safwan bin Ma’tal sedang meneliti prajuritnya. Ketika itu menjelang shubuh, rupanya Safwan melihat sosok tubuh manusia tertidur. Ia pun berusaha mempertegas penglihatannya ketika melihat Aisyah.”

Kejadian pemberitaan bohong ini merupakan kejadian yang sangat meresahkan Nabi Muhammad. Bahkan, beliau menunggu wahyu yang tidak kunjung turun untuk menjawab kejadian yang luar biasa tersebut.

Baca Juga:  Masih Ingat Zaid yang Memukuli Amr? Begini Nasibnya Sekarang

Hingga pada akhirnya wahyu dari Allah turun kepada Nabi, dan isi dari wahyu tersebut menjelaskan bahwa Aisyah dan orang yang dituduh bersamanya berbuat zina telah dibebaskan oleh Allah. Maksudnya adalah keduanya dibebaskan dari fitnah, karena memang kenyataannya mereka tidak bersalah (tidak berzina).

Demikianlah salah satu hoax pada masa Nabi Muhammad yang sangat masyhur di kalangan Umat Islam. Untuk itu, kita perlu berhati hati sebelum menyebarkan sebuah berita.

Mohammad Mufid Muwaffaq