Gus Dur Tak Perlu Dibela

gus dur tak perlu dibela

… di tengah karut-marutnya persoalan kebangsaan, kepergian Gus Dur adalah suatu immortal death, kematian yang tak pernah mati, kematian yang justru mengumandangkan gema kehidupan (baru)

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pecihitam.org – Kutipan di atas terdapat pada pengantar redaksi satu buku disertasi “Ijtihad Politik Gus Dur” karya Munawar Ahmad, 2010 silam. Naik terbit pada warsa pertama setelah Gus Dur mangkat (2009). Ya, kepergian Gus Dur adalah bak kumandang azan-persuasif bagi lahirnya sembahyang-bangsa yang lebih khusyuk di negeri ini. Gus Dur pulang, bukan pergi. Gus Dur pergi, tapi menghidupkan nurani. Kita sedih, tapi kesedihan bukanlah yang Gus Dur ingini.

Gus Dur membabat alas, membuat jalan-jalan, menepikan belukar berduri, membuat satu pondasi bagi kemanusiaan kita bahwa kita setara sebagai manusia, egaliter. Superioritas adalah watak antagonis yang perlu dikikis dalam keindonesiaan kita. Gus Dur memasang satu penyangga moral yang tak boleh kita abaikan, apalagi membikin aus. Rusak.

Sekarang, siapa yang tidak merindu Gus Dur? Hampir semua orang yang cinta akan kemanusiaan dan hidup harmonis merindukan kehadiran Gus Dur. Tapi, apa makna kehadiran sosok Guru Bangsa itu? Secara fisis Gus Dur telah tiada. Maka boleh dikata kerinduan akan kehadirannya adalah lebih merupakan kerinduan batin. Bagaimana ide, gagasan, pemikiran, dan tawaran-tawaran ilmiah Gus Dur bukan cuma hadir, tapi hidup dan menghidupi alam keindonesiaan ini.

Baca Juga:  Gus Dur dan Ketertarikannya dengan Kebudayaan Perancis

Fakta polarisasi terkotak-kotak, kesalingan curiga, fanatisme buta, disintegrasi bangsa, sparatis-kebhinekaan, dan lain sebagainya dalam gelombang ekses perpolitikan warsa-warsa sekarang tampak butuh kucuran ide dan praksis ala Gus Dur. Kita seakan ditarik pusaran arus kuat untuk menjadi bangsa yang terpecah. Hajat politik kekuasaan lima-tahunan menendang dimensi kemanusiaan kita. Partisan politik bak robot pembuntut kepentingan “kekuasaan” yang mau melakukan apa saja asal “kepentingan” si bos terlaksana. Allahu kariim …

Entah, penulis pribadi masih sulit menerka siapa sosok politisi atau figur publik yang minimal berkapasitas Gus Dur. Apalagi lebih dari Gus Dur? Tampaknya belum muncul. Sepasal itu, kajian-kajian berasas dan atas pemikiran Gus Dur selalu, selalu, dan akan selalu relevan untuk digalakkan. Semacam lokus diskursus lintas iman atau Gusdurian. Bertujuan apa? Sederhana, hemat penulis, agar kita kembali menjadi manusia. Manusia berhati, berakal-budi. Tak pandang Agama, suku, dan ras; manusia yang holistik setara.

Kita tentu amat paham bahwa Gus Dur sosok humoris. Kelakar, lelucon, jokes, humor-humor Gus Dur merupakan bagian tak boleh dilewatkan ketika membincang ihwal Bapak Bangsa kita itu. Betapa Agama dan politik, oleh Gus Dur, diterakan ke khalayak ramai bukan dengan wajah seram menakutkan. Humor adalah watak tersendiri dari intelek Gus Dur. Orang yang dinilai otoriter semacam pak Harto saja bakal cekikikan berbincang dengan Gus Dur.

Baca Juga:  Cinta Sebagai Perekat Bagi Agama-Agama

Dan hari-hari sekarang, Agama dan politik bak topeng bengis. Agama (Islam) dan politik bercampur-baur dikocok oleh mereka yang berkepentingan di kursi kekuasaan, lantas disuguhkan ke meja publik dengan menu yang kaku dan sering memicu muntah-muntah. Islam yang ramah disampaikan dengan amarah. Politik yang sewajarnya jalan konstitusional bagi kesejahteraan orang banyak semakin dikeruhkan ego kekuasaan yang kerap memuakkan.

Lagi-lagi, konfrontasi horizontal antarrakyat-lah buahnya. Politisinya, ya kosmetika politik usang; kemarin sikut-sikutan, sekarang berjabat tangan. Alasan klise; persatuan. Rakyat? Tetap jadi komoditas belaka.

Sangat rindu Gus Dur? Penulis pula, demikian adanya. Penulis rasa kita harus semakin menelisik ke kedalaman Gus Dur. Walau itu mungkin sia-sia belaka. Sebab entitas sejati Gus Dur boleh jadi disembunyikan Allah Yang Maha Sejati. Tapi, bukan berarti kita jadi pesimis. Adalah perindu selalu menyebut nama yang dirindukan. Adalah perindu amat paham bagaimana sosok yang dirindukan. Maka, seyogiyanya jika kita merasa perindu Gus Dur adalah senantiasa mendekatkan diri pada Gus Dur. Tentu secara batiniah; psikologis-kejiwaan.

Bagaimana kejiwaan kita bisa menyentuh alam jiwa Gus Dur. Untuk dibilang ma’rifat kepada Allah SWT, minimal kita bisa menyelam di lautan asma dan sifat-Nya. Demikian pula, agar menjadi manusia ma’rifatul-Gus-Dur, kita barang tentu mesti paham perangai dan ide-ide Gus Dur. Terutama menyangkut kemanusiaan. Sebab apa kata sejarah di hari esok jika kita-manusia tak bisa berwajah manusia, masa, binatang?

Baca Juga:  Pemikiran Gus Dur Tentang Kebudayaan dan Teknologi, Millenial Harus Baca!

Dus, penulis rasa ketika kita masuk ke Gus Dur; membahas ide-ide, pemikirannya, itu bukan berarti kita menghidupkan kembali apa-apa yang Gus Dur perjuangkan. Kita masuk ke semesta Gus Dur adalah bukan berniat membela Gus Dur. Sejatinya kita ingin dihidupi oleh Gus Dur. Diinspirasi Gus Dur. Menjadi pengkaji Gus Dur bukan sama arti dengan menjadi Gus Dur. Gus Dur terlampau tanpa batas untuk kita kaji. Gus Dur tak perlu dibela. Sungguh, kitalah yang dibela Gus Dur.

Wallahul Muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.