Profil Lengkap Habib Umar bin Hafidz, Nasab Hingga Dakwahnya ke Seluruh Dunia

Habib Umar bin Hafidz

Pecihitam.org – Perawakannya sedang-sedang saja, wajahnya teduh dihiasi jambang berwarna kemerahan nan rapih, hidung mancung dengan mata bulat dan senyum bersahaja. Itulah perawakan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz yang juga seorang Waliyullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Habib Umar bin Hafidz adalah pendiri Pondok Pesantren Darul Mushtofa, Tarim, Hadramaut, Yaman dan merupakan ulama yang selalu berdakwah keliling dunia. Setiap tahun, beliau juga hadir ke Indonesia. Perhatiannya terhadap Indonesia sangat spesial, bahkan banyak murid-muridnya yang berasal dari Indonesia yang menjadi tokoh dan ulama.

Daftar Pembahasan:

Kelahiran

Habib Umar bin Hafidz lahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Negeri Yaman. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Yaman begitu terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim-ulama yang dihasilkan ngeri ini selama berabad-abad.

Habib Umar bin Hafidz dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral tinggi. Ayahnya bernama Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Intelektual dan Da’i Besar yang mengabdikan hidupnya demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam.

Namun secara tragis sang Ayah diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah merupakan ulama yang sangat dihormati dan intelektual Muslim pada masanya.

Nasab Habib Umar bin Hafidz

Berikut adalah jalur nasab Habib Umar hingga Rasulullah Muhammad Saw.

  1. Al-Imam Al-’Arifbillah Al-Musnid Al-Hafidz Al-Mufassir Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz.
  2. Al-Habib ‘Umar
  3. Muhammad
  4. Salim
  5. Hafidz
  6. Abdallah
  7. Abi Bakr
  8. ‘Aidrous
  9. Al-Hussain
  10. Al-Syaikh Abi Bakr
  11. Salim
  12. ‘Abdallah
  13. ‘Abdarrahman
  14. ‘Abdallah Al-Syaikh ‘Abdarrahman Assaqof
  15. Muhammad Maula Al-Daweela
  16. ‘Ali
  17. ‘Alawi
  18. Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad
  19. ‘Ali
  20. Muhammad Sahib Al-Mirbat
  21. ‘Ali Khali‘ Qasam
  22. ‘Alawi
  23. Muhammad
  24. ‘Alawi
  25. ‘Ubaidallah
  26. Al-Imam Al-Muhajir Ilallah Ahmad
  27. ‘Isa
  28. Muhammad
  29. ‘Ali Al-‘Uraidi
  30. Ja’far As Shadiq
  31. Muhammad Al-Baqir
  32. ‘Ali Zainal ‘Abidin
  33. Hussain
  34. ‘Ali bin Abu Talib dan Fatimah Azzahra
  35. Rasulullah Muhammad Saw

Masa Kecil Habib Umar bin Hafidz

Habib Umar bin Hafidz sudah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia yang sangat muda, hafal berbagai kitab fiqih, hadits, bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh di Tarim.

Baca Juga:  Biografi Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani, Sang Ulama Hadits

Habib Umar bin Hafidz mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya, al-Habib Muhammad bin Salim. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dzikir kepada Allah SWT.

Sayangnya, si saat situasi sosial-politik di Tarim sedang kacau atas penguasaan Rezim Komunis. Pada usia 9 tahun, secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, sang ayah diculik oleh golongan komunis.

Habib Umar kecil lantas pulang sendirian ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya. Sejak saat itu sang ayah tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan Umar muda menganggap bahwa tanggung-jawab untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam bidang Dakwah.

Sejak itu, beliau memulai bersemangat, penuh perjuangan mengumpulkan orang-orang dan membentuk Majelis-majelis dakwah. Perjuangan dan usahanya yang keras pun membuahkan hasil. Majelis-majelis mulai dibuka bagi anak muda dan orang tua di masjid-masjid setempat di mana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al-Qur’an dan ilmu-ilmu tradisional.

Pergi ke Al Bayda

Karena pada tahun 1981 kondisi Tarim masih belum kondusif sebab pendudukan komunis, Habib Umar kemudian pindah ke Kota Al-Bayda di sebelah utara Yaman. Di sana Habib Umar kembali mempelajari ilmu agama kepada al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumayt dan Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil. Sambil belajar, beliau juga mengajar dan membuat forum kajian di kota Al-Bayda, di Al-Hudaydah dan juga di Kota Ta’izz.

Ibadah Haji

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasulullah SAw di Madinah. Dalam perjalanannya, beliau diberkahi kesempatan untuk belajar ke beberapa ulama terkenal di sana, salah satunya al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf. Beliau juga diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib ‘Attas al-Habashi.

Awal Dikenal Dunia

Setelah perjalanan ke Mekkah dan Madinah, nama Habib Umar bin Hafidz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usahanya dalam menyerukan agama Islam. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikit pun mengurangi usaha pengajarannya. Bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan di mana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan.

Baca Juga:  Biografi Lengkap Kyai Khasan Besari Ponorogo

Perhatian beliau dalam membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilakunya yang paling terlihat jelas. Sehingga membuat nama Habib Umar tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.

Pulang ke Tarim

Kepulangan Habib Umar bin Hafidz ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang beliau habiskan untuk belajar, mengajar, dan membangun mental agama Islam orang-orang di sekelilingnya. Habib Umar kembali ke kota asalnya, Tarim pada tahun 1994.

Pada tahun itu juga, Habib Umar bin Hafidz mulai merintis berdirinya pondok pesantren Darul Mustofa dan mulai menerima murid dari berbagai tempat. Meski demikian, pembukaan resmi Darul Mustofa baru pada tahun 1997. Dan sejak saat itu, murid-murid berdatangan dari berbagai penjuru Dunia untuk belajar di Darul Mustofa.

Dakwah Habib Umar bin Hafidz di Indonesia

Habib Umar bin Hafidz telah melakukan dakwah rutin di Indonesia sejak tahun 1994. Beliau diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia.

Perintah tersebut disebabkan adanya keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah yang menyampaikan tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya.

Dakwahnya Habib Umar sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini juga dikarenakan bahwa kakeknya yang kedua, Al-Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abu Bakar bin Salim, berasal dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.

Dakwahnya yang indah dan sejuk itu dan bersumber dari sang kakek, Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua ataupun muda.

Di Indonesia Habib Umar bin Hafidz juga menginisiasi lahirnya organisasi bernama Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. Sejak itu, Habib Umar menjadi semakin sering datang ke Indonesia untuk menyampaikan dakwahnya.

Kitab Karya Habib Umar bin Hafidz

Habib Umar bin Hafidz juga seorang ulama yang produktif dalam menulis, di antara kitab karangan beliau adalah:

  1. Is’af at Thalibi.
  2. Ridha al-Khalaq bi bayan Makarimal Akhlaq.
  3. Taujihat at-Thullab.
  4. Syarah Mandzumah Sanad al-‘Ulwi.
  5. adz-Dzakirah al-Musyarrafah(Fiqih).
  6. Dhiyaullami’ bi dzikri Maulid an-Nabi asy-Syafi'(Maulid Nabi Muhammad SAW).
  7. Khuluquna.
  8. Khulasoh madad an-nabawiy(Dzikir).
  9. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur.
  10. Taujihat nabawiyah.
  11. Nur aliman(Aqidah).
  12. Almukhtar syifa alsaqim.
  13. Al washatiah.
  14. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’.
  15. Muhtar Ahadits (Hadits).
  16. Durul Asas (Nahu).
  17. Tsaqafatul Khatib (Panduan Khutbah).
Baca Juga:  Khilafah dalam Pandangan Habib Umar bin Hafidz

Karya Habib Umar paling monumental adalah Kitab Maulid adh-Dhiya’ al-Lami’ yang berisi syair pujian terhadap Nabi Muhammad Saw. Umat Islam Indonesia banyak mengenal dan membaca karya ini dengan nama Maulid al-Habib Umar.

Sejarah Maulid Adh Dhiya al Lami

Maulid Adh-Dhiya al Lami (Cahaya Yang Terang Benderang). Kitab yang disusun oleh al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz ini merupakan Kitab Maulid mutakhir.

Dikisahkan, suatu malam Habib Umar bin Hafidz memanggil salah seorang muridnya untuk membawa pena dan kertas. Beliau kemudian berkata: “Tulis..”, lalu ia mengucapkan maulid Dhiya’ullami’ itu mulai sepertiga malam, dan sebelum waktu subuh telah selesai.

Maulid ini mulia, karena angka-angkanya disebutkan menuliskan sejarah Nabi SAW, bait-bait shalawat pembukanya berjumlah 12 yang melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw yaitu tanggal 12 Rabiul awal.

Paragraf pertamanya dipadu dari 3 surat, yaitu surat Al-Fath, surat At-Taubah dan Surat Al-Ahzab. 3 surat ini juga melambangkan kelahiran Nabi Saw adalah pada bulan tiga, yaitu Rabiul Awal. Paragraf pertama hingga Qiyam jumlahnya 63 bait yaitu melambangkan usia Nabi SAW 63 tahun. Maulid ini angka-angkanya memperhitungkan sejarah Nabi Saw, tahun Hijrah Nabi Saw, jumlah sahabat dll.

Bukan hanya Maulid Dhiya’ullami’, Habib Umar yang ahli dalam bahasa,juga telah menerbitkan seribu alinea syair dari ucapannya dengan jumlah yang mencapai ratusan ribu bait. Beliau juga digelari Al Musnid, didasarkan karena setiap menyebut hadits, mampu dan hafal menyampaikan sanadnya hingga Rasulullah Saw atau Kutubusshahih.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik