Ikut Ulama atau Nabi? Agar Tidak Salah, Ini Penjelasannya

ikut ulama atau nabi

Pecihitam.org – Dewasa ini kita sering dengar dari kelompok-kelompok tertentu; “ente jangan ikut ulama tapi ikut nabi !, kyai, ulama bisa salah nabi kan tidak mungkin salah.” Kalimat ini sekilas memang benar tapi efeknya sangat berbahaya. Karena disamping memahami hukum islam yang tidak boleh sembarangan apalagi dengan logika sendiri, disisi lain seakan-akan ulama atau kyai itu dianggap salah dan tidak mengikuti Nabi Muhammad SAW. Jadi bagaimana yang benar, ikut Ulama atau Nabi?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Syariat Islam yang lahir sejak 14 abad lalu telah banyak mengalami serangkaian perjalanan sejarah yang panjang. Putaran waktu yang sudah cukup lama telah menjauhkan syariat Islam dari masa pengawalan syariat secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Beragam bentuk model penggalian hukum, pertentangan ulama, asimilasi budaya, dan lain sebagainya telah mewarnai dan memperkaya khazanah syariat islam hingga sampai pada umat di generasi saat ini.

Di balik seluruh khazanah syariat Islam tidak akan pernah terlepas dari para ulama yang berkecimpung di dalamnya. Karena bagi para ulama, eksistensi syariat islam merupakan tanggung jawab utama yang telah diamanahkan oleh Allah SWT lewat kredibilitas keilmuan yang telah mereka emban. Begitu besar peranan ulama dalam mengawal dan membimbing jalannya syariat sejak dulu hingga saat ini. Karena sebagaimana sabda Rasulullah bahwa dalam diri mereka telah mengalir darah amanah kenabian (warotsah al-anbiya’).

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR. Tirmidzi).

Sebagaimana telah diketahui, tiada derajat yang lebih tinggi di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pewaris derajat tersebut. Rasulullah SAW tidak pernah mewariskan harta benda. Akan tetapi yang dimaksud dari redaksi hadits tersebut bahwasanya Rasulullah SAW telah mewariskan ilmu, amal, dan perjuangan dakwah dan yang diwarisi adalah para ulama. Dengan demikian, ulama merupakan satu-satunya golongan yang paling absah berbicara soal keagamaan. karena merekalah yang memegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah SAW, baik secara intelektual, maupun moral spiritual.

Baca Juga:  Bukan Sembarangan, Inilah yang Bisa Disebut Sebagai Ulama

Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam telah sepakat untuk menjadikan ulama sebagai acuan dan pedoman dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan syariat Islam secara baik dan benar. Hal ini sudah dicontohkan oleh para generasi pendahulu. Dari para sahabat yang mengikuti jejak Nabi SAW, para Tabi’in mengikuti jejak para Sahabat Nabi Saw, lalu para pengikut Tabi’in diteruskan lagi dengan mengikuti jejak para Tabi’in. Demikian itu seterusnya, sehingga tongkat estafet selalu bersambung, dan pada setiap generasi para ulama pasti mengacu dan merujuk pada orang-orang dari generasi sebelumnya.

Dari sini sudah jelas bahwa para ulama adalah penyambung tongkat estafet yang sanadnya jelas tersambung sampai nabi Muhammad SAW. Dan memang kenyatannya melalui para ulama-lah kita semua bisa kenal Allah, kenal Nabi, kenal Al-Quran dan kenal islam. Jadi masih mau bertanya ikut ulama atau ikut nabi?

Rasulullah Saw bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah setiap perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud).

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata; “Rasulullah SAW menggabungkan sunnah (ajaran) para khalifah dengan sunnahnya. Dan beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah sebagaimana pengikuti sunnahnya. Dalam memerintah akan hal tersebut, beliau sangat bersungguh-sungguh bahkan sampai memerintahkan menggigitnya dengan menggunakan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang difatwakan oleh para khalifah meskipun bukan keterangan fatwa langsung dari Rasulullah SAW.”

Menurut olah pemikiran yang logis, betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam dengan cara demikian. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan dua cara, yaitu naql (mengambil dan mengikuti dari generasi sebelumnya) ataupun istinbath ( menggali hukum dari sumbernya dengan cara berijtihad) dan yang bisa melakukan itu semua adalah ulama, yang memang kemampuan dan keilmuannya memadai serta punya sanad yang jelas.

Baca Juga:  Betulkah Membaca Doa Sebelum Makan "Allahumma Bariklana" Itu Bid'ah?

Pengertian ini secara tidak langsung telah ditunjukkan sahabat Ibnu Mas’ud ra beliau berkata:

مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى

“Barang siapa yang menjadi pengikut (yang baik), maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya”.

Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai pedoman, maka pendapat tersebut haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas ataupun ditulis di dalam kitab-kitab yang masyhur dan mu’tabarah di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.

Bahkan melihat kondisi global saat ini, mengharuskan metode taqlid manhaji (mengikuti dalam hal metodologis) dalam Istinbath al-Ahkam (penggalian hukum dari sumbernya yaitu Alquran dan Hadis) harus tetap mengetahui koridor madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Tujuannya agar rumusan hukum yang dihasilkan tidak keluar dari hasil konsensus mereka (mukholif lil ijma’). Sehingga segala bentuk bid’ah, kesesatan, dan perpecahan dapat dihindari. Karena semua itu berawal dari model pemahaman yang menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

Yang perlu digarisbawahi, mengikuti ulama salaf bukan berarti mengedepankan fanatisme golongan dalam beragama. Karena setiap individual para ulama yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah lepas dari kesalahan (ghairu ma’shum). Namun jika para ulama salaf telah sepakat menghasilkan konsensus dalam suatu permasalahan agama, maka hasilnya sudah dapat dipastikan benar. Karena Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam haditsnya, bahwa umat beliau tidak akan pernah sepakat dalam sebuah kesalahan/kesesatan.

Artinya, mengikuti manhaj (jalan) para ulama merupakan sebuah keharusan demi terjaganya pemahaman dan pengamalan syariat Islam secara benar. Dengan memegang teguh ajaran salafus shalih, dan menjadikan beliau-beliau panutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, maupun aqidahnya. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan dimana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Rasulullah SAW.

Baca Juga:  Biografi Hasan al-Basri, Ulama Hadits pada Masa Tabi'in

Allah Swt berfirman dalam Al-quran:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar,” (QS. At-Taubah: 100).

Jadi ikut Ulama atau Nabi? Jawabannya adalah jelas mengikuti Ulama berarti sama saja dengan kita mengikuti nabi, karena para ulama-lah yang secara sanad (mata rantai) mewarisi apa yang telah ditinggalkan Rasulullah SAW. Yang salah adalah jika mengikuti ulama yang sanad keilmuannya tidak jelas dan ulama-ulama yang akhlaknya jauh dari Rasulullah SAW. Wallahua’lam Bisshawab

  • Mauidhoh Al-Mukminin, juz 1 hal 8, Darul Kutub Al-Islamiyah.
  • Syarah Riyadhus Sholihin, juz 5 hal 433.
  • I’lam Al-Muwaqqi’in, juz 2 hal 400, Darul Hadits.
  • Risalah fi Taakkud al-Akhdi bi Madzahibil Arba’ah, Karya Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.