Kajian Fiqh Puasa Bagian II: Tentang Syarat-Syarat dan Rukun Puasa

Kajian Fiqh Puasa Bagian II,Tentang Syarat-Syarat dan Rukun Puasa

PECIHITAM.ORG – Jika pada Kajian Fiqh Puasa Bagian I sebelumnya kami telah membahas tentang pengertian dan keutamaan puasa, maka pada Kajian Fiqh Puasa Bagian II ini kami, akan membahas tentang syarat-syarat dan rukun-rukun puasa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, Syarat-syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa ada 3, yaitu: 1). Islam; 2). mukallaf dan 3). mampu berpuasa.

Kedua, Syarat-syarat Sah Puasa

Syarat-syarat sah puasa ada empat yaitu: 1). Islam; 2). berakal; 3). tidak sedang haid, nifas atau melahirkan; dan 4). dilaksanakan pada hari-hari yang diperbolehkan berpuasa, bukan pada Idul Fitri dan Idul Adha serta bukan pada hari-hari tasyriq yaitu (tanggal 11 sampai dengan 13 Dzuulhijah)

Ketiga, Rukun-rukun Puasa
Rukun puasa ada tiga, yaitu: 1). niat; 2). orang yang berpuasa; dan 3). menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.

Berkaitan dengan niat puasa, ada beberapa poin penting yang ingin kami sampaikan.

Pertama, untuk puasa fardhu, niat harus sudah dilaksanakan sebelum Fajar Shadiq (tabyit) dan harus menentukan jenis puasanya, seperti puasa Ramadhan, nadzar atau puasa kafarat.

Kedua, apabila niat puasa wajib dilakukan bersamaan dengan munculnya Fajar Shadiq, maka puasanya tidak sah.

Ketiga, niat puasa yang sempurna adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Nawawi Banten dalam Nihayah al-Zain Juz II halaman 168 berikut:

Baca Juga:  Dalil Kesunnahan Puasa Asyura, Puasa yang Disunnahkan di Bulan Muharram

نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان هذه السنة إيمانا واحتسابا لله تعالى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada`i fardhi Ramadhoni hadzihis sanati imanan wahtisaban lillahi ta’ala.

Artinya: Saya niat berpuasa esok hari karena menunaikan fardhu Ramadhon pada tahun ini dengan iman dan mengharap ridha Allah karena Allah Ta’ala.

Keempat, lafadz رمضان dibaca kasrah huruf nunnya, bukan dibaca fathah seperti banyak kekeliruan di kalangan masyarakat selama ini. Karena walaupun lafadz tersebut berupa isim ghairu munshorif harus dibaca kasrah sebab dimudhafkan pada lafadz setelahnya. Sebagaimana kaidah ilmu Nahwu yang disebutkan di dalam Nadzam Imrithi

فَاِنْ يُضَفْ اَوْ يَأْتِى بَعْدَ اَلْ صُرِفْ

Apabila isim ghairu munsharif dimudlafkan atau jatuh setelah اَلْ, maka kembali menjadi munsharif

Kelima, niat puasa letaknya adalah dalam hati, sedangkan talaffudz atau melafadzkan niat hukumnya adalah sunnah.

Keenam, dalam Mazhab Syafi’i niat puasa wajib harus dilakukan tiap malam selama bulan Ramadan. Oleh karena itu, jika ada orang berpuasa Ramadan dengan hanya melakukan niat satu kali untuk satu bulan penuh yakni hanya pada malam pertama bulan Ramadan, misalnya dengan niat

Baca Juga:  Membatalkan Puasa karena Perjalanan Jauh, Bolehkah? Ini Penjelasannya

نويت صوم جميع شهر رمضان

Nawaitu sauma Syahri ramadhan (Saya niat puasa seluruh bulan Ramadhan), maka puasa yang dihukumi sah hanya puasa hari pertama saja, kecuali jika ia melakukan niat puasa satu bulan penuh pada malam pertama sebagai antisipasi ketika dia lupa melakukan niat pada malam-malam yang lain dan dengan diniatkan taqlid kepada Imam Malik yang memperbolehkan hal itu, maka puasanya dihukumi sah, bahkan hal itu disunahkan.

Namun, ia harus mengetahui ketentuan-ketentuan puasa versi mazhab Maliki sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘ala Madzhab al-Arba’ah Juz I halaman 463 – 464 sebagai berikut:

Pertama, syarat-syarat wajib puasa versi Malikiyah adalah: 1). baligh; 2). mampu melakukan puasa.

Kedua, syarat-syarat sah puasa versi mazhab Malikiyah adalah: 1). Islam; 2). dilaksanakan pada hari-hari yang diperbolehkan berpuasa; dan 3). niat.

Ketiga, syarat-syarat wajib sekaligus syarat sah puasa versi Malikiyah adalah: 1). berakal; 2). bersih dari haid dan nifas; dan 3). masuk bulan Ramadan.

Keempat, rukun-rukun puasa versi mazhab Malikiyah adalah: 1). niat; 2). menahan diri dari makan dan minum hubungan suami-isteri dan muntah yang disengaja. (Al-Kalabi dalam Qawanun al-Fiqhiyyah)

Adapun adapun sighat niat puasa satu bulan penuh pada malam pertama adalah sebagai berikut:

Baca Juga:  Sudah Berbuka Puasa, Tapi Ternyata Belum Masuk Waktu Magrib, Batalkah Puasanya?

نويت صوم جميع شهر رمضان هذه السنة تقليدا للإمام مالك فرضا لله تعالى

Nawaitu shauma Syahri Ramadhana haadzihis sanati taqlidan lil Imam Malik fardlan lillahi ta’ala.

Saya niat berpuasa seluruh bulan Ramadan tahun ini karena taqlid pada Imam Maliki karena Allah Ta’ala.

Demikian Seri Kajian Fiqh Puasa Bagian II yang membahas tentang syarat-syarat dan Rukun puasa. Semoga bisa jadi bekal untuk menjalani puasa dengan baik, sehingga bisa mencapai derajat mutttaqin. Amin. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman