Kasyf, Ketika Hati Bersih dan Hijab-hijab Tersingkap

Kasyf

Pecihitam.org– Kasyf merupakan sasaran akhir dari pencarian kebenaran bagi mereka yang berkeinginan untuk meletakkan keyakinan diatas kepastian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seseorang yang telah berhasil mencapai kasyf berarti ia telah memasuki kawasan hakikat-realitas, menyatu dengan kemurnian tauhid sehingga dirinya terasa tiada dan kemanusiaannya terasa telah padam dan sirna sama sekali.

Berikut akan kami ulas secara lengkap tentang istilah kasyf di dalam dunia Tasawuf.

Pengertian Kasyf

Pengertian tentang kasyf, dalam tulisan ini perlu saya ketengahkan dengan menggunakan dua pendekatan, yakni secara bahasa dan menurut istilah Tasawuf.

Menurut Bahasa

Secara harfiah, dalam bahasa Arab, perkataan kasyf secara berasal dari akar kata kasyafa-yaksyifu-kasyfan yang berarti terbukanya sesuatu yang menutupi.

Di dalam Al-Qur’an, perkataan kasyf dengan dengan segala perubahannya, terbagi pada dua pengertian.

Pertama, tersingkapnya tabir penghalang antara seorang hamba dengan Tuhannya, seperti yang disebutkan dalam Surat Qaf ayat 22 berikut:

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاۤءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ

Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.

Kedua, hilangnya kemudharatan, kesusahan dan kesedihan yang menimpa seseorang, seperti disebutkan dalam Surat An-Naml ayat 62 dan Suart Al-Dukhan ayat 12.

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ

Baca Juga:  Mengapa Harus Bertarekat, Bukankah Syariat Islam Sudah Cukup?

(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman.”

Menurut Istilah Tasawuf

Di dalam Sirajut Thalibin, kitab Tasawuf karya ulama Nusantara, Kyai Ihsan Jampes, disebutkan bahwa kasyf adalah tersingkapnya tabir yang menghalangi hati seorang hamba, karena telah bersinarnya Cahaya Ilahi di dalamnya ketika hati itu telah dibersihkan. Lalu tampaklah di hati pengertian-pengertian menyeluruh sebagai hasil dari ma’rifah Allah (pengenalan kepada Allah)

Pandangan Al-Ghazali tentang Kasyf

Kasyf dalam pandangan Imam Al-Ghazali disebut sebagai fana’ fittauhid. Dengan demikian, fana‘ dalam pemahaman Imam Al Ghazali adalah kefanaan qalb, yaitu hilangnya kesadaran kalbu tentang dirinya karena tersingkapnya hakikat-realitas, sehingga yang tinggal dalam kesadaran hanya yang Esa.

Sufi yang mengalami fana‘ tidak merasakan dan tidak melihat serta tidak mengetahui selain Allah. Penglihatannya langsung pada hakikat-realitas, tidak lagi melihat fenomenanya.

Sufi itu tidak melihat instrumennya, tetapi yang dilihat adalah langsung nilainya. Artinya orang yang sedang berada pada kondisi fana’ dittawhid adalah orang yang tidak melihat alam ini sebagai makhluk ciptaan Allah, tetapi ia lihat justru Penciptanya, yaitu Allah.

Apa saja dan ke mana saja ia memandang yang terlihat dan terasa adalah hakikat dari yang nampak itu, sebagai asal dari segalanya.

Sebagai metode yang menggunakan kebeningan kalbu dan penghayatan intuitif langsung di dalam memperoleh pengetahuan, maka kasyf dianggap sebagai suatu mazhab epistemologi di dalam Islam. Menurut Imam Al-Ghazali, al-‘ilm mukasyafah tidak dapat disamakan dengan ilmu ilmu eksak dan sebagainya.

Al-Ghazali menyebutnya fawqa tûr al-‘aql (di atas puncak akal). Peeredaran akal paling tinggi adalah pada batas titik optimum yang kemudian bisa menurun kembali.

Baca Juga:  Pemikiran Simuh dalam Tasawuf Kebatinan Jawa di Era Modern

Sedangkan ilmu ini berada pada orbit yang tidak mungkin dapat dicapai oleh akal. Ia hanya dapat dicapai dengan nur Ilahi yang diletakkan di dalam hati hamba-Nya.

Imam Al-Ghazali kemudian mengatakan, bahwa hati itu mempunyai dua pintu. Satu pintu terbuka ke arah alam malakut dalam (alam ghaib), yaitu Lauhul Mahfudz dan alam kemalaikatan (alam ruhani).

Adapun pintu yang lain terbuka ke arah panca indra yang berkaitan dengan alam dunia (fisik) yang merupakan cerminan (pantulan) apa yang ada di alam kemalaikatan (Lauhul Mahfudz).

Pintu yang terbuka ke arah alam ghaib dan Lauhul Mahfudz adalah seperti hal yang keajaiban mimpi yang benar secara yakin, sehingga hati bisa menghayati ditengah tidur akan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari atau kejadian-kejadian ujian pada masa lalu tanpa perantaraan tanggapan inderawi.

Dari uraian diatas, tanpa bahwa Imam Al-Ghazali mencoba menjelaskan hubungan antara ilmu mukasyafah yang biasa juga disebut dengan Ilmu Laduni dengan ilmu ta’limiyah, yaitu laksana hubungan naskah asli dengan duplikatnya, atau seperti halnya para arsitek yang membuat gambar gedung yang akan dibangunnya di atas kertas, baru kemudian dilaksanakan pembangunan sesuai dengan naskah yang ada di dalam kertas tersebut.

Ilmu mukasyafah atau Laduni dapat dicapai melalui penghayatan kasyf, Sedangkan ilmu ta’limiyah hanya bisa dipelajari para ilmuwan setapak demi setapak.

Karena itu, para sufi tidak telaten belajar melalui pengkajian buku-buku atau penelitian secara cermat terhadap kenyataan kenyataan alamiah.

Imam Al Ghazali mengklasifikasikan pengetahuan pada tiga tingkatan sesuai dengan dasar pengetahuan dan metode yang digunakan.

Pratama, pengetahuan awam. Kedua, pengetahuan para mutakallimin. Ketiga, pengetahuan Sufi.

Pengetahuan awam diperoleh melalui jalan meniru atau taqlid. Sedangkan pengetahuan para mutakallimin diperoleh melalui pembuktian rasional. Kualitas peringkat pertama dan kedua ini hampir sama, sedangkan peringkat ketiga adalah yang tertinggi kualitasnya, yaitu pengetahuan para sufi yang diperoleh melalui metode penyaksian langsung dengan radar pendeteksi qalb yang bening.

Baca Juga:  Abu Hasan al Syadzili dan Berdirinya Tarekat Syadziliyah (Bagian 1)

Tingkatan Kasyf

Dalam perkembangan ilmu Tasawuf, para sufi membagi kasyf pada dua tingkatan, yakni kasyf aqly dan kasyf bashary.

Kasyf ‘Aqly

Kasyf aqly adalah penyingkapan melalui akal. Ini merupakan tingkatan pengetahuan intuitif paling rendah. Allah tidak bisa diketahui dan dicintai melalui akal, karena akal membelenggu dan menghalangi manusia dalam tahap tahap akhir taraqqi-nya.

“Bumi dan langit-Ku tidak sanggup memuat-Ku, hanyalah hati hamba-Ku yang beriman yang sanggup memuat-Ku”.

Kasyf Bashary

Adapun Kasyf Bashary adalah penyingkapan visual yang terjadi melalui penciptaan yang dilakukan Allah.

Dalam suatu peristiwa, tempat, tindakan, atau ucapan manusia seorang sufi bisa menjadi tempat bagi peningkatan visual ini.

Allah adalah Yang Maha Mutlak. Dia adalah Keindahan dan Keagungan. Melalui makhluk-Nya, Allah bisa mengungkapkan diri-Nya pada hamba-Nya lewat salah satu Nama Keindahan-Nya yang akan menimbulkan kemanisan dan kesenangan atau lewat salah satu Nama Keagungan-Nya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan.

Begitulah kasyf, kondisi dimana hati seseorang bersih-bening, sehingga dengannya bisa melihat dan menyaksikan apa yang selama ini terhijab oleh dosa dan materi keduniaan. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman