Kisah Gus Dur Meminta Doa Kepada Pemulung

gus dur dan pemulung

Pecihitam.org – Sebagai presiden sekaligus kiai, Gus Dur dikenal rendah hati. Beliau menghormati siapa saja tak peduli latar belakang pangkat dan jabatan. Bahkan kepada seorang pemulung pun, Gus Dur tak ragu untuk meminta doa. Kisah tentang Gus Dur dan pemulung ini dituliskan Ahmad Mukafi Niam & Syaifullah Amin dalam buku ‘Bukti-bukti Gus Dur Wali’, sebagaimana dituturkan oleh Nuruddin Hidayat, salah seorang santri Gus Dur.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pria yang akrab disapa Udin itu menceritakan, pada mulanya di tahun 2003, ia berada di sebuah warung dekat Mal Cilandak. Ketika hendak pergi, ia bertemu dengan seorang pemulung di depan warung tersebut. Pemulung ini adalah seorang bapak-bapak tua dengan keranjang di pundaknya dan memakai caping di kepala.

“Assalamualaikum,” ucap salam pemulung itu pada Udin.

Dijawabnya, “Wa alaikum salam.”

Pemulung itu kemudian bertanya apakah Udin berasal dari pesantren Ciganjur. “Mas dari pesantren Ciganjur, ya?”

Baca Juga:  Nama Aslinya Abdul Ghaffar, Kenapa Dikenal dengan Nama Nabi Nuh? Beginilah Ceritanya

Udin lantas mengiyakan. Dalam hati Udin bertanya-tanya bagaimana pemulung itu bisa tahu ia dari pesantren Gus Dur.

“Dalam hati saya agak heran, kok tahu saya dari Ciganjur tempatnya Gus Dur,” cerita Udin.

Selanjutnya, pemulung itu hanya bilang pada Udin supaya salamnya disampaikan pada Gus Dur. “Sampaikan salam saya pada Gus Dur.”

Udin mengiyakan permintaan pemulung itu, yang kemudian memperkenalkan namanya. Namun penulis merahasiakan dan mengganti dengan inisial HMZ.

Seusai pertemuan tersebut, Udin tak langsung menyampaikan salam pemulung itu ke Gus Dur karena dipikirnya tak begitu penting. Ia baru utarakan pada Gus Dur seminggu kemudian.

“Gus, dapat salam dari HMZ,” ujar Udin pagi-pagi setelah Gus Dur olahraga.

“HMZ yang mana?” tanya Gus Dur.

“HMZ yang pemulung,” jawab Udin.

Tak disangka, respons Gus Dur ternyata antusias. Gus Dur malah meminta supaya Udin mencari pemulung itu. “Suruh ke sini, itu yang saya cari,” ujar Gus Dur dalam Bahasa Jawa.

Baca Juga:  Inilah Salah Satu Cara Melampiaskan Kerinduan Terhadap Gus Dur

Mendapat instruksi demikian, Udin akhirnya kebingungan ke mana harus mencari pemulung itu, sedangkan mereka hanya bertemu di jalan.

Demi menjalankan perintah, Udin berusaha mencarinya. Ia berkeliling dari lapak ke lapak pemulung.

Pencariannya membuahkan hasil setelah satu bulan. Sang pemulung ditemukan di Kampung Kandang, daerah Ragunan. Udin mengajaknya bertemu Gus Dur keesokan hari.

Setelah pemulung dan Gus Dur bertatap muka, Gus Dur meminta pada pemulung supaya mendoakan bangsa Indonesia. Pemulung itu yang membaca doa, Gus Dur yang mengamini. Usai momen tersebut, HMZ diantar pulang. Komunikasi antara Udin dan HMZ terus terjalin setelahnya.

Menurut cerita Udin, ada hal yang cukup aneh pada pemulung itu. Saat Idul Adha, Udin mengirimkan daging pada HMZ malam-malam. Namun, sebelum ia sampai, pemulung itu seolah tahu bahwa akan ada tamu yang datang dan mengucap terima kasih meski daging belum diserahkan.

Baca Juga:  Kisah Sunan Giri Dalam Menyebarkan Islam Di Jawa

“Entah bagaimana, saya belum datang, ia sudah mempersiapkan diri seolah-olah tahu akan ada tamu yang datang. Dan meskipun dagingnya belum saya serahkan, ia bahkan sudah bilang terima kasih,” cerita Udin.*

*Sumber: Bukti-bukti Gus Dur Wali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *