Nabi Musa dan Murid yang Meragukan Ketidakadilan Tuhan

nabi musa dan keadilan tuhan

Pecihitam.org – Di kisahkan pada zaman Nabi Musa ada seorang pemuda yang masih cukup belia dalam perjalanan ia tampak begitu kehausan dan kelelahan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka ketika tiba di suatu sumber air yang begitu bening dengan tanaman begitu rindang di sekelilingnya, pemuda itu menghentikan kudanya dan turun di tempat tersebut.

Ia istirahat dan berbaring di bawab rerindangan, lalu meletakkan sebuah bungkusan di sampingnya. Matahari begitu terik, namun karena di situ sangat teduh, hingga tanpa sadar pemuda itu tertidur pulas setelah memuaskan dahaga di kerongkongannya dengan meminum air bening di sumber air tadi.

Ketika ia terjaga, matahari sudah mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Tampaknya ia anak seorang yang kaya raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal.

Dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kuda dan bungkusannya tertinggal, karena ia hanya berpikir untuk segera tiba di rumah menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun yang lalu.

Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang penggembala lewat di tempat tersebut. Penggembala itu terkejut mendapati sebuah bungkusan kain yang tergeletak di bawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang ke gubuknya yang buruk.

Alangkah gembiranya hati si anak gembala tersebut tatkala melihat bungkusan tersebut ternyata isinya emas dan perak yang sangat berharga. Karena Ia seorang yatim piatu dan masih kecil itu sebabnya penemuan itu ia anggap merupakan hadiah baginya.

Baca Juga:  Ternyata, dari 25 Utusan yang Wajib Kita Ketahui, Ada Nabi yang Bersaudara

Tak selang beberapa lama, ada seorang kakek tua yang bungkuk dan berjalan terseok-seok melalui sumber air tadi. Karena kelelahan ia beristirahat di bawah pohon yang rimbun.

Belum sempat si kakek melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang sebelumnya sempat tertidur di bawah pohon tadi datang karena hendak mengambil bungkusannya yang tertinggal disitu.

Ketika pemuda itu sampai, pemuda itu terkejut melihat bahwa di pohon yang sempat ia tertidur tadi tidak lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak hanyalah seorang kakek.

Lalu pemuda itu dengan membentak bertanya kepada si kakek, “Dimana bungkusan yang tadi ada di sini?”

“Saya tidak tahu,” jawab kakek dengan gemetar.
“Jangan bohong!” bentak si Pemuda.
“Sungguh, waktu saya tiba di sini, tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing,” jawab si kakek.
“Kurang ajar! Kamu mau mempermainkan aku ? Engkau pasti yang telah mengambil bungkusan itu dan menyembunyikannya di suatu tempat .. Cepat kembalikan !”

“Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang telah dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau aku sudah dewasa, yaitu sekarang ini. Kembalikan!” lanjut si Pemuda

“Sumpah tuan, saya tidak tahu,” sahut kakek tersebut makin ketakutan.
“Kurang ajar! Bohong! Ayo serahkan kembali. Bila tidak, tahu rasa nanti” hardik Pemuda tadi.

Baca Juga:  Abu Nawas Mencari Cincin yang Hilang

Karena si kakek tidak tahu apa-apa, maka ia bersikukuh tidak mengambil bungkusan tersebut. Si Pemuda tidak bisa dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Lalu dicabutnya pedang dari pinggangnya dan dihunuskan pada si kakek tadi.

Lalu ia mencari kesana-kemari bungkusan yang ia tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Kemudian ia naik ke punggung kuda dan pulang lagi ke rumahnya dengan perasaan kecewa dan marah.

Kemudian berita tersebut ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah satu murid beliau.

“Wahai Nabiyullah, bukankah yang terjadi dalam cerita tersebut justru menunjukan sebuah ketidakadilan Tuhan ?”
“Maksudmu ?” tanya Nabi Musa.

“Kakek tua itu tak bersalah namun menanggung akibat yang harusnya tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta tadi malah bebas tidak mendapatkan balasan yang setimpal”.

“Menurutmu Tuhan tidak adil ?” ucap Nabi Musa terbelalak.
“Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang ceritanya”. Kemudian Nabi Musa pun bercerita.

“Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan yang dirampok oleh dua orang bandit kejam. Semua emas dan harta benda miliknya raib oleh dua orang bandit itu. Setelah berhasil merampok, harta itu dibagi dua oleh perampok tersebut.

Dalam pembagian harta rampokan tersebut terjadi kecurangan oleh salah seorang bandit yang tamak sehingga harta rampokkan tersebut dikuasainya sendiri setelah membunuh kawannya.

Bandit yang tamak itu ialah si kakek tua yang dibunuh oleh pemuda berkuda tadi. Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu dahulu adalah ayah dari pemuda yang telah membunuhnya tadi. Di sini berarti nyawa dibayar nyawa.

Baca Juga:  Debat Nabi Musa dengan Imam Al-Ghazali, Luar Biasa Akhlak dan Ilmu Sang Hujjatul Islam

Sedangkan petani hartawan yang di rampok itu adalah ayah dari si pemuda penggembala yang mengambil bungkusan kain. Itulah keadilan Tuhan.

Harta kekayaan akhirnya kembali kepada yang berhak dan kejahatan dua bandit perampok tadi telah memperoleh balasan yang sama-sama setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada masanya”.

Hikmah:

Marilah kita melihat sejenak ke belakang. Ke masa lalu. Apakah kita pernah melakukan sebuah kesalahan? Minta maaf lah. Carilah ridho dari orang yang pernah kita dzalimi. Mungkin bukan kita yang akan merasakan dampak buruk kesalahan kita. Bisa jadi anak kita ataupun cucu-cucu kita.

Apapun yang sudah kita lakukan entah itu adalah sebuah kebaikan ataupun sebuah keburukan, pasti akan ada balasan bagi setiap pelakunya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *