Kalimat La Ilaha Illallah, Apakah Makna, Kandungan serta Keutamaan Membacanya?

Kalimat La Ilaha Illallah, Apakah Makna, Kandungan serta Keutamaan Membacanya?

PeciHitam.org – Kebaikan yang menjadi tradisi di Nusantara, yaitu wirid setelah selesai melaksanakan Shalat maktubah (5 waktu). Kebaikan yang tidak bisa dielakan, karena dalam wirid berisi bacaan-bacaan thayyibah baik berupa istighfar, tahmid, tahlil dan lain sebagainya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu dari rangkaian wirid yang selalu dilantunkan adalah kalimat dzikir kepada Allah. Kalimat-kalimat dzikirnya juga sesuai dengan apa yang Rasulullah tuntunkan. Oleh karenanya, sebuah kerancuan berpikir mengharamkan apa yang Rasulullah perintahkan karena tata cara yang tidak ditentukan.

Seperti kita melakukan ibadah membaca Al-Quran, tidak ada ketentuan harus kapan kita membaca. Artinya setiap saat kita boleh membaca Al-Quran, kecuali waktu kita junud, haid, atau berhadts serta pada tempat yang diharamkan misal di kamar mandi. Berikut keabsahan dzikir La Ilaha Illallah sebagai sebuah bacaan yang agung!

Daftar Pembahasan:

Makna Kalimat La Ilaha Illallah

La Ilaha Illallah jika kita terjemahkan secara sederhana menjadi Tiada Tuhan Selain Allah. Ulama banyak mengometari tentang penamaan lafadz La ilaha Illallah (لا اله الا الله). Ada yang mengistilahkan Tauhid.

Alasan penamaan ini adalah dalam dzikir ini mengenalkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Makna ini mengandung pesan tersurat tentang Keesan Allah SWT. Hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah SWT dan tuhan-tuhan lainnya adalah tidak berkedudukan sebagai tuhan yang pantas disembah.

Fatwa Imam Malik RA tentang lafadz dzikir La Ilaha Illallah, kemudian beliau menjawab dengan menyitir sebuah Hadits;

محال أن يظن بالنبي  صلى الله عليه وسلم  أنه علم أمته الإستنجاء ولم يعلمهم التوحيد ، فالتوحيد ما قاله النَّبيّ  صلى الله عليه وسلم أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا : لا إله إلا الله ، فإذا قالوها عصموا مني دماءهم وأموالهم فما عصم الدم والمال فهو حقيقة التوحيد

Artinya; Tidak mungkin kalau kita menyangka bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mengajarkan umatnya tentang masalah istinja, lalu tidak mengajarkan tentang tauhid. Tauhid adalah apa yang dikatakan oleh beliau shallallahu alaihi wa sallam, Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Apabila mereka mengucapkannya, maka terjagalah nyawa dan harta mereka. Maka, sesuatu yang menjaga nyawa dan harta itulah yang merupakan hakikat tauhid. (Fathul Baari li Ibni Rajab)

Istilah lain yaitu dinamakan dzikir Nafi Isbat (نفي اثبات) yang bemakna sebuah dzikir Peniadaan dan Penetapan.

Baca Juga:  Bacaan Istighosah Lengkap Beserta Artinya

Dzikir dengan mengucap La Ilaaha Illallah (لا اله الا الله) menjadikan seseorang paham akan kedudukan Allah SWT. Lafadz (لا اله) merupakan pernyataan untuk “Meniadakan Tuhan Selain Allah” yang dalam bahasa Arab dinamakan Nafi (نفي). Dan lafadz (الا الله) adalah bentuk “Menetapkan/ Memantapkan” pemahaman hanya  Allah-lah tuhan semesta alam. Dalam bahasa Aran (الا الله) dinamakan Isbat (اثبات)-menetapkan dan memantapkan pandangan.

Kandungan Kalimat La Ilaha Illallah

Keagungan dan berbobotnya isi dari lafadz La ilaha illallah menjadikan kata ini sangat suci. Bahkan KH. Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) sering menjelaskan bahwa kata (لا اله الا الله) merupakan kalimat Mutlak.

Maksud Kalimat Mutlak adalah kalimat yang tidak akan gugur oleh sebuah kesalahan, maksiat dan perbuatan dosa lainnya. Oleh karena itu, riwayat menjelaskan bahwa,

مَنْ فِي قَلْبِهِ لَا اِلَهَ اِلاَّ الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya; Barang siapa di dalam hatinya ada La ilaha Illallah maka masuk Surga

Gus Baha menjelaskan, bahwa untuk memahami kalimat Mutlak harus memahami juga tentang kebenaran Mutlak dalam Logika Kebenaran. Artinya, jika seseorang memahami “لا اله الا الله” maka makna yang terkandung tidak akan pernah salah selamanya, walaupun yang mengucapkan adalah orang dengan penuh dosa dan tidak taat.

Sampai-sampai, kata ini merupakan penanda orang beragama Islam. Barang siapa yang mengakui dan mengucapkan lafadz ini tetap berhukum Muslim.

Jadi tidak tepat jika ada anggapan orang yang melakukan ziarah, mendoakan orang mati, tahlilan dan ritus lainnya dicap sebagai orang Musyrik. Sedangkan lafadz “لا اله الا الله” selalu dilantunkan dalam setiap acara tersebut.

Baca Juga:  Ragam Doa Melunasi Hutang Dalam Hadits Nabi

Kandungan lainnya dari lafadz La ilaha illallah, selain dari Kalimat Mutlak adalah sebagai berikut;

Pertama, Tidak ada yang berhak dan pantas disembah kecuali Allah,

Kedua, Tidak ada yang dituju kecuali Allah, karena tujuan segala sesuatu adalah Allah SWT,

Ketiga, Tidak ada yang dicari kecuali Allah,

Keempat, tidak ada yang wujud di Alam ini kecuali Allah, karena segala yang ada di dunia ini adalah Maujud (diadakan) dari Allah

Kelima, Tidak ada yang dicintai kecuali Allah.

Dalam sebuah Riwayat Rasulullah SAW mengatakan bahwa lafadz dzikir yang paling utama adalah dzikir لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله sesuai dengan Hadits;

اَفْضَلُ مَاقُلْتُ اَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبِلِي لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Artinya; Yang paling utama apa yang saya ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelum aku adalah Laa Ilaaha Illallah Wahdahuu Laa Syariikalah (Tiada Tuhan selain Allah dengan Maha Esanya dan tiada sekutu bagi-Nya)

Keutamaan Dzikir Nafi Isbat

Dzikir dengan berbagai keutamaan dan keagunga yang dimiliki, lafadz La Ilaha Illallah juga diriwayatkan memiliki  banyak keutamaan. Dalam hal ini juga Rasulullah bersabda;

مَنْ قال لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرُ

Artinya; Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha illallah Wahdahuu Laa Syariikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa Alaa Kulli Syaiin Qadiir (Tiada Tuhan selain Allah dengan Esa-Nya tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu).

Jika kita membaca seratus kali setiap hari, maka kebaikannya menandingi atau sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat untuknya kebaikan seratus macam, dan seratus macam kejelekannya dihapus.

Keutamaan lainnya juga akan dibebasan dari godaan syetan pagi harinya sampai sore. Dan seorang pun tidak bisa mengungguli amalannya kecuali orang yang membaca kalimat itu lebih banyak darinya.

Baca Juga:  Bacaan Niat, Tata Cara dan Doa Setelah Sholat Dhuha Lengkap Arab, Latin dan Arti

Riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab beliau juga menjelaskan tentang keunggulan dari lafadz dzikir Nafi Isbat;

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Artinya; Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya mengharap wajah Allah (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketentuan Dzikir dengan Kalimat La Ilaha Illallah

Pengamalan untuk dzikir Laa Ilaaha Illallah itu harus memakai cara yang dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah cara yang paling bagus adalah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam sebuah hadis sebagai berikut;

Sayyidina Ali bertanya. Bagaimana aku berzikir Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab. Caranya, pejamkan kedua matamu dan dengarkanlah dari aku sebanyak tiga kali, dan ucapkanlah seperti apa yang aku ucapkan, waktu engkau mengucapkan itu, aku mendengar, maka Rasulullah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah sebanyak tiga kali, dengan kedua mata terpejam. Kemudian sayyidina Ali mengucapkan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah

Selain menggunakan cara yang dilakukan oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib yang banyak digunakan oleh kaum Tarekat, juga bisa kita menggunakan cara yang biasa digunakan oleh para Ulama di Nusantara setelah Shalat maktubah. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Latest posts by Mohammad Mufid Muwaffaq (see all)