Latar Belakang Munculnya Hadis Palsu, Bagian 2

hadis palsu

Pecihitam.org – Jika membahas terkait alasan mengapa muncul hadis palsu, maka alasan yang paling mendasar selain untuk menghancurkan umat Islam. Selain itu untuk mempertahankan eksistensi (keberadaan) kelompok kelompok tertentu, yang merupakan akibat dari perpecahan umat Islam yang nampak pada penghujung kekhalifaan Utsman bin Affan dan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dan terkait beberapa alasan lainnya, berikut ulasannya:

1. Kepentingan politik

Kekacauan akibat dari ulah politik ternyata tidak baru muncul belakangan, melainkan pada zaman dulu pun terjadi kekacauan besar hanya karena politik dan kekuasaan, dan tentu hadis hadis palsu sengaja dimunculkan demi menjatuhkan lawan dan mendapatkan kekuasaan tanpa harus lagi berpegang teguh pada Al Qur’an dan kemurnian hadis.

Seperti yang telah disinggung pada latar belakang munculnya hadis pada bagian satu, tentu munculnya hadis palsu karena kepentingan politik ini tergambar jelas pada golongan seperti Mu’awiyah maupun Syiah.

Contoh hadis palsu yang digunakan lawan untuk menjatuhkan golongan Mu’awiyah ,

Setiap Umat ada Fir’aunnya. Fir’aunnya umat ini adalah Mu’awiyah

Sedangkan hadis palsu yang buat oleh golongan mu’awiyah guna membela kedudukannya ialah berbunyi

“Tiga golongan yang dapat dipercaya, yaitu Saya (Rasul), Jibril, dan Mu’awiyah. Kamu termasuk golonganku dan aku bagian dari kamu” (Musthafa al Siba’i, Al Sunnah wa Makanatuha fi al Tasyri’ Al Islami, (Kairo: Dar al Salam, 1998)

2. Ulah Kaum Zindiq

Zindiq sendiri secara etimologi berarti kotoran yang membahayakan. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad mengartikan zindiq sebagai orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Dalam memalsukan hadis tentu mereka melakukannya demi menghancurkan umat Islam dari dalam.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 180 – Kitab Wudhu

Dan hal ini tentu dilakukannya karena kebencian mereka yang memang sudah lama dipendamnya terhadap Islam, tetapi mustahil melakukannya dengan mencoba memalsukan ayat ayat suci Al Qur’an sehingga hadis lah yang menjadi pelampiasan mereka.

Salah satu tokoh yang merupakan dalang dari pembuatan hadis palsu ialah ‘Abd al Karim Ibn ‘Auja’ yang sebelum dihukum mati oleh Muhammad bin Sulaiman bin ‘Ali (Wali kota Bashrah).

Ia mengakui bahwa dia telah membuat hadis palsu sebanyak 4000 hadis. Sedangkan menurut Hammad bin Zaid bahwasanya hadis palsu yang dibuat oleh kaum zindik berjumlah sebanyak 12.000 hadis.

3. Motivasi Targhib dan Tarhib

Targhib sendiri berarti berita gembiran dan menggembirakan seperti menyampaikan keutamaan Ibadah tertentu, pahala yang dilipatgandakan maupun keistimewaan lainnya dalam beribadah.

Adapun Tarhib ialah kebalikan dari Targhib yakni berita yang menyakitkan seperti ancaman maupun lainnya. Dan hal ini tentu dilakukan guna mendekatkan diri kepada Allah Swt., bahkan mereka yang merupakan pembuat dari Targhib dan Tarhib berpendapat bahwa;

Baca Juga:  Latar Belakang Munculnya Hadis Palsu, Bagian 1

“Kami berdosa semata mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya”

Salah satu contohnya ialah Seperti yang dilakukan oleh Nuh Ibn Abi Maryam yang ketika melihat umat Islam pada waktu itu berpaling dari Al Qur’an, mereka hanya sibuk belajar fikih Abu Hanifah dan sejarah Muhammad Ibn Ishak. Maka untuk mengembalikan perhatian mereka terhadap Al Qur’an, beliau tak segan segan membuat hadis hadis yang berisikan tentang keutamaan membaca beberapa Surah dalam Al Qur’an. (Adz Dzahabi, Tadzkirah al Maudhu’at [Beirut: Dar al Fikr] Juz I h. 594)

4. Kefanatikan pada Bangsa, Suku, Negeri maupun  Kelompok

Kefanatikan, atau bentuk ketertarikan terhadap suatu hal secara berlebihan. Dari sikap berlebihan ini memicu penonjolan diri terhadap eksistensi dari kelompok, bangsa, suku ataupun lainnya.

Sehingga mereka cenderung membuat hadis palsu, dan tentu mereka rela mengorbankan keotentikan hadis demi sebuah memperlihatkan keistimewaan ataupun penonjolan diri sekalipun itu hanyalah kebohongan.

Salah satu contohnya ialah kefanatikan mereka dalam mengagung agungkan Abu Hanifah, hadisnya berbunyi

“Nanti akan ada seorang laki-laki di kalangan umatku namanya Abu Hanifah an Nu’man sebagai pelita umatku”

Dari beberapa motif diatas, kita bisa melihat motif lainnya seperti untuk menjilat penguasa demi mendapatkan hadiah ataupun popularitas. Membuat hadis palsu demi mendapatkan perhatian dari kaum awam dengan ungkapan-ungkapan yang sengaja diracik menjadi kisah dan akuinya berasal dari Rasulullah Saw.,

Baca Juga:  Menelusuri Geneologi Keilmuan Hadis KH. Ali Musthofa Yaqub

Tentu memandang ini, tidak semua yang membuat hadis palsu bertujuan pada sisi negatif, melainkan beberapa pembuat hadis palsu malah beranggapan bahwa mereka sebetulnya memiliki niat untuk mendorong umat agar lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan membuat buat hadis.

Sayangnya, yang perlu kita ketahui ialah membuat ataupun meriwayatkan hadis palsu yang bagaimana pun alasannya tentu merupakan perbuatan yang tercela dikarenakan telah mengatasnamakan Rasulullah Saw.,

Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw.,

“Bahwa berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap siaplah menempati tempat duduknya dalam Neraka” (HR. Bukhari)

Itulah sekilas dari latar belakang munculnya hadis palsu, dan sebagai umat islam di anjurkan untuk mengetahui dan membedakan hadits yang palsu dan yang bukan agar terhindar dari kekeliruan hukum. Semoga bermanfaat!

Sumber bacaan: DR. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., Ilmu Hadis (Jawa Tengah: Zadahanifa Publishing) dan Dr. H. Munzier Suparta M.A., Ilmu Hadis (Jakarta: Rajawali Pers)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.